CCCLXV - Catatan Harian Pengajar Muda (10)
Hari ke-LXIV, 17
Agustus 2014. Minggu, pukul 15.20 Wita
Negeriku, Selamat ulang tahun.
Tak ada yang bisa ku berikan padamu kali
ini, dan apakah sebuah doa bisa dikatakan pemberian? Jika iya, maka aku akan
selalu mendoakanmu. Selalu menganggapmu yang terbaik, meski banyak di luar sana
tak sependapat denganku.
Mungkin saja.
Tapi bolehkah aku jujur padamu, wahai Negeriku? Mungkin ini sedikit menyakitkan perasaanmu.
Baiklah kalau kamu
memaksa. Aku tak tanggung resiko sakit hatimu.
Sebenarnya, saat ini, dari
perbatasanmu, kami semua tak ada satu pun yang merayakanmu. Merayakan secara
besar-besaran maksudku. Bahkan, bendera yang biasanya terpajang dimana-mana, di
desa, atau di kota, entah berwarna merah dan putih, atau sekedar bendera
umbul-umbul, tak nampak di pulau ini.
Sakit hatikah kamu?
Aku yang melihatnya saja, rasanya mau
marah.
Sedih. Ironis.
Kamu?
Pagi ini, hujan membuat hari besarmu
makin dilupakan. Setelah pulang dari gereja, ada sedikit yang mungkin bisa
membuatmu senang. Semoga. Bapak kepala desa kami, sebenarnya sudah dari
jauh-jauh hari memberikan pengumuman untuk pemasangan bendera. Bendera sudah
dibagikan sejak jauh hari ke rumah-rumah warga. Namun, sampai sepulang gereja,
aku masih menemukan di dalam plastik di pojok rumah –di halaman rumah yang
kehujanan- ada sesuatu berwarna merah dan putih di sana. Ya, itu adalah warna lambang darimu. Lalu, apa yang bisa membuatmu senang? Setelah menunggu lama, bendera
itu terpasang juga! Sekitar pukul tiga sore kalau tidak salah. Itu pun tidak
semua rumah memasangnya.
Mungkin hanya karena ‘lelah’ mendengar
perintah bapak kepala desa. Akhirnya, di tanggal tujuh belas bulan ini. Hampir
di penghujung hari, ada bahan berwarna lambangmu yang menghiasi jalan pulau
ini.
Maafkan aku,
Maafkan tidak bisa berbuat banyak untukmu
kali ini. Sudah memberitahu warga dan para siswa sebenarnya, kami sudah
menyusun bebarapa perlombaan untuk memperingati usia enam puluh sembilanmu.
Tapi, semua tidak terlaksana.
Oh, jangan salah paham, aku tidak
menyalahkan hujan atau bahkan harimu yang bertepatan dengan hari ibadah warga,
hanya saja, mungkin, besarnya cinta padamu, belum mekar. Mungkin.
Tunggu dulu, ini bukan berarti engkau
balas dendam pada kampung ini, kan? Dalam usiamu kini, yang katanya MERDEKA
sudah hampir 70 tahun, namun masyarakat pulau ini masih hidup dalam kegelapan
saat malam. Katanya di usiamu saat ini, kemiskinan akan dikurangi, namun, bagi
mereka yang tidak mempunyai genset, maka
mereka harus setia dengan bintang yang menjadi penerang rumah mereka.
Lalu, sebenarnya, kamu sudah merdeka?
Atau hanya pulau ini saja yang merasa kalau mereka tidak bisa menikmati
kemerdekaanmu?
Sungguh kau tidak marah, bukan? Kumohon
jangan.
Sebenarnya, aku masih punya satu rahasia
untukmu. Tapi aku takut, takut akan hatimu semakin terluka. Tapi, aku takut ini
akan menjadi bangkai yang lambat laun, kamu akan tahu juga. Malah, aku khawatir
kamu akan tahu tidak dariku. Karena ini sungguh sangat ironis.
