CCCLXV - Catatan Harian Pengajar Muda (12)
Hari ke-LXXIX, 01
September 2014. Senin, pukul 03.22 Wita –Sabuk Nusantara
“Haloooooo, happy birthday, Reviline Sijabat!” sapaku akhirnya ketika yang di
ajak bicara mengangkat teleponnya.
“Aaakkkk... kasse bue engku Hairul!
Kalian sudah berangkat atau masih di pelabuhan?” jawab Revi dari balik telepon.
Suaranya masih terdengar berat karena mungkin masih mengantuk.
“Ini masih di dermaga. Mungkin tidak
sampai setengah jam lagi, kami berangkat. Oi, gimana hasil dari clue yang aku buat? Bisa ketemu harta karunnya?”
“Berhenti sampai clue nomer 4. Sisanya belum aku cari. Besok saja diterusin, udah ngantuk banget ini. Shaski mana? Aku mau ngomong, dong.”
“Yaaahhh... selamat berpenasaran kalau
begitu. Doi ada, nih. Anyway,
happy birthday, Rev! Sukses terus, ya.” Telepon selular aku berikan pada
Shaski. Entah apa yang mereka tertawakan. Saat ini derunya mesin sudah
terdengar. Disusul oleh ‘klakson’ yang menandakan kapal akan berangkat
meninggalkan dermaga.
Sampai jumpa, Kawio!
***
Dermaga Pulau
Matutuang pukul 12.25 Wita
Akhirnya kapal bisa bersandar juga di
Pulau Matutuang ini.
Beberapa waktu belakangan ini, kapal
tidak bisa bersandar di dermaga, sehingga untuk penumpang yang akan turun di
Matutuang, mereka harus di jemput oleh sampan-sampan kecil. Masyarakat biasa
menyebutnya dengan istilah tambangan.
Oleh
karenanya, ini kali pertamaku singgah di Pulau Matutuang. Aku mengantar Shaski
turun sambil tetap membawakan tasnya. Kami sudah di sambut dengan teriakan
anak-anak yang meneriaki encinya.
Karena beberapa kali kami menaiki kapal yang sama, sering bertemu bahkan sering
berbincang-bincang saat di kapal, tak heran jika warga pulau ini juga
mengenalku. Sehingga tak sedikit yang meneriaki “engku” saat melihatku.
Sekitar
satu jam kapal ini bersandar, setelah semua barang-barang penumpang diturunkan,
kapal melanjutkan perjalanan. Sekarang kapal akan menuju Pulau Marore. Karena
untuk menuju pulau tersebut masih memerlukan waktu yang lama, aku tak berniat
‘menjemurkan’ kulitku di geladak kapal, atau hanya sekedar menyaksikan matahari
sedang unjuk rasa memancarkan panasnya. Aku memilih kembali ke ranjang,
meluruskan kaki, sambil melanjutkan membaca novel-nya Abang Darwis yang aku bawa dari Tahuna.
Pukul tiga sore kapal sudah berlabuh di
dermaga Pulau Marore, aku keluar, mengamati kesibukan para penumpang yang akan
turun, juga yang akan berangkat ke Tahuna. Terlihat kebiasaan yang sama di
setiap pulau yang kapal ini lewati, semua membawa troli-troli kecil, menjemput
atau mengantar barang-barang bawaan. Sehingga sudah menjadi pemandangan yang
biasa juga, troli-troli menjadi ‘mainan’ anak-anak untuk mengadu siapa yang
lebih cepat mendorong troli tersebut.
Saat senja
sudah menampakkan warnanya dari arah barat, kapal mulai berangkat. Bayangan
Pulau Kawio sudah terlihat seiring melajunya kapal. Itu berarti, tidak sampai
satu jam lagi aku akan berada di tengah-tengah kehidupan warga Kawio.
***
Hari ke-LXXX, 02
September 2014. Selasa, pukul 08.11 Wita
Sepi.
Sekolah saat ini sepi. Kemarin saat kapal
bersandar, hampir setengah siswa beserta orang tuanya pergi ke Tahuna. Ada
pengambilan beasiswa untuk anak-anak di mana orang tua dan anak harus
menandatangi pernyataan bahwa dana sudah diambil. Sehingga, jumlah siswa
sekolahku yang memang sedikit, makin tak berisi.
Bagaimana dengan guru? Sama.
Entah sebenarnya apa yang mereka lakukan,
beberapa guru juga ikut berangkat ke Tahuna. Sehingga, pagi ini, kelas 3 dan
kelas 4 aku gabungkan ke dalam satu kelas.
Semua kesepian ini dibayar oleh peristiwa
sebelum lonceng aku bunyikan. Baru saja kakiku melangkahkan ke halaman sekolah,
semua anak laki-laki kelas 1 langsung meneriaki dan menghambur keluar kelas,
buru-buru mereka memelukku. Menubrukkan badannya, menyembunyikan wajah-wajah
penuh bedaknya ke dalam dekapanku.
Lalu, dimana istimewanya? Hal seperti ini
memang biasa saja, namun, tahukah kalian, bahwa siapa yang memelukku itu?
