"Mau gue kenalin, gak?" (Bagian akhir Part 2)

Kamu menunggu terlalu lama, ya? Iya, maafkan aku yang baru menemuimu lagi, Bloggy!

(untuk yang baru membaca, mungkin kalian tidak mengenal Bloggy, ya? Bloggy nama sapaan yang kupilih untuk Blogg ini. Kalian pun boleh ikut menyapanya demikian, dia tidak akan marah :))

Tapi sebelumnya, kamu sudah mengingat apa yang aku ceritakan di Part 1 sebelumnya, gak? khawatir kamu lupa, sila dikunjungi terlebih dahulu, ya. Agar kamu tidak seperti kebanyakan netizen di luar sana, bertanya-tanya apa yang terjadi, padahal jika kamu ingin sedikit saja mencari tahu dan membacanya, semua jawaban ada di sana.

Baiklah, kita lanjutkan cerita perkenalan ini, ya ...

Senin, 8 Januari 2024, setelah mendapatkan nomor telepon dari temanku, tepat pukul 08.30 pagi waktu Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, aku memberanikan menghubungi adik ipar temanku itu. Untuk memudahkan, kuberi inisial AZ, ya, Bloggy? tak apa, 'kan?

Setelah memperkenalkan diriku, tahu dari mana nomornya, dan karena masih minggu pertama di tahun 2024 ini, maka kuucapkan juga selamat tahun baru.

Seperti biasa, ketika kali pertama menghubungi orang yang mau dikenalkan padaku setelah adegan "Mau gue kenalin, gak?", selalu ada perasaan cemas serta khawatir yang berlebihan. Cemas akan reaksi apa yang kuterima, dan khawatir semuanya akan sama seperti sebelum-sebelumnya. Gagal.

Kutunggu jawaban pesanku, akhirnya, dia membalas pukul 08.59. Kecemasan awalku sedikit hilang, 29 menit menunggu jawaban, respon awal AZ membalas pesanku cukup hangat. Kami justru membahas "Bakso", lebih suka pakai mie kuning, tauge, daun seledri atau tidak, minuman apa yang cocok disandingkan dengannya, hingga kuceritakan bahwa aku punya geng persahabatan dan namanya "Geng Bakso". Iya, bakso yang bulat itu, Bloggy, kamu tidak salah baca. Kami membahas bakso yang ternyata, kesamaan pertama antara kami adalah makanan ini. Dan karenanya, percakapan kami setelahnya semakin cair.

Tapi, apakah kekhawatiranku masih ada? Iya, masih ada, Bloggy.

Kamu ingat, kan? di cerita-ceritaku sebelumnya, respon pertama setiap orang yang dikenalkan kepadaku sama seperti AZ ini. Kami langsung menemukan hobi atau kesukaan yang sama, pembahasan yang selalu nyambung, bahkan intensitas percakapan di awal bisa dibilang cukup baik untuk orang yang belum pernah bertemu.

Oke, kita kembali ke AZ. Pembahasan selanjutnya adalah di daerah mana kami tinggal, di bidang apa kami bekerja, serta di mana kantor kami masing-masing. Dan tahukah kamu, Bloggy? entah ini kebetulan atau tidak, kantor kami hanya berjarak 700-800 m saja! Bahkan aku selalu melewatinya! Meski AZ lebih sering WFH dan hanya satu hari saja ia bekerja di kantor setiap hari kamis. Dunia memang ternyata sebesar daun kelor!

Untuk kali pertama juga, aku memberanikan mengajaknya bertemu saat ia WFO kamis nanti. Alhamdulillah, ia mau, dan tepat di hari kamis, tanggal 11 Januari 2024 (back sound lagu band Gigi yang berjudul 11 Januari diputar di dalam kepala hahaha), kami berencana pergi makan malam bersama.

Sore itu jalanan seperti biasanya, padat merayap. Para pekerja ibu kota yang setelah seharian bekerja rupanya memilih untuk tidak berlama-lama di kantor. Atau bisa juga karena sore itu cuaca mendung dan mungkin akan turun hujan malam nanti. Aku berencana menjemputnya, dan setelah sampai di depan kantornya, aku kabari dan pertemuan perdana kami dimulai sore itu dan tujuan pertama kami adalah Seir*ck-Ya Gandaria.

Selama perjalanan, mungkin masih sama-sama malu, tanya-jawab sesekali dan sisanya kami lebih banyak diam. Tepat ketika kami sampai di tempat, hujan turun cukup deras. Untuk pertemuan pertama, menurutku ia memberikan kesan yang sangat baik.

Bloggy kamu kenal dengan Raib, Seli, dan Ali, tidak? aku sering bertanya ke teman-temanku, mereka pun tak banyak yang mengenalnya. Tapi coba kamu tebak, saat kubertanya padanya, apakah ia kenal? Ya, tepat sekali! AZ tahu siapa ketiga orang tersebut. Mereka adalah salah tiga karakter yang ada di novel serial bumi milik Tere Liye. Dan ia pernah membacanya. Selain kami menyukai bakso, pembahasan ini pun salah satu kesamaan lain antara kami.

Hujan tak juga mereda. Kulihat ke luar jendela, tampaknya akan berhenti lama. Pilihan makan malam kami saat itu menjadi sangat cocok dengan cuacanya--makan ramen kuah yang panas. Hingga tidak terasa, waktu menujukkan pukul 8 malam. Karena tidak enak dengan orang tuanya jika pulang larut, meski hujan masih juga turun, akhirnya kami tetap memutuskan untuk pulang. Aku mengantarnya pulang dan untuk kali pertama juga aku tahu di mana tempat tinggalnya. Hanya saja, karena keadaan yang belum memungkinkan, jas hujan yang juga basah, membuatku tidak bisa mampir. Kuantar hanya sampai depan pagar rumahnya.

