CCCLXV - Catatan Harian Pengajar Muda (13)
Hari ke-LXXXIV, 06
September 2014. Sabtu, pukul 10.29 Wita
Baiklah. Aku mengakui apa kata orang,
bahwa, dalam waktu terdesak, semua ide bisa keluar begitu saja. Kepepet membuat perfect.
Seperti sabtu pagi ini. Hanya karena aku mengenakan
setelan pakaian pramuka, aku disuruh oleh seorang guru untuk memimpin
ekstrakurikuler pramuka.
Ya, Tuhan! Terakhir kali aku mengikuti
pramuka dan mengenakan pakaian serba cokelat dengan topi dan kacu berwarna merah putih adalah saat
aku kelas 6 SD. Itu sudah sangat lama sekali. Saat pelatihan Pengajar Muda
kemarin, satu kali sempat diberikan materi kepramukaan, tapi, mempraktekan dan
membuatnya sangat serius seperti ini? Oi, ini lain cerita. Maka dengan
amat-sangat terpaksa, aku mengiyakan. Menyetujui akibat dari ‘keisenganku’
mengenakan baju pramuka sabtu ini. Ditambah lagi, menurut guru tersebut, ekskul pramuka belum ada di sekolah ini.
Berbekal buku saku yang sudah aku bawa
–dan aku sangat bersyukur mematuhi semua perintah camp PM, aku menerangkan sedikit apa yang ada di dalam kegiatan
kepramukaan. Dimulai dari apa itu pramuka, tingkatan-tingkatannya, dan, tentu
saja; permainan yang ada dalam pramuka. Karena saat aku kecil, aku lebih
mengingat semua permainan dalam pramuka, oleh karena itu, aku tak ingin egois
pada murid-muridku. Alhasil, aku memilih bermain dengan mereka. Memberitahu
tentang arti dari suara peluit yang aku tiup berbeda-beda nada dan panjangnya.
Ah... sebenarnya, ini hanya hal yang aku ingat dari pramuka saat kecil dulu.
Kalian tahu permainan “Samson, Harimau,
dan Delila”? permainan siapa takut dengan siapa dan harus lari sampai tak tertangkap
oleh lawan. Tentunya, dengan gerakan atau isyarat yang mewakili ke-tiga lakon
tersebut –secara halus aku mengatakan, mungkin yang kalian ingat hanya tentang
gerakannya saja. Iya atau iya?
Maka, permainan ini sangat disukai oleh
para siswa. Namun, ada sedikit yang berbeda. Aku meng-improvisasinya, mengganti
nama “Samson-Harimau-Delila” menjadi sesuatu yang lebih dekat dengan jaman
mereka saat ini. Aku menggunakan nama-nama pemain sinetron yang sedang naik
daun di pulau ini, sinetron “Manusia harimau” dan “Ganteng-ganteng serigala”
yang sejujurnya, aku sangat tidak menyukai pengaruh dari sinteron ini pada
anak-anak pulauku. Tapi, demi ‘serunya’ permainan ini, baiklah, aku menggunakan
namanya.
Dan, sudah seperti yang aku bayangkan, mereka menagih dan meminta
selalu mengulanginya. Ini yang dinamakan tidak belajar dari pengalaman,
berpikir untuk tidak melakukan keisengan yang membuat ‘iseng’ sungguhan. Tapi,
sejauh ini, aku menikmatinya. Jangan tanyakan pada muridku, mereka, sangat,
sangat, sangat menyukainya.
***
Hari ke-LXXXV, 07
September 2014. Minggu, pukul 09.32 Wita
Minggu pagiku selalu berbeda di sini. Tak
ada ‘Doramon’, ‘Shincan’, atau ‘Dragon
Ball’. Tak ada acara televisi yang sejak pukul 6 pagi, selalu secara terus
menerus membuat ‘kerasan’ di depan televisi untuk menyaksikan semua acara
kartun dari stasiun TV kesayangan. Maka, mingguku kali ini, kuawali pagiku
untuk masuk gereja.
Aku mengikuti sekolah minggu yang
dilaksanakan rutin setiap pukul 7 pagi. Menemani murid-muridku, dan
mendengarkan pengasuh sekolah minggu membacakan khutbahnya. Setelahnya, aku
habiskan waktu istirahatku dengan membaca novel, menonton film di laptop yang
belum sempat kutonton, atau saat bosan, berjalan-jalan di sepanjang dermaga
bersama anak-anak.
