CCCLXV - Catatan Harian Pengajar Muda (17)
Hari ke-CXXXVII, 29
Oktober 2014. Rabu, pukul 08.33 Wita
Sudah menjadi kebiasaan di Sangir ini,
jika ada anak yang sedang berkunjung ke pulau lain dalam waktu yang sedikit
lama, ia boleh menumpang sekolah di tempat tersebut. Sampai mereka kembali ke
pulau asalnya. Dan sekarang, kelasku bertambah 1 siswa dari Pulau Kawaluso. 2
siswa lainnya terbagi di kelas 2 dan kelas 4.
Uniknya adalah, dia tidak bisa
berbicara bahasa Indonesia. Tidak juga mengerti. Ia hanya bisa bahasa Sangir
dan ini membuatku sedikit kesulitan saat menerangkan pelajaran.
“Biar saya saja, engku yang kasih tau dia dengan bahasa Sangir.” pinta Miranda. Aku
punya seorang translator sekarang.
“Dengan senang hati, Miranda.” Maka tak
hanya Miranda, jika aku menerangkan dan bertanya dengan bahasa Indonesia, maka
murid-muridku yang menerjemahkan ke dalam bahasa Sangir. Juga menerjemahkan
kembali ke bahasa Indonesia saat siswa baru tersebut menjawab atau bertanya
kembali. Hebat!
“Engku,
katanya, dia
senang belajar di sini dengan engku. Dia
juga mau belajar bahasa Indonesia. Biar bisa berbicara dengan engku.” Miranda menerjemahkan apa yang dikatakan siswa
baru tersebut. Aku hanya bisa berkata, “Kasse
bue lawo-lawo”. Lalu tersenyum.
***
Hari ke-CXXXVIII,
30 Oktober 2014. Kamis, pukul 08.35 Wita
Hujan pagi ini tak membuat semangat
murid-muridku hilang. Nyatanya, mereka masih duduk di hadapanku, lima kursi dan
meja yang tersusun berdampingan. Aku semakin mencintai mereka dengan segala
kelebihan dan ‘hal yang belum tergali’ –aku tak menyebut kekurangan untuk para
muridku. Karena sesungguhnya, mereka masih akan terus berkembang dan akan terus
menemukan jati dirinya, tho?
Empat bulan ini rasanya tepat untuk
menceritakan pada kalian tentang murid
Pahlawan Mudaku. Kalau tidak salah ingat, aku pernah berjanji akan
menceritakannya. Dan, ini saatnya, para Pahlawan Mudaku –murid-murid kelas 3
ku.
Pertama, anak perempuan berusia 9 tahun
ini bernama Miranda Katiandagho. Oh, iya, sebelumnya, nama terakhir dari setiap
muridku atau setiap orang Sangir adalah nama marga. Atau orang biasa
mengatakannya dengan nama “Fam”. Dan untuk daerah Sangihe, fam diambil dari
nama keturunan ayah.
Miranda, ia biasa disapa, adalah anak
dari pulau tetanggaku –Pulau Kemboleng. Ia salah satu anak yang harus berjuang
menyebrang laut setiap pagi. Kadang tak hadir jika ombak kencang. Bisa di
bilang, Miranda merupakan satu-satunya ‘penenang’ku. Saat aku sudah putus asa
ketika hampir seluruh muridku belum bisa membaca, maka Miranda satu-satunya
yang sudah sangat lancar. Saat ingatan murid-muridku yang lain tentang
pelajaran-pelajaran yang telah aku berikan lupa, maka Miranda satu-satunya yang
akan menjawab dan melegakanku. Sejak kelas 1, menurut guru-guru yang lain, ia
menjadi juara kelasnya. Dan tak heran, Miranda tak hanya pintar, perilakunya
juga sangat santun. Miranda Katiandagho sang ‘penenang’.
