CCCLXV - Catatan Harian Pengajar Muda (13)

Hari ke-LXXXIV, 06 September 2014. Sabtu, pukul 10.29 Wita
Baiklah. Aku mengakui apa kata orang, bahwa, dalam waktu terdesak, semua ide bisa keluar begitu saja. Kepepet membuat perfect.  
Seperti sabtu pagi ini. Hanya karena aku mengenakan setelan pakaian pramuka, aku disuruh oleh seorang guru untuk memimpin ekstrakurikuler pramuka.
Ya, Tuhan! Terakhir kali aku mengikuti pramuka dan mengenakan pakaian serba cokelat dengan topi dan kacu berwarna merah putih adalah saat aku kelas 6 SD. Itu sudah sangat lama sekali. Saat pelatihan Pengajar Muda kemarin, satu kali sempat diberikan materi kepramukaan, tapi, mempraktekan dan membuatnya sangat serius seperti ini? Oi, ini lain cerita. Maka dengan amat-sangat terpaksa, aku mengiyakan. Menyetujui akibat dari ‘keisenganku’ mengenakan baju pramuka sabtu ini. Ditambah lagi, menurut guru tersebut, ekskul pramuka belum ada di sekolah ini.
Berbekal buku saku yang sudah aku bawa –dan aku sangat bersyukur mematuhi semua perintah camp PM, aku menerangkan sedikit apa yang ada di dalam kegiatan kepramukaan. Dimulai dari apa itu pramuka, tingkatan-tingkatannya, dan, tentu saja; permainan yang ada dalam pramuka. Karena saat aku kecil, aku lebih mengingat semua permainan dalam pramuka, oleh karena itu, aku tak ingin egois pada murid-muridku. Alhasil, aku memilih bermain dengan mereka. Memberitahu tentang arti dari suara peluit yang aku tiup berbeda-beda nada dan panjangnya. Ah... sebenarnya, ini hanya hal yang aku ingat dari pramuka saat kecil dulu.
Kalian tahu permainan “Samson, Harimau, dan Delila”? permainan siapa takut dengan siapa dan harus lari sampai tak tertangkap oleh lawan. Tentunya, dengan gerakan atau isyarat yang mewakili ke-tiga lakon tersebut –secara halus aku mengatakan, mungkin yang kalian ingat hanya tentang gerakannya saja. Iya atau iya?
Maka, permainan ini sangat disukai oleh para siswa. Namun, ada sedikit yang berbeda. Aku meng-improvisasinya, mengganti nama “Samson-Harimau-Delila” menjadi sesuatu yang lebih dekat dengan jaman mereka saat ini. Aku menggunakan nama-nama pemain sinetron yang sedang naik daun di pulau ini, sinetron “Manusia harimau” dan “Ganteng-ganteng serigala” yang sejujurnya, aku sangat tidak menyukai pengaruh dari sinteron ini pada anak-anak pulauku. Tapi, demi ‘serunya’ permainan ini, baiklah, aku menggunakan namanya. 
Dan, sudah seperti yang aku bayangkan, mereka menagih dan meminta selalu mengulanginya. Ini yang dinamakan tidak belajar dari pengalaman, berpikir untuk tidak melakukan keisengan yang membuat ‘iseng’ sungguhan. Tapi, sejauh ini, aku menikmatinya. Jangan tanyakan pada muridku, mereka, sangat, sangat, sangat menyukainya.

***
Hari ke-LXXXV, 07 September 2014. Minggu, pukul 09.32 Wita
Minggu pagiku selalu berbeda di sini. Tak ada ‘Doramon’, ‘Shincan’, atau ‘Dragon Ball’. Tak ada acara televisi yang sejak pukul 6 pagi, selalu secara terus menerus membuat ‘kerasan’ di depan televisi untuk menyaksikan semua acara kartun dari stasiun TV kesayangan. Maka, mingguku kali ini, kuawali pagiku untuk masuk gereja.
Aku mengikuti sekolah minggu yang dilaksanakan rutin setiap pukul 7 pagi. Menemani murid-muridku, dan mendengarkan pengasuh sekolah minggu membacakan khutbahnya. Setelahnya, aku habiskan waktu istirahatku dengan membaca novel, menonton film di laptop yang belum sempat kutonton, atau saat bosan, berjalan-jalan di sepanjang dermaga bersama anak-anak.
***

