"Mau gue kenalin, gak?" (Bagian Akhir Part 3 - Selesai)

... cerita sebelumnya 

"Kamu mau jadi pacar Aku?" tanyaku kikuk. Meski sudah berusaha terlihat baik-baik saja, meski kumulai dengan candaan sederhana pelepas ketegangan, nyatanya, aku tetap mati gaya.

Kulihat, sate taichan yang baru saja ia pegang, diletakkan kembali. 

Diam sejenak.

"Iya, Aku mau, Kak." Jawabnya.

Detak jam seketika berhenti. Semilir angin yang sejak tadi menyapu tempat taichan, senyap. Hanya detak jatungku terdengar berdegup kencang. Semakin kencang.

Kami berdua seketika diam, hanya memandang antara satu dengan yang lain. Senyum terkulum simpul, wajahku mungkin seperti kepiting rebus. Merah, malu-malu.

"Terima kasih, yaa... " Hanya itu yang keluar dari mulutku. Selebihnya aku tak bisa berkata-kata lagi.

"Semoga jalan kita terus mulus, ya, Kak." Jawabnya kembali setelahnya.

"Iya, pun jika ada rintangan dan hambatan di tengah perjalanannya, semoga kita bisa melewatinya dengan baik bersama-sama, ya." Akhirnya, kalimat terpanjangku keluar setelah beberapa saat masih diam seribu bahasa.

Malam 02-02-2024 itu pun berakhir. Aku antar pulang ke rumahnya, dan semoga, selalu ada momen-momen baik di hari-hari selanjutnya.

---

Bloggy, kamu tentu juga turut senang, kan?

Karena akhirnya, semua doa, usaha, suka terlebih luka di setiap cerita lalu, kali ini mulai ada sebuah harapan.

Masih di bulan Februari, aku berulang tahun tanggal 8, dan lagi-lagi, entah ini hanya kebetulan atau tidak, ayahnya berulang tahun tanggal 9 Februari. Karena keluarganya memang tahu bahwa kami sedang proses perkenalan, aku diundang keluarganya untuk turut makan malam bersama di hari ulang tahun ayahnya.

Kali pertama, ikut ke acara keluarga besarnya, disambut dengan hangat, sungguh membuatku tak bisa berkata-kata. Diselingi canda dan tawa sambil meledek kami, tapi kulihat ketulusan dari merek semua.

Apa? bagaimana perasaanku? Kembali mati gaya, lahh, Bloggy! hahahaha. Tapi alhamdulillah, acara yang berjalan kurang lebih 2 jam, selesai dengan disambut hujan. Sepertinya langit mendukungku dengan kucuran air hujan yang turun, mewakili tangis bahagiaku (iya, ini berlebihan, Bloggy. Aku tahu).

---

Hari terus berganti, hubunganku dengan AZ semakin intens, bertukar pesan setiap hari tetap terjalin, pertemuan tiap kamis saat ia WFO pun tetap menjadi rutinitas pelepas rinduku (iya, lagi-lagi ini berlebihan, Bloggy). Namanya sedang jatuh cinta, masa gini aja gak boleh? hehehe

Seminggu kemudian, karena aku merasa bahwa pertemuan lalu tidak membahas hal yang serius tentang  hubunganku dengan AZ, aku berencana bertemu dengan Ayah dan Ibunya saja--tentu dengan AZ--di momen yang lebih intim. Membahas keseriusanku dengan Az, membahas rencana-rencanaku setelah ini. Karena bukankah untuk sesuatu yang baik itu, jangan ditunda-tunda?

Maka, setelah meminta AZ menanyakan kepada kedua orang tuanya apakah bersedia jika aku ingin bertemu dengan mereka, aku kembali menemui mereka (hanya ada aku, AZ, Ayah, Ibu, dan satu adik lelakinya).

Sungguh, aku pernah mengikuti UAN, UTS/UAS, sidang skripsi, tesis, atau wawancara pekerjaan. semua tidak semenakutkan dan semenegangkan proses pertemuan ini. Sebelum pertemuan, entah berapa lama aku menyiapkan narasi apa yang akan kukatakan, kalimat pembuka apa yang cocok kuucapkan, dan bagaimana reaksiku ketika ternyata aku ditolak. Semua bergumul dalam pikiranku sendiri.

Akhirnya, aku datang terlebih dahulu. Kami mengadakan pertemuan sambil makan malam di Bebek Kal*yo daerah bilangan Kebon Jeruk. Bolak-balik ke kamar kecil, bulir keringat dingin keluar, mengecek kembali kalimat apa yang harus kukatakan, apakah makan dulu, atau langsung bicara pada poin pentingnya, dan pertanyaan-pertanyaan lainnya terus ada di kepalaku.

"Assalamu'alaykum, Pah, Mah," Sapaku sambil mencium punggung tangan orang tua AZ. Mereka akhirnya tiba. Kupersilakan duduk dan keteganganpun mulai.

