CCCLXV - Catatan Harian Pengajar Muda (12)

Hari ke-LXXIX, 01 September 2014. Senin, pukul 03.22 Wita –Sabuk Nusantara
“Haloooooo, happy birthday, Reviline Sijabat!” sapaku akhirnya ketika yang di ajak bicara mengangkat teleponnya.
“Aaakkkk... kasse bue engku Hairul! Kalian sudah berangkat atau masih di pelabuhan?” jawab Revi dari balik telepon. Suaranya masih terdengar berat karena mungkin masih mengantuk.
“Ini masih di dermaga. Mungkin tidak sampai setengah jam lagi, kami berangkat. Oi, gimana hasil dari clue  yang aku buat? Bisa ketemu harta karunnya?”
“Berhenti sampai clue nomer 4. Sisanya belum aku cari. Besok saja diterusin, udah ngantuk banget ini. Shaski mana? Aku mau ngomong, dong.”
“Yaaahhh... selamat berpenasaran kalau begitu. Doi  ada, nih. Anyway, happy birthday, Rev! Sukses terus, ya.” Telepon selular aku berikan pada Shaski. Entah apa yang mereka tertawakan. Saat ini derunya mesin sudah terdengar. Disusul oleh ‘klakson’ yang menandakan kapal akan berangkat meninggalkan dermaga.
Sampai jumpa, Kawio!
***

Dermaga Pulau Matutuang pukul 12.25 Wita
          Akhirnya kapal bisa bersandar juga di Pulau Matutuang ini.
Beberapa waktu belakangan ini, kapal tidak bisa bersandar di dermaga, sehingga untuk penumpang yang akan turun di Matutuang, mereka harus di jemput oleh sampan-sampan kecil. Masyarakat biasa menyebutnya dengan istilah tambangan.
            Oleh karenanya, ini kali pertamaku singgah di Pulau Matutuang. Aku mengantar Shaski turun sambil tetap membawakan tasnya. Kami sudah di sambut dengan teriakan anak-anak yang meneriaki encinya. Karena beberapa kali kami menaiki kapal yang sama, sering bertemu bahkan sering berbincang-bincang saat di kapal, tak heran jika warga pulau ini juga mengenalku. Sehingga tak sedikit yang meneriaki “engku” saat melihatku.
            Sekitar satu jam kapal ini bersandar, setelah semua barang-barang penumpang diturunkan, kapal melanjutkan perjalanan. Sekarang kapal akan menuju Pulau Marore. Karena untuk menuju pulau tersebut masih memerlukan waktu yang lama, aku tak berniat ‘menjemurkan’ kulitku di geladak kapal, atau hanya sekedar menyaksikan matahari sedang unjuk rasa memancarkan panasnya. Aku memilih kembali ke ranjang, meluruskan kaki, sambil melanjutkan membaca novel-nya Abang Darwis yang aku bawa dari Tahuna.
Pukul tiga sore kapal sudah berlabuh di dermaga Pulau Marore, aku keluar, mengamati kesibukan para penumpang yang akan turun, juga yang akan berangkat ke Tahuna. Terlihat kebiasaan yang sama di setiap pulau yang kapal ini lewati, semua membawa troli-troli kecil, menjemput atau mengantar barang-barang bawaan. Sehingga sudah menjadi pemandangan yang biasa juga, troli-troli menjadi ‘mainan’ anak-anak untuk mengadu siapa yang lebih cepat mendorong troli tersebut.
            Saat senja sudah menampakkan warnanya dari arah barat, kapal mulai berangkat. Bayangan Pulau Kawio sudah terlihat seiring melajunya kapal. Itu berarti, tidak sampai satu jam lagi aku akan berada di tengah-tengah kehidupan warga Kawio.

***

Hari ke-LXXX, 02 September 2014. Selasa, pukul 08.11 Wita
            Sepi.
Sekolah saat ini sepi. Kemarin saat kapal bersandar, hampir setengah siswa beserta orang tuanya pergi ke Tahuna. Ada pengambilan beasiswa untuk anak-anak di mana orang tua dan anak harus menandatangi pernyataan bahwa dana sudah diambil. Sehingga, jumlah siswa sekolahku yang memang sedikit, makin tak berisi.
Bagaimana dengan guru? Sama.
Entah sebenarnya apa yang mereka lakukan, beberapa guru juga ikut berangkat ke Tahuna. Sehingga, pagi ini, kelas 3 dan kelas 4 aku gabungkan ke dalam satu kelas.
Semua kesepian ini dibayar oleh peristiwa sebelum lonceng aku bunyikan. Baru saja kakiku melangkahkan ke halaman sekolah, semua anak laki-laki kelas 1 langsung meneriaki dan menghambur keluar kelas, buru-buru mereka memelukku. Menubrukkan badannya, menyembunyikan wajah-wajah penuh bedaknya ke dalam dekapanku.