Hari ke-LXXXVI, 08 September 2014. Senin, pukul 05.50 Wita
Lagi-lagi, awan tak mampu menahan kondensasinya. 
Ribuan pasukan air turun dari langit, dan membuat pulau kecil berpenghuni sedikit ini semakin terlihat sepi –malas keluar rumah. 
Satu lagi pengalaman berhargaku. Pagi ini, sambil menunggu waktu ke sekolah, aku menyetrika pakaianku. Bukan dengan setrika listrik tentu saja, karena ini sudah pagi, toh? Tak akan bisa jika menggunakan itu. 
Lalu? Apa yang menarik? Yang menarik adalah, aku-menggunakan-setrika-bara-api. Cukup unik, bukan? Di rumahku, penggunaan setrika arang terjadi saat aku masih SD. Aku ingat sekali, almarhummah nenekku menggunakan itu. Tapi, karena sudah hilang ditelan modernisasi, aku tak pernah lihat lagi –sampai pagi ini tentunya. 
Bukan hanya sekedar melihatnya, aku menggunakannya. Dan jujur, di luar karena memang tidak ada listrik, menyetrika dengan menggunakan setrika arang lebih ‘seru’ dibandingkan dengan setrika listrik. Pakaian lebih cepat rapi karena lebih licin, wangi arang yang enak tercium, dan tentunya, pakaian akan jauh lebih tahan lama kerapihannya. Namun, kita harus lebih berhati-hati, selain harus menjaga bara api agar terus menyala dan tetap panas. Kalian juga harus ekstra hati-hati, kalian tidak akan tersetrum, tapi, kalian bisa terbakar!

Di dalam kelas 4 Pukul 08.18 Wita
Suasana kelas pagi ini sangat tidak mengenakkan mood-ku. Aku tahu, aku hanya guru bantu yang beberapa bulan lagi akan meninggalkan sekolah ini –kelas 1ni lebih tepatnya. Namun, bukan karena aku tidak pernah menggunakan kekerasan sebagai hukuman, bukan berarti mereka bisa seenaknya, bukan?
Aku sudah beberapa kali menegur kelas 4 ini. 
Dilarang makan dengan bahasa yang sangat halus, seperti, “Ayo, kelas itu fungsinya untuk apa, ya? Bedanya kelas dengan dapur apa? Ada yang tahu dan bisa bantu engku menjawabnya?” beberapa ada yang menyadari arti sindiranku, dan menjawab, “Belajar, engku! namun, beberapa masih tetap asik menikmati ‘santapan ringannya’ tanpa merasa berasalah. 
Karena sudah terlalu lama dalam sindir-menyindir, aku langsung to the point, dan menegur anak yang masih makan meski mengumpat dariku. Kegiatan ‘sarapan’ itu terhenti, namun, saat aku mencoba menerangkan pelajaran kembali, anak tersebut melanjutkan tanpa merasa bersalah meski aku sudah memergokinya untuk kesekian kalinya.
“Kalian maunya apa? Mau makan? Mengapa di rumah tidak sempat sarapan tadi? Nanti saat istirahat, kalian bisa makan lagi. Jadi, kalian mau engku melanjutkan pelajaran?” tanyaku dengan suara yang masih sangat di tahan. 
Situasi kembali aman. Beberapa anak memasukkan kembali biskuit dan makanan lainnya ke dalam kolong meja. Karena aku harus mengajar di kelas lain, maka aku tinggalkan kelas 4 ini. Sebelum meninggalkan kelas, aku berpesan bahwa mereka tidak boleh keluar kelas, kecuali jika ingin buang air kecil atau besar.
 Tidak sampai setengah jam aku mengajar di kelas lain, aku melihat beberapa anak kelas 4 lari-larian di luar kelas. Aku kesal. Aku merasa tidak dihargai. Ku tinggalkan kelas yang sedang kuajar, aku masuk kembali ke kelas 4 yang semakin terdengar gaduh karena mereka buru-buru duduk kembali.
“Tadi engku bilang apa? Kalian selesaikan tugas yang engku berikan. Sudah?” semua menggeleng.
“Lalu? Mengapa bermain kejar-kejaran? Kalau kalian mau main, bisa setelah pulang sekolah, atau tunggu waktu istirahat sebentar lagi. Engku harus mengajar kelas lain juga. Bisa dimengerti?” suaraku sudah tidak setenang tadi. Sudah ada sedikit ‘tekanan’ di sana.
“Iyaaaa...” mereka jawab bersama-sama. Biar mereka jera, aku selalu ‘menghukumnya’ dengan mengetes perkalian. Yang bersalah, maka harus menerima resiko hafal perkalian. Ini selalu ku gunakan untuk ‘menghukum’ para muridku. Padahal, sejujurnya, guru-guru yang lain sudah berkata, “Pukul saja, engku. Mereka tidak akan mendengar jika tidak begitu.” aku? Memukul mereka? Oh, tidak.
Kemarahanku memuncak saat setelah istirahat, anak-anak kelas 4 aku tugaskan mengerjakan soal IPA. Kelas 3 sudah aku pulangkan karena hanya satu orang yang masuk sekolah. Mereka mengeluh dan selalu berkata, “Sudah, engku. Kami sudah lelah.” atau, “Engku, saya lapar. Saya mau pulang saja.”
Aku sudah memberikan beberapa sindiran sampai teguran secara tegas pada mereka. Mereka terus berkata seperti itu, sampai pada akhirnya, kesabaranku sudah habis.
“Kalian lelah? Kalian lapar? Kalian mau pulang? Oke, baiklah. Silahkan pulang ke rumah masing-masing. Makan agar kenyang, lalu tidur agar tidak lelah.” aku rapikan perlengkapan mengajarku.
“Selamat siang!” aku meninggalkan kelas. Semua anak-anak terdiam. Aku keluar dan pulang ke rumah. Sekolah hanya tinggal kelas 6 yang masih berpenghuni. Selebihnya sudah di pulangkan lebih awal oleh guru-guru yang lain.
Aku melihat guru kelas 1 yang sudah di rumah, kembali masuk ke kelas 4 setelah aku ceritakan duduk permasalahannya. Ia memarahi semua siswa kelas 4. Aku tak begitu jelas apa yang di bicarakan. Selain suaranya tidak terlalu terdengar, guru tersebut juga menggunakan bahasa Sangir yang masih sulit sepenuhnya aku artikan. 
Maafkan engku, maaf.
***

