CCCLXV - Catatan Harian Pengajar Muda (15)
Hari ke-CIX, 01
Oktober 2014. Rabu, pukul 10.27 Wita
Emosi.
Bagaimana tidak? Hari ini pelajaran IPA,
sambil melatih mereka untuk membaca, kusuruh mereka mengerjakan soal latihan
ulangan. Biasanya, karena keterbatasan buku paket, mereka harus mencatat dan
menyalinnya ke buku tulis mereka masing-masing. Namun kali ini, 25 soal pilihan
ganda ku suruh mereka langsung menjawab pilihan yang menurut mereka benar saja.
Tidak usah menyalin semuanya. Yang membuatku emosi adalah, belum sampai 3
menit, mereka semua sudah mengumpulkan di hadapanku.
Aku tidak memeriksanya, bukan karena
tidak percaya dengan jawaban mereka, atau mungkin karena instruksiku yang salah
tatkala menyuruh mereka menjawab jawaban yang menurut mereka benar. Tapi,
bukankah membaca 25 soal berpilihan ganda, terkadang ada soal bergambar yang
harus mengamati gambarnya dengan baik-baik, terlebih lagi aku sudah berkata
bahwa cari jawabannya di bacaan-bacaan awal tidak memungkinkan selesai dalam
waktu tidak sampai 3 menit, bukan? Aku kecewa.
Setelah memberikan penjelasan atas
kekecewaanku, ditambah menjelaskan apa kesalahan mereka, aku memilih
mendiamkan mereka. Aku membiarkan mereka melakukan apa yang mereka mau.
Sebenarmya, bukan salah mereka saat bermain adalah hal yang sangat menyenangkan
bagi mereka. Tapi? Jika perbandingan jadwal membaca dengan bermain mereka yang
amat sangat jauh dalam satu hari, boleh kah aku marah? Miranda, Jesika,
Ulinsia, Anto, juga Icon.
Engku
harap, kalian
mengerti. Tidak saat ini, mungkin nanti. Biar.
***
Hari ke-CX, 02
Oktober 2014. Kamis, pukul 21.54 Wita
Hari ini terlewati seperti biasanya.
Masuk sekolah, apel, bercanda, guru datang terlambat, kelas-kelas ribut, anak
kelas 1 berlarian ke setiap penjuru sekolah, anak perempuan menangis karena
diusili anak laki-laki sekelasnya, halaman ramai saat istirahat, belajar
membaca, pulang sekolah, bermain, berenang di laut, memanjat kelapa, suara deru
mesin genset, dan, entah spesies apa lagi dari ikan-ikan ini hinggap ke dalam
perutku.
Selamat malam, Kawio.
***
Hari ke-CXI, 03
Oktober 2014. Jumat, pukul 18.31 Wita
Aku tidak akan bosan mengatakan, bahwa,
jumat adalah hari yang paling aku sukai. Seperti jumat ini, setelah senam, aku
membagikan susu ke semua murid dan guru-guru. Susu yang aku bawa dari Tahuna,
hadiah dari Ci’ Melda. Bukan kepalang mereka senangnya, sampai-sampai, sampah
dari susu itu, mereka bawa dan mereka tunjukkan pada orang tuanya, bahwa, ia
minum susu rasa strawberry dari engku.
Sebentar, aku lupa.
Aku pernah menceritakan tentang Pulau
Kemboleng tidak, ya? Pulau yang berada dekat dengan pulauku. Iya, kalau
kemboleng itu adalah nama lain dari ikan hiu, itu aku ingat. Aku pernah
menceritakannya. Tapi, tentang hal yang menyangkut pulau itu? aku sepertinya
melewatkan. Tapi, jika ternyata sudah, ya biarlah, kalian akan semakin tahu.
Jadi, pulau ku bersebelahan dengan Pulau
Kemboleng. Pulau itu lebih besar dari Kawio, namun, penduduknya jauh lebih
sedikit. Bahkan, mereka masih termasuk ke dalam pencatatan sipil Pulau Kawio.