Kamu tahu, wahai negriku? Kamu tahu
kejuaraan perlombaan sepak bola “piala dunia”? tahukah kamu, kalau warga di
pulauku ini, sangat semangat menyambutnya. Bahkan, di setiap atap rumah, setiap
di pekarangan rumah mereka, terpasang semua bendera dari jagoan mereka. Bukan
berwarna merah dan putih, maaf, kamu jangan salah sangka. Semua bendera
dari negara-negara di dunia hadir
meramaikan tempat ini.
Semakin ironis lagi, bahwa,
bendera-bendera itu, dapat di pasang di sana setelah mereka mengeluarkan sebagian
uangnya. Ya, mereka membayar untuk mendapatkannya. Sekali lagi,
mereka-membayar-untuk-mendapatkan-benderanya.
Maafkan aku sekali lagi, wahai negeriku.
Tapi, masih bolehkah aku tetap bangga padamu? Jika iya, terima kasih.
Sekali
lagi, selamat ulang tahun bangsaku. Semoga, kau tetap menjadi dirimu apa
adanya. Menjadi lebih baik dan semakin baik lagi. Aamiin.
DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA!!!
***
Hari ke-LXV, 18
Agustus 2014. Senin, pukul 05.56 Wita
Sejak dini hari, hujan lebat kembali
mengguyur pulau ini. Ada perasaan khawatir saat ini. Dua sekaligus. Pertama, setiap hujan, aku selalu
mengkhawatirkan murid-muridku, selalu cemas akan kehadiran mereka. Kedua, kalau sesuai jadwal, hari ini
adalah jadwal kapal Sabuk berangkat dari Tahuna, aku berencana akan ke Tahuna
dengannya. Semoga meski hujan deras, tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.
“Cepat kembali lagi ke Kawio, ya, engku. Jangan lama-lama di Tahuna,”
“Iya. Pasti. Pasti akan rindu dengan
kalian terus,”
Selalu seperti ini jika aku akan
berangkat ke Tahuna. Bahkan kapal belum terlihat, mereka selalu mengatakan
demikian. Bukankah terdengar indah sekali? Mereka menginginkan aku kembali
bersama ditengah-tengah mereka.
***
Tepat pukul
lima sore, Sabuk sudah bersandar di dermaga. Sampai pukul sembilan malam, kapal
masih bersandar. Ini kali pertama ke Tahuna tanpa Shaski, jadilah aku seorang
diri di atas kasur ini. Memandang keluar jendela, bayangan gelap pulau kawio
masih terlihat jelas. Entah kapan kapal ini akan berangkat.
“Engku,
tadi enci Shaskia titip pesan, katanya tidak
pulang ke Tahuna sekarang. Kemungkinan lusa atau hari kamis dengan pumpboat.” Aku bertemu dengan salah satu
warga Pulau Matutuang. Kapal ini memang membuat antar penghuni pulau di wilayah
kami terjalin keakrabannya. Karena pastinya akan selalu bersama dan selalu
bertemu di dalam kapal.
“Oh, iya, kasse, Bu. Kemarin saat di kapal sebelumnya, enci Shaskia juga bilang. Masih ada urusan di sekolah yang harus
dikerjakan.” jawabku.
“Ore,
ini ada titipan
dari enci. Saya disuruh kasih ke engku.” Ibu itu memberikan map berwarna
biru yang di dalamnya ada sebuah surat.
“Kasse
bue, Bu.”
***
Hari ke-LXVI, 19
Agustus 2014. Selasa, pukul 13.15 Wita
Angin menusuk tulang saat aku tiba di
pelabuhan Tahuna pukul 01.30 dini hari tadi.
Kusapu pandanganku ke setiap sudut
pelabuhan, namun tak kutemukan orang-orang yang aku kenal. Sehingga aku harus
kembali ke kontrakan seorang diri.