Lalu, dimana istimewanya? Hal seperti ini memang biasa saja, namun, tahukah kalian, bahwa siapa yang memelukku itu? Mereka adalah anak laki-laki yang kebanyakan, guru atau bahkan orang tuanya mengatakan bahwa mereka ‘nakal’. Tapi menurutku, mereka adalah anak-anak yang terlalu aktif dan terlalu bersemangat dalam menyampaikan apa yang ingin mereka lakukan. Bayangkan saja, ada anak laki-laki yang dibilang nakal, berhamburan keluar kelas, lebih dari empat orang secara bersama-sama memelukmu? Meski dalam dekapanmu, mereka saling berebutan untuk siapa yang paling dekat ke dalam pelukanmu. Indah, bukan? Ditambah, salah dua di antaranya berbicara dengan suara yang nyaris sesak karena berhimpitan dengan yang lain,
“Engku, mengajar di sini saja, ya. Kita ning mau kalau sama bapak guru.” bagaimana? Masih tidak setuju denganku, kalau itu adalah indah?
Setelah beberapa jam keluar-masuk kelas yang satu dengan kelas yang lain, lonceng istirahat dibunyikan.
Semua siswa tanpa harus bertanya, tanpa diminta untuk bersitirahat, mereka sudah sangat peka untuk berlarian menuju lapangan sekolah. Apa lagi kalau bukan untuk bermain? Meski, halaman hijau yang luas itu, kali ini terlihat sepi sekali. Namun, tidak mengurangi sedikit pun rasa bahagia mereka.
***
Pantai dermaga pukul 15.40 Wita
Daun kering yang berjatuhan karena tertiup angin sore ini, jatuh tepat di antara kami yang sedang duduk-duduk di putihnya pasir pantai. Aku, Putra, Inne, Ical, dan Acil sedang bercerita sambil menikmati semilirnya angin.
“Siapa yang berani bercerita, kalau sudah besar nanti, kalian ingin melakukan apa?” tanyaku.
Aku mengganti, “Apa cita-cita kalian?”, menjadi “Apa yang ingin kalian lakukan?”, mengapa? Menurutku, jika aku bertanya tentang cita-cita, –seperti yang selalu guru atau orang tua tanyakan padaku atau pada anak-anak lainnya saat kecil- itu hanya memberikan batasan pada apa yang akan anak lakukan. Membatasi kreativitas mereka.
Mudahnya, jika kita bertanya tentang cita-cita, maka anak akan menjawab, “Dokter”, “Guru”, “Polisi”, dan segala jenis profesi lainnya. Saat anak menjawab dokter misal, maka ia akan selalu memikirkan bagaimana setelah ia lulus SD, SMP, dan seterusnya, ia harus mengambil jurusan apa yang mendukung, dan lain sebagainya (ini di luar asumsi bahwa, cita-cita anak akan selalu berubah. Kalau kalian menjawab seperti itu, ya, sudah, selesai perkara). Sehingga, ia akan terbatas melakukan kreativitas yang dimilikinya. Tanpa kita mengetahui bahwa sebenarnya, setiap anak memiliki daya kreativitas yang luar biasa.
Lain halnya jika, aku bertanya “apa yang ingin kalian lakukan?”, mereka akan berpikir lebih dalam, mengeluarkan segala jenis kreativitasnya, membuka segala hal ‘liar’ yang akan mereka lakukan. Tentunya, aku mengarahkan ke dalam hal-hal yang positif. Bebas di sini tetap sesuai aturan. Tapi semua ini hanya menurutku, lho.
“Saya ingin mengajar seperti engku. Tapi bukan jadi guru. Ya, seperti engku. Mengajar anak-anak di pulau-pulau, mengajar anak yang tidak bisa sekolah, atau mengajar opa-opa juga oma-oma yang belum bisa membaca.” jawab Inne yang satu-satunya anak perempuan saat ini. Kalian dengar? Apa yang Inne inginkan? Sungguh mulia, bukan? Itu maksudku. Seandainya aku bertanya tentang apa cita-citanya? Mungkin ia akan menjawab, “Menjadi Guru”. Tanpa mengetahui sebenarnya ia sedang memikirkan anak-anak yang tidak sekolah, atau bahkan kakek-kakek dan nenek-nenek yang tidak bisa membaca.
“Waahh... luar biasa, Inne. Semoga Tuhan mengabulkannya, ya.” aku memberikan apresiasi dengan bertepuk tangan, dan diikuti oleh yang lainnya.
“Siapa lagi?” tanyaku pada yang lain, mereka sudah khusyuk pada topik sore ini.
“Pemain sepak bola!” teriak Putra sambil berdiri dan memeragakan salah satu tendangannya. Di sekolah, Putra memang salah satu siswa yang pandai sekali bermain sepak bola.
“Tapi saya nggak mau bermain hanya di Indonesia saja, Ngku. Saya ingin ke luar negeri. Saya ingin main ke Jerman, Italia, Brazil, Filipina juga boleh deh. Hehehe.” ia duduk kembali.
