"Mau gue kenalin, gak?" (Bagian 3)

Ternyata, satu tahun berlalu begitu saja.

Setelah berakhirnya hubungan perkenalanku dengan SW pada bulan Maret tahun lalu, kehidupanku kembali seperti biasa. Jika ingin pergi, kubebas pergi dan tak harus melapor. Jika baterai gawai habis, kutak harus segera mengisinya. Atau ketika ingin berolahraga, aku bebas meninggalkan gawai dan tak harus menunggu kabar. Tak mesti ina-inu, tak harus ini-itu. 

Aku kembali dengan rutinitas kesendirianku. Dan tak mengapa, aku amat menikmatinya.

Setelahnya, Ramadan datang, kesibukan akan pekerjaan di kantor menjelang akhir tahun juga lumayan menyita waktu, dan keadaan pandemi pun belum sepenuhnya membaik. Belum lagi, bulan November 2022 lalu, Ayahku harus menjalani operasi karena penyakitnya dan membuatku tidak terpikirkan menjalin sebuah hubungan atau sekadar menerima bantuan teman yang dengan berbaik hati ingin mengenalkan kerabatnya padaku.

Bloggy, kamu ingat mengapa aku akhirnya mengunjungimu kembali? Dan alasan aku yang tak kusebutkan dalam cerita Halo, 2023! ini? Ya, aku akan menceritakannya kali ini. Lalu, mengapa diceritakan di bagian ke-3 dalam cerita perkenalan ini? Karena, setelah hampir setahun aku kembali pada kesendirianku, tepat di hari ulang tahunku beberapa waktu yang lalu, sebuah pertanyaan, "Mau gue kenalin, gak?" kembali datang dan kali ini, apa salahnya jika aku mencobanya lagi, 'kan?

Aku hanya ingin mudah mengingatnya jika suatu saat, entah aku bersama atau tidak dengannya, maka ceritaku ini dapat menceritakan sendiri padaku di tiap kalimatnya, pada baris yang kususun saat mengenangnya.

Baiklah, aku akan memulainya, Bloggy. Kamu seperti netizen kebanyakan yang tidak sabar dan ingin mengetahui bagian ending-nya saja.

Salah satu teman Pengajar Mudaku, mengucapkan doa-doa baiknya di hari ulang tahunku. Kami saling menanyakan kabar, meng-update kehidupan akhir-akhir ini, dan setelahnya, sebuah pertanyaan yang hampir selalu dan sering kudengar tahun lalu, kembali datang. Katanya, "Udah ada yang deket belum? Tertarik gw kenalin, gak?"

Tentu, aku tak langsung menjawab dan mengiyakan tawarannya. 

Aku kembali pada pikiran-pikiranku sendiri. Apakah nantinya akan terulang kembali semua proses--baik suka terlebih hal yang menyakitkan--seperti tahun lalu? Apakah akan ada perbedaan yang akan menghambat kami? Apakah aku cukup pantas untuknya? dan semua pikiran-pikiran yang terlalu jauh lainnya.

Hingga dua hari kemudian, setelah sepakat ingin mencoba kembali, aku diberikan informasi terkait wanita ini (termasuk akun instagram sebagai media pertama perkenalan kami). Aku follow akunnya, dan setelah kami saling 'mengikuti', maka kumulai menghubunginya melalui Direct Message.

Sejak awal, aku belajar dari proses perkenalanku sebelumnya. Tak berharap segera dapat balasan, tak berharap respon yang kuterima baik. Lebih tepatnya, tidak meletakkan ekspektasi apa pun. Karena bukankah lagi dan lagi, jika berharap banyak pada manusia, maka kita harus siap dengan segala hal yang akan terjadi nantinya (terlebih kekecewaan dengan hasil yang tidak sesuai dari harapan), 'kan? Maka, aku meminta nomor ponselnya untuk beralih menghubungi melalui whatsApp, dan kami mulai berkirim pesan.

Hampir lupa, aku belum menginformasikan siapa nama atau inisialnya, ya? untuk kali ini, karena proses perkenalan masih berjalan, aku tidak menuliskan inisial namanya, ya! Aku khawatir kalian adalah tim intel yang tingkat keingintahuannya tinggi, mulai mencari dan menerka-nerka siapa pemilik inisial dari Followers atau Following di akun instagramku. Namun untuk memudahkan, kupanggil dia di sini dengan sebutan "Elara" yang dalam bahasa Yunani, Elara merupakan salah satu nama bulan--atau satelit--yang mengitari planet Jupiter. Mengapa? karena dia suka sekali berlari (dan berlari juga lah yang menjadi jembatan percakapan kami).

