CCCLXV - Catatan Harian Pengajar Muda (7)



Hari ke-XXXVI, 20 Juli 2014. Minggu, pukul 11.38 Wita –Pulau Marore
     Selepas shalat zuhur kemarin, aku beserta keluargaku pergi ke Pulau Marore –pulau kecamatanku- menggunakan pumpboat yang dikemudikan oleh bapak angkatku. Perjalanan ke Pulau Marore menghabiskan satu jam kurang jika cuaca teduh. Kami tiba di sana sekitar pukul dua siang.
Ada yang berbeda dari perjalananku kali ini. Sebelum pumpboat kami jalan, aku mengenkan semua perlengkapan secara lengkap. Baju lengan panjang, celana training, jas hujan, pelampung, dan topi. Bukan karena aku takut basah –namanya juga duduk bersebelahan dengan air laut- tapi siang itu panas sekali. Khawatir puasa ku akan batal, akhirnya aku mempersiapkan barang-barang ini. seluruh keluargaku tertawa. Bahkan, disaat perjalanan, ombak besar yang menggoyangkan sekaligus menerbangkan perahu kami, aku hanya bisa memejamkan mata, sambil mencengkram kuat-kuat pinggiran perahu. Tiba di Marore, langsung sujud syukur. Selamat.
            Rencananya, selepas ashar, kami semua akan kembali lagi ke Kawio, namun, karena ombak semakin besar, kami memutuskan untuk menginap di Pulau Marore ini. Bapak dan ibu angkatku memang asli kelahiran Marore, bahkan, kedua adik angkatku, Dedi dan Dowes, juga kelahiran pulau ini. 
          Bapakku adalah seorang guru PNS di Kawio. Ia sudah hampir 15 tahun berada di Kawio. Padahal, ikatan dinas penempatan hanya 7 tahun, dan ia bisa kembali lagi ke tempat asalnya. Namun, saat aku bertanya,  ia hanya menjawab, “Masih banyak anak-anak yang butuh saya. Kalau saya pergi, sekolah akan kekurangan guru.” sebuah dedikasi yang perlu mendapat penghargaan.

***

Hari ke-XXXVII, 21 Juli 2014. Senin, pukul 15.24 Wita
          Sekolah sudah memasuki libur hari raya. 
         Berbeda dari beberapa hari yang lalu. Senin kali ini matahari seperti balas dendam akan kerjanya yang beberapa hari ini digantikan oleh hujan. 
           Panasnya membuat cucian ku yang banyak, semua kering tanpa menyisakan barang satu atau dua baju. Aku mencuci semua bajuku karena, menurut jadwal, besok aku sudah bisa kembali ke Tahuna, karena kapal sudah datang. Dua minggu di sini, membuatku rindu dengan ketujuh teman-temanku di sana. 
          Kepergian besok ke Tahuna juga sebagai “Mudik” bagi kami. 
          Semoga besok berjalan dengan lancar tanpa ada kendala. Amin.

***

Hari ke-XXXVIII, 22 Juli 2014. Selasa, pukul 22.35 Wita
          Saat ini, aku sedang berada di ujung dermaga. 
           Harusnya, kapal sudah datang sore tadi, namun, sampai sekrang, belum ada suara atau tanda kapal akan bersandar. Ada yang sudah melihat kapal menuju Marore, itu tandanya, malam ini, kapal akan tiba di Kawio. 
           Aku dan masyarakat yang akan ke Tahuna sudah menunggu dalam lelah. 
          Angin laut malam ini cukup kencang. Langit pun dihiasi bintang yang memberikan kerlipan cahayanya untuk pulau ini. Kunang-kunang laut terlihat di hitamnya air. Semua sepertinya cemas menunggu kapal datang.
Sampai hampir larut malam, kapal tak kunjung datang. Satu per satu masyarakat kembali ke ruang tunggu untuk tidur di sana. Mereka tak kembali ke rumah, karena khawatir kapal datang dini hari nanti. 
Dan aku memilih untuk ikut bersama mereka. Tidur di dalam ruang tunggu dermaga.