Saat mengatakan Filipina, ia menunjuk ke arah pulau terluar Filipina yang terlihat dari pantai kami. Aksinya menunjuk pulau itu diikuti oleh tawa yang lain. Bukan menertawakan negaranya, melainkan, bahwa, kenyataan ke luar negeri yang satu ini bisa mereka tempuh kapanpun dalam waktu tidak sampai tiga jam. Dan tidak harus bermain bola untuk sampai ke sana.
“Saya, engku!” Ical terlihat berpikir.
“Hemmm... saya ingin membela tanah air. Tapi kalau menjadi tentara angkatan darat, saya sering mabuk. Kalau angkatan udara, saya takut jatuh ke bawah dari langit. Nanti bisa mati.” ia berhenti sejenak. Masih terlihat berpikir, kemudian ia tersenyum. “Saya mau di angkatan laut saja, engku. Saya tidak mabuk laut. Saya juga bisa berenang jika kapal di tembak musuh. Tinggal balompa, kong ia kumalang.[1]anak-anak yang lain tertawa tak kalah kencangnya dengan aksi melihat Putra tadi. Ekspresi Ical saat berkata balompa dan kumalang sangat lucu. Ia memeragakan jika ia tertembak musuh, meluncur ke laut, dan berenang secepatnya.
“Kong ikau, Acil?” tanyaku.
“Kalau menjadi nelayan, boleh?” tanya Acil yang kemudian disoraki oleh teman-temannya.
“Ssstt...” perintahku cepat sambil memberi isyarat untuk berhenti tertawa.
“Memang apa yang salah dengan menjadi seorang nelayan?” tanyaku pada semua anak-anak. Sambil memandang mereka satu per satu, aku mulai menjelaskan sesuatu yang mungkin baru bagi mereka.
“Menjadi nelayan itu pekerjaan yang mulia. Setiap hari, kalian makan ikan dari siapa? Apakah ikan-ikan itu datang sendiri ke rumah kalian tanpa harus di pancing, atau di tangkap? Nyandak, toh? Lalu, apakah semua orang bisa mengail ikan dan mendapatkan ikan yang banyak dan besar-besar? Tidak juga, toh?” anak-anak menunduk.
Saat ini, langit sudah kemerahan. Angin pantai juga semakin kencang. Ku suruh mereka tiduran, membuat lingkaran dengan kepala mereka saling bersisian. Memejamkan mata dan aku melanjutkan.
“Kalian boleh dan bebas ingin melakukan apa saja jika besar nanti. Menjadi guru dan mengajar anak-anak atau oma dan opa? Boleh. Menjadi pemain sepak bola yang hebat dan terkenal? Itu juga boleh. Menjadi tentara, menjadi polisi, dokter, atau nelayan? Tidak ada yang melarang. Yang paling penting adalah, kalian menjadi seseorang yang jujur dan pintar. Menjadi guru? Jadilah guru yang jujur. Tidak boleh mengambil apa yang bukan haknya. Bisa membedakan mana yang baik dan tidak. Pun juga saat ingin menjadi nelayan. Jadilah nelayan yang jujur dan pintar. Jujur dengan tidak menipu timbangan berat ikan, tidak menjual ikan yang busuk atau beracun, dan jadilah nelayan yang pintar agar tidak dibodohi atau di tipu oleh orang lain. Sehingga, untuk menjadi apa pun, untuk ingin melakukan apa pun nanti, kalian tetap harus bersekolah. Sekolah sampai setinggi-tingginya agar pintar. Tidak hanya pintar membaca dan berhitung, tapi, pintar mengetahui mana yang baik, dan mana yang tidak baik. Di negara kita, orang yang pintar sudah sangat banyak. Tapi, orang yang pintar ditambah jujur, masih sedikit. Oleh karena itu, jika kalian sudah pintar, maka kejujuran adalah hal terpenting yang harus kalian miliki juga. Semoga semua hal mulia tersebut dapat di dengar Tuhan.”
Inne menangis. Air matanya mengalir perlahan membasahi pasir. Dada Acil terlihat naik-turun. Mereka mendengarkan dengan baik. Alam bawah sadar mereka meresponnya dengan sangat baik.
Aku memposisikan keadaan yang sangat tenang pada tiap masing-masing dari mereka. Saat pelatihan Pengajar Muda yang lalu, kekuatan alam bawah sadar setiap manusia sangat memiliki kekuatan yang besar. Tentunya diisi oleh hal-hal yang baik agar apa yang dikeluarkan bersifat positif.
Sebelum aku mengakhiri, aku mengulangi beberapa kalimatku,
“Jadilah apa pun yang ingin kalian raih. Lakukan apa pun yang baik yang ingin kalian lakukan. Tapi, ingat, jadilah apa pun dengan jujur dan pintar. Sekolah yang benar untuk mendapatkan itu semua, ya.” Aku hanya ingin memberikan semangat, bahwa mereka harus tetap mengenyam pendidikan. Mereka harus tetap melanjutkan sekolah.
