CCCLXV - Catatan Harian Pengajar Muda (5)



Surat Pembuka Sahabat Pena
Hari ke-XXI, 05 Juli 2014. Sabtu, pukul 08.44 Wita

Kepada:
            DANANG ADITYA NIZAR
            Pengajar Muda VIII – Indonesia Mengajar
            SDN 4 Tanjungori, Kec. Tambak, Kab. Gresik 61182
Jawa Timur.

Kepada:
TEGUH WIBOWO
Pengajar Muda VIII – Indonesia Mengajar
Kantor pos Cabang Pulau Bawean, Kec. Sangkapura, Kab.Gresik 61181
Jawa Timur.

Pengirim:
HAIRUL
Pengajar Muda VIII – Indonesia Mengajar
Kotak pos 1009, Tahuna 95800, Kab. Kepulauan Sangihe
Sulawesi Utara.

Sebelum kantor pos tutup, dan ditakutkan senin aku sudah kembali ke pulau. Aku mengirimkan dua buah surat dan bingkisan yang kemarin aku beli ke Pulau Bawean. Satu untuk Danang, dan satu untuk Teguh. Ini merupakan permulaan sebuah program ‘sahabat pena’ antar pulau kami. 
Semoga lancar kedepannya.
***

Hari ke-XXII, 06 Juli 2014. Minggu, pukul 09.17 Wita

            Satu minggu sudah perjalanan puasa di tahun ini. Semua berjalan tanpa ada kendala yang berat. 
            Semua dimudahkan Tuhan. 
         Setiap berbuka, kami selalu mendapat rezeki dari orang-orang yang baik. Kami semakin percaya, bahwa, orang baik itu masih amat sangat banyak di negeri ini. Kami yang hanya sebagai pendatang di daerah ini, disambut dengan tangan terbuka. 
            Betapa indahnya sebuah kekeluargaan itu.

***

Hari ke-XXIII, 07 Juli 2014. Senin, pukul 08.44 Wita
       “Selamat ulang tahun, kami ucapkan. Selamat panjang umur, kita kan doakan. Selamat, sejahtera, sehat, sentosa. Selamat panjang umur, daaann.. baaa..haa..gi...aaaaaaa,”
         Happy birthday to you, happy birthday to you, happy birthday, happy birthday, happy birthday to you...,”
         “Tiup lilinnya, tiup lilinnya, tiup lilinnya sekarang juga, sekaraaang juuugaaa, sekaraaang juuuugaaaa. Potong kuenya, potong kuenya, potong kuenya yang banyak aja, yang banyaaaak aaajaaaa....,”
          “SELAMAT ULANG TAHUN, MBAK AFIFAAAH YANG KEE DUAA PULUUH LIMAA!! YEAAAAAHHHH!!!” teriak kami bersama-sama setelah menyanyikan beberapa lagu dengan suara parau akibat belum tidur, karena asik mempersiapkan kejutan untuknya.
         Dini hari tadi, sebelum kami sahur, kami merayakan ulang tahun Mbak Afifah. Kami kasih surprise, menakuti dan mengerjainya. Bara menjadi pocong dengan menggunakan mukena Mbak Iir berwarna putih, ditambah dengan menggunakan senter sebagai penerang wajahnya dalam gelap.
          Bara masuk ke kamar Mbak Afifah yang masih tidur. Membuat keributan hingga Mbak Afifah bangun. Dan seperti yang kami duga, “Aaaaaaaaakkkk!!!” terdengar teriakan histerisnya.
           Kami berhasil!
          Setelah tiup lilin, masing-masing dari kami memberikan ucapan selamat dan doa untuknya, pemotongan kue –terbuat dari agar-agar dan puding- pun tiba. Kami disuapi satu per satu. Bahagia. Terharu. Semua menjadi satu.  
           Happy birthday, Mbak!