Mereka adalah anak laki-laki yang kebanyakan, guru atau bahkan orang tuanya
mengatakan bahwa mereka ‘nakal’. Tapi menurutku, mereka adalah anak-anak yang
terlalu aktif dan terlalu bersemangat dalam menyampaikan apa yang ingin mereka
lakukan. Bayangkan saja, ada anak laki-laki yang dibilang nakal, berhamburan
keluar kelas, lebih dari empat orang secara bersama-sama memelukmu? Meski dalam
dekapanmu, mereka saling berebutan untuk siapa yang paling dekat ke dalam
pelukanmu. Indah, bukan? Ditambah, salah dua di antaranya berbicara dengan
suara yang nyaris sesak karena berhimpitan dengan yang lain,
“Engku,
mengajar di sini
saja, ya. Kita ning mau kalau sama
bapak guru.” bagaimana? Masih tidak setuju denganku, kalau itu adalah indah?
Setelah beberapa jam keluar-masuk kelas
yang satu dengan kelas yang lain, lonceng istirahat dibunyikan.
Semua siswa tanpa harus bertanya, tanpa
diminta untuk bersitirahat, mereka sudah sangat peka untuk berlarian menuju
lapangan sekolah. Apa lagi kalau bukan untuk bermain? Meski, halaman hijau yang
luas itu, kali ini terlihat sepi sekali. Namun, tidak mengurangi sedikit pun
rasa bahagia mereka.
***
Pantai dermaga pukul
15.40 Wita
Daun kering yang berjatuhan karena
tertiup angin sore ini, jatuh tepat di antara kami yang sedang duduk-duduk di
putihnya pasir pantai. Aku, Putra, Inne, Ical, dan Acil sedang bercerita sambil
menikmati semilirnya angin.
“Siapa yang berani bercerita, kalau sudah
besar nanti, kalian ingin melakukan apa?” tanyaku.
Aku mengganti, “Apa cita-cita kalian?”, menjadi “Apa yang ingin kalian lakukan?”, mengapa? Menurutku, jika aku
bertanya tentang cita-cita, –seperti yang selalu guru atau orang tua tanyakan
padaku atau pada anak-anak lainnya saat kecil- itu hanya memberikan batasan
pada apa yang akan anak lakukan. Membatasi kreativitas mereka.
Mudahnya, jika kita bertanya tentang
cita-cita, maka anak akan menjawab, “Dokter”, “Guru”, “Polisi”, dan segala
jenis profesi lainnya. Saat anak menjawab dokter misal, maka ia akan selalu
memikirkan bagaimana setelah ia lulus SD, SMP, dan seterusnya, ia harus
mengambil jurusan apa yang mendukung, dan lain sebagainya (ini di luar asumsi
bahwa, cita-cita anak akan selalu berubah. Kalau kalian menjawab seperti itu,
ya, sudah, selesai perkara). Sehingga, ia akan terbatas melakukan kreativitas
yang dimilikinya. Tanpa kita mengetahui bahwa sebenarnya, setiap anak memiliki
daya kreativitas yang luar biasa.
Lain halnya jika, aku bertanya “apa yang
ingin kalian lakukan?”, mereka akan berpikir lebih dalam, mengeluarkan segala
jenis kreativitasnya, membuka segala hal ‘liar’ yang akan mereka lakukan.
Tentunya, aku mengarahkan ke dalam hal-hal yang positif. Bebas di sini tetap
sesuai aturan. Tapi semua ini hanya menurutku, lho.
“Saya ingin mengajar seperti engku. Tapi bukan jadi guru. Ya, seperti
engku. Mengajar anak-anak di
pulau-pulau, mengajar anak yang tidak bisa sekolah, atau mengajar opa-opa juga
oma-oma yang belum bisa membaca.” jawab Inne yang satu-satunya anak perempuan
saat ini. Kalian dengar? Apa yang Inne inginkan? Sungguh mulia, bukan? Itu
maksudku. Seandainya aku bertanya tentang apa cita-citanya? Mungkin ia akan
menjawab, “Menjadi Guru”. Tanpa mengetahui sebenarnya ia sedang memikirkan
anak-anak yang tidak sekolah, atau bahkan kakek-kakek dan nenek-nenek yang
tidak bisa membaca.
“Waahh... luar biasa, Inne. Semoga Tuhan
mengabulkannya, ya.” aku memberikan apresiasi dengan bertepuk tangan, dan
diikuti oleh yang lainnya.
“Siapa lagi?” tanyaku pada yang lain,
mereka sudah khusyuk pada topik sore ini.
“Pemain sepak bola!” teriak Putra sambil
berdiri dan memeragakan salah satu tendangannya. Di sekolah, Putra memang salah
satu siswa yang pandai sekali bermain sepak bola.
“Tapi saya nggak mau bermain hanya di Indonesia saja, Ngku. Saya ingin ke luar negeri. Saya ingin main ke Jerman, Italia,
Brazil, Filipina juga boleh deh. Hehehe.” ia duduk kembali.