Kami beranjak bangun. Pasir-pasir yang menempel di celana dan baju tidak kami hiraukan. Kami bergandengan tangan melewati pasir pantai menuju rumah masing-masing. Terdengar suara mesin generator dari beberapa rumah. Segerombolan burung-burung kecil berterbangan membelakangi senja membetuk kerumunan yang mengindahkan mata. 

***

Hari ke-LXXXI, 03 September 2014. Rabu, pukul 11.39 Wita
Aku semakin menyadari, bahwa, aku bukan siapa-siapa. Aku harus paham dengan kenyataan, bahwa, tanpa aku disini, mereka tetap hidup secara berkelanjutan. Mereka tetap datang dan pergi ke pulau mereka, mereka tetap memancing, beternak, atau berkebun tiap harinya.
Aku hanya melakukan yang terbaik.
Mencontohkan apa yang benar; benar sebagaimana mestinya.
Persis dengan kejadian pagi ini atau seperti pagi-pagi lainnya. Datang sebelum waktu lonceng dibunyikan, memasuki kelas yang tidak ada guru, meski hanya memperingatkan agar mereka tidak keluar kelas saat jam pelajaran berlangsung. Mungkin benar, bahwa, aku yang bukan berlatar belakang guru, masih jauh dibandingkan guru-guru disini. Mungkin, aku yang jika terkadang lelah karena menghadapi para siswa, aku bisa saja berkata, “Hanya setahun. Beberapa bulan lagi juga pulang dan kembali melakukan apa pun.” Tapi untuk para guru di sini, ini adalah jalan yang mereka pilih. Saat mereka lelah karena menghadapi segala ‘keaktifan’ para siswa, tak ada jawaban sepertiku. Sehingga, harapanku saat ini, anak-anak pulau ini, tetap bisa bersekolah dan setara dalam mendapatkan hak-haknya sebagai seorang pelajar (dalam hal ini, mendapatkan seorang guru yang ‘benar-benar guru’).
“Siapa yang tahu, nama bandara di Manado?” tanyaku pada kelas 4 saat pelajaran Kewarganegaraan.
“Saya, Ngku. Bandara Sam Ratulangi.” jawab Hamelin, siswi terpandai di kelas 1ni.
“Betul sekali. Kong, ada yang tahu dari mana nama itu berasal?” tanyaku lagi sambil menyapu pandangan ke seluruh siswa. Semua menggeleng.
“Baik, coba dengarkan, engku, ya.” aku menarik kursiku ke depan kelas. Duduk di tengah-tengah mereka. Ku buka buku kisah perjuangan pahlawan Indonesia yang kutemukan di perpustakaan[2]. Sesekali aku berkeliling mengecek apakah ada yang tertidur atau bermain sendiri.
“Jadi, nama bandara kita ini diambil dari nama seorang pahlawan yang membela kemerdekaan bangsa ini. Nama lengkapnya adalah, Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi. Atau kalian tahu dengan Sam Ratulangi. Ya, bandara di Manado berasal dari bagian namanya. Bapak Sam Ratulangi adalah seorang doktor. Pahlawan kita ini, lahir di Tondano, pada tanggal 5 November tahun 1890. Ada yang pernah ke Tondano di Manado?” tanyaku agar kelas terjalin dua arah.
“Saya, Ngku! Saya lahir di Bitung, melewati Tondano kalau tidak salah. Kalau natal, saya dan mamak pergi ke Bitung, lalu melewati Tondano. Di sana juga ada danau Tondano yang terkenal itu. Saya suka sekali ke sana.” jawab salah seorang siswa.
“Iya, benar. Danau tersebut menjadi salah satu objek wisata yang berada di Manado. Oke, kita lanjutkan, ya.” Anak-anak menegakkan badannya, memajukan kursi agar duduknya bisa merapat ke meja. “Bapak Sam Ratulangi ini sekolah di Tondano, yaitu sekolah Raja atau Hoofden School. Setelahnya, ia melanjutkan ke sekolah Teknik di Batavia yang sekarang lebih kita kenal dengan Jakarta.”
“Jadi, dulu itu, Jakarta namanya Batavia, Ngku?” tanya Hamelin. Aku mengangguk mengiyakan.
“Bapak Sam Ratulangi ini sekolah ke luar negeri juga, lho. Ia sekolah di Belanda dan memperoleh ijazah guru ilmu pasti. Selama di sana, ia menjadi ketua perhimpunan Indonesia atau dikenal Indonesische Vereeniging. Kemudian, Bapak Sam Ratulangi juga melanjutkan sekolah di Swiss, Perancis, dan sukses mendapatkan gelar doktor di bidang ilmu pasti dan ilmu alam. Siapa yang mau sekolah ke luar negeri seperti bapak doktor Sam Ratulangi?” teriakku yang di susul oleh jawaban yang sama, “Saya, engku! Saya!”