***

Hari ke-XXIV, 08 Juli 2014. Selasa, pukul 12.29 Wita –Sabuk Nusantara
          Mungkin ini yang dinamakan sendiri.
Hampir sendiri lebih tepatnya. 
Pukul sebelas malam tadi, aku dan Shaski berangkat ke pelabuhan diantar oleh Pak Jafar. Kami akan kembali ke pulau untuk mulai melaksanakan tugas kami sebagai seorang guru. Mengajar.
Memang saat ini masih libur kenaikan kelas, namun, kembali ke pulau, berarti sudah harus siap dengan semuanya. Salah satunya yang terdekat adalah, kesendirian. 
Mungkin tidak tepat juga apa yang aku maksud dengan kesendirian. Menurut kamus besar bahasa Indonesia, sendiri adalah seorang diri. Tidak dengan orang lain. Selain itu, sendiri berarti, tidak dibantu atau dipengaruhi orang dan alat lain. Entah, memang di sana nanti aku akan banyak bertemu dengan siswa-siswa, juga masyarakat setempat. Memiliki orang tua angkat, adik, teman, dan lainnya. 
Namun, perasaan khawatir itu datang. Baru saja Shaski turun di Pulau Matutuang. Selama perjalanan tadi, kami masih khawatir dengan ‘sendiri’ menurut versi kami.
          “Semangat dan selamat berjuang, Shas!” teriakku saat Shaski sudah menginjakkan dermaga pulaunya.
            “Kamu juga, Rul. Yakin, kita pasti bisa!”
            “Amin.”
            “Jangan lupa sering-sering ke radio perbatasan, ya. Karena gak ada sinyal, jadi kita cuma bisa komunikasi lewat radio.”
            “Oke.”
            Kapal menjauh.Pulau Matutuang tak tampak lagi.
Aku sudah kembali ke ranjangku. Menulis ini di jurnal harianku. Yang aku khawatirkan kali ini adalah, tentang keberadaanku di pulau nanti. Selama seminggu di pulau tempo hari, aku didampingi Kak Luki. Semua diajarkan dan diberitahu olehnya, namun saat ini, aku sendirian. Ahh... kalian pasti bosan mendengar kata sendiri, seorang diri, atau kesendirian sejak tadi.
Pernahkah kalian bayangkan, kalian sebagai perantau dari luar daerah nun jauh di sana, yang suku, bahasa, agama, bahkan kebudayaan berbeda?
Memang ujung-ujungnya, jawaban ‘kemampuan beradaptasi’ akan menjadi jawaban yang paling tepat.
           Bosan, aku mengintip keluar jendela dari lantai dua kapal, langit cerah.
           Panas matahari membuat air laut memantulkan cahayanya. Panas. Sedangkan di dalam kapal, aku yang memang sedang berpuasa, harus sering-sering tiduran sambil memejamkan mata karena mual melanda. Perut kosong dan ombak besar, membuat kapal bergoyang ke kanan dan ke kiri. Perut ini seperti diaduk-aduk.
            Waktu berputar sangat lambat. Saat ini, angka di jam tanganku masih memberitahuku bahwa berbuka masih lama. Penumpang lain yang memang tidak ada yang berpuasa sedang asik menikmati makanan yang mereka bawa masing-masing. Ini baru ujian orang yang berpuasa.
Aku memilih untuk tidur.
***