Saat mengatakan Filipina, ia menunjuk ke
arah pulau terluar Filipina yang terlihat dari pantai kami. Aksinya menunjuk
pulau itu diikuti oleh tawa yang lain. Bukan menertawakan negaranya, melainkan,
bahwa, kenyataan ke luar negeri yang satu ini bisa mereka tempuh kapanpun dalam
waktu tidak sampai tiga jam. Dan tidak harus bermain bola untuk sampai ke sana.
“Saya, engku!” Ical terlihat berpikir.
“Hemmm... saya ingin membela tanah air.
Tapi kalau menjadi tentara angkatan darat, saya sering mabuk. Kalau angkatan
udara, saya takut jatuh ke bawah dari langit. Nanti bisa mati.” ia berhenti
sejenak. Masih terlihat berpikir, kemudian ia tersenyum. “Saya mau di angkatan
laut saja, engku. Saya tidak mabuk
laut. Saya juga bisa berenang jika kapal di tembak musuh. Tinggal balompa, kong ia kumalang.[1]”
anak-anak yang lain tertawa tak kalah kencangnya dengan aksi melihat Putra
tadi. Ekspresi Ical saat berkata balompa dan
kumalang sangat lucu. Ia memeragakan
jika ia tertembak musuh, meluncur ke laut, dan berenang secepatnya.
“Kong
ikau, Acil?”
tanyaku.
“Kalau menjadi nelayan, boleh?” tanya
Acil yang kemudian disoraki oleh teman-temannya.
“Ssstt...” perintahku cepat sambil
memberi isyarat untuk berhenti tertawa.
“Memang apa yang salah dengan menjadi
seorang nelayan?” tanyaku pada semua anak-anak. Sambil memandang mereka satu
per satu, aku mulai menjelaskan sesuatu yang mungkin baru bagi mereka.
“Menjadi nelayan itu pekerjaan yang
mulia. Setiap hari, kalian makan ikan dari siapa? Apakah ikan-ikan itu datang
sendiri ke rumah kalian tanpa harus di pancing, atau di tangkap? Nyandak, toh? Lalu, apakah semua orang
bisa mengail ikan dan mendapatkan ikan yang banyak dan besar-besar? Tidak juga,
toh?” anak-anak menunduk.
Saat ini, langit sudah kemerahan. Angin
pantai juga semakin kencang. Ku suruh mereka tiduran, membuat lingkaran dengan
kepala mereka saling bersisian. Memejamkan mata dan aku melanjutkan.
“Kalian boleh dan bebas ingin melakukan
apa saja jika besar nanti. Menjadi guru dan mengajar anak-anak atau oma dan
opa? Boleh. Menjadi pemain sepak bola yang hebat dan terkenal? Itu juga boleh.
Menjadi tentara, menjadi polisi, dokter, atau nelayan? Tidak ada yang melarang.
Yang paling penting adalah, kalian menjadi seseorang yang jujur dan pintar.
Menjadi guru? Jadilah guru yang jujur. Tidak boleh mengambil apa yang bukan
haknya. Bisa membedakan mana yang baik dan tidak. Pun juga saat ingin menjadi
nelayan. Jadilah nelayan yang jujur dan pintar. Jujur dengan tidak menipu
timbangan berat ikan, tidak menjual ikan yang busuk atau beracun, dan jadilah
nelayan yang pintar agar tidak dibodohi atau di tipu oleh orang lain. Sehingga,
untuk menjadi apa pun, untuk ingin melakukan apa pun nanti, kalian tetap harus
bersekolah. Sekolah sampai setinggi-tingginya agar pintar. Tidak hanya pintar
membaca dan berhitung, tapi, pintar mengetahui mana yang baik, dan mana yang tidak
baik. Di negara kita, orang yang pintar sudah sangat banyak. Tapi, orang yang
pintar ditambah jujur, masih sedikit. Oleh karena itu, jika kalian sudah
pintar, maka kejujuran adalah hal terpenting yang harus kalian miliki juga.
Semoga semua hal mulia tersebut dapat di dengar Tuhan.”
Inne menangis. Air matanya mengalir
perlahan membasahi pasir. Dada Acil terlihat naik-turun. Mereka mendengarkan
dengan baik. Alam bawah sadar mereka meresponnya dengan sangat baik.
Aku memposisikan keadaan yang sangat tenang
pada tiap masing-masing dari mereka. Saat pelatihan Pengajar Muda yang lalu,
kekuatan alam bawah sadar setiap manusia sangat memiliki kekuatan yang besar.
Tentunya diisi oleh hal-hal yang baik agar apa yang dikeluarkan bersifat
positif.
Sebelum aku mengakhiri, aku mengulangi
beberapa kalimatku,
“Jadilah apa pun yang ingin kalian raih.
Lakukan apa pun yang baik yang ingin kalian lakukan. Tapi, ingat, jadilah apa
pun dengan jujur dan pintar. Sekolah yang benar untuk mendapatkan itu semua,
ya.” Aku hanya ingin memberikan semangat, bahwa mereka harus tetap mengenyam
pendidikan. Mereka harus tetap melanjutkan sekolah.