Kubuka handphone
yang baru saja aku aktifkan. Ratusan pesan baik dari surel atau whatsapp dan pesan-pesan dari media
sosial lainnya memenuhi layar telepon genggamku. Aku cari kontak teman-teman
Sangihe, memastikan bahwa pintu kontrakan jangan terkunci.
Menghubungi mereka
satu per satu, tak ada yang mengangkat. Pasti sudah tertidur pikirku. Ini
memang sudah waktunya beristirahat.
Ku
kencangkan jaket hitam yang ku pakai.
Angin yang berhembus membuat tubuhku
semakin dingin. Aku berjalan ke luar pelabuhan, mencari ojek untuk aku tumpangi.
Sepi. Tak ada satu pun ojek yang mangkal. Masih terlalu pagi.
Setelah
berjalan menyusuri trotoar, aku duduk di depan warung kelontong yang masih
tertutup. Cahaya kuning dari bohlam yang berada di depan warung membuat
bayanganku juga duduk bersandar.
Lelah. Semalaman aku tak tidur. Tak bisa
tidur lebih tepatnya. Sambil bersandar, aku kembali membuka telepon genggamku.
Kuhubungi kembali teman-temaku. Nihil. Tak ada satu pun yang mengangkat
teleponku.
Kaki ini ku selonjorkan, sekedar meregangkan otot-otot yang
kesemutan.
Tiiin..
Tiinn..
Tiiin..
Tiinn..
Suara
klakson sepeda motor mengagetkanku. Aku tertidur. Ku lihat jam tanganku, sudah
pukul 02.39.
“Ojek, Mas?
Mau kemana?”seorang Bapak berusia sekitar 40 tahun membangunkanku.
“Oh, iya,
Pak. Ke Tona, boleh?”
“Di sebelah
mana? Dua puluh lima ribu mau?”
“Jalan
baru, sebelah SMP 4, dekat, kok. Jangan segitu, ya, Pak.”
“Yasudah,
lima belas ribu saya antar.”
“Boleh,”
Sepanjang
perjalanan, aku masih berusaha menghubungi teman-teman. Satu-per satu tetap tak
ada yang mengangkat panggilanku.
“Halo,
Bara! Aku sudah di Tahuna, sedang menuju rumah. Tolong jangan di kunci dulu.
Aku udah naik ojek. On the way kesana.
Iya. Oke. Sebentar. Makasih, Bar. Sip.” Akhirnya Bara mengangkat. Dengan
suaranya yang berat, sepertinya ia membukakan pintu dengan keadaan masih
mengantuk. Terbukti saat aku tiba dirumah, ia tertidur di kursi ruang tamu.
***
Hari ke-LXVII, 20
Agustus 2014. Rabu, pukul 15.42 Wita
Tahuna sepertinya tak memberikan
kesempatan padaku untuk menikmati paginya barang sebentar. Pukul 04.45, saat
mataku baru terpejam beberapa jam, aku dan Mbak Iir sudah berjalan kaki ke
pasar. Jaraknya cukup jauh, kami berjalan kaki dengan maksud olahraga sambil
‘hemat’ ongkos yang saat ini semakin mahal saja.
Sepulang dari pasar, kami diundang ke
acara perpisahan guru di kecamatan lain. Selama acara, kami disambut dengan
baik. Iir dan Bara menyumbangkan beberapa lagu yang membuat seluruh peserta
terhibur. Suara mereka memang enak untuk didengar. Kami pun mohon diri karena
masih ada acara lain di Tahuna.
***
Pukul 18.42 Wita
–Kediaman Ci’ Melda
Sejak pukul enam sore tadi, kami sudah
berada di rumah Ci’ Melda. Ini adalah rapat perdana kami bersama
teman-temannya. Agenda dalam rapat bersama ini membahas tentang kepanitiaan,
menyusun sedikit konsep acara, hingga pembagian tugas masing-masing panitia.
Hampir aku lupa. Kami memiliki satu buah program yang akan diadakan di tahun
penempatan kami. Sebenarnya, acara ini sudah diadakan sejak angkatan pertama
Pengajar Muda di Sangihe ini. Acara ini bernama Festival Anak Sangihe, yang
biasa kami kenal dengan sebutan FAS.