Untuk menuju pulau ini, kita tak perlu waktu yang lama. Hanya terpisah beberapa
ratus meter laut saja dari pulauku. Tapi, kalian tetap harus menggunakan pumpboat atau perahu dayung untuk bisa
sampai di sana. sebenarnya, jika laut sangat surut, kita bisa berjalan kaki
melewati terumbu karang yang kering, tapi itu jarang sekali terjadi. Yang
jelas, kalian tetap akan basah.
Karena sekolahku adalah sekolah
satu-satunya di dua pulau ini, maka, meski tak banyak, murid-murid sekolahku
juga berasal dan tinggal di Pulau Kemboleng. Hari ini, aku di ajak ke sana. Ini
bukan kali pertama aku berkunjung ke sana, saat dengan Kak Luki waktu transisi
lalu, aku juga pernah ke Kemboleng. Aku merasakan betapa sebenarnya anak-anak
dari Pulau Kemboleng ini sangat berbeda. Mereka tidak manja, karena setiap
hari, untuk berangkat sekolah, mereka mempertaruhkan nyawanya untuk bisa sampai
di Kawio. Tak jarang perahu atau pumpboat
mereka terbalik saat menyebrang, namun, Tuhan memang adil, mereka semua
pandai berenang. Sehingga, setiap pagi, mereka harus melindungi buku-buku,
sepatu, dan seragam mereka yang di bungkus ke dalam kantong plastik di dalam
tas.
Sambil menunggu perahu dayung yang
menjemput kami, kami bermain ke atas tebing. Anak-anak Kemboleng sudah
mengganti seragamnya dan menggantinya dengan kaos yang tadi pagi mereka
kenakan. Satu per satu perahu datang menjemput, dan aku ikut dengan pumpboat Tutu, siswa kelas 4.
Sampai di Kemboleng, anak-anak langsung
ke rumah Sasikome –siswa kelas 5, karena aku mampir ke sana dan makan kelapa di
rumahnya. Tidak heran jika tidak sampai 1 menit, kelapa-kelapa segar dari
‘oven’ sudah tersaji di hadapan kami. Aku diajak keliling Kemboleng.
Mengunjungi rumah-rumah murid-muridku, berbincang-bincang dengan orang tua
mereka, mencicipi kukis[1],
dan melihat tangkapan ikan-ikan mereka.
Sekitar hampir 3 jam aku berada di
Kemboleng, sudah puas bermain sambil belajar- belajarnya sedikit, aku pamit
untuk kembali ke Kawio. Diantar kembali oleh orang tua Tutu, semua
murid-muridku mengantarkan kepergianku.
Bersama anak-anak Kemboleng di Pulau Kemboleng
***
Hari ke-CXII, 04
Oktober 2014. Sabtu, pukul 09.32 Wita
Sebelum berangkat ke sekolah, aku di
temani beberapa anak, lari pagi di sepanjang dermaga. Lari sambil teriak
membuat keringat kami juga keluar dengan banyak. Segar sekali saat angin pagi
laut mengiringi kaki-kaki kami.
“Lari! Berlarilah kemana pun kalian mau!
Berlarilah terus, buang keluh kesah, permasalahan-permasalan, dan hadapi UTS
yang sebentar lagi diadakan!” aku berteriak sambil terus berlari.
Mereka tertawa saat aku mengatakan UTS.
Bagaimana tidak, saat sedang asik-asiknya menikmati udara pagi yang sejuk,
terdengar kata-kata yang menggangu mereka. Kontan, mereka mengejarku lebih
cepat.
Lari! berlarilah kemana pun yang kalian
mau.
Dunia tak sekedar tempat kalian berada
saat ini. Arungi lautan ini, temukan hal-hal yang menakjubkan di luar sana!