Kami beranjak bangun. Pasir-pasir yang
menempel di celana dan baju tidak kami hiraukan. Kami bergandengan tangan
melewati pasir pantai menuju rumah masing-masing. Terdengar suara mesin
generator dari beberapa rumah. Segerombolan burung-burung kecil berterbangan
membelakangi senja membetuk kerumunan yang mengindahkan mata.
***
Hari ke-LXXXI, 03
September 2014. Rabu, pukul 11.39 Wita
Aku semakin menyadari, bahwa, aku bukan
siapa-siapa. Aku harus paham dengan kenyataan, bahwa, tanpa aku disini, mereka
tetap hidup secara berkelanjutan. Mereka tetap datang dan pergi ke pulau
mereka, mereka tetap memancing, beternak, atau berkebun tiap harinya.
Aku hanya melakukan yang terbaik.
Mencontohkan apa yang benar; benar
sebagaimana mestinya.
Persis dengan kejadian pagi ini atau
seperti pagi-pagi lainnya. Datang sebelum waktu lonceng dibunyikan, memasuki
kelas yang tidak ada guru, meski hanya memperingatkan agar mereka tidak keluar
kelas saat jam pelajaran berlangsung. Mungkin benar, bahwa, aku yang bukan
berlatar belakang guru, masih jauh dibandingkan guru-guru disini. Mungkin, aku
yang jika terkadang lelah karena menghadapi para siswa, aku bisa saja berkata, “Hanya setahun. Beberapa bulan lagi juga
pulang dan kembali melakukan apa pun.” Tapi untuk para guru di sini, ini
adalah jalan yang mereka pilih. Saat mereka lelah karena menghadapi segala
‘keaktifan’ para siswa, tak ada jawaban sepertiku. Sehingga, harapanku saat
ini, anak-anak pulau ini, tetap bisa bersekolah dan setara dalam mendapatkan
hak-haknya sebagai seorang pelajar (dalam hal ini, mendapatkan seorang guru
yang ‘benar-benar guru’).
“Siapa yang tahu, nama bandara di
Manado?” tanyaku pada kelas 4 saat pelajaran Kewarganegaraan.
“Saya, Ngku. Bandara Sam Ratulangi.” jawab Hamelin, siswi terpandai di
kelas 1ni.
“Betul sekali. Kong, ada yang tahu dari mana nama itu berasal?” tanyaku lagi
sambil menyapu pandangan ke seluruh siswa. Semua menggeleng.
“Baik, coba dengarkan, engku, ya.” aku menarik kursiku ke depan
kelas. Duduk di tengah-tengah mereka. Ku buka buku kisah perjuangan pahlawan
Indonesia yang kutemukan di perpustakaan[2].
Sesekali aku berkeliling mengecek apakah ada yang tertidur atau bermain sendiri.
“Jadi, nama bandara kita ini diambil dari
nama seorang pahlawan yang membela kemerdekaan bangsa ini. Nama lengkapnya
adalah, Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi. Atau kalian tahu dengan Sam
Ratulangi. Ya, bandara di Manado berasal dari bagian namanya. Bapak Sam
Ratulangi adalah seorang doktor. Pahlawan kita ini, lahir di Tondano, pada
tanggal 5 November tahun 1890. Ada yang pernah ke Tondano di Manado?” tanyaku
agar kelas terjalin dua arah.
“Saya, Ngku! Saya lahir di Bitung, melewati Tondano kalau tidak salah.
Kalau natal, saya dan mamak pergi ke Bitung, lalu melewati Tondano. Di sana
juga ada danau Tondano yang terkenal itu. Saya suka sekali ke sana.” jawab
salah seorang siswa.
“Iya, benar. Danau tersebut menjadi salah
satu objek wisata yang berada di Manado. Oke, kita lanjutkan, ya.” Anak-anak
menegakkan badannya, memajukan kursi agar duduknya bisa merapat ke meja. “Bapak
Sam Ratulangi ini sekolah di Tondano, yaitu sekolah Raja atau Hoofden School. Setelahnya, ia
melanjutkan ke sekolah Teknik di Batavia yang sekarang lebih kita kenal dengan
Jakarta.”
“Jadi, dulu itu, Jakarta namanya Batavia,
Ngku?” tanya Hamelin. Aku mengangguk
mengiyakan.
“Bapak Sam Ratulangi ini sekolah ke luar
negeri juga, lho. Ia sekolah di
Belanda dan memperoleh ijazah guru ilmu pasti. Selama di sana, ia menjadi ketua
perhimpunan Indonesia atau dikenal Indonesische
Vereeniging. Kemudian, Bapak Sam Ratulangi juga melanjutkan sekolah di
Swiss, Perancis, dan sukses mendapatkan gelar doktor di bidang ilmu pasti dan
ilmu alam. Siapa yang mau sekolah ke luar negeri seperti bapak doktor Sam
Ratulangi?” teriakku yang di susul oleh jawaban yang sama, “Saya, engku! Saya!”