Latar belakang diadakannya FAS 2015 ini
karena, Kabupaten Kepulauan Sangihe, yang merupakan
kabupaten dengan gugusan pulau-pulau kecil ini memiliki anak-anak dengan potensi yang luar biasa.
Namun, seringkali anak-anak tersebut belum mendapatkan tempat yang sama dengan
anak-anak yang tinggal di ibukota kabupaten.
Kurang meratanya
informasi yang mereka dapatkan, membuat mereka jauh dari pertukaran informasi
dunia luar. Pengalaman pertama kali ke
luar
pulau diharapkan akan menumbuhkan
rasa percaya diri mereka,
serta membuka
ruang informasi yang lebih beragam dari mereka. Dengan adanya FAS, diharapkan pula anak-anak mampu memperluas
informasi dan jejaring komunikasi
tersebut, menambah inspirasi untuk berkarya, dan menunjukkan bakatnya. Sehingga, potensi besar mereka dapat diapresiasi lebih baik dan
lebih luas.
FAS juga akan
memberikan gambaran yang lebih luas dan beragam bagi anak-anak, bahwa, hidup mereka tidak sekedar di pulau yang berbatas lautan, tetapi juga harapan masa
depan yang terbentang luas.
Rapat selama empat jam ini menghasilkan
sebuah konsep, FAS 2015 akan mengangkat
tema “Pelangi Sangihe”. Pelangi
Sangihe diharapkan akan menjadi gambaran, betapa beragamnya mimpi dan potensi anak-anak
Kabupaten Kepulauan Sangihe ini, harta karun paling
berharga yang dimiliki oleh daerah ini. Semoga acara ini berjalan dengan
lancar sampai hari pelaksanaan nanti, yang rencana awalnya, FAS 2015 ini akan
diadakan pada akhir bulan maret tahun depan. Amin.
***
Hari ke-LXVIII, 21
Agustus 2014. Kamis, pukul 20.30 Wita
Kami pindah rumah kontrakan. Rumah baru,
nyawa baru, harapan-harapan baru, dan tentunya, kehidupan baru yang jauh lebih
baik lagi.
Baru selesai bebenah,
masih lelah.
Selamat malam!
***
Hari ke-LXIX, 22
Agustus 2014. Jumat, pukul 23.17 Wita
Pertemuan
dengan beberapa relawan hari ini terasa begitu bermakna.
Kami bersama Ci’ Melda
dan teman-temannya membuat sebuah jingle untuk
tema acara FAS 2015 ini. Pembuatan lagu ini dikerjakan oleh beberapa relawan. Semua
menyumbangkan idenya, dan, sebuah lagu berjudul “Pelangi Sangihe” sudah
rampung. Lagu ini dirampungkan oleh suami dari Ci’ Melda itu sendiri yang
memang adalah seorang seniman.
Ini kami anak-anak neg’ri
Ini
kami s’penggal dari neg’ri
Lahir
untuk berbakti hingga akhir
Meraih
cita tinggi, bersatu padu...
Ini
kami anak-anak neg’ri
Tak
ada yang mampu menandingi
Lahir
untuk berbakti hingga akhir
Menggapai
asa pasti
Bersatu
padu, membangun neg’ri...
Ooo...
seperti kuyur hujan terhempas
Ooo...
menyatu dalam tanah
Ooo...
kami pun bersatu tekad
Bersatu
dalam keragaman
Kami
pelangi dari Sangihe
***
Hari ke-LXX, 23
Agustus 2014. Sabtu, pukul 03.10 Wita
Suara
jangkrik tetap setia menjadi hiasan malam ini, ditambah gonggongan anjing yang
bersahutan membuat kontrakan kami yang jauh dari hingar-bingar keramaian ini
semakin mencekam.
Semua sepertinya mendukung peristiwa dini hari kali ini.