Hari ke-LXXXVII, 09 September 2014. Selasa, pukul 08.00 Wita
Setelah semua siswa masuk ke kelasnya masing-masing selepas apel pagi, aku pun masuk kelas. Kali ini, bukan ke kelas 4, melainkan ke kelas 2. Aku berniat melakukan ‘gencatan senjata’ karena peristiwa kemarin. Kubiarkan mereka ‘belajar’ tentang apa yang sedang terjadi. Aku tak sama sekali menegur atau melirik kelas mereka. Meski hati ini berat meninggalkan mereka, namun, dalam suatu perubahan, dibutuhkan proses, bukan? Maka, kali ini aku biarkan. Guru-guru lain entah mendukungku, atau memang tidak mau masuk kelasnya, tak ada satu pun guru yang masuk ke kelas 4. Jadi mereka benar-benar ‘bebas’.
Semua berjalan normal sampai waktu istirahat.
Aku tetap pada aksi ‘gencatan senjata’ ini. Bahkan, untuk sekedar tersenyum pun, aku tidak. Meski kalau boleh berkata jujur, aku selalu menahan tawa melihat beberapa hal dari mereka. Ahh.. entahlah, semoga kalian segera mengerti akan hal ini, engku sudah lelah memainkan sandiwara ini.
Sekitar pukul 10.30, aku yang sedang mengajar di kelas 2, tiba-tiba pintu kelasku diketuk oleh segerombolan orang. Bising. Terdengar terburu-buru. 
Aku hendak menegurnya, maka aku membukakan pintunya. 
Namun? Apa yang ku lihat? Semua siswa kelas 4 sudah berdiri di depan pintu. Aku yang belum tahu akan semuanya, hanya bisa diam. Mereka memberikanku beberapa tumpukan kertas yang dilipat menjadi sebuah surat. Belum sempat aku mengatakan sepatah kata pun, mereka sudah lari ke kelasnya bersama-sama. Menghambur begitu saja sambil berteriak, “Kasse, engku!”.
Di belakang meja guru ini, aku membuka semua lipatan kertasnya. Membaca satu per satu surat dari mereka. Seketika, ada rasa haru dan bangga saat membacanya. Isi surat mereka seperti ini:

Dari Hamelin: Engku, maafkan saya. Maafkan kami semua. Kami berjanji tidak akan makan dan minta pulang lagi kalau sedang belajar. Hamelin sayang engku Hairul.
Dari Erika: Engku, saya mau belajar lagi dengan engku Hairul. Cepat datang ke sini ya. Saya berjanji tidak akan makan di kelas lagi. Saya sayang Engku.