“Meskipun doktor Sam Ratulangi sekolah di
luar negeri, ia tetap cinta dan bangga pada negara kelahirannya, yaitu negara
Indonesia. Ia pulang kembali ke Indonesia. Ia mengajar di Yogyakarta, dan juga
mendirikan Maskapai Asuransi Indonesia di Bandung. Bapak doktor ini kembali ke
Minahasa. Di sana, ia menjadi sekertaris dewan Minahasa di Manado selama 3
tahun. Ia selalu bersikap dan selalu membela kepentingan rakyat Minahasa.
Sesuatu yang hebat dan perlu di contoh, kan?” tanyaku sambil mengelilingi isi
kelas.
“Iyaa, saya kalau jadi presiden juga mau
membantu masyarakat, ngku!” celetuk
Jemsi.
“Amiiinn. Semoga dikabulkan, ya, Jemsi. Kalau
begitu, kamu harus belajar membaca lebih giat lagi, ya. Tidak hanya pandai
matematika saja, tapi kamu juga harus bisa membaca. Gimana kalau kamu disuruh untuk menandatangani surat perjanjian,
kalau kamu belum bisa membaca? Oke?” Jemsi mengangguk penuh percaya diri. Jemsi
adalah salah satu siswa pindahan dari Filipina. Ia masih belum bisa membaca,
namun, berhitung adalah hal yang sangat disukainya.
“Oh, iya. Bapak doktor Sam Ratulangi juga
pernah diangkat sebagai gubernur Sulawesi, lho.
Pernah menjadi pemimpin tertinggi di propinsi kalian ini. Namun, ia
tertangkap dan meninggal sebagai tahanan Belanda. Ia meninggal pada tanggal 30
Juni tahun 1949 di Jakarta.”
“Yaaaaaahhhhh... kasihan sekali,engku!” teriak anak-anak kecewa.
“Iya, sungguh kasihan. Ia rela mati untuk
negara Indonesia kita ini. Kalau nanti, kalian pergi ke bandara Sam Ratulangi
di Manado, kalian akan menemukan sebuah tulisan yang besar. Tulisan ini diambil
dari perkataan doktor Sam Ratulangi, tulisan itu adalah,” aku maju ke depan
kelas, mengambil kapur, dan menuliskannya di papan tulis, “Si Tou Timou Tumou Tou”.
“Apa artinya, ngku?” tanya Hamelin.
“Artinya adalah, manusia baru dapat
disebut manusia, jika sudah dapat memanusiakan manusia. Dalam kata lain, kalian
sebagai manusia yang paling sempurna yang Tuhan ciptakan, sudah seharusnya
menghormati orang lain. Tidak semena-mena dengan teman, tidak boleh memukul,
atau tidak boleh berkelahi dengan teman-teman yang lainnya, ya?”
“Iyaaaaa, engkuu!”
“Bagus. Jangan hanya di mulut saja, ya. Engku tidak mau melihat ada yang
menangis lagi karena dijahili oleh temannya. Kalian harus mencontoh pahlawan
dari propinsi kalian ini. Bapak doktor Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi,
atau biasa kalian kenal dengan Sam Ratulangi. Sekolah yang benar, jangan pernah
berhenti di tengah jalan. Menjadi orang yang jujur, dan selalu mendahulukan
kepentingan umum dibandingkan kepentingan pribadi. Terakhir, sebelum kita
pulang, engku hanya ingin
memberitahu, bahwa, doktor Sam Ratulangi telah berjuang demi kemerdekaan bangsa
ini. Rela mati dan berkorban agar Indonesia merdeka dan membuat kalian bisa
menikmati hasil perjuangannya. Kalian tidak harus menjadi pejuang yang
merelakan nyawanya untuk negara seperti bapak doktor, tugas kalian saat ini,
belajar dan belajar. Sekolah sampai setinggi-tingginya. Dan ingat, kejujuran
adalah hal yang sangat penting yang harus dimiliki oleh siapa pun. Buat bapak
doktor Sam Ratulangi bangga pada kalian. Buatlah kematiannya tidak sia-sia
dengan kalian tidak menyia-nyiakan waktu untuk belajar apa pun. Selagi sempat.
Bisa?”
“Bisaaaaaaa!!!” kututup pelajaran
kewarganegaaran ini dengan menyelipkan kisah inspiratif yang ku baca dari buku
kisah pahlwan Indonesia. Semoga, akan ada ‘pahlawan-pahlwan’ baru di masa yang
akan datang. Pahlawan yang membuat harum nama bangsa ini. Pahlawan yang selalu
memegang kejujuran dalam segala tindak dan perbuatannya. Setelah berdoa
bersama, kami semua pulang ke rumah masing-masing.
***
Hari ke-LXXXII, 04
September 2014. Kamis, pukul 10.17 Wita
“Hormat satu, dua, tiga!” teriak Hamelin
saat memimpin doa. Aku menggabungkan kembali kelasku dengan kelas 4.
“Slaaamaaat pagi, engku!” jawab seluruh isi kelas.
“Selamat pagi, semuanya. Hari kamis ini,
kalian seharusnya pelajaran agama kristen, ya?” tanyaku sambil melihat jadwal
pelajaran yang ditempel di dinding kelas.