Mungkin, peristiwa ini tidak bisa dilupakan oleh kami –oleh aku lebih tepatnya.
“Guys,
deadline proposal
FAS kita, awal bulan besok sudah harus beres, ya. Jadi masih sekitar satu
minggu lagi untuk kita kerjakan.” Bara memulai pembicaraan dalam rapat perdana
di kontrakan baru kami.
“Maaf, teman-teman. Aku pagi ini harus
kembali ke pulau.” Jawab Mbak Afifah.
“Aku juga, nih, guys, kasihan sama murid-muridku di sana.” Timpal Bara yang
kemudian disusul oleh Rizky.
Aku yang memilih diam sejak tadi, mulai
angkat bicara. Ingin rasanya membuang semua kegelisahan hati ini. mengeluarkan uneg-uneg.
“Terus? Kalo lo bilang deadline udah hampir
dekat, lo semua pilih pulang? Kalian lupa sama janji kelompok kita diawal?” aku
menarik napas sejenak, “Terus, Bar. Alasan lo
pulang karena, lo kasihan sama
murid-murid lo yang udah lo tinggal?” semua hening. Aku tak
melanjutkan.
“Bara, coba deh kamu cari alasan lain yang nggak
menyinggung aku sama Irul. Kalau alasan kamu pulang karena kamu sudah
meninggalkan murid-muridmu, bagaimana dengan kami? Kami juga punya anak-anak,
dan kami juga sudah meninggalkan mereka. Sama seperti kamu.” Shaski yang
menjawab.
Emosi sudah tidak terbendung. Shaski yang
biasanya selalu bisa menahan marah, kali ini tidak. Setelah beberapa saat yang
lalu masalah kelompok datang, mungkin ini sudah sampai puncaknya.
“Kalian lupa sama janji kita untuk ngatur waktu ketemuan? Bukankah kita akan
berkumpul secara lengkap setelah ngikutin
jadwal gue sama Shaski? Bukan
kita merasa istimewa kalau kalian harus ngikutin
jadwal kita, tapi apa boleh buat? Siklus dua mingguan ngebuat ini terjadi.” suaraku bergetar.
Semua mata tertunduk, Bara yang merasa salah
ucap segera meluruskan, “Bukan itu maksud aku, guys. Tadi aku ngomong begitu
Cuma bercanda ke Revi. Nggak ada
maksud menyinggung siapa pun.”
“Kamu menganggap ini sebuah candaan, Bar?
Kalian sadar, nggak? Kalau kita nggak pernah nemuin irisan yang pas untuk bertemu secara lengkap ber-delapan?
Selalu aja ada yang pulang disaat
yang lain datang. Selalu seperti itu. kalau seperti ini, kok, aku merasa kalau
aku dan Irul yang menunggu jadwal kalian, ya? Selama menunggu kapal, kami
selalu menunggu dan menyaksikan kalian datang dan pergi ke pulau masing-masing.
Lalu dimana kesepakatan kita diawal?” tutur Shaski.
“Oke, gue masuk,” Rizky angkat suara. “Honestly, gue juga ngerasa kalau intensitas pertemuan kita secara lengkap sangat
kurang. Setuju sama Shaski, kita nggak menemukan
suatu irisan dalam pertemuan kita. Selalu hampir ber-delapan. Hampir. Sama
seperti hari ini. Baru aja Revi dateng, Bang Didi pulang tanpa sempat membuat
jumlah kita komplit” Rizky mengatur nafasnya.
“Mbak Afifah, boleh aku tanya?” sekarang
giliran Revi mengutarakan pendapatnya. Setelah mendapat anggukan tanda
persetujuan dari Mbak Afifah, Revi pun melanjutkan.
“Mbak Afifah sedang mengurusi apa, ya?
Kok aku lihat sangat sibuk sekali? Sedangkan saat kita rapat tentang program
kita, Mbak Afifah selalu telat datang dan sering nggak fokus? Ada masalah, Mbak?”
