CCCLXV - Catatan Harian Pengajar Muda (2)
Hari ke-II, 16 Juni 2014.
Senin, pukul 07.18 Wita –Tahuna.
Deburan
ombak menyampaikan pesan, desauan angin laut menyapa kami dari kejauhan. Semua
seakan berbisik, “Selamat Datang di
Tahuna. Selamat datang di Kepulauan Sangihe.” Di tambah lagi kicauan burung
di atas laut seperti bernyanyi menyambut kedatangan kami. Pagi ini, matahari
masih malu-malu untuk menampakkan dirinya. Sejuknya pagi membuatku tak sabar
untuk segera turun dari kapal. Selain karena memang ombak yang cukup besar
semalaman ini, gerombolan kabut disekitar dermaga juga tampaknya tak sabar
dengan pelukan kami. Dari kejauhan aku melihat ada lambaian tangan dari dua
kakak PM VI lainnya. Awalnya aku tidak tahu apakah lambaian tangan mereka
ditujukan untuk kami, namun setelah kapal mendekat, di sana terlihat Kak Luki
–kakak yang akan aku gantikan- dan Kak Deswitha. Senyum dan ekspresi mereka
pagi itu benar-benar menjadi bumbu pelengkap untuk segera menghampiri daratan.
“Salamate
Nasahampi, Sangihe-ers. Akhirnya
kalian tiba dengan selamat,” kak Deswitha menyapa dan memeluk kami satu per
satu. Setelah kami saling berjabat tangan, berkenalan singkat dengan mereka
berdua, kami diantar ke penginapan sementara kami.
Tahukah kalian? Saat kami ingin menaiki oto[1],
hujan tiba-tiba turun! Hujan pertama di Sangihe bagi kami. Sepertinya,
langit-langit Tahuna ingin menyapa kami lewat air hujannya. Aku diam sesaat di
tempat. Menengadahkan wajah ke langit. Merasakan hujan dengan mata terpejam,
tarik nafas dalam-dalam, dan membiarkan wajah ini basah terkena hujan. Aku
selalu suka hujan. Setelah namaku diteriakkan dari kejauhan, aku mengakhiri
‘perkenalanku’ dengan hujan Sangir[2].
Aku berlari menyusul mereka. Kami menuju ke sebuah penginapan bernama
‘sederhana’.
Hujan masih ‘menyapa’ kami.
Di dalam penginapan, aku satu kamar
dengan Rizky lagi. Dalam dingin, kami berdua berbncang sambil memesan pisang
goreng untuk menghangatkan tubuh kami. Dalam perbincangan ini, kami
menyampaikan harapan dan kekhawatiran kami masing-masing. Sebelum pisang goreng
habis, kami sudah terlelap. Rupanya, tidur semalam di kapal belum cukup. Badan
dan mataku tak bisa diajak kompromi, juga di dukung oleh hujan dan cuaca yang
dingin. Sepertinya, teman-teman yang lain di dalam kamarnya masing-masing juga
sedang beristirahat. Jadi aku membiarkan kantuk menguasi diriku.
[1] Mobil. Atau dalam bahasa
lain, oto adalah angkot (angkutan perkotaan).
[2] Suku asli di Sangihe.
Atau orang mengenal Sangihe dengan sebutan Sangir
***
Rumah kontrakan PM VI,
pukul 13.00 Wita
Kegiatan pertama kami di Sangihe ini
adalah perkenalan dengan pengajar Muda VI lainnya. Kami ber-enam belas
berkenalan satu per satu. Membuat simpul kekeluargaan kami tersambung
perlahan-lahan. Selain berkenalan, kami juga diberi kesempatan untuk bertanya
tentang apa pun terkait pulau penempatan kita masing-masing. Namun, jawaban itu
akan diberikan pada saat transisi orang per-orang antar kami dengan kakak kami
masing-masing.
Setelah merasa bonding antar kami menguat. Kami dibagi kedalam beberapa kelompok
untuk bertemu dengan beberapa stakeholders
Sangihe. Karena waktu transisi yang
tidak banyak, dan tidak memungkinkan untuk mengunjungi semua stakeholders kami secara bersamaan, aku
dan Shaski tergabung dalam satu kelompok untuk bertemu dengan Pak Farai dan Pak
Jafar. Kedua bapak ini adalah orang yang sering berhubungan denganku dan
Shaski. Kami berdua berada di wilayah kecamatan yang sama, sehingga, saat kami
pulang ke pulau masing-masing, kami akan sering berhubungan dengan Pak Farai
dan Pak Jafar tersebut. Sedangkan ke-enam temanku yang lain juga di bagi
kedalam kelompok-kelompok yang nantinya akan bertemu dengan stakeholder lain. Aku tak sabar menunggu
malam nanti.