***

Hari ke-XXXIX, 23 Juli 2014. Rabu, pukul 08.51 Wita
            Pukul tujuh tadi, kapal sudah datang. Setelah menunggu cukup lama, kapal yang menurut informasi menurunkan jangkar ditengah laut itu akhirnya tiba juga di pulau kami. Semalam ombak besar, sehingga sangat rawan jika harus meneruskan perjalanan.
Engkuuu Hairuuul!!!!” teriak dari atas kapal. Kapal belum sandar, teriakan yang sudah sangat aku kenal membuatku mencari dimana keberadaan sang pemilik suara. Shaski. Tak sulit menemukannya, dalam mata minus ku ini, dari sekumpulan orang di atas kapal, hanya ada satu sosok yang mengenakan jilbab. Warna ungunya jilbab membuatku langsung mengetahui arah suara. Aku melambaikan tangan, tak sabar berbagi cerita dengannya.
“Siap untuk mudik?????” teriaknya saat kami sudah di atas kapal.
“Siapa takut? Gak akan macet, kan? Hahaha,” 
Ini perjalanan mudik kami. Gimana suasana pulang kampung kalian? Di jamin gak kalah seru denganku, kan?
***

Hari ke-XL, 24 Juli 2014. Kamis, pukul 19.30 Wita –Tahuna
          Bertemu dengan kehidupan ‘nyata’ kembali. Kembali bersignal, kembali melihat listrik, dan kembali bertemu dengan teman-temanku. Puasa berjalan seperti biasa, kehidupan juga berjalan tak ada beda. Hari ini ku lalui dengan biasa-biasa saja.

***
 
Hari ke-XLI, 25 Juli 2014. Jumat, pukul 11.00 Wita
          Saat sahur tadi, kontrakan ramai dibuat kesal oleh Mbak Iir.
Ia ulang tahun hari ini. awalnya, kami berencana untuk mengerjainya, namun, karena saat membangunkannya amat sangat sulit, malah kami yang merasa 'dikerjai' balik olehnya. 
Satu jam dibuat kesal olehnya, akhirnya pemotongan kue –kue yang sama seperti Mbak Afifah tempo hari- terlaksana. Setelah memberikan ucapan dan doa, kami kembali tidur untuk kemudian Sahur hampir pukul empat.  
Anyway, happy birthday, Mbak!
***

Hari ke-XLII, 26 Juli 2014. Sabtu, pukul 19.07 Wita
          Kontrakan kembali sepi. 
           Lusa sudah lebaran, sehingga teman-teman yang lain kembali ke pulaunya dikarenakan bisa dijangkau. Sedangkan aku dan Shaski, harus menunggu dua minggu lagi untuk bisa kembali ke pulau. Saat ini, tersisa aku, Shaski, Mbak Afifah dan Bang Didi. 
         Buka puasa tadi aku memasak sayur sop bersama Shaski. Bang didi ngidam ‘sop rumahan’ katanya, akhirnya, pagi tadi, aku dan Shaski ke pasar, dan sebelum magrib kami berdua masak. Hasilnya? Tidak mengecewakan.
“Sop seperti di rumahI”, Bang Didi sambil mengangkat kedua ibu jari tangannya. Menandakan enak. Syukurlah.
***

Hari ke-XLIII, 27 Juli 2014. Minggu, pukul 23.450 Wita
          Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Allaaahu Akbar.
            Laaa ilaaha Illallaaahu Allaahu Akbar.
            Allahu Akbar Walillaah ilham.
            Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Allaaahu Akbar.
            Laaa ilaaha Illallaaahu Allaahu Akbar.
            Allahu Akbar Walillaah ilham.
         
Gema takbir berkumandang, alunan syukur terngiang, rindu akan kampung halaman terbayang. Di malam takbir kali ini, aku habiskan di dalam kamar. Menyendiri. Menangis tiada henti. Rindu akan ibu dan ayah yang tidak terperi, ingin bersimpuh, mencium lengannya, memeluknya, meminta maaf akan semua salahku padanya.

          Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Allaaahu Akbar.
            Laaa ilaaha Illallaaahu Allaahu Akbar.
            Allahu Akbar Walillaah ilham.
          Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Allaaahu Akbar.
            Laaa ilaaha Illallaaahu Allaahu Akbar.    
            Allahu Akbar Walillaah ilham.           

Kumandang takbir yang terdengar, meski tak sekencang seperti di kampung halaman, mendengar alunan takbir membuatku dibawa ke masa silam.

Sejak kecil, aku tak pernah meminta untuk dibelikan baju baru atau apa pun pada orang tuaku. Lebaran demi lebaran tiap tahunnya, aku habiskan bersama mereka, bahkan, sampai tahun kemarin, setiap shalat idul fitri, aku masih duduk disebelah ayahku. Tak mau terpisah sejak kecil. Namun kini?
Biasanya, saat malam takbiran, selalu aku lewati bersama ibu untuk membuat ketupat, atau menata meja di ruang tamu. Menaruh segala makanan hasil buatan sendiri, seperti rengginang, kembang ros, kembang goyang, opak singkong, dan masih banyak lagi. Namun kini? Semua seperti mimpi. Baru kemarin rasanya bersama mereka, meski aku sudah menelponnya setelah berbuka puasa tadi, namun, tetap saja ada yang berbeda. 
Ini adalah hari raya idul fitri pertama bagi aku, sangat jauh dari rumah.

          Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Allaaahu Akbar.
            Laaa ilaaha Illallaaahu Allaahu Akbar.
            Allahu Akbar Walillaah ilham.
          Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Allaaahu Akbar.
            Laaa ilaaha Illallaaahu Allaahu Akbar.
            Allahu Akbar Walillaah ilham.

Perlahan, alunan takbir yang berkumandang, digantikan dengan suara hujan.
           Di malam yang penuh berkah ini, aku ingin menemani sang hujan. Duduk bersimpuh di atas sajadah. Memohon ampun pada yang Maha pemberi ampun.

 ***

Hari ke-XLIV, 28 Juli 2014. Senin, pukul 06.05 Wita

Selamat Hari Raya Idul Fitri    

Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Allaaahu Akbar.            
Laaa ilaaha Illallaaahu Allaahu Akbar.
Allahu Akbar Walillaah ilham.
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Allaaahu Akbar.
            Laaa ilaaha Illallaaahu Allaahu Akbar.
 Allahu Akbar Walillaah ilham.  
        
“Selamat hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1435 Hijriah” 
Semoga kita semua kembali fitri.
Tak menyimpan dendam barang sedikit pun. 
Di hari raya ini, setelah menelepon keluarga dan sahabat-sahabat di rumah, aku berkeliling ke rumah-rumah sekitar, sekedar meminta maaf akan salah dan khilaf, makanan yang tersedia juga sangat menghibur kami. 
Sebagai perantau, bisa makan ketupat dan opor ayam di hari raya dan tidak di rumah, ini sesuatu yang menggembirakan bagi kami. 
“Dari NOL lagi, ya!”
***

Hari ke-XLV, 29 Juli 2014. Selasa, pukul 21.25 Wita

Tahuna semakin sepi.
Semua toko tutup. Meski tidak merayakan lebaran, hampir semua toko turut menghargai dan menghormati hari raya ini. Tidak ada satu pun tempat makan yang buka, alhasil, mau tidak mau, kami menjadi ‘parasit’ kembali di rumah-rumah stakeholder kami.  Numpang makan!
Hari pertama aku berpuasa syawal. Puasa enam hari setelah hari raya idul fitri. Entah karena memang sudah biasa berpuasa seorang diri di pulau, puasa kali ini juga dilalui tanpa adanya godaan untuk berbuka. Meski, hari ini lebih banyak kuhabiskan dengan tidur-tiduran di dalam kamar, cuaca yang tidak begitu panas pun mendukungku untuk leyeh-leyeh.

***


Hari ke-XLVI, 30 Juli 2014. Rabu, pukul 19.56 Wita
            Kami sudah lengkap kumpul di Tahuna. Rapat kembali diadakan. Seperti rapat-rapat sebelumnya, masih adanya selisih pendapat antar kami, namun, sebisa mungkin, kami mengambil hasil mufakat. Sampai saat ini, semua masih bisa di atasi.

***
Hari ke-XLVII, 31 Juli 2014. Kamis, pukul 21.45 Wita
          Rapat perdana di kediaman Ci’ Melda. 
           Rapat ini merupakan angin segar untuk kami semua, ternyata, masih ada orang-orang yang peduli akan pendidikan di Tahuna ini. Ci’ Melda salah satunya. Ia bersama teman-temannya sangat mendukung tentang pentingnya pendidikan. Bukan untuk siapa, tapi untuk anak-anak mereka juga di kemudian hari nanti.
Malam ini, selisih pendapat terjadi kembali. Saat kami sudah tiba di rumah, hasil rapat kami bahas kembali, kali ini suasana rapat lebih tegang. Suara-suara kami yang semakin meninggi kerap menghiasi malam ini. Masing-masing ingin berpendapat, dan pendapatnya ingin di dengar. Aku memilih diam. Bukan diam tidak peduli, diam karena, pendapatku dan pendapat mayoritas masih belum bisa diambil sebagai keputusan. Masih ada dari kami yang ingin pendapatnya di prioritaskan, meski, suara terbanyak tidak sama dengannya. Ia bersikeras, yang lain tak mau kalah.
Sudahlah.

(bersambung....)

Komentar

Postingan Populer