***
Hari ke-LXXXVI, 08
September 2014. Senin, pukul 05.50 Wita
Lagi-lagi, awan tak mampu menahan
kondensasinya.
Ribuan pasukan air turun dari langit, dan membuat pulau kecil
berpenghuni sedikit ini semakin terlihat sepi –malas keluar rumah.
Satu lagi pengalaman
berhargaku. Pagi ini, sambil menunggu waktu ke sekolah, aku menyetrika
pakaianku. Bukan dengan setrika listrik tentu saja, karena ini sudah pagi, toh? Tak akan bisa jika menggunakan itu.
Lalu? Apa yang menarik? Yang menarik adalah, aku-menggunakan-setrika-bara-api.
Cukup unik, bukan? Di rumahku, penggunaan setrika arang terjadi saat aku masih
SD. Aku ingat sekali, almarhummah nenekku
menggunakan itu. Tapi, karena sudah hilang ditelan modernisasi, aku tak pernah
lihat lagi –sampai pagi ini tentunya.
Bukan hanya sekedar melihatnya, aku
menggunakannya. Dan jujur, di luar karena memang tidak ada listrik, menyetrika
dengan menggunakan setrika arang lebih ‘seru’ dibandingkan dengan setrika
listrik. Pakaian lebih cepat rapi karena lebih licin, wangi arang yang enak
tercium, dan tentunya, pakaian akan jauh lebih tahan lama kerapihannya. Namun,
kita harus lebih berhati-hati, selain harus menjaga bara api agar terus menyala
dan tetap panas. Kalian juga harus ekstra hati-hati, kalian tidak akan
tersetrum, tapi, kalian bisa terbakar!
Di dalam kelas 4
Pukul 08.18 Wita
Suasana kelas pagi ini sangat tidak
mengenakkan mood-ku. Aku tahu, aku
hanya guru bantu yang beberapa bulan lagi akan meninggalkan sekolah ini –kelas
1ni lebih tepatnya. Namun, bukan karena aku tidak pernah menggunakan kekerasan
sebagai hukuman, bukan berarti mereka bisa seenaknya, bukan?
Aku sudah beberapa kali menegur kelas 4
ini.
Dilarang makan dengan bahasa yang sangat halus, seperti, “Ayo, kelas itu
fungsinya untuk apa, ya? Bedanya kelas dengan dapur apa? Ada yang tahu dan bisa
bantu engku menjawabnya?” beberapa
ada yang menyadari arti sindiranku, dan menjawab, “Belajar, engku!” namun, beberapa masih tetap asik menikmati ‘santapan ringannya’
tanpa merasa berasalah.
Karena sudah terlalu lama dalam sindir-menyindir, aku
langsung to the point, dan menegur
anak yang masih makan meski mengumpat dariku. Kegiatan ‘sarapan’ itu terhenti,
namun, saat aku mencoba menerangkan pelajaran kembali, anak tersebut
melanjutkan tanpa merasa bersalah meski aku sudah memergokinya untuk kesekian
kalinya.
“Kalian maunya apa? Mau makan? Mengapa di
rumah tidak sempat sarapan tadi? Nanti saat istirahat, kalian bisa makan lagi.
Jadi, kalian mau engku melanjutkan
pelajaran?” tanyaku dengan suara yang masih sangat di tahan.
Situasi kembali
aman. Beberapa anak memasukkan kembali biskuit dan makanan lainnya ke dalam
kolong meja. Karena aku harus mengajar di kelas lain, maka aku tinggalkan kelas
4 ini. Sebelum meninggalkan kelas, aku berpesan bahwa mereka tidak boleh keluar
kelas, kecuali jika ingin buang air kecil atau besar.
Tidak sampai setengah jam aku mengajar di
kelas lain, aku melihat beberapa anak kelas 4 lari-larian di luar kelas. Aku
kesal. Aku merasa tidak dihargai. Ku tinggalkan kelas yang sedang kuajar, aku
masuk kembali ke kelas 4 yang semakin terdengar gaduh karena mereka buru-buru
duduk kembali.
“Tadi engku
bilang apa? Kalian selesaikan tugas yang engku berikan. Sudah?” semua menggeleng.
“Lalu? Mengapa bermain kejar-kejaran?
Kalau kalian mau main, bisa setelah pulang sekolah, atau tunggu waktu istirahat
sebentar lagi. Engku harus mengajar
kelas lain juga. Bisa dimengerti?” suaraku sudah tidak setenang tadi. Sudah
ada sedikit ‘tekanan’ di sana.