“Meskipun doktor Sam Ratulangi sekolah di luar negeri, ia tetap cinta dan bangga pada negara kelahirannya, yaitu negara Indonesia. Ia pulang kembali ke Indonesia. Ia mengajar di Yogyakarta, dan juga mendirikan Maskapai Asuransi Indonesia di Bandung. Bapak doktor ini kembali ke Minahasa. Di sana, ia menjadi sekertaris dewan Minahasa di Manado selama 3 tahun. Ia selalu bersikap dan selalu membela kepentingan rakyat Minahasa. Sesuatu yang hebat dan perlu di contoh, kan?” tanyaku sambil mengelilingi isi kelas.
“Iyaa, saya kalau jadi presiden juga mau membantu masyarakat, ngku!” celetuk Jemsi.
“Amiiinn. Semoga dikabulkan, ya, Jemsi. Kalau begitu, kamu harus belajar membaca lebih giat lagi, ya. Tidak hanya pandai matematika saja, tapi kamu juga harus bisa membaca. Gimana kalau kamu disuruh untuk menandatangani surat perjanjian, kalau kamu belum bisa membaca? Oke?” Jemsi mengangguk penuh percaya diri. Jemsi adalah salah satu siswa pindahan dari Filipina. Ia masih belum bisa membaca, namun, berhitung adalah hal yang sangat disukainya.
“Oh, iya. Bapak doktor Sam Ratulangi juga pernah diangkat sebagai gubernur Sulawesi, lho. Pernah menjadi pemimpin tertinggi di propinsi kalian ini. Namun, ia tertangkap dan meninggal sebagai tahanan Belanda. Ia meninggal pada tanggal 30 Juni tahun 1949 di Jakarta.”
“Yaaaaaahhhhh... kasihan sekali,engku!” teriak anak-anak kecewa.
“Iya, sungguh kasihan. Ia rela mati untuk negara Indonesia kita ini. Kalau nanti, kalian pergi ke bandara Sam Ratulangi di Manado, kalian akan menemukan sebuah tulisan yang besar. Tulisan ini diambil dari perkataan doktor Sam Ratulangi, tulisan itu adalah,” aku maju ke depan kelas, mengambil kapur, dan menuliskannya di papan tulis, “Si Tou Timou Tumou Tou”.
“Apa artinya, ngku?” tanya Hamelin.
“Artinya adalah, manusia baru dapat disebut manusia, jika sudah dapat memanusiakan manusia. Dalam kata lain, kalian sebagai manusia yang paling sempurna yang Tuhan ciptakan, sudah seharusnya menghormati orang lain. Tidak semena-mena dengan teman, tidak boleh memukul, atau tidak boleh berkelahi dengan teman-teman yang lainnya, ya?”
“Iyaaaaa, engkuu!”
“Bagus. Jangan hanya di mulut saja, ya. Engku tidak mau melihat ada yang menangis lagi karena dijahili oleh temannya. Kalian harus mencontoh pahlawan dari propinsi kalian ini. Bapak doktor Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi, atau biasa kalian kenal dengan Sam Ratulangi. Sekolah yang benar, jangan pernah berhenti di tengah jalan. Menjadi orang yang jujur, dan selalu mendahulukan kepentingan umum dibandingkan kepentingan pribadi. Terakhir, sebelum kita pulang, engku hanya ingin memberitahu, bahwa, doktor Sam Ratulangi telah berjuang demi kemerdekaan bangsa ini. Rela mati dan berkorban agar Indonesia merdeka dan membuat kalian bisa menikmati hasil perjuangannya. Kalian tidak harus menjadi pejuang yang merelakan nyawanya untuk negara seperti bapak doktor, tugas kalian saat ini, belajar dan belajar. Sekolah sampai setinggi-tingginya. Dan ingat, kejujuran adalah hal yang sangat penting yang harus dimiliki oleh siapa pun. Buat bapak doktor Sam Ratulangi bangga pada kalian. Buatlah kematiannya tidak sia-sia dengan kalian tidak menyia-nyiakan waktu untuk belajar apa pun. Selagi sempat. Bisa?”
“Bisaaaaaaa!!!” kututup pelajaran kewarganegaaran ini dengan menyelipkan kisah inspiratif yang ku baca dari buku kisah pahlwan Indonesia. Semoga, akan ada ‘pahlawan-pahlwan’ baru di masa yang akan datang. Pahlawan yang membuat harum nama bangsa ini. Pahlawan yang selalu memegang kejujuran dalam segala tindak dan perbuatannya. Setelah berdoa bersama, kami semua pulang ke rumah masing-masing.
***

Hari ke-LXXXII, 04 September 2014. Kamis, pukul 10.17 Wita
“Hormat satu, dua, tiga!” teriak Hamelin saat memimpin doa. Aku menggabungkan kembali kelasku dengan kelas 4.
“Slaaamaaat pagi, engku!” jawab seluruh isi kelas.
“Selamat pagi, semuanya. Hari kamis ini, kalian seharusnya pelajaran agama kristen, ya?” tanyaku sambil melihat jadwal pelajaran yang ditempel di dinding kelas.