***
Hari ke-CXIII, 05
Oktober 2014. Minggu, pukul 07.45 Wita
Selamat hari raya Idul Adha. Berbeda
dengan Idul Fitri lalu yang kami merayakannya di Tahuna, kali ini, aku berada
di Kawio. Sehingga tidak merayakan bersama orang lain. Tidak bisa menghubungi
siapa pun, karena cuaca buruk, sehingga satu-satunya titik sinyal di ujung
pulau pun tak bisa membantu menghubungi sanak keluarga dan kerabat.
Sekali
lagi, selamat hari raya Idul Adha.
Selamat menikmati sate kambing, rendang,
gulai, ah... sudah jo.
***
Hari ke-CXIV, 06
Oktober 2014. Senin, pukul 08.45 Wita
Ujian Tengah Semester (UTS) ganjil sedang
berlangsung.
Aku sudah menyiapkan beberapa soal untuk mata pelajaran yang angku
ampu. Jam pertama adalah ujian matematika. Terlihat sekali para muridku sedang
berjuang melawan soal-soal yang ada dihadapannya. Dahi yang berkerut, peluh
yang selalu di usap dengan lengan baju seragamnya, dan entah sudah berapa kali
penghapus pensil itu bolak-balik menari di atas lembar jawaban ujian. Yang aku
tahu, mereka menginginkan hasil yang maksimal untuk ujian kali ini.
Selamat
berjuang menghadapi salah satu ujian dunia, khususnya bagi pelajar, wahai
siswa-siswi kebanggaanku.
***
Hari ke-CXV, 07
Oktober 2014. Selasa, pukul 19.13 Wita
Bukan anak-anak pulau namanya. Meski
memang status mereka sedang dalam masa ‘ujian’, kegiatan main mereka tidak
berkurang sedikit pun.
Kami tetap mencari kelapa muda ke hutan, memanjat dan
menyantapnya langsung tanpa basa-basi, kami tetap mandi di laut saat senja
mulai mengintip dari peraduan, di tambah lagi, ombak sedang besar-besarnya. Kami berenang dan pasrah
digulung ombak ke tepian pantai.
Seru. Bukannya mereka lupa tentang ujian,
tidak, mereka jelas sangat mengingatnya. Tapi, mau diapakan lagi? Karena kami,
anak pulau!
***
Hari ke-CXVI, 08
Oktober 2014. Rabu, pukul 11.24 Wita
Saat istirahat sekolah, aku di panggil
oleh petugas penjaga radio perbatasan. Katanya, enci Shaskia telepon –ungkapan mudah menghubungi lewat radio- dari
Matutuang.
Aku beranjak ke kantor kepala desa di mana radio berada. Sampai di
sana, seolah-olah kita seorang penyiar, bebas berbicara dan mendengarkan lawan
bicara kita dengan suara seperti di radio; memang di radio.
“Tes, 1,2,3, Matutuang, Matutuang, ini
Kawio. Ganti!” ucapku saat memulai pembicaraan dengan menggunakan alat seperti
pengeras pada toa.
“Masuk. Iya, ini Matutuang. Ini bersama
Pengajar Muda, Shaskia. Ganti!” jawab seseorang di sana yang sepertinya benar
Shaskia. Selalu harus mencerna suara di balik radio tersebut. kresek-kresek
tidak begitu jelas.
“Siap, ini gue, Shas. Kenapa? Gue baru
istirahat. Ganti!”
“Iya, mau ngomongin kapan jadwal kapal
kita? Ada info dari anak-anak lain, nggak?
Ganti!”
“Harusnya, Sabuk lewat senin besok, kan?
Setau gue, kita Cuma di suruh ngerekam video anak-anak kita buat dokumenter FAS
nanti. Ganti!”
“Oh, oke. Itu aku udah. Ada yang lain?
Ganti!”
“Semoga nggak, sih. Gue juga lupa. Hahahaha. Ganti!”
“Sip. Nanti kita ketemu di kapal, ya. Kasse bue lawo-lawo, engku! Pindah!”
“Sigaaap, enci! Abis! Bye.
Assalamualaykum.”