“Iyaaaa...” mereka jawab bersama-sama.
Biar mereka jera, aku selalu ‘menghukumnya’ dengan mengetes perkalian. Yang
bersalah, maka harus menerima resiko hafal perkalian. Ini selalu ku gunakan
untuk ‘menghukum’ para muridku. Padahal, sejujurnya, guru-guru yang lain sudah
berkata, “Pukul saja, engku. Mereka
tidak akan mendengar jika tidak begitu.” aku? Memukul mereka? Oh, tidak.
Kemarahanku memuncak saat setelah
istirahat, anak-anak kelas 4 aku tugaskan mengerjakan soal IPA. Kelas 3 sudah
aku pulangkan karena hanya satu orang yang masuk sekolah. Mereka mengeluh dan
selalu berkata, “Sudah, engku. Kami
sudah lelah.” atau, “Engku, saya
lapar. Saya mau pulang saja.”
Aku sudah memberikan beberapa sindiran
sampai teguran secara tegas pada mereka. Mereka terus berkata seperti itu,
sampai pada akhirnya, kesabaranku sudah habis.
“Kalian lelah? Kalian lapar? Kalian mau
pulang? Oke, baiklah. Silahkan pulang ke rumah masing-masing. Makan agar
kenyang, lalu tidur agar tidak lelah.” aku rapikan perlengkapan mengajarku.
“Selamat siang!” aku meninggalkan kelas.
Semua anak-anak terdiam. Aku keluar dan pulang ke rumah. Sekolah hanya tinggal
kelas 6 yang masih berpenghuni. Selebihnya sudah di pulangkan lebih awal oleh
guru-guru yang lain.
Aku melihat guru kelas 1 yang sudah di
rumah, kembali masuk ke kelas 4 setelah aku ceritakan duduk permasalahannya. Ia
memarahi semua siswa kelas 4. Aku tak begitu jelas apa yang di bicarakan.
Selain suaranya tidak terlalu terdengar, guru tersebut juga menggunakan bahasa
Sangir yang masih sulit sepenuhnya aku artikan.
Maafkan engku, maaf.
***
Hari ke-LXXXVII, 09
September 2014. Selasa, pukul 08.00 Wita
Setelah semua siswa masuk ke kelasnya
masing-masing selepas apel pagi, aku pun masuk kelas. Kali ini, bukan ke kelas
4, melainkan ke kelas 2. Aku berniat melakukan ‘gencatan senjata’ karena
peristiwa kemarin. Kubiarkan mereka ‘belajar’ tentang apa yang sedang terjadi.
Aku tak sama sekali menegur atau melirik kelas mereka. Meski hati ini berat
meninggalkan mereka, namun, dalam suatu perubahan, dibutuhkan proses, bukan?
Maka, kali ini aku biarkan. Guru-guru lain entah mendukungku, atau memang tidak
mau masuk kelasnya, tak ada satu pun guru yang masuk ke kelas 4. Jadi mereka
benar-benar ‘bebas’.
Semua berjalan normal sampai waktu
istirahat.
Aku tetap pada aksi ‘gencatan senjata’
ini. Bahkan, untuk sekedar tersenyum pun, aku tidak. Meski kalau boleh berkata
jujur, aku selalu menahan tawa melihat beberapa hal dari mereka. Ahh..
entahlah, semoga kalian segera mengerti akan hal ini, engku sudah lelah memainkan sandiwara ini.
Sekitar pukul 10.30, aku yang sedang
mengajar di kelas 2, tiba-tiba pintu kelasku diketuk oleh segerombolan orang.
Bising. Terdengar terburu-buru.
Aku hendak menegurnya, maka aku membukakan
pintunya.
Namun? Apa yang ku lihat? Semua siswa kelas 4 sudah berdiri di depan
pintu. Aku yang belum tahu akan semuanya, hanya bisa diam. Mereka memberikanku
beberapa tumpukan kertas yang dilipat menjadi sebuah surat. Belum sempat aku
mengatakan sepatah kata pun, mereka sudah lari ke kelasnya bersama-sama.
Menghambur begitu saja sambil berteriak, “Kasse,
engku!”.
Di belakang meja guru ini, aku membuka
semua lipatan kertasnya. Membaca satu per satu surat dari mereka. Seketika, ada
rasa haru dan bangga saat membacanya. Isi surat mereka seperti ini:
Dari
Hamelin: Engku, maafkan saya. Maafkan kami semua. Kami berjanji tidak akan
makan dan minta pulang lagi kalau sedang belajar. Hamelin sayang engku Hairul.