“Iya, engku!
“
Aku berpikir keras, bagaimana ini? Guru
yang lain belum datang. Seandainya datang pun, mereka akan mengajar kelasnya
masing-masing. Ditambah masih ada kelas 1 dan kelas 2 yang tidak ada gurunya.
Sehingga sudah beberapa hari ini, selain aku yang mondar-mandir masuk kelas,
ada satu guru yang sepertinya tidak tega melihatku bolak-balik. Akhirnya, ia
yang menggantikanku.
“Hemm... bagaimana kalau kita melakukan
rileksasi? Sudah ada yang tahu?” tanyaku akhirnya. Semua menggeleng. Aku
mengingat salah satu materi di minggu ke-2 saat pelatihan Pengajar Muda, Brain Based Teaching. Aku yang kebetulan
membawa laptop, memutar musik-musik yang sudah dibekali pemateri saat itu. Aku
menyuruh mereka membenamkan wajahnya pada tangan yang sudah terlipat di atas
meja. Semua tak ada yang mengintip. Alunan musik yang menentramkan jiwa terus
terdengar. Aku terus berbicara dengan suara yang mantap. Menceritakan tentang
hal yang paling dekat dengan mereka; keluarga.
“Bayangkan wajah mamak kalian, bayangkan
dengan benar-benar. Lihat matanya, hidungnya, mulutnya, rambut, juga suaranya
yang selalu memanggil nama kalian. Rasakan saat mamak menyuruh kalian mandi,
makan, tidur, atau bahkan saat mamak memarahi kalian. Semua terasa begitu dekat
dengan kalian.” Semua masih diam. Belum tampak ada tanda-tanda lelah atau ingin
mengintip. Rencanaku mulai berjalan dengan lancar.
“Sekarang, bayangkan wajah bapak kalian.
Ingat baik-baik tangannya yang selalu menggendong kalian, wajah lelahnya
setelah mengail atau membuat kopra, bayangkan semuanya. Bagi kalian yang tidak
pernah melihat mamak dan bapak kalian. Bayangkan wajah oma dan opa kalian.
Bayangkan wajah semua orang yang kalian cintai.” Musik terus berganti. Beberapa
anak sudah ada yang tarik nafas dalam-dalam –ingin menangis.
“Ya, Tuhan. Jagalah mamak, bapak, oma,
dan, opa kami. Selalu lindungi mereka, ya, Tuhan.” Aku terus bercerita sambil
mengelilingi mereka. Intonasi suaraku sengaja aku naik-turunkan, membuat
semuanya dramatis. Dan, seperti yang selalu aku ikuti saat melakukan kegiatan
seperti ini saat di kampus, aku masuk ke inti dari rileksasi ini. Menyelipkan
sesuatu yang bermakna pada alam bawah sadar mereka disaat keadaan otak mereka
sedang tenang.
“Bayangkan, setelah kalian kembali dari
sekolah, atau jika nanti sudah sekolah dan pergi jauh dari pulau ini, lama tak
berjumpa dengan orang tua kalian, akhirnya kalian kembali ke pulau. Kalian
sudah tidak sabar bertemu dengan orang terkasih di rumah. Bayangkan kalian
sedang menaik kapal dari Tahuna, menaiki perintis menuju Kawio ini. Kapal
bersandar dengan gagahnya, namun, dermaga tak seramai biasanya. Sepi. Hanya
beberapa orang saja yang akan berangkat dengan kapal. Kalian bingung. Tidak
seperti biasanya.” Aku berhenti beberapa detik. Mengatur napas agar tidak
terlalu lelah.
“Kalian terus berjalan, menuju rumah dan
ingin segera memeluk mamak, bapak, oma, dan opa. Kalian tiba di rumah, semakin
bingung karena halaman rumah kalian ramai sekali. Ada apa ini? Semua tampak
diam. Dominasi warna hitam kerap kalian temukan di sana-sini. Kalian terus
maju, melangkah mendekati pintu rumah kalian. Kalian berhenti. Bingung karena
melihat ada peti berwarna cokelat tua yang berada di tengah-tengah ruang tamu
kalian. Semakin dekat kalian melangkah, semakin jelas bahwa ada sesuatu di
dalam peti tersebut.” sekarang, hampir semua anak-anak sudah semakin ingin
menangis. Mereka hampir mencapai puncaknya, namun masih di tahan. Ku lihat
sudah ada yang mengelap air mata dan sekedar menarik cairan di hidungnya.
“Kalian dekati peti itu, tak ada yang
bersuara, dan tidak ada yang mendekati kalian atau menghalangi kalian. Tinggal
selangkah lagi menuju peti itu. Betapa kagetnya, saat kalian tahu bahwa ada
seseorang yang kalian cintai, berbaring di dalam peti cokelat itu. Kalian
langsung menangis. Mamak yang kalian rindukan, mamak yang selalu cerewet
menyuruh ini-itu, kini berbaring di dalam peti dengan wajah yang pucat sekali.