Pendingin ruangan yang tampak bekerja dengan baik-baik tampak berhenti seketika. Pengap. Sesak. Aku bingung bagaimana memulai obrolannya. Semua kalimat yang kuhafalkan buyar seketika.

"Sehat, Pah, Mah?" Sungguh pertanyaan macam apa itu, Hei? batinku menyalahkan diri sendiri.

"Alhamdulillah sehat, Rul." jawab mereka akhirnya.

Dalam ketegangan ini, penyelamat datang! Pramusaji dengan cekatan menghampir meja kami, lengkap dengan peralatan tempur--pulpen dan kertas yang diselipkan di pinggang--menyodorkan menu makanan. Tuhan dan semesta begitu baik! tahu saja bahwa aku butuh distraksi saat ini. Udara dari pendingin ruangan seakan kembali hadir. Ahhhh.

Setelah kurang lebih dua sampai tiga menit kami memesan menu makanan dan minuman, akhirnya dengan keadaan yang jauh lebih baik, kami mulai lancar mengobrol. 

"Jadi, katanya Irul ada yang mau diomongin nih makannya undang kita makan malam?" Ayah AZ memulai pembicaraan. Baik, meski sejak tadi kumemilih membicarakan topik ini setelah makan, rupanya Papa--begitu AZ menyapanya--yang memulai pembahasan ini. 

Bismillah, kuutarakan maksud aku mengundang mereka malam ini. 

Aku sampaikan kembali rasa terima kasihku karena telah diundang makan malam pekan lalu, kuceritakan progres hubungan aku dengan AZ, dan rencana menjalin hubungan ini ke jenjang yang lebih serius. Meski tidak juga bisa dikatakan lancar, setidaknya kalimatku tidak terbata-bata.

Pramusaji penyelamatku kembali datang. Sigap mengantarkan semua pesanan kami. Sambil makan, Obrolan kami mengalir dengan hangat. Papa sangat membantu dalam mengatasi keteganganku. Pun dengan Mama. Tidak ada kesan intimidasi dari mereka.

"Jadi, Irul kapan siap melamar AZ?" Tanya Papa tiba-tiba.

Duaarrr! bagai petir di siang bolong. Ini langsung banget, nih, Pah, ditodong gini?' 

Kulihat AZ juga kikuk. Aku baru sadar, setiap di momen kami berkumpul bersama keluarganya, aku justru sedikit sekali berbicara padanya. Dan dia memakluminya. "Bagus malah, Kakak harus ngobrol sama keluargaku." jawabnya saat aku sempat menanyakannya beberapa waktu yang lalu.

Karena memang aku sudah membulatkan tekad, sudah berbicara juga dengan keluargaku, maka aku sampaikan perihal kapan kesiapanku untuk melamar AZ.

Malam itu, dengan semua skenario yang telah kusiapkan sebelumnya, meski banyak sekali improvisasi dalam pelaksanaanya, akhirnya berakhir dengan baik. Kami masing-masing pulang ke rumah, dengan rasa syukur yang entah bagaimana aku dapat utarakan, malam itu, sungguh menjadi malam yang luar biasa.

---

Waktu tidak sedetik pun berhenti. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, hingga tanggal 27 bulan April, setelah idulfitri, seperti waktu yang telah disepakati, aku Melamar AZ.

Tidak perlu kuceritakan kembali bagaimana perasaanku. Rasa tegang dan deg-degan yang selalu ada, rasa kikuk ketika menjadi pusat perhatian keluarganya, semua tetap terjadi. Acara lamaran yang berjalan sekitar tiga jam, selesai dengan penuh khidmat.

Tahukah, kamu, Bloggy? seperti yang selalu kupedomani sejak dulu, aku percaya, selalu amat percaya, bahwa, "Tuhan itu pembuat SKENARIO terindah dalam hidup kita. Apa pun yang telah, sedang, dan akan terjadi nanti, semua merupakan episode-episode yang indah dari-Nya. Meski semua yang terjadi tidak selalu menyenangkan, kadang memang, suka dan duka adalah paket yang Tuhan tawarkan. Sedih atau pun tawa, canda atau pun luka, semua telah diatur di Skenario-Nya." Dan aku pernah membaca kutipan kalimat dari novel Bang Darwis Tere Leye, yang juga selalu menguatkanku, "Karena bukankah, daun yang jatuh saja atas kehendak Tuhan? mengapa kita mengkhawatirkan dan mempertanyakan atas apa yang terjadi pada kita?".

---


Terakhir, sebagai pentup kisahku, maka, mohon doakan segala harapan dan cita-cita kami, ya, Bloggy! Juga kalian yang mungkin membaca perjalanan kisahku ini. Doakan esok, tanggal 21 bulan Juli tahun 2024, aku akan mengikrarkan janji suci, mengikatkan tali kasih sehidup semati.

Untukmu, Azizah, terima kasih. Aku amat mencintaimu.

Selesai.






Komentar

Postingan Populer