“Wa’alaykumussalam.”
***
Hari ke-CXVII, 09
Oktober 2014. Kamis, pukul 10.20 Wita
Suasana ujian sudah tidak terasa lagi.
Anak-anak sudah menjalankan semua kegiatannya secara normal meski sebenarnya,
ujian masih tengah berlangsung. Guru-guru juga tidak sesibuk kemarin. Karena
belum mulai mengkoreksi hasil ujian para siswa.
Hanya saja, meski ujian, aksi
bentak, memarahi, memukul, dan serangkaian perkataan yang menyakitkan telinga
tidak ikut libur. Semua memang seperti sedia kala. Tak pernah lelah para guru
melakukan hal tersebut. Sedangkan aku? Masih saja tidak berani menegurnya
kembali. Hanya bisa meringis ngeri saat jambang-jambang halus di bawah telinga
di tarik sekeras-kerasnya.
***
Hari ke-CXVIII, 10
Oktober 2014. Jumat, pukul 18.41 Wita
Ombak masih besar. Namun, tak membuat
kami lantas berselimut tebal di atas balai-balai. Setiap sore, aku kembali
bermain di gulungan-gulungan ombak yang menepi di pantai. Saat tergulung, kami
terbawa ombak dan berputar-putar di dalamnya. Pasir-pasir membungkus seluruh
badan kami semua. Bukannya menyerah karena kesakitan, kami selalu terus
mencobanya berulang-ulang. Memang, lagi dan lagi, aku tak pernah bosan
mengatakan, bahwa, kami, anak pulau!
***
Hari ke-CXIX, 11
Oktober 2014. Sabtu, pukul 21.36 Wita
Dewi malam tampak seperti kue pancong.
Sabit. Burung-burung berwarna hitam terbang bebas bergerombol di atas
pohon-pohon kelapa yang menjulang –entah warna sebenarnya apa, tapi karena aku
melihatnya di langit malam, jadi aku mengasumsikan warnanya hitam.
Di akhir pekan ini, aku sedkit merasa
senang. Sekolahku sudah mengalami hal perubahan ke arah yang lebih baik. Mulai
sekarang, aku sudah tidak ditugaskan menjadi wali kelas lagi. Dan aku hanya
mengajar beberapa pelajaran saja. Ini dikarenakan, bahwa, kepala sekolahku
sudah menyadari bahwa keberadaanku di sini tidak akan lama. Sehingga, sudah
menjadi tugas guru-guru tetaplah yang mengurusi semuanya. Mereka sudah sedikit
peduli akan keberlanjutan di sekolah ini. Bukankah ini penanda kemajuan yang
baik?
Sore hari, salah satu guruku akan
mengadakan acara pembaptisan sekaligus merayakan ulang tahun pertama putrinya.
Maka sudah menjadi kebiasaan warga di pulau ini, gotong-royong saat akan
diadakan acara, menjadi ajang bertemu bertatap muka sambil bergosip mengenai
apa pun. Dan aku mencoba untuk berbaur bersamanya. Meski belum terbiasa berada di
lingkungan yang di dalamnya ada orang mabuk, merokok, atau sambil menyanyi
dalam keadaan tak sadar diri. Aku tetap menyamankan diriku. Oh, iya, aku lupa,
jangan kalian pikir, mabuk di sini sama seperti mabuk yang biasa orang-orang
lakukan di kota besar. Membunuh, merampok, atau memperkosa, tak akan ada. Yang
ada hanya meracau kata-kata tak jelas, dan langsung tertidur di manapun ia
berada saat mabuk. Meski, terkadang banyak yang terganggu dengan
perkataan-perkataanya yang tak enak di dengar. Selebihnya, mabuk atau bagate di sini hanya sebagai jalan
keluar dari rasa penat atas masalah-masalah yang ada. Juga menjadi wahana
hiburan saat rutinitas mereka yang hanya itu-itu saja yang terus berulang.
***


Komentar
Posting Komentar