Kedua, Delvanto Barahama yang biasa disapa oleh teman-temannya Anto atau Yantole. Satu yang aku ingin beritahu pada
kalian, uniknya masyarakat di sini, ketika memanggil nama orang, selalu di
tambah huruf “Y” di depan, dan huruf “E” –cara membacanya seperti huruf “E”
pada kata “Peti” atau “Enam”- di belakang nama tersebut. Misal, Dowes, maka
akan di panggil dengan “Yowese”, Acil akan di panggil “Yacile”, Aris –Yarise,
Ical –Yicale, dan lain sebagainya. Baiklah, aku akan lanjutkan tentang Anto.
Anto masih belum bisa membaca, bahkan mengejanya pun masih terbata-bata. Namun,
Tuhan memang adil, ia sangat pandai dalam pelajaran matematika; karena angka
bisa dilihat tanpa harus di baca –begitu katanya saat aku tanyakan mengapa ia
suka sekali dengan matematika.
Sebenarnya, dalam menulis, Anto adalah
satu-satunya yang memiliki tulisan sangat rapi di kelasku. Saat aku menugaskan
pada mereka untuk menyalin sebuah bacaan atau soal-soal, maka Anto-lah yang
paling membuatku tersenyum saat membaca tulisannya. Rapi, jarak teratur, dan
yang pastinya, mudah terbaca olehku. Daya tangkap Anto juga cepat saat menerima
pelajaran dariku. Jadi, bukankah memang seharusnya kita menemukan kelebihan dari
setiap orang yang kita temui? Bahkan, tak boleh sedikit pun kita
mempermasalahkan kekurangan orang lain, bukan? Mari kita belajar dari Anto sang
‘jagoan matematika’.
Selanjutnya, Jesika Horman.
Jesika adalah salah satu dari banyaknya
anak-anak Kawio yang tidak pernah mengenal ayah kandungnya. Bukan karena
meninggal, namun, karena ia lahir dari hubungan luar nikah. Fam Horman adalah
dari nama ibunya. Satu lagi, bagi masyarakat yang tidak menikah, meski sudah
berpuluh-puluh tahun tinggal bersama, maka anak-anak mereka tidak bisa memakai
fam ayah, melainkan menggunakan nama fam ibu.
Jesika harusnya sudah kelas 5 saat ini.
Ia masih harus belajar kembali saat kelas 1 sebanyak 3 kali. Namun, dengan ia
mengulang di kelas 1, saat ini ia sudah bisa membaca. Meski, ia hanya sekedar
membaca apa yang ia baca, belum bisa memahami maksud dari bacaan tersebut.
Jesika memang sedikit unik. Sikapnya masih perlu ditingkatkan untuk semakin
baik. Namun, meski saat ini, ia tidak tahu ayahnya, dan harus tinggal berjauhan
dengan ibunya, ia sangat menuruti semua perkataan nenek dan kakeknya. Ia
meyakini bahwa, ibunya hebat. Karena mau memilih melahirkannya ke dunia meski
seharusnya ia bisa menggugurkannya saat di kandungan. Takjub, bukan? Itu
perkataan seorang anak SD, lho.
Keempat, memiliki nama lengkap Ulinsia
Adingkaka dan biasa di panggil dengan sebutan Uli. Seperti Anto, Ulinsia masih
harus lebih giat lagi untuk membaca. Daya tangkapnya belum berkembang secara
maksimal. Ia masih harus perlu banyak belajar untuk menjadikannya tahu apa yang
sedang ia pelajari. Seperti Jesika juga, bahwa, Ulinsia tidak pernah melihat
ayah kandungnya. Ia juga tidak tinggal dengan Ibunya. Ibunya berada di Tahuna
dan tinggal dengan kakaknya yang sudah SMA. Yang memilukan dari Uli adalah, ia
tahu bahwa ayahnya gila. Ya, gila dalam makna yang sebenarnya. Ayahnya hilang
dan belum di temukan karena ‘tidak waras’. Uli pernah melihat foto ayahnya dari
dalam buku tua milik neneknya. Saat aku tanya tentang ayahnya, ia menjawab
bahwa ia tetap mencintai ayahnya. Di manapun ayahnya berada saat ini, ia selalu
mendoakan yang terbaik untuk sang ayah. Ia percaya, bahwa, di dalam lubuk hati
ayahnya yang gila, ayahnya tahu bahwa ada anak yang bernama Ulinsia yang sangat
merindukannya.