“Iya, engku!
Aku berpikir keras, bagaimana ini? Guru yang lain belum datang. Seandainya datang pun, mereka akan mengajar kelasnya masing-masing. Ditambah masih ada kelas 1 dan kelas 2 yang tidak ada gurunya. Sehingga sudah beberapa hari ini, selain aku yang mondar-mandir masuk kelas, ada satu guru yang sepertinya tidak tega melihatku bolak-balik. Akhirnya, ia yang menggantikanku.
“Hemm... bagaimana kalau kita melakukan rileksasi? Sudah ada yang tahu?” tanyaku akhirnya. Semua menggeleng. Aku mengingat salah satu materi di minggu ke-2 saat pelatihan Pengajar Muda, Brain Based Teaching. Aku yang kebetulan membawa laptop, memutar musik-musik yang sudah dibekali pemateri saat itu. Aku menyuruh mereka membenamkan wajahnya pada tangan yang sudah terlipat di atas meja. Semua tak ada yang mengintip. Alunan musik yang menentramkan jiwa terus terdengar. Aku terus berbicara dengan suara yang mantap. Menceritakan tentang hal yang paling dekat dengan mereka; keluarga.
“Bayangkan wajah mamak kalian, bayangkan dengan benar-benar. Lihat matanya, hidungnya, mulutnya, rambut, juga suaranya yang selalu memanggil nama kalian. Rasakan saat mamak menyuruh kalian mandi, makan, tidur, atau bahkan saat mamak memarahi kalian. Semua terasa begitu dekat dengan kalian.” Semua masih diam. Belum tampak ada tanda-tanda lelah atau ingin mengintip. Rencanaku mulai berjalan dengan lancar.
“Sekarang, bayangkan wajah bapak kalian. Ingat baik-baik tangannya yang selalu menggendong kalian, wajah lelahnya setelah mengail atau membuat kopra, bayangkan semuanya. Bagi kalian yang tidak pernah melihat mamak dan bapak kalian. Bayangkan wajah oma dan opa kalian. Bayangkan wajah semua orang yang kalian cintai.” Musik terus berganti. Beberapa anak sudah ada yang tarik nafas dalam-dalam –ingin menangis.
“Ya, Tuhan. Jagalah mamak, bapak, oma, dan, opa kami. Selalu lindungi mereka, ya, Tuhan.” Aku terus bercerita sambil mengelilingi mereka. Intonasi suaraku sengaja aku naik-turunkan, membuat semuanya dramatis. Dan, seperti yang selalu aku ikuti saat melakukan kegiatan seperti ini saat di kampus, aku masuk ke inti dari rileksasi ini. Menyelipkan sesuatu yang bermakna pada alam bawah sadar mereka disaat keadaan otak mereka sedang tenang.
“Bayangkan, setelah kalian kembali dari sekolah, atau jika nanti sudah sekolah dan pergi jauh dari pulau ini, lama tak berjumpa dengan orang tua kalian, akhirnya kalian kembali ke pulau. Kalian sudah tidak sabar bertemu dengan orang terkasih di rumah. Bayangkan kalian sedang menaik kapal dari Tahuna, menaiki perintis menuju Kawio ini. Kapal bersandar dengan gagahnya, namun, dermaga tak seramai biasanya. Sepi. Hanya beberapa orang saja yang akan berangkat dengan kapal. Kalian bingung. Tidak seperti biasanya.” Aku berhenti beberapa detik. Mengatur napas agar tidak terlalu lelah.
“Kalian terus berjalan, menuju rumah dan ingin segera memeluk mamak, bapak, oma, dan opa. Kalian tiba di rumah, semakin bingung karena halaman rumah kalian ramai sekali. Ada apa ini? Semua tampak diam. Dominasi warna hitam kerap kalian temukan di sana-sini. Kalian terus maju, melangkah mendekati pintu rumah kalian. Kalian berhenti. Bingung karena melihat ada peti berwarna cokelat tua yang berada di tengah-tengah ruang tamu kalian. Semakin dekat kalian melangkah, semakin jelas bahwa ada sesuatu di dalam peti tersebut.” sekarang, hampir semua anak-anak sudah semakin ingin menangis. Mereka hampir mencapai puncaknya, namun masih di tahan. Ku lihat sudah ada yang mengelap air mata dan sekedar menarik cairan di hidungnya.
“Kalian dekati peti itu, tak ada yang bersuara, dan tidak ada yang mendekati kalian atau menghalangi kalian. Tinggal selangkah lagi menuju peti itu. Betapa kagetnya, saat kalian tahu bahwa ada seseorang yang kalian cintai, berbaring di dalam peti cokelat itu. Kalian langsung menangis. Mamak yang kalian rindukan, mamak yang selalu cerewet menyuruh ini-itu, kini berbaring di dalam peti dengan wajah yang pucat sekali. Kalian tak percaya. Kalian berteriak. Kalian menangis sekencang-kencangnya!” semua muridku sudah tak mampu menahan tangisannya.