Kalian tak percaya. Kalian berteriak. Kalian menangis sekencang-kencangnya!”
semua muridku sudah tak mampu menahan tangisannya.
Suara tangisan sekencang-kencangnya
keluar dari semua siswa, membuat suasana kelas ramai dengan suara yang mengiris
hati ini. Mereka sudah tidak peduli dengan cairan di hidung yang selalu keluar
setiap mereka menangis.
Aku diam sesaat. Membiarkan mereka
mengeluarkan semua air matanya. Mereka menangis lama sekali. ceritaku masih
terngiang dalam benak mereka. Aku mendekati mereka satu per satu, membelai dan
mengusap-usap rambutnya. Setelah merasa lebih tenang, mereka kembali
menenggelamkan wajahnya pada lipatan tangan-tangan basah akibat air mata
mereka. Aku kembali melanjutkan rilekasi alam bawah sadar ini.
“Ya, Tuhan. Aku sayang mamak. Aku sayang
bapak. Aku juga sayang oma, opa, kakak, dan adikku. Ya, Tuhan, sebelum Engkau
mengambil mereka dariku, ijinkan aku untuk membanggakannya. Aku berjanji, ya,
Tuhan. Aku akan menjadi anak yang berbakti pada mamak. Aku akan menuruti semua
perkataan bapak. Dan aku tidak akan memarahi oma dan opa lagi. Aku sayang
mereka semua, ya, Tuhan. Aku juga berjanji akan belajar dengan giat. Aku akan
mengerjakan PR, aku akan selalu berangkat ke sekolah, dan aku tidak akan marah
lagi jika mamak tidak kasih uang jajan karena tidak ada uang. Ya, Tuhan,
sayangi mamak. Lindungi bapak. Berkatilah kasih-Mu pada semua keluargaku.
Jadikanlah aku pelayan-Mu yang baik. Aku berjanji akan melayani-Mu juga, ya,
Tuhan.” Aku mengakhiri kegiatan yang mulai sekarang, aku beri nama,
“Rileksasi”.
“Ya, sudah. Semuanya boleh angkat
kepalanya lagi. Hapus air matanya. Kalau masih ada yang mau menangis, silahkan.
Jangan ditahan-tahan.” Baik anak laki-laki atau pun anak perempuan, semua menangis
tanpa terkecuali.
Kelas yang biasanya ramai, kini tenang
sekali. semoga ini bertahan lama.
“Belajar yang tekun. Turuti semua
perintah orang tua kalian, dan jangan membantah atau memarahi mamak, bapak,
oma, atau opa, jika tidak diberi uang. Selagi mereka masih ada, bahagiakan
mereka. Buat mereka bangga dengan kalian. Dan jangan pernah membuat mereka
menangis, karena, sudah begitu banyak air mata yang mereka keluarkan demi
menjaga dan mengasihi kalian dengan ketulusan. Tanpa meminta imbalan apa pun dari
kalian.” Aku tidak sanggup meneruskan perkataan ini. Suaraku sudah bergetar,
setiap kata yang aku keluarkan, secara bersaman membawaku pada bayangan ibu dan
bapakku yang jauh disana.
***
Hari ke-LXXXIII, 05
September 2014. Jumat, pukul 10.26 Wita
Gumpalan awan putih di birunya langit
lebih menyerupai pulau kalimantan ketika kita melihat peta. Berkatnya, pagi ini
kami hadapi dengan semangat dan tawa yang menyejukkan hati. Sepertinya, awan
dan matahari sudah membuat janji untuk tidak menyinari pulau ini secara
langsung. Dengan semangat yang masih penuh, seluruh siswa dari kelas 1 sampai 6
berbaris merentangkan kedua tangannya, membuat barisan-barisan seperti
jumat-jumat yang lalu –senam pagi bersama.
Sudah menjadi kebiasaan juga, bahwa,
sekitar 4 atau 5 orang akan membantu memimpin senam di setiap muka barisan.
Jangan ditanya, mereka selalu berebutan untuk bisa ditunjukku agar dapat
memimpin yang lainnya –suatu kehormatan bisa memimpin senam pagi. Namun, aku
selalu dapat mengatasinya dengan mudah, kuajukan beberapa pertanyaan perkalian
secara acak. Dari perkalian yang paling mudah, sampai perkalian sembilan yang
menurut mereka sudah tingkat lanjutan.
Setiap anak yang mengacungkan tangannya,
lalu menjawab dengan tepat, maka ia akan memimpin senam. Jika salah, maka harus
bersabar untuk menunggu pertanyaan berikutnya dan siap di rebut yang lain.
Aku selalu suka dengan pemandangan ini.
Kerutan dahi dan mulut yang komat-kamit, di tambah jari tangan yang digerakkan
selalu sukses membuatku tertawa. Lucu sekali saat mereka berhitung. Ya, aku
sudah mempunyai 5 nama yang akan memimpin senam. Dowes, Putra, Ical yang hampir
setiap jumat selalu memimpin senam –selalu bisa menjawab pertanyaan
perkalianku. Dan dari perempuan, sudah ada Novi dan Hamelin.