“Iya, aku minta maaf. Mungkin kalian
merasa kalau aku tidak fokus. Aku memang sedang mengurusi pengadaan kubah
masjid pulauku. Aku bolak-balik ke departemen agama dan polres untuk ini. Sampai
siang ini, aku masih harus urus ini-itunya.” Jawab Mbak Afifah.
“Terus, tanggung jawab lo ke acara kita gimana, Mbak? Divisi
konsumsi yang lo pegang udah ada
kemajuan apa?” tanya Rizky.
“Iya, Maaf. Tapi sebenarnya, aku ndak bisa di divisi konsumsi. Itu
menyangkut nyawa orang banyak. Sedangkan pulauku tidak ada sinyal-” belum
sempat melanjutkan, Mbak Iir memotong pembicaraan, “Tolong, Fif, jangan bilang nggak ada sinyal, tahun lalu, Kak Endah
ketua FAS, lho? Dia di Lipang. Dan
selalu bisa komunikasi dengan semuanya.”
“Iya, maaf, Ir,”
“Terus? Mbak Afifah maunya di mana? Lalu
selain konsumsi, apakah ada yang tidak menyangkut nyawa anak-anak?” tanya
Shaski yang semakin kesal. Jangan ditanya jika ada yang membahas tak ada
sinyal, pulaunya yang hanya pulaunya saja yang benar-benar tidak ada sinyal
telepon.
Suasana semakin memanas.
“Guys,
aku izin masuk
sebentar, ya.” sela Bara. “Disini aku sebagai ketua pelaksana FAS dari PM tahun
ini. Mbak Afifah, maaf, semua bagian di FAS ini penting. Tidak ada yang lebih
penting dari yang ini, atau yang ini tidak terlalu penting dan tidak perlu
diurusi dari yang itu. Divisi apa pun memegang kendali dan perannya
masing-masing. Semua saling berkaitan antara satu dengan yang lain. Kalau
memang Mbak Afifah tidak mau di konsumsi, Mbak mau dimana?” semua mata tertuju
pada Mbak Afifah. Gonggongan anjing semakin terdengar. Jam di dinding terus
berdetak, jarum pendek dan panjang tepat berhimpit di depan angka 2. Sudah
semakin larut. Sepertinya, pembicaraan “heart
to heart” kali ini akan berlangsung lama.
“Aku di divisi acara gimana?” suara Mbak
Afifah semakin di telan malam. Dikalahkan oleh suara anjing yang entah sedang
melakukan apa anjing-anjing itu di luar sana.
“Di acara sudah ada aku, dan Shaski.
Berarti salah satu dari kita harus ada yang bertukar tempat ke konsumsi. Aku
bebas.” Mbak Iir menjawab sambil sesekali membetulkan letak kerudungnya yang
sudah miring.
“Sekarang, kalau begitu, Mbak Afifah
maunya di konsumsi atau acara?” tanya Shaski
“Aku di acara.” Jawabnya tanpa menanyakan
balik akan pendapat Shaski yang sebelumnya ia di divisi acara. Terlihat
kekecewaan dari wajah Shaski.
“Oke, Mbak Afif sama Mbak Iir kalau
begitu.” Shaski menutup permasalahan ini dengan gamang. Ia akan menghadapi
seorang diri tentang urusan konsumsi. Pulaunya yang memang tidak ada titik
sinyal sama sekali membuatnya khawatir, kemarin ia bersama Mbak Iir di divisi
acara karena Mbak Iir memiliki akses sinyal yang baik.
“Kalian jangan terlalu khawatir, guys, semuanya jangan terlalu
dipusingkan. Ini hanya masalah kecil saja. Kita akan kerja bareng-bareng, kok.”
Bara menimpali. Seperti jatuh kedalam lubang yang sama, ia mengulang apa yang
sudah membuat perdebatan panjang di pagi-pagi buta ini.