Pukul tujuh malam, aku, Shaski, dan 2
kakak PM VI sudah berada di kediaman Pak Jafar. Pak Jafar ini adalah bapak yang
mengantarkan kami dengan oto tadi
pagi. Pak Jafar memiliki oto yang
bisa kami pesan untuk mengantarkan kami ke mana saja di Tahuna ini, apalagi
untuk mengantarkanku dan Shaski ke pelabuhan saat dini hari ketika akan kembali
ke Pulau. Setelahnya, kami menuju ke rumah Pak Farai. Rumahnya tidak berjauhan
dengan kediaman Pak Jafar. Kita berbincang dan berkenalan. Kami di sambut
dengan hangat oleh mereka beserta keluarganya. Kami sudah dianggap sebagai anak
mereka. Kami diperbolehkan kapan saja mengadu, bercerita, atau berkeluh kesah
pada mereka. Ah, betapa hangatnya sebuah kekeluargaan. Setelah semuanya dirasa
selesai, kami saling bertukar nomer handphone.
Semoga pertemuan malam ini dapat berlanjut dan membuat ikatan kekeluargaan kami
semakin erat. Kami pamit dan meminta undur diri, kami kembali ke penginapan
‘sederhana’. Kegiatan hari itu selesai. Setelah bertukar cerita dengan teman-teman
yang lain, kami beristirahat di kamar masing-masing.
***
Hari ke-III, 17 Juni 2014.
Selasa, pukul 04.30 Wita
Lirihnya
angin berbisik lembut, membangunkan jiwa-jiwa yang kian terlena dengan
hangatnya tempat tidur. Pukul 04.00 subuh tadi, aku membangunkan Mbak Iir dan
Mbak Afifah untuk bergegas shalat
subuh berjamaah.
“Aku ndak denger azan subuh, tah? Waduh,
bisa dimarahi bapakku iki kalau aku neng umah,” kata Mbak Iir dengan logat
jawa-Surabayanya yang masih kental. Di Tahuna ini, atau bahkan di Sangihe ini,
mayoritas kepercayaan yang dianut warga adalah Kristen. Bahkan, di pulau ku
nanti, hanya aku yang beragama Islam. Sehingga tak heran jika memang jumlah
masjid di Tahuna bisa di hitung dengan kelima jari kanan kita.
“Ya, iyo, mbak. Wong masjidnya
aja entah dimana, dan kalau pun ada, entah ada orang atau ndak yang shalat di sana,”
jawabku mengikuti logatnya. Mbak Afifah sudah kembali dari mengambil air wudhu.
Kami pun shalat berjamaah dan aku
menjadi imam. Tim penempatanku terdiri dari lima orang beragama Islam, dua
Katolik, dan satu orang beragama Kristen. Meski berbeda, ini yang membuat kami
hari demi hari menjadi dekat. Dan memang, perbedaan itu bukan berati tidak bisa
berdampingan, tho?
Setelah shalat subuh berjamaah, kami mengambil Quran. Kami bersama bertilawah bergantian. Setelahnya, Shaski
yang baru bangun karena ia sedang ‘berhalangan’, ikut mendengarkan bacaan kami.
“Gimana semalam? Seru, nggak?” Shaski memulai pembicaraan. Mbak
Afifah dan Mbak Iir sedang melipat mukena dan sajadah mereka masing-masing.
“Alhamdulillah,
Ikapuja[1]
di sini ramah-ramah. Mereka menerima kita dengan tangan terbuka,” Mbak
Afifah menimpali. Semalam, ia dan Bara –yang memang asli Jawa- dikelompokkan
untuk bertemu Ikapuja.
“Pak Haji Lukman juga baik banget orangnya. Meski ia di hormati di
Tahuna ini, ia tetap menerima kami dengan hangat. Rizky saja bingung. Rumahnya
besar, pengamanan masuk sana juga terbilang sulit. Tapi opo, yo? Berwibawa, deh pokoknya.” Mbak Iir ikutan menjawab.
Akhirnya, sambil menunggu pagi, kami bertukar cerita melanjutkan obrolan
semalam yang sempat terpotong waktu istirahat. Saat ini sudah pukul 06.00, kami
kembali ke kamar masing-masing untuk siap-siap dengan agenda selanjutnya.
Hari ini kami membahas tentang
cara-cara yang bisa kami gunakan untuk berhadapan dengan pemerintahan.
Bagaimana proses pendekatan, hingga apa saja yang harus kami persiapkan sebelum
menghadapi petinggi-petinggi kabupaten. Kami juga membahas tentang sejauh mana
keterlibatan beberapa stakeholders.
Sejauh mana pula masyarakat sekitar peduli dan aktif terlibat ke dalam hal-hal
yang bernuansa pendidikan.
Selepas magrib, kami diantar jalan-jalan
mengunjungi tempat-tempat ‘nongkrong’ yang bisa kita jadikan alternatif di saat
bosan. Kami diperkenalkan dengan makanan atau minuman khas Sangihe atau Manado.
Seperti bubur tinutuan –bubur manado-, mie cakalang, kue-kue tradisonal yang
bahannya banyak menggunakan ikan, dan lain sebagainya.
“Kak, di sini nggak ada Mall atau
supermarket, ya?” tanya Bara. Ia juga, sih.