Setiap pemimpin senam akan menyumbangkan
sedikitnya dua gerakan senam sesuka hati mereka, dari kepala yang
ditengok-tengokkan, ditundukkan, bahkan sampai pinggul yang maju-mundur
meliuk-liuk. Mereka bebas ‘mengerjai’ teman-teman yang lainnya, dan semua harus
mengikuti setiap gerakan ‘ajaib’ sang instruktur. Dan sudah dapat ditebak, ini
yang membuat semua orang berlomba-lomba memimpin senam, tak takut meski harus
menjawab pertanyaan perkalian sebelumnya. Dan tak sedikit siswa kelas 1 atau
kelas 2 yang menjawab dengan jawaban yang mengasal. Menyebutkan angka
seenaknya. Mereka ikut berpartisipasi dan bersaing melawan kakak-kakak kelas
mereka.
Selalu suka dengan hari jumat. Kapanpun,
dan di manapun.
Setelah melakukan kegiatan senam pagi
yang selalu diakhiri dengan nyanyian plus
gerakan “tangan kanan ke depan-ke
belakang, depan-belakang”, semua siswa akan memilih permainan olahraga yang
mereka sukai. Ada yang bermain sepak bola, bola voli, bulu tangkis, atau
sekedar bermain ispen[3]
di halaman sekolah.
Setelah setengah jam melakukan permainan
masing-masing, kelas 4 meminta aku mengulang rileksasi yang kemarin sukses
membuat mereka menangis. Kali ini, kelas 5 dan kelas 6 juga ingin merasakannya.
Oi, sejak pulang sekolah kemarin, berita
‘asiknya’ rileksasi sudah menyebar ke semua anak-anak yang lain. Akhirnya, aku
mengiyakan permintaan mereka. Aku gabungkan seluruh anak kelas 3-6 di dalam
kelasku. Kali ini mereka aku biarkan goleran –berbaring di lantai. Karena hari
ini memakai kaos olahraga, mereka tak khawatir pakaian akan kotor. Sudah lebih
menyerupai pengungsian kelasku pagi ini. Mereka semua berbaring sambil
memejamkan matanya. Mencari tempat dan posisi yang nyaman untuk menikmati
‘terapi’ ini.
Seperti biasa, kunyalakan laptopku,
memutar musik sebagai alat pendukung rileksasi kali ini. Kubiarkan sekitar satu
menit alunan musik memasuki pikiran mereka. Setelah merasa keadaan sudah
terkontrol, sudah tak ada yang usil menendang atau menyenggol lengan teman di
sebelahnya, aku memulai rileksasi ini. Juga sama seperti kemarin, aku memulai
dengan menyuruh mereka membayangkan wajah orang terdekat mereka, selanjutnya
aku menekankan ceritaku dengan memainkan intonasi dan tempo berceritaku.
Hampir dua puluh menit aku merilekskan
pikiran mereka.
Memasuki pesan-pesan positif ke dalam
alam bawah sadar mereka, dan seperti yang sudah kuduga, malah ini jauh dari
yang aku bayangkan, hampir semua anak menangis dengan histeris saat tiba pada
bagian “peti cokelat yang tergeletak di ruang tengah rumah mereka”. Putra yang
posisinya paling dekat denganku, tak segan-segan bangkit dari tidur dan
memelukku dengan erat sekali. Menenggelamkan wajahnya ke dalam pelukanku. Aku
tak heran, ia memang sangat merindukan mama yang sudah lama sekali tak bertemu.
Ia terisak-isak dalam pelukanku, nafasnya terengah-engah, air matanya
membanjiri kaos olahragaku. Aku mengelus rambutnya, aku sudahi rilekasasi ini.
Kusuruh semua duduk dan mengijinkan siapa
saja yang ingin duduk di dekatku. Tidak sampai hitungan menit, anak-anak sudah
berada di sampingku, dan beberapa memelukku dari segala arah. Putra masih
menangis, sepertinya ia malu menunjukkan air matanya pada yang lain. sehingga
tak mau bangkit dari pelukanku.
“Kong
bagaimana? Masih
mau nakal sama mamak arau bapak?”
tanyaku sambil mengelus-elus rambut mereka yang duduk di dekatku.
“Nyandak,
engku. Ning mau kita.”
Teruslah seperti ini. Teruslah menjadi
kebanggan mamak dan bapak kalian, wahai anak-anak hebatku.
(Bersambung...)
[1] Tinggal lompat,
terus saya berenang.
[2] Buku bacaan
berjudul “Kisah Perjuangan Pahlawan Indonesia” yang ditulis oleh Lia Nuralia
dan Iim Imadudin.
[3] Ispen = sebuah
permainan tradisional anak-anak, ada yang menyebutnya dengan gerobak sodor,
galasin, terowong, dan lain-lain. Permainan ini terdiri 2 tim. Mereka harus
memasuki penjaga yang menjaga garis, dan siapa yang berhasil keluar dari garis
terdepan setelah melewati semua garis tanpa tertangkap,tim itu pemangnya.


Komentar
Posting Komentar