Terakhir, Junikson Betahai. Icon biasa ia
di sapa adalah anak bungsu dari dua bersaudara. Keluarga Icon adalah keluarga
Kak Priska –PM ke-2 di Kawio. Seperti Anto dan Ulinsia, Icon belum bisa
membaca. Masih harus mengeja meski terbata-bata. Dalam menulis Icon juga harus
sabar dengan waktu. Tak jarang aku menunda pelajaran karena harus menunggu Icon
selesai menuliskannya.
Menurut cerita dari keluarga dan
orang-orang di sini, saat kecil, Icon pernah menderita penyakit saraf. Ia
sempat di bilang idiot. Keterbelakangan mental.
Untuk menulis, dulu ia harus di pegang
tangannya, karena tangannya tidak mampu di gerakan dengan sendiri. Lemas. Icon
juga sudah 2 kali harus mengulang belajarnya di kelas 1 dan kelas 2. Aku memang
harus lebih bersabar dengannya. Ia selalu menangis jika aku menugaskan apa pun.
Terlambat ke sekolah, maka ia akan menangis. Aku tanya mengapa tidak mengerjakan
PR? ia pun menangis. Mengapa tidak membantu piket teman-temanya? maka menangis
adalah jawaban dari semua pertanyaanku. Sedikit kesal karena jika bermain, maka
ia akan dengan jago dan semangat berlari-larian ke sana-sini. Saat aku
menceritakan ini ke orang tuanya, maka hanya bisa di jawab, “Icon punya
penyakit sejak kecil, engku.”
Terlepas dari itu semua, Icon adalah anak
yang selalu mencium pipiku dan berlari menghampiriku saat melihatku. Memelukku
sambil memperlihatkan dua lesung pipi yang sangat manis. Icon yang selalu
menangis, tapi selalu memanggilku dengan manja dan merangkulku tanpa peduli di
mana ia berada.
Jauh dari apa pun kelebihan dan sesuatu
yang masih belum berkembang dari kalian, engku
sudah terlanjur jatuh cinta pada kalian. Dan engku percaya dengan pasti, bahwa, kelak kalian akan menemukan
potensi yang kalian miliki. Kecintaan kalian pada orang tua, kepedulian kepada
sesama, dan kepolosan kalian menatap kehidupan ini, membuat engku banyak belajar. Teruslah menjadi
kalian yang apa adanya. Miranda, Anto, Jesika, Ulinsia, dan Icon, 5 Pahlawan
Mudaku, 5 jagoan kebanggaanku.
Jesika – Icon – Ulinsia – Anto – Miranda
***
Hari ke-CXXXIX, 31
Oktober 2014. Jumat, pukul 11.17 Wita
Kicauan burung terdengar jelas mengiri
pagi.
Jumat pagi selalu istimewa bagi kami.
Maka aku memilih bermain sambil belajar
(bukan belajar sambil bermain), karena memang hari ini kami mengedepankan kata
bermain –mereka jenuh sekali dengan kata belajar. Dan, tempat yang akan kami
tuju adalah Pantai Raja. Namun, kebahagiaan kami tanpa Icon. Ia sakit dan
membuatnya terkurung di rumah bersama neneknya.
Pantai yang terkenal paling indah di
pulau ini kurang lengkap jika kita tidak ‘mencicipinya’. Maka, kami langsung
lompat dan berenang di dalamnya. Sambil berenang bersama, aku mengulang
beberapa pelajaran di kelas, seperti ciri-ciri lingkungan yang sehat dalam
pelajaran IPA, atau bagaimana hewan bernapas. Aku lebih sering memberi
pertanyaan perkalian secara acak. Dan, terbukti, saat anak-anak berada di luar
‘tembok’ sekolah, maka mereka tidak menyadari bahwa aku sedang memberi soal, lho!