Kalian, tahu saja kelemahan engku. Semua surat aku sudah baca, dan hampir semuanya mengucapkan maaf atas kesalahan mereka, dan berjanji tidak akan mengulanginya kembali.
Ada satu yang membuatku makin terharu, surat dari Jemsi. Karena ia belum bisa membaca dan menulis –tetapi ia jago dalam berhitung dan menggambar. Berbeda dari surat-surat yang lain, Jemsi menyampaikan permintaan maafnya dengan sebuah gambar. Ada gambar dua orang, satu berukuran tubuh kecil, dan satu lagi lebih besar. Ini aku asumsikan bahwa di dalam gambar tersebut, ada aku dan dirinya.
Kemudian, ada gambar biskuit di atas piring, ada gambar kasur yang keduanya di coret tanda tak boleh melakukan itu. Lalu, ada sebuah tulisan di sana. Satu buah kata. Ya, hanya satu buah kata yang bentuk tulisan itu terlihat berdiri tak tegak. Berada di luar garis-garis kertas, yang membuatku langsung menuju kelas 4.
Jemsi menuliskan kata M-A-A-F. Hanya itu. Bahkan, empat huruf itu terlihat sekali kesungguhan dalam menuliskannya. Ia minta diajari oleh teman-temannya. Aku masuk ke dalam kelas 4. Saat mereka melihat kedatanganku, mereka duduk dan diam di bangkunya masing-masing. Terlihat sekali mereka serius.
Aku berdiri di tengah-tengah kelas, tanganku terbuka dan siap memeluk siapa pun yang ingin aku peluk. Meski terlihat ragu pada awalnya, setelah aku meyakinkan mereka dengan tersenyum, dimulai oleh Hamelin, di susul oleh erika, dan di akhiri oleh Jemsi. Mereka berada dalam pelukanku semua. Mereka berkata maaf secara terus-menerus, dan aksi ‘gencatan senjata’ ini resmi berakhir. Terima kasih, Tuhan. Terima kasih.
***

Hari ke-LXXXVIII, 10 September 2014. Rabu, pukul 07.58 Wita
Senyumku kembali mengembang. 
Melihat halaman sekolah sudah ramai, anak-anak mengenakan batik merah yang semakin memperlihatkan mereka berseri-seri, di tambah sejuknya pagi hari, membuat kembalinya semua murid dari Tahuna terasa istimewa. 
Hari-hari ke depan pasti menyenangkan. Selamat datang kembali, wahai malaikat-malaikat kecilku.
***