“Apa, Bar? Kamu bilang tenang aja? Aku tahu kalau kalian memang nggak mungkin ngebiarin temannya terluka seorang diri. Tapi, justru karena ini
masalah kecil atau masalah yang menurut kamu sepele, bisa berakibat fatal jika
kita nggak menyiapkan segalanya dari
awal!” Shaski kembali emosi.
“Bara, kita ini ada delapan kepala.
Delapan pemikiran yang berbeda-beda juga tiap kepalanya. Jadi, jangan
menyamakan kita semua dengan apa yang kamu pikirkan. Please.” Mbak Iir ikut
menimpali.
“Hati-hati lo, Bar.” timpal Rizky.
“Mungkin hanya kesalahan redaksi, Bar.
Dalam keadaan lelah ini, hal yang sangat sensitif bisa berakibat fatal. Jadi, gue punya usul. Bagaimana kalau kita
membuat suatu surat, semacam surat perjanjian yang kita tandatangani kalau kita
nggak akan meninggalkan semua
tugas-tugas kita?” aku segera memberikan solusi.
“Kalau menurut gue, itu cuma buang-buang waktu. Kertas yang udah ditandatangani, bisa aja langsung di bakar, kan? Jadi,
percuma. Mending kita buat back up antara
satu orang dengan orang lainnya?” usul Rizky.
“Kalau menurut aku, aku setuju dengan
Irul dan Rizky. Kenapa nggak kita
buat semacam surat hanya untuk berjaga-jaga? Tapi kita juga buat back up teman yang seperti Rizky bilang.
Aku setuju keduanya digabungkan.” saran Revi yang kemudian disetujui oleh
semuanya. Kami segera membuat daftar nama yang akan menggantikan kami jika kami
sedang tidak ada.
“Baiklah, guys, maafkan ucapanku jika membuat kalian tersinggung. Sejujurnya,
nggak ada maksud apa pun. Dan aku
tetap yakin, kita bisa melewati ini semuanya bersama-sama.” tutup Bara sambil
mengepalkan tangannya ke udara.
“Walau hidup susah, walau tidur susah,
walau mau makan pun susah... rasa syukur ini buatku bahagiaaa...” Mbak Iir
melanjutkan sambil menyanyi.
“Karena,”
“Kita,”
“Akan,”
“Selalu,”
“Bersama,”
“Selamanyaaa...”
Tepat pukul 3 lebih beberapa menit sesi
“hati ke hati” ini selesai. Sejatinya ini bukan suatu perdebatan. Bukan pula
suatu ajang saling menjatuhkan. Ini lebih dari itu semua.
Pagi ini, lagi dan
lagi, jika hati yang berbicara, dengan hati-hati, maka akan sampai ke hati
pula. Kami percaya, bahwa, permasalahan kelompok memang harus ada. Namun bukan
untuk dibiarkan begitu saja. Ini adalah hal yang sangat berharga untuk
diperjuangkan.
Setelah acara salam-salaman, peluk-pelukan –bagi kaum hawa
tentunya-, kami semua kembali ke kamar masing-masing. Semoga permasalahan dan uneg-uneg kami akan hilang seperti
hilangnya suara gonggongan anjing yang sedari tadi menganggu –menakutkan kami-
lebih tepatnya. Selamat malam, kawan!
***
Hari ke-LXXI, 24
Agustus 2014. Minggu, pukul 20.40 Wita
Setelah sesi curahan hati kemarin pagi,
Mbak Afifah tetap pulang. Bara dan Rizky juga kembali ke pulaunya
masing-masing. Hanya tersisa aku, Shaski, Revi, juga Mbak Iir.
Kami berempat
lari pagi. Sebelum Revi berangkat ke gereja, kami mampir ke rumah Pak
Kadir, Kakak dari Pak Farai yang rumahnya dekat dengan kami. Setelah
bersilaturrahmi dan menghabiskan teh manis panas, kami berpamitan dan dibekali
dengan beberapa butir telur ayam mentah. “Maka,
nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”
(bersambung...)


Komentar
Posting Komentar