Baru kali ini, manfaat aku suka berlari bukan hanya tentang kesehatan, melainkan menjadi ide dari sebuah 'usaha' pendekatan. Dan pada tanggal 12 Februari 2023, dua hari setelah percakapan melalui whatsApp, akhirnya kami bertemu. Lagi dan lagi tentang berlari, aku bertemu Elara setelah masing-masing dari kami berlari di minggu pagi.

Kuingat sekali, pagi itu hujan deras sejak dini hari. Elara menjadi Pacer di event larinya. Sehingga meski hujan sekalipun, ia tetap harus berlari. Sedangkan aku, yang hanya berlari santai seperti biasa, berat sekali beranjak dari selimut. Ditambah, dari klub berlariku, ada informasi bahwa kegiatan lari dibatalkan karena hujan. Tapi karena sudah ada janji dengan Elara, kutetap menerabas hujan.

"Kamu sudah finish, Elara? aku di tempat ini, ya." Tanyaku sambil menunjukkan lokasi keberadaanku.

"Aku udah finish, Kamu udah kelar larinya? Aku bares makan masih di parkiran timur." jawabnya.

Sambil menembus gerimis, kami akhirnya bertemu. Dan seperti yang kuduga, salting

Sempat diam beberapa saat, tidak ada percakapan, hanya gerakan kaku dari kami berdua. Hingga akhirnya, karena gerimis semakin deras, kami memutuskan untuk ngobrol di sebuah tempat.

Oh iya, selain kesamaan dalam menyenangi lari sebagai pilihan berolahraga, ada beberapa kesamaan lainnya, seperti kami sama-sama mengambil jurusan Psikologi saat kuliah, pernah bekerja--dan mengenal orang-orang--di tempat kerja yang sama, hingga kami sama-sama bukan penikmat kopi yang pilihan pesanan minuman kami pun pada akhirnya sama.

Sepanjang obrolan kami, kutahu Elara merupakan wanita yang mandiri, memiliki prinsip yang kuat, serta bertanggung jawab atas apa yang sudah ia pilih dalam hidupnya. Bercerita dengannya, rasanya tidak kesulitan mencari topik pembicaraan, karena selain memiliki hobi yang sama, ia pun bukan seseorang yang mendominasi percakapan. Kami membagi porsi yang sama antara bercerita atau mendengarkan siapa yang bercerita. Dan satu yang pasti, aku tidak terintimidasi. Penting sekali untukku di awal pertemuan.

Setelah kurang lebih 2 jam kami mengobrol, Elara pun pamit. Ia harus menemui temannya selagi ia di Jakarta. Benar, Bloggy. Benar, kamu tidak salah membaca. Elara bukan berdomisili di Jakarta. Ia berasal dari Bandung. Ke Jakarta hanya jika ia harus bekerja atau ada kegiatan lain. Selebihnya, ia bekerja dan bertempat tinggal di Bandung. 

Bukankah ini sebuah pengalaman baru yang seru, bukan? Bagaimana tidak, kekhawatiranku akan jarak menjadi hal yang kupikirkan sejak tahu bahwa ia tidak berdomisili di Jakarta. Bagaimana pendekatanku? bagaimana jika aku ingin mengajaknya bertemu di lain waktu? Bagaimana jika begini, bagaimana jika begitu? lagi-lagi, aku terlalu banyak mengkhawatirkan sesuatu, Bloggy.

Hari berganti dengan cepat, namun intensitas percakapan kami tidak secepat dan sesering yang aku bayangkan. Biasanya, mengajak lari, makan, atau nonton bersama bisa menjadi alternatif. Namun karena jarak kami yang tak dekat, ditambah pekerjaannya yang juga padat, membuat komunikasi sedikit terhambat.

Aku bingung, Bloggy. Ada 2 pertanyaan besar sejak pesan terakhirku tidak terjawab. Pertama, jika aku menghubungi, khawatir dia akan berpikir, mengapa aku masih menghubunginya padahal ia tidak menanggapi percakapan terakhir kami. Atau yang kedua, jika aku tidak menghubunginya, ia akan berpikir bahwa aku lelaki yang mudah menyerah. Sampai akhirnya, kemarin, tanggal 22 Februari 2023, aku kembali menghubungi dan mengirimkan pesan untuknya (lagi, topik seputar lari kembali).

Apakah dibalas? Iya, akhirnya Elara membalas pesanku, dan kami kembali bercerita lagi meski setelah topik selesai, tidak ada percakapan lagi.

Bloggy, apa yang harus aku lakukan? tetap menghubunginya atau menyerah dan harus lebih peka bahwa ternyata, Elara tidak tertarik dan tidak ingin meneruskan proses perkenalan ini? 

Namun aku teringat, Bloggy. Bukankah aku sudah sepakat untuk tidak menaruh ekspektasi yang tinggi, ya? Maka jawaban atas pertanyaanku sendiri adalah, jalani saja seperti biasanya. 

Mohon doanya, ya, Bloggy!

Komentar

Postingan Populer