Dari
Erika: Engku, saya mau belajar lagi dengan engku Hairul. Cepat datang ke sini
ya. Saya berjanji tidak akan makan di kelas lagi. Saya sayang Engku.
Kalian, tahu saja kelemahan engku. Semua surat aku sudah baca, dan
hampir semuanya mengucapkan maaf atas kesalahan mereka, dan berjanji tidak akan
mengulanginya kembali.
Ada satu yang membuatku makin terharu,
surat dari Jemsi. Karena ia belum bisa membaca dan menulis –tetapi ia jago
dalam berhitung dan menggambar. Berbeda dari surat-surat yang lain, Jemsi
menyampaikan permintaan maafnya dengan sebuah gambar. Ada gambar dua orang,
satu berukuran tubuh kecil, dan satu lagi lebih besar. Ini aku asumsikan bahwa
di dalam gambar tersebut, ada aku dan dirinya.
Kemudian, ada gambar biskuit di atas
piring, ada gambar kasur yang keduanya di coret tanda tak boleh melakukan itu.
Lalu, ada sebuah tulisan di sana. Satu buah kata. Ya, hanya satu buah kata yang
bentuk tulisan itu terlihat berdiri tak tegak. Berada di luar garis-garis
kertas, yang membuatku langsung menuju kelas 4.
Jemsi menuliskan kata M-A-A-F. Hanya itu.
Bahkan, empat huruf itu terlihat sekali kesungguhan dalam menuliskannya. Ia
minta diajari oleh teman-temannya. Aku masuk ke dalam kelas 4. Saat mereka
melihat kedatanganku, mereka duduk dan diam di bangkunya masing-masing.
Terlihat sekali mereka serius.
Aku berdiri di tengah-tengah kelas, tanganku
terbuka dan siap memeluk siapa pun yang ingin aku peluk. Meski terlihat ragu
pada awalnya, setelah aku meyakinkan mereka dengan tersenyum, dimulai oleh
Hamelin, di susul oleh erika, dan di akhiri oleh Jemsi. Mereka berada dalam
pelukanku semua. Mereka berkata maaf secara terus-menerus, dan aksi ‘gencatan
senjata’ ini resmi berakhir. Terima kasih, Tuhan. Terima kasih.
***
Hari ke-LXXXVIII,
10 September 2014. Rabu, pukul 07.58 Wita
Senyumku kembali mengembang.
Melihat
halaman sekolah sudah ramai, anak-anak mengenakan batik merah yang semakin
memperlihatkan mereka berseri-seri, di tambah sejuknya pagi hari, membuat
kembalinya semua murid dari Tahuna terasa istimewa.
Hari-hari ke depan pasti
menyenangkan. Selamat datang kembali, wahai malaikat-malaikat kecilku.
***
Hari ke-LXXXIX, 11
September 2014. Kamis, pukul 07.57 Wita
Kali ini, aku masuk ke kelas 5. Cuaca di
luar sangat terik. Seperti menguliti kulit kami yang berada di bawah terik
matahari. Panas. Anak-anak yang biasa main di halaman sekolah pun, cenderung
memilih masuk kelas selepas istirahat. Enggan berpanas-panasan, karena nanti
siang pun mereka akan berpanas-panasan. Mengail ikan atau memetik kelapa
seperti biasa.
Kali ini, aku membuat semacam kuis untuk
kelas 5.
Seperti kuis atau cerdas cermat saat aku
kecil dulu. Isinya tentang mengulang semua pelajaran yang sudah mereka
pelajari.
Kelas kubagi menjadi 2 tim, masing-masing tim terdiri dari tiga
orang. Cara menentukan timnya pun aku lakukan dengan permainan. Khawatir akan
tidak adil jika mereka memilih sendiri, maka pemilihan anggota kelompok kita
mainkan dengan sebuah nyanyian. Mereka akan berputar mengelilingi ruangan
dengan mata tertutup, sambil aku menyanyikan lagu. Saat lagu berhenti, mereka
akan mencari teman dengan meraba-raba siapa saja yang di dekatnya. Jika mereka
sudah menemukan tiga orang, maka, kain yang mengikat mata mereka akan di buka,
dan, itulah teman kelompok mereka masing-masing.
Permainan aku bagi menjadi 3 babak.