Suara tangisan sekencang-kencangnya keluar dari semua siswa, membuat suasana kelas ramai dengan suara yang mengiris hati ini. Mereka sudah tidak peduli dengan cairan di hidung yang selalu keluar setiap mereka menangis.
Aku diam sesaat. Membiarkan mereka mengeluarkan semua air matanya. Mereka menangis lama sekali. ceritaku masih terngiang dalam benak mereka. Aku mendekati mereka satu per satu, membelai dan mengusap-usap rambutnya. Setelah merasa lebih tenang, mereka kembali menenggelamkan wajahnya pada lipatan tangan-tangan basah akibat air mata mereka. Aku kembali melanjutkan rilekasi alam bawah sadar ini.
“Ya, Tuhan. Aku sayang mamak. Aku sayang bapak. Aku juga sayang oma, opa, kakak, dan adikku. Ya, Tuhan, sebelum Engkau mengambil mereka dariku, ijinkan aku untuk membanggakannya. Aku berjanji, ya, Tuhan. Aku akan menjadi anak yang berbakti pada mamak. Aku akan menuruti semua perkataan bapak. Dan aku tidak akan memarahi oma dan opa lagi. Aku sayang mereka semua, ya, Tuhan. Aku juga berjanji akan belajar dengan giat. Aku akan mengerjakan PR, aku akan selalu berangkat ke sekolah, dan aku tidak akan marah lagi jika mamak tidak kasih uang jajan karena tidak ada uang. Ya, Tuhan, sayangi mamak. Lindungi bapak. Berkatilah kasih-Mu pada semua keluargaku. Jadikanlah aku pelayan-Mu yang baik. Aku berjanji akan melayani-Mu juga, ya, Tuhan.” Aku mengakhiri kegiatan yang mulai sekarang, aku beri nama, “Rileksasi”.
“Ya, sudah. Semuanya boleh angkat kepalanya lagi. Hapus air matanya. Kalau masih ada yang mau menangis, silahkan. Jangan ditahan-tahan.” Baik anak laki-laki atau pun anak perempuan, semua menangis tanpa terkecuali.
Kelas yang biasanya ramai, kini tenang sekali. semoga ini bertahan lama.
“Belajar yang tekun. Turuti semua perintah orang tua kalian, dan jangan membantah atau memarahi mamak, bapak, oma, atau opa, jika tidak diberi uang. Selagi mereka masih ada, bahagiakan mereka. Buat mereka bangga dengan kalian. Dan jangan pernah membuat mereka menangis, karena, sudah begitu banyak air mata yang mereka keluarkan demi menjaga dan mengasihi kalian dengan ketulusan. Tanpa meminta imbalan apa pun dari kalian.” Aku tidak sanggup meneruskan perkataan ini. Suaraku sudah bergetar, setiap kata yang aku keluarkan, secara bersaman membawaku pada bayangan ibu dan bapakku yang jauh disana. 

***

Hari ke-LXXXIII, 05 September 2014. Jumat, pukul 10.26 Wita
Gumpalan awan putih di birunya langit lebih menyerupai pulau kalimantan ketika kita melihat peta. Berkatnya, pagi ini kami hadapi dengan semangat dan tawa yang menyejukkan hati. Sepertinya, awan dan matahari sudah membuat janji untuk tidak menyinari pulau ini secara langsung. Dengan semangat yang masih penuh, seluruh siswa dari kelas 1 sampai 6 berbaris merentangkan kedua tangannya, membuat barisan-barisan seperti jumat-jumat yang lalu –senam pagi bersama.
Sudah menjadi kebiasaan juga, bahwa, sekitar 4 atau 5 orang akan membantu memimpin senam di setiap muka barisan. Jangan ditanya, mereka selalu berebutan untuk bisa ditunjukku agar dapat memimpin yang lainnya –suatu kehormatan bisa memimpin senam pagi. Namun, aku selalu dapat mengatasinya dengan mudah, kuajukan beberapa pertanyaan perkalian secara acak. Dari perkalian yang paling mudah, sampai perkalian sembilan yang menurut mereka sudah tingkat lanjutan.
Setiap anak yang mengacungkan tangannya, lalu menjawab dengan tepat, maka ia akan memimpin senam. Jika salah, maka harus bersabar untuk menunggu pertanyaan berikutnya dan siap di rebut yang lain.
Aku selalu suka dengan pemandangan ini. Kerutan dahi dan mulut yang komat-kamit, di tambah jari tangan yang digerakkan selalu sukses membuatku tertawa. Lucu sekali saat mereka berhitung. Ya, aku sudah mempunyai 5 nama yang akan memimpin senam. Dowes, Putra, Ical yang hampir setiap jumat selalu memimpin senam –selalu bisa menjawab pertanyaan perkalianku. Dan dari perempuan, sudah ada Novi dan Hamelin.