Hari ke-LXXXIX, 11 September 2014. Kamis, pukul 07.57 Wita
Kali ini, aku masuk ke kelas 5. Cuaca di luar sangat terik. Seperti menguliti kulit kami yang berada di bawah terik matahari. Panas. Anak-anak yang biasa main di halaman sekolah pun, cenderung memilih masuk kelas selepas istirahat. Enggan berpanas-panasan, karena nanti siang pun mereka akan berpanas-panasan. Mengail ikan atau memetik kelapa seperti biasa.
Kali ini, aku membuat semacam kuis untuk kelas 5.
Seperti kuis atau cerdas cermat saat aku kecil dulu. Isinya tentang mengulang semua pelajaran yang sudah mereka pelajari. 
Kelas kubagi menjadi 2 tim, masing-masing tim terdiri dari tiga orang. Cara menentukan timnya pun aku lakukan dengan permainan. Khawatir akan tidak adil jika mereka memilih sendiri, maka pemilihan anggota kelompok kita mainkan dengan sebuah nyanyian. Mereka akan berputar mengelilingi ruangan dengan mata tertutup, sambil aku menyanyikan lagu. Saat lagu berhenti, mereka akan mencari teman dengan meraba-raba siapa saja yang di dekatnya. Jika mereka sudah menemukan tiga orang, maka, kain yang mengikat mata mereka akan di buka, dan, itulah teman kelompok mereka masing-masing.
Permainan aku bagi menjadi 3 babak.
Babak pertama, mereka akan mendapatkan beberapa pertanyaan untuk tiap-tiap kelompok. Tiap-tiap pertanyaan akan mendapatkan nilai 10. Pertanyaan terdiri dari 15 soal, ada soal Matematika, IPA, IPS, dan Kewarganegaraan. Jika tidak bisa menjawab, maka pertanyaan akan di lempar ke tim lawan. Tidak ada pengurangan poin di babak ini.
Selanjutnya, memasuki babak kedua adalah babak rebutan, yang merebutkan 20 poin untuk tiap pertanyaan yang bisa di jawab dengan tepat. Jika salah, maka akan ada pengurangan 10 poin. Soal di babak ke-2 ini lebih banyak, dan hampir semua soal terdiri dari soal Matematika dan IPA saja. Mereka aku bekali dengan kertas HVS dan spidol. Waktu menghitung soal hanya 2 menit. Aku gunakan timer dan akan terdengar seperti alarm saat waktu habis. Siapa yang bisa menjawab, maka 20 poin akan di bawa untuk timnya.
Babak ketiga atau babak terakhir, ku suruh masing-masing dari mereka membuat satu buah puisi. Puisi untuk orang-orang yang mereka sayangi. Sebenarnya, tak akan ada nilai di sini, puisi ini hanya untuk melatih mereka menulis. Setelah puisi terkumpul, masing-masing tim aku beri nilai 30. Tak ada yang tidak mengumpulkan, sehingga semuanya memiliki poin 30 untuk masing-masing timnya.
Hingga sampai kegiatan ini selesai, kelompok 1 yang terdiri dari Putra, Christy, dan Melda memenangkan kuis ini. Hadiah yang aku berikan adalah alat-alat tulis, seperti pulpen, pensil, penserut, dan penghapus. Meski sangat sederhana, mereka menerima dengan senang hati. Dan untuk kelompok 2, aku memberikan masing-masing satu buah pensil sebagai hadiah karena mereka juga sudah berjuang.
Mengulang pelajaran dengan cara tidak seperti belajar, melainkan dengan bermain, menjadi alternatif untuk dilakukan. Seru dan mereka tak akan menyadari bahwa ini adalah sebuah ‘ulangan harian’, bukan?
***

Hari ke-XC, 12 September 2014. Jumat, pukul 12.09 Wita
Cuaca pulau pagi ini sangat memanjakan. Mendung.
Seperti pada jumat-jumat sebelumnya, kegiatan senam pagi menjadi andalan kami. Lambat laun, mengatur mereka –dalam kegiatan baris-berbaris- mudah juga. Seorang diri pula. 
Sekitar 30 menit kegiatan senam pagi dilakukan. Selanjutnya, masing-masing siswa akan memilih untuk mengikuti olahraga permainan.
Aku membaginya menjadi 2 kelompok. Kelompok pertama, mereka akan bermain sepak bola di lapangan besar dekat kantor kepala desa. Sedangkan kelompok kedua, mereka akan bermain bola voli di halaman sekolah. Namun, belum sampai 10 menit setelah mereka bermain, tiba-tiba, tanpa ada pemberitahuan terlebih dahulu, hujan turun dengan lebat. Anak-anak berlarian memasuki pelataran sekolah, sedangkan anak-anak yang berada di lapangan besar masih harus berjuang melawan derasnya air untuk sampai sekolah. Kuyup. Aku menggabung mereka semua ke dalam kelasku. Aku tak ingin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan jika aku membiarkan mereka tanpa guru.
Keadaan sekolah licin dan becek sehingga anak-anak pun dengan senang hati aku gabungkan ke dalam kelasku. Permintaan rileksasi banyak terdengar dari mereka, dengan melawan suara hujan, aku berteriak melakukannya. Tanpa harus aku ceritakan bagaimana hasilnya, pada akhirnya, semua menangis.
Sampai sekolah usai, hujan masih setia menemani pulauku. Anak-anak di jemput oleh orang tuanya masing-masing. Jika tidak ada yang menjemputnya, maka aku mengambil payung terlebih dahulu di rumah, lalu aku mengantarnya satu per satu. Tak jarang hujan tetap membasahi kami yang berlindung dalam payung bersama 4 orang anak.
“Engku tahu mengapa saya sangat senang dengan engku? Karena engku selalu dekat dengan kami. Seperti saat hujan ini. Tetap seperti ini, ya, engku.
Aku hanya bisa tersenyum. 
***