***
Hari ke-CXL, 01
November 2014. Sabtu, pukul 21.22 Wita
Malam ini Kawio lebih ramai dari
biasanya. Karena ada acara ulang tahun kelompok ibadah bapak-bapak, maka ada
perlombaan masak di gereja. Dilanjutkan makan bersama-sama dan ada perlombaan
Masamper –kesenian tradisional Sangir.
Sungguh sangat terasa sekali
kebersamaannya, terlihat kebahagiaan dari senyuman mereka. Kasse bue lawo-lawo.
***
Hari ke-CXLI, 02
November 2014. Minggu, pukul 20.54 Wita
Tak banyak yang bisa aku ceritakan hari
ini. Aku sangat cinta dengan murid-muridku. Tidak kurang, bahkan sangat lebih
sekali.
***
Hari ke-CXLII, 03
November 2014. Senin, pukul 22.04 Wita
Kapal tidak jadi singgah hari ini.
Semoga esok datang, karena aku masih
harus mengurusi keperluan Dowes untuk ke Jakarta. Apakah aku sudah menceritakan
bahwa Dowes tidak akan berangkat ke Jakarta jika tidak ada satu dari orang
tuanya yang ikut serta juga? Jika sudah, maka maafkan aku. Namun, jika belum,
baiklah. Setelah berjuang mengumpulkan bantuan untuk biaya ke Jakarta, muncul
permasalahan lagi, yakni Dowes tidak akan berangkat jika ibu atau bapaknya
tidak ikut menemaninya.
Setelah proses pembujukkan yang alot, keputusan telah
di ambil.
Bahwa, ibu ikut ke Jakarta.
***
Hari ke-CXLIII, 04
November 2014. Selasa, pukul 23.23 Wita
Sedang berada di kapal Meliku Nusa. Pukul
9 malam tadi, kapal bersandar juga di Kawio. Maka, aku, meski harus tidur di
luar –kapal penuh dan sesak, tetap semangat karena beberapa hari lagi, aku akan
ke Jakarta.
Dowes ditemani ibu dan bapaknya. Bapak
ikut mengantarkan sampai bandara, sedangkan ibu terus ke Jakarta. Baiklah, itu
lebih baik dari pada Dowes tidak jadi berangkat.
Selamat malam, ombak membuat perutku tak
sepakat dengan jari jemari ini dalam mengetikkan ceritaku. Sarung yang sudah
kukenakan pun tak mampu menghadang angin malam. Semoga besok segala urusanku
lancar. Aamin.
***
Hari ke-CXLIV, 05
November 2014. Rabu, pukul 22.30 Wita
Gerilya.
Satu hari penuh aku mondar-mandir
mengurusi keperluan Dowes. Di mulai dari Dinas Pendidikan untuk meminta surat
perjalanan, beserta surat keterangan. Sampai ke tukang jahit pakaian –kami
dapat seragam batik untuk dipakai di malam penganugerahan.
Lelah. Namun memuaskan.
Semoga esok akan datang hasil yang sesuai
harapan. Selamat malam.
***
Hari ke-CXLV, 06
November 2014. Kamis, pukul 21.30 Wita
Halo, daijou!
Maaf aku tak sempat bersua lama-lama denganmu. Sejujurnya, aku lelah. Tapi
karena semua orang mendukung, maka aku tetap memerjuangkannya.
Hari ini belum
maksimal, esok pasti jauh lebih baik lagi. Pasti.
***
Hari ke-CXLVI, 07
November 2014. Jumat, pukul 22.15 Wita
Peluh masih ada didinginnya malam ini.
Baru saja kaki ini dapat beristirahat
dengan leluasa. Seharian digerakkan ke sana-sini untuk mendatangi orang-orang
yang masih peduli akan anak pulau ini.
Baiklah, besok akan siap-siap ke Manado.
Terima kasih, Jumat.
(bersambung...)


Komentar
Posting Komentar