Hari berganti, intensitas percakapan kami juga terus berlanjut. Pembahasan yang kami bahas pun semakin beragam dan ternyata banyak kesamaan antara kami. Meski lagi dan lagi, hal ini tidak dapat membuatku langsung menarik kesimpulan. Lebih tepatnya, aku sudah harus terbiasa dengan tidak berekspektasi terlalu jauh.

Seminggu berlalu dengan cepat, menjadi agenda rutin tiap hari kamis saat ia WFO, aku jemput dan kita berencana pergi bersama lagi. Pertemuan kedua, kami ke Gandaria City. Setelah menemaniku mencari novel Tere Liye yang lanjutan serial buminya baru keluar, kami makan di S*laria. Satu lagi kesamaan, kami sama-sama menyukai nasi goreng. Dan tempat makan yang kami pilih saat itu pun menjadi tempat yang cukup sering kami kunjungi sebelumnya.

Entah mengapa, tiap hari, baik aku yang memulai atau ia yang memulai percakapan melalui whatsApp setiap harinya, selalu ada topik menarik untuk kami bahas. Obrolan yang semakin nyambung membuatku sedikit terbawa perasaan. Iya, Bloggy, aku gak boleh baper, kan? Iya, aku tahu. Aku terus me-manage ekspektasiku. Tidak boleh mengulang hal yang sama.

Kamu tahu tidak, Bloggy? Untuk kali pertama, aku tidak menceritakan perkenalanku dengan AZ ke siapa pun. Bahkan ke Geng Bakso yang sempat kuceritakan di awal tadi. Geng Bakso yang sudah menemaniku lebih dari setengah usiaku, mereka yang lebih dari sekadar sahabat bagiku, aku sungkan menceritakannya. Padahal, sebelumnya, siapa pun orang yang sedang dikenalkan denganku, saat proses perkenalan sejak hari pertama, aku menceritakan semuanya. Hal ini dikarenakan aku tak ingin mereka ikut sedih atau kecewa ketika proses perkenalan ini gagal di ujungnya. Kutahu mereka ingin sekali memiliki pendamping, karena di geng bakso, hanya aku yang belum kunjung menikah.

Waktu terus bergulir tanpa bisa dihentikan. Tidak membiarkan kita untuk sejenak saja beristirahat dari aktivitas-aktivitas yang melelahkan.

Perkembangan hubungan aku dengan AZ juga terus berlanjut. Tiap hari selalu ada saja cerita baru dan intensitas kami pun semakin dekat. Kamis ketiga, keempat tidak terasa datang juga. Hampir satu bulan kami terus berinteraksi dengan hangat. Selalu ada hal baru dan seru yang terjadi tiap harinya. Aku yang sepertinya sudah butuh teman untuk bercerita, akhirnya aku memilih menceritakan hubungan ini ke salah dua sahabat di geng baksoku (thank you, NS & IM atas masukan dari sudut pandang wanita), dan rekan kantorku yang meski kadang ngeselin dan usil, para bapack-bapack ini cukup membantuku tentang apa yang harus aku lakukan sebagai laki-laki.

Selama hampir satu bulan berlalu, di pertemuan terakhir, pembicaraan sudah mulai sedikit serius. Kusampaikan bahwa kami sama-sama tahu tujuan mengapa kami dikenalkan. Apa harapan dan kekhawatiran serta topik tentang konsep keluarga seperti apa yang sama-sama kami inginkan nantinya.

Bloggy, aku tahu, aku tak berhak mengatakan sayang terlebih cinta. Terlalu dini untuk waktu yang terbilang singkat ini. Aku pun tahu itu. Tapi apakah aku salah jika aku mengatakan bahwa sudah ada rasa peduli padanya? rasa ingin mengetahui apakah ia baik-baik saja jika tidak ada kabar, menunggu kabar darinya apakah ia sudah sampai rumah ketika sebelumnya ia mengabari bahwa akan pergi bersama temannya. Dan mengingatkan minum obat jika ia harus mengonsumsinya saat sakit.

Bulan berganti, sudah memasuki bulan Februari di mana bulan tersebut salah satu bulan yang paling kutunggu--karena aku berulang tahun di bulan ini. Obrolan melalui whatsApp tiap hari atau saat bertemu di hari kamis juga semakin intens, aku memberanikan diri untuk mengutarakan perasaanku. Kalau kata kebanyakan orang pada zamanku, aku ingin 'tembak' dia. Karena bukankah wanita juga butuh kepastian, kan? Sebuah tanggal untuk momen perayaan.

Setelah menonton film Agak Laen di bioskop Blok-M Plaza, dilanjutkan makan sate taichan di Radio Dalam, aku mulai meneguhkan keberanian.

Dengan menerapkan nasihat dari temanku tentang bagaimana aku memulai prolog proses tembak ini, tepat di hari Jumat, tangal dua, bulan dua, tahun dua ribu dua puluh empat, dengan mengumpulkan semua nyali, mengabaikan suara yang gemetaran, aku mengutarakannya,

"Kamu mau jadi pacar aku?"

Kulihat dia mulai diam, berpikir memberi jawaban, dan jawabannya adalah ...


bersambung ke part 3 ...

Komentar

Postingan Populer