Hari ke-XCI, 13 September 2014. Sabtu, pukul 18.10 Wita
Kegiatan pramuka menjadi satu bagian baru dari anak-anak pulau ini. Permainan yang sportif dan jujur jika ada yang salah, menjadi bumbu manis tersendiri. Sepulang sekolah, setiap hari sabtu ada ibadah sabtu gembira. Ini salah satu ibadah untuk anak-anak seperti sekolah minggu.
Sabtu gembira ini setiap minggunya akan bergiliran diadakan di rumah anak-anak. Sabtu kali ini sedang diadakan di rumah Ical. Kegiatan sabtu gembira memang sesuai dengan namanya –gembira. Ada pembacaan alkitab, pemberkatan, dan yang paling khas adalah adanya permainan. Permainan yang pada akhirnya akan diambil kesimpulan kerohanian yang di pandu oleh pembimbing sekolah minggu.
Suara mesin-mesin genset sudah terdengar seantero pulau.
Masing-masing rumah yang memiliki mesin seperti ingin menunjukkan pada yang lain, mereka menyalakan speaker berukuran besar, dan memutar semua lagu khas Sangir atau Manado. Hal ini memang menjadi budaya Sangir yang suka sekali berpesta. Maka, sambil (terpaksa) menikmati lagu-lagu, aku makan malam bersama keluargaku.
“Ini ikan apa, Bu?” tanyaku.
“Gurango, ngku.” jawab Dowes, adikku. Maka tanpa ragu, aku memakan ikan tersebut. Dagingnya sangat lembut, kuah kari yang menjadi bumbu ikan ini juga membuatku ingin tambah lagi dan lagi.
“Gurango itu bahasa Manado pasar. Kalau bahasa Sangirnya itu, kemboreng.” tiba-tiba ibuku bercerita.
“Apa? Kemboreng, Bu?” tanyaku tiba-tiba. Setahu aku, kemboreng itu adalah?
“Iya, hiu.” jawab ibuku singkat.
Nafsu makanku hilang seketika. Baik. Oke. Hairul, oi, anda sudah makan ikan HIU.
***

Hari ke-XCII, 14 September 2014. Minggu, pukul 19.44 Wita
Minggu sore aku habiskan dengan menonton pertandingan sepak bola anak-anak di lapangan besar. Menjadi keasikkan tersendiri melihat anak-anak berteriak memanggil temannya untuk meminta bola atau sekedar usil tanpa maksud apa pun. 
Seperti dalam pertandingan-pertandingan biasanya, bagi tim yang menang, masing-masing dari mereka akan mendapatkan sabun batang untuk di bawa pulang. Setelah selesai, lapangan besar akan dipakai oleh orang tua untuk bermain sepak bola juga. Sehingga, anak-anak aku bawa ke lapangan sekolah dan bermain bola voli. Kali ini aku yang menjadi wasitnya. Sebenarnya, aku sudah menyadari sejak lama, bahwa, anak-anak pulau ini sangat jago dalam hal olahraga. Semakin tahu, bahwa, mereka luar biasa.
***

Hari ke-XCIII, 15 September 2014. Senin, pukul 17.00 Wita
Satu lagi skenario Tuhan yang tidak mungkin aku dapatkan jika aku tidak berada di tempat ini. Sambil menunggu kapal Sabuk, setelah sholat ashar aku bermain bersama anak-anak. Sore kali ini masih terbilang panas, membuat kami haus dan menginginkan yang segar-segar.
“Mau saya petikkan lewo[1], ngku?” tanya Bandam tiba-tiba.
“Iya, ngku. Bandam punya pohon kelapa muda yang enak.” sambung Putra.
“Boleh. Sangat boleh.” jawabku senang.
Tanpa menghitung menit, Bandam sudah memanjat ke atas pohon kelapa yang berada di dekat kami. Tuhan, ini kah kuasa-Mu? Memanjat pohon kelapa yang tingginya lebih dari 8 meter, seperti tupai, anak pulau kecil ini memanjatnya tanpa merasa sulit atau apa pun. Bandam membawa golok dan dalam hitungan menit, 5 buah kelapa muda segar sudah jatuh berdentuman di depan kami. Maka dengan sesegera mungkin, bersama Putra, Bandam, Ical, dan Acil, kami memakan dan meminum buah kelapa. Fresh from the oven!
Bersama Putra, Bandam, Ical, dan Acil

                                                                                                                    (bersambung...)


[1] Kelapa muda.

Komentar

Postingan Populer