Babak pertama,
mereka akan mendapatkan beberapa pertanyaan untuk tiap-tiap kelompok. Tiap-tiap
pertanyaan akan mendapatkan nilai 10. Pertanyaan terdiri dari 15 soal, ada soal
Matematika, IPA, IPS, dan Kewarganegaraan. Jika tidak bisa menjawab, maka
pertanyaan akan di lempar ke tim lawan. Tidak ada pengurangan poin di babak
ini.
Selanjutnya, memasuki babak kedua adalah babak rebutan, yang
merebutkan 20 poin untuk tiap pertanyaan yang bisa di jawab dengan tepat. Jika
salah, maka akan ada pengurangan 10 poin. Soal di babak ke-2 ini lebih banyak,
dan hampir semua soal terdiri dari soal Matematika dan IPA saja. Mereka aku
bekali dengan kertas HVS dan spidol. Waktu menghitung soal hanya 2 menit. Aku
gunakan timer dan akan terdengar
seperti alarm saat waktu habis. Siapa
yang bisa menjawab, maka 20 poin akan di bawa untuk timnya.
Babak ketiga
atau babak terakhir, ku suruh masing-masing dari mereka membuat satu buah
puisi. Puisi untuk orang-orang yang mereka sayangi. Sebenarnya, tak akan ada
nilai di sini, puisi ini hanya untuk melatih mereka menulis. Setelah puisi
terkumpul, masing-masing tim aku beri nilai 30. Tak ada yang tidak
mengumpulkan, sehingga semuanya memiliki poin 30 untuk masing-masing timnya.
Hingga sampai kegiatan ini selesai,
kelompok 1 yang terdiri dari Putra, Christy, dan Melda memenangkan kuis ini.
Hadiah yang aku berikan adalah alat-alat tulis, seperti pulpen, pensil,
penserut, dan penghapus. Meski sangat sederhana, mereka menerima dengan senang
hati. Dan untuk kelompok 2, aku memberikan masing-masing satu buah pensil
sebagai hadiah karena mereka juga sudah berjuang.
Mengulang pelajaran dengan cara tidak
seperti belajar, melainkan dengan bermain, menjadi alternatif untuk dilakukan.
Seru dan mereka tak akan menyadari bahwa ini adalah sebuah ‘ulangan harian’,
bukan?
***
Hari ke-XC, 12
September 2014. Jumat, pukul 12.09 Wita
Cuaca pulau pagi ini sangat memanjakan.
Mendung.
Seperti pada jumat-jumat sebelumnya,
kegiatan senam pagi menjadi andalan kami. Lambat laun, mengatur mereka –dalam
kegiatan baris-berbaris- mudah juga. Seorang diri pula.
Sekitar 30 menit
kegiatan senam pagi dilakukan. Selanjutnya, masing-masing siswa akan memilih
untuk mengikuti olahraga permainan.
Aku membaginya menjadi 2 kelompok.
Kelompok pertama, mereka akan bermain sepak bola di lapangan besar dekat kantor
kepala desa. Sedangkan kelompok kedua, mereka akan bermain bola voli di halaman
sekolah. Namun, belum sampai 10 menit setelah mereka bermain, tiba-tiba, tanpa
ada pemberitahuan terlebih dahulu, hujan turun dengan lebat. Anak-anak
berlarian memasuki pelataran sekolah, sedangkan anak-anak yang berada di
lapangan besar masih harus berjuang melawan derasnya air untuk sampai sekolah.
Kuyup. Aku menggabung mereka semua ke dalam kelasku. Aku tak ingin terjadi
hal-hal yang tidak diinginkan jika aku membiarkan mereka tanpa guru.
Keadaan sekolah licin dan becek sehingga
anak-anak pun dengan senang hati aku gabungkan ke dalam kelasku. Permintaan
rileksasi banyak terdengar dari mereka, dengan melawan suara hujan, aku
berteriak melakukannya. Tanpa harus aku ceritakan bagaimana hasilnya, pada
akhirnya, semua menangis.
Sampai sekolah usai, hujan masih setia
menemani pulauku. Anak-anak di jemput oleh orang tuanya masing-masing. Jika
tidak ada yang menjemputnya, maka aku mengambil payung terlebih dahulu di
rumah, lalu aku mengantarnya satu per satu. Tak jarang hujan tetap membasahi
kami yang berlindung dalam payung bersama 4 orang anak.
“Engku
tahu mengapa
saya sangat senang dengan engku?
Karena engku selalu dekat dengan
kami. Seperti saat hujan ini. Tetap seperti ini, ya, engku.”
Aku hanya bisa tersenyum.