Bagaimana dengan keperluan akan kebutuhan-kebutuhan kita nantinya?
“Beuuhh! Don’t judge the book by its cover, Man! Kalian mau apa? Ice cream? Ada. Cokelat? Banyak. Shampoo, pulsa, sampai kebutuhan yang kalian nggak bayangkan, juga ada di sini,” Kak
Deswitha mempromosikan. “Yaah, asal jangan cari pizza, bread talk, J.Co, dan kawan-kawannya aja, yah. Kalau urusan
yang kayak gituuuu.... bayangin dalam
mimpi aja, deh. Hahahaha,” kami semua tertawa.
Bagaimana kami terpikirkan untuk
barang-barang yang memang kami sudah tahu tidak akan ada di daerah pelosok
seperti ini. Malam itu kami habiskan waktu dengan guyonan ringan yang mengundang tawa.
***
[1] Kumpulan orang-orang
Jawa yang ada di Sangihe.
Hari ke-IV, 18 Juni 2014.
Rabu, pukul 23.23 Wita –Kamar penginapan
Selamat
malam,
Hari ini aku tak sempat menceritakan
banyak pengalaman. Seharian penuh ini kami mengunjungi salah satu stakeholders yang rumahnya jauh dari
pusat kota. Menghabiskan waktu berjam-jam untuk dapat ke sana dan kembali lagi
ke Tahuna. Satu yang bisa aku beri tahu adalah, masyarakat Sangir Be-A-I-Ka,
BAIK. Sekian. Selamat malam, sampai jumpa esok J
Hari ke-V, 19 Juni 2014.
Kamis, pukul 14.25 Wita –Badan Perbatasan Daerah
Pemandangan meja-meja yang berderet
panjang menghiasi aula ruangan Badan Perbatasan Daerah. Siang ini, akan
diadakan acara penyambutan sekaligus perpisahan bagi pengajar muda Sangihe.
Acaranya dihadiri oleh beberapa instansi kepemerintahan seperti Bappeda, Dinas
Pendidikan, Dinas Kesehatan, Dinas Pariwisata, dan juga dihadiri oleh beberapa
perwakilan kepala sekolah.
Selain acara ini bertemakan ‘pisah-sambut’,
acaranya ini juga diadakan sebagai Focus
Group Discussion (FGD), yang membahas tentang evaluasi dan rencana
strategis penyelenggaraan pendidikan Kabupaten Kepulauan Sangihe. Di dalamnya
juga membahas mengenai keadaan pulau penempatan kami masing-masing. Baik
membahas bagaimana keadaan kesehatan di sana, kelebihan atau potensi wilayah,
serta beberapa kendala yang kerap dihadapi oleh masyarakat pulau.
Setelah acara perkenalan kami, aku
kembali ke tempat dudukku, menatap ke arah luar jendela dari lantai dua dimana
sekarang aku berada. Duduk di antara para pejabat daerah ini membuatku yang
belum terbiasa, sedikit canggung.
Lambaian pohon kelapa di luar membuat
pikiranku ‘berkeliaran’ entah kemana. Tidak terasa aku sudah berada di hari
ke-lima atau sudah empat hari berada di Sangir ini. Selama empat hari itu juga
kaki ini diizinkan menginjakkan raganya, berlompat, berjalan, hingga berlari di
atasnya. Empat hari jalinan silaturrahmi tersulam
perlahan, empat hari juga aku sudah menemukan keluarga baru. Dan empat hari
juga, Sangir membuatku merefleksikan diri, menguatkan hati, serta meneguhkan
niat-niat tulus untuk pertiwi ini.
Pembawa acara sudah memanggil para
peserta yang telah selesai istirahat. Ku melirik jam di tanganku, 16.08. Lima
belas menit waktu tea break sudah
habis. Di saat yang bersamaan juga, lamunanku buyar. Aku fokus kembali pada
acara hari ini. Slide demi slide pemaparan dari beberapa dinas
sudah bergulir di hadapanku. Aku melihat kanan-kiri, semua memberikan ekspresi
yang berbeda-beda. Ada yang terlihat antusias memerhatikan pembicara, ada yang
bermain handphone, juga ada yang
terlihat seru berbincang-bincang dengan orang yang ada disebelahnya.
“Demikianlah acara FGD pada kesempatan
ini, semoga Tuhan memberikan kemudahan kepada kita, dalam bekerja untuk
membangun Sangihe ini. Membangun Kabupaten Kepulauan Sangihe ke arah yang lebih
baik lagi.” ucap pembawa acara
Acara selesai, ditutup setelah doa akhir
dibawakan.
Kami kembali ke penginapan. Siang ini,
satu pelajaran yang berarti untuk kami. Kami sudah sedikit banyaknya mengetahui
tentang pulau kami yang beberapa hari lagi, aku, kami semua akan
mengunjunginya.
(bersambung...)



Blog nya kereen! sukaaaaa.. inspiratif
BalasHapusTerima kasih, Sylva! Mari kita mulai menulis! Yeaahh
BalasHapus