Setiap pemimpin senam akan menyumbangkan sedikitnya dua gerakan senam sesuka hati mereka, dari kepala yang ditengok-tengokkan, ditundukkan, bahkan sampai pinggul yang maju-mundur meliuk-liuk. Mereka bebas ‘mengerjai’ teman-teman yang lainnya, dan semua harus mengikuti setiap gerakan ‘ajaib’ sang instruktur. Dan sudah dapat ditebak, ini yang membuat semua orang berlomba-lomba memimpin senam, tak takut meski harus menjawab pertanyaan perkalian sebelumnya. Dan tak sedikit siswa kelas 1 atau kelas 2 yang menjawab dengan jawaban yang mengasal. Menyebutkan angka seenaknya. Mereka ikut berpartisipasi dan bersaing melawan kakak-kakak kelas mereka.
Selalu suka dengan hari jumat. Kapanpun, dan di manapun.
Setelah melakukan kegiatan senam pagi yang selalu diakhiri dengan nyanyian plus gerakan “tangan kanan ke depan-ke belakang, depan-belakang”, semua siswa akan memilih permainan olahraga yang mereka sukai. Ada yang bermain sepak bola, bola voli, bulu tangkis, atau sekedar bermain ispen[3] di halaman sekolah.
Setelah setengah jam melakukan permainan masing-masing, kelas 4 meminta aku mengulang rileksasi yang kemarin sukses membuat mereka menangis. Kali ini, kelas 5 dan kelas 6 juga ingin merasakannya.
Oi, sejak pulang sekolah kemarin, berita ‘asiknya’ rileksasi sudah menyebar ke semua anak-anak yang lain. Akhirnya, aku mengiyakan permintaan mereka. Aku gabungkan seluruh anak kelas 3-6 di dalam kelasku. Kali ini mereka aku biarkan goleran –berbaring di lantai. Karena hari ini memakai kaos olahraga, mereka tak khawatir pakaian akan kotor. Sudah lebih menyerupai pengungsian kelasku pagi ini. Mereka semua berbaring sambil memejamkan matanya. Mencari tempat dan posisi yang nyaman untuk menikmati ‘terapi’ ini.
Seperti biasa, kunyalakan laptopku, memutar musik sebagai alat pendukung rileksasi kali ini. Kubiarkan sekitar satu menit alunan musik memasuki pikiran mereka. Setelah merasa keadaan sudah terkontrol, sudah tak ada yang usil menendang atau menyenggol lengan teman di sebelahnya, aku memulai rileksasi ini. Juga sama seperti kemarin, aku memulai dengan menyuruh mereka membayangkan wajah orang terdekat mereka, selanjutnya aku menekankan ceritaku dengan memainkan intonasi dan tempo berceritaku.
Hampir dua puluh menit aku merilekskan pikiran mereka.

Memasuki pesan-pesan positif ke dalam alam bawah sadar mereka, dan seperti yang sudah kuduga, malah ini jauh dari yang aku bayangkan, hampir semua anak menangis dengan histeris saat tiba pada bagian “peti cokelat yang tergeletak di ruang tengah rumah mereka”. Putra yang posisinya paling dekat denganku, tak segan-segan bangkit dari tidur dan memelukku dengan erat sekali. Menenggelamkan wajahnya ke dalam pelukanku. Aku tak heran, ia memang sangat merindukan mama yang sudah lama sekali tak bertemu. Ia terisak-isak dalam pelukanku, nafasnya terengah-engah, air matanya membanjiri kaos olahragaku. Aku mengelus rambutnya, aku sudahi rilekasasi ini.
Kusuruh semua duduk dan mengijinkan siapa saja yang ingin duduk di dekatku. Tidak sampai hitungan menit, anak-anak sudah berada di sampingku, dan beberapa memelukku dari segala arah. Putra masih menangis, sepertinya ia malu menunjukkan air matanya pada yang lain. sehingga tak mau bangkit dari pelukanku.
“Kong bagaimana? Masih mau nakal sama mamak arau bapak?” tanyaku sambil mengelus-elus rambut mereka yang duduk di dekatku.
“Nyandak, engku. Ning mau kita.”
Teruslah seperti ini. Teruslah menjadi kebanggan mamak dan bapak kalian, wahai anak-anak hebatku.

                                                                                                                                      (Bersambung...)


[1] Tinggal lompat, terus saya berenang.
[2] Buku bacaan berjudul “Kisah Perjuangan Pahlawan Indonesia” yang ditulis oleh Lia Nuralia dan Iim Imadudin.
[3] Ispen = sebuah permainan tradisional anak-anak, ada yang menyebutnya dengan gerobak sodor, galasin, terowong, dan lain-lain. Permainan ini terdiri 2 tim. Mereka harus memasuki penjaga yang menjaga garis, dan siapa yang berhasil keluar dari garis terdepan setelah melewati semua garis tanpa tertangkap,tim itu pemangnya.

Komentar

Postingan Populer