***
Hari ke-XCI, 13
September 2014. Sabtu, pukul 18.10 Wita
Kegiatan pramuka menjadi satu bagian baru
dari anak-anak pulau ini. Permainan yang sportif dan jujur jika ada yang salah,
menjadi bumbu manis tersendiri. Sepulang sekolah, setiap hari sabtu ada ibadah sabtu gembira. Ini salah satu ibadah
untuk anak-anak seperti sekolah minggu.
Sabtu gembira ini setiap minggunya akan
bergiliran diadakan di rumah anak-anak. Sabtu kali ini sedang diadakan di rumah
Ical. Kegiatan sabtu gembira memang sesuai dengan namanya –gembira. Ada
pembacaan alkitab, pemberkatan, dan yang paling khas adalah adanya permainan.
Permainan yang pada akhirnya akan diambil kesimpulan kerohanian yang di pandu
oleh pembimbing sekolah minggu.
Suara mesin-mesin genset sudah terdengar
seantero pulau.
Masing-masing rumah yang memiliki mesin
seperti ingin menunjukkan pada yang lain, mereka menyalakan speaker berukuran besar, dan memutar
semua lagu khas Sangir atau Manado. Hal ini memang menjadi budaya Sangir yang
suka sekali berpesta. Maka, sambil (terpaksa) menikmati lagu-lagu, aku makan
malam bersama keluargaku.
“Ini ikan apa, Bu?” tanyaku.
“Gurango, ngku.” jawab Dowes, adikku. Maka tanpa ragu, aku memakan ikan
tersebut. Dagingnya sangat lembut, kuah kari yang menjadi bumbu ikan ini juga
membuatku ingin tambah lagi dan lagi.
“Gurango itu bahasa Manado pasar. Kalau
bahasa Sangirnya itu, kemboreng.” tiba-tiba ibuku bercerita.
“Apa? Kemboreng, Bu?” tanyaku tiba-tiba.
Setahu aku, kemboreng itu adalah?
“Iya, hiu.” jawab ibuku singkat.
Nafsu makanku hilang seketika. Baik. Oke.
Hairul, oi, anda sudah makan ikan HIU.
***
Hari ke-XCII, 14
September 2014. Minggu, pukul 19.44 Wita
Minggu sore aku habiskan dengan menonton
pertandingan sepak bola anak-anak di lapangan besar. Menjadi keasikkan
tersendiri melihat anak-anak berteriak memanggil temannya untuk meminta bola atau
sekedar usil tanpa maksud apa pun.
Seperti dalam pertandingan-pertandingan biasanya,
bagi tim yang menang, masing-masing dari mereka akan mendapatkan sabun batang
untuk di bawa pulang. Setelah selesai, lapangan besar akan dipakai oleh orang
tua untuk bermain sepak bola juga. Sehingga, anak-anak aku bawa ke lapangan
sekolah dan bermain bola voli. Kali ini aku yang menjadi wasitnya. Sebenarnya,
aku sudah menyadari sejak lama, bahwa, anak-anak pulau ini sangat jago dalam
hal olahraga. Semakin tahu, bahwa, mereka luar biasa.
***
Hari ke-XCIII, 15
September 2014. Senin, pukul 17.00 Wita
Satu lagi skenario Tuhan yang tidak
mungkin aku dapatkan jika aku tidak berada di tempat ini. Sambil menunggu kapal
Sabuk, setelah sholat ashar aku bermain bersama anak-anak. Sore kali ini masih
terbilang panas, membuat kami haus dan menginginkan yang segar-segar.
“Mau saya petikkan lewo[1],
ngku?” tanya Bandam tiba-tiba.
“Iya, ngku.
Bandam punya pohon kelapa muda yang enak.” sambung Putra.
“Boleh. Sangat boleh.” jawabku senang.
Tanpa menghitung menit, Bandam sudah
memanjat ke atas pohon kelapa yang berada di dekat kami. Tuhan, ini kah
kuasa-Mu? Memanjat pohon kelapa yang tingginya lebih dari 8 meter, seperti
tupai, anak pulau kecil ini memanjatnya tanpa merasa sulit atau apa pun. Bandam
membawa golok dan dalam hitungan menit, 5 buah kelapa muda segar sudah jatuh
berdentuman di depan kami. Maka dengan sesegera mungkin, bersama Putra, Bandam,
Ical, dan Acil, kami memakan dan meminum buah kelapa. Fresh from the oven!
Bersama Putra, Bandam, Ical, dan Acil
(bersambung...)


Komentar
Posting Komentar