Hari ke-XXV, 09 Juli 2014. Rabu, pukul 10.31 Wita –Pulau Kawio
            Selamat pagi, my daijou! Maaf, semalam aku tak sempat memberitahumu tentang bagaimana aku tiba di pulau ini. Aku terlalu lelah dan ‘mabuk’. Tapi, jangan khawatir, aku akan menceritakan sedikit untukmu. Simaklah dengan baik.
            Hampir pukul delapan malam, aku tiba di dermaga panjang Kawio  ini. Seperti biasanya, setiap kapal bersandar, warga banyak yang datang dengan pelbagai macam keperluan. Ada yang hendak ke kota, menjemput sanak keluarga, atau menawarkan beberapa makanan dan minuman untuk dijual, atau bahkan hanya sekedar melihat-lihat.
          Perasaan ‘sendiri’ –lagi-lagi kata ini- datang saat kaki ini menginjakkan pulau. Langkah pertama lebih tepatnya. Masyarakat sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Namun, tiba-tiba, sebuah teriakan mengagetkanku.
        “Engkuuuuu!!!” anak-anak berlarian menghampiriku. Mereka melingkarkan tangan-tangan kecilnya di pinggang, paha, atau yang lebih kecil, hanya menarik-narik tas ranselku.
           “Haloooo...” jawabku sambil mengelus-elus rambut mereka yang penuh pasir. Bahkan sampai malam hari, mereka masih bermain di pantai.
            Kami berjalan bersama menuju rumahku. Rumah keluarga angkatku di pulau ini. Aku tinggal bersama keluarga Bapak Sumolang dan Ibu Senie Salawati. Mereka menjadi bapak dan ibu angkatku di sini. Aku juga memiliki dua orang adik angkat. Dedi dan Dowes Sumolang. Saat ini, Dedi sedang melanjutkan sekolah di Universitas Manado –dan ini tak banyak ditemukan di pulauku- sedangkan Dowes masih duduk di kelas 6. Mereka semua menganggapku sebagai keluarganya sendiri. Sehingga, saat perasaan –yang sering aku sebut- datang, kebaikan dan ketulusan mereka menggantikan dan membayar semuanya.
            Pukul sebelas siang.
Sejak pagi tadi, pulau ini sedang sibuk dengan “Pesta Demokrasi”.
Hari ini, tepat tanggal 9 Juli, tengah diadakannya pemilihan calon pemimpin negara. Kalau kalian saat ini sedang bersamaku, kalian akan menyaksikan sebuah hajat masyarakat. Bagaimana tidak, dari remaja yang baru memiliki KTP, orang tua, hingga berusia lanjut datang ke tempat pemilihan suara yang berlokasi di sekolahku. Aku melihat seorang nenek-nenek, datang di bantu dengan tongkat dan orang yang menuntunnya, memberikan hak suara yang telah diberikan negara olehnya. Tak sedikit pun ada dalam benak mereka, menggunakan abstain.
          “Siapa pun yang menang nanti, semoga bisa peduli dengan kami, warga perbatasan.” kata salah seorang warga saat hendak mencoblos pilihannya yang diikuti kata “Amiin” dari semua yang datang. 
          Pemilihan berjalan dengan lancar. Suara terbanyak diperoleh oleh pasangan nomor urut 2. Tidak ada yang berkelahi, apalagi sampai berbuat anarki. Semua menerimanya dengan lapang dada. Semoga, siapa pun pemimpin bangsa ini nanti, dengarlah dan lihatlah suara mereka, Pak!

***

Hari ke-XXVI, 10 Juli 2014. Kamis, pukul 21.32 Wita
          Terkadang, kita harus menggenggam tangan kita sendiri untuk meyakinkan bahwa diri kita kuat –someone.
            Puasa seorang diri membuatku semakin banyak bersyukur. Bahwa, disaat aku menjalankan puasa di tempat yang satu pun tidak ada yang berpuasa, Tuhan memberikan pelbagai macam kekuatan untuk melaksanakannya. Seperti hari ini. Saat matahari mulai bergeser ke arah barat, anak-anak mendatangi rumahku, berteriak “Engku!”, dan menceritakan apa pun yang mereka ingin ceritakan secara berebutan.
Mendengarkan keluhan mereka, kesenangan mereka, atau bahkan melihat perkelahian kecil mereka, membuat puasaku kali ini tidak seberat hari-hari kemarin. Entah aku sudah mulai beradaptasi dengan sekitar, atau karena memang aku sangat suka menjadi pendengar yang baik. Apalagi, saat ini, yang bercerita adalah siswa-siswa hebatku.
        “Engku, kenapa kalau engku  sedang berpuasa, tidak boleh minum juga. Kalau makan, kan, memang tidak boleh, kalau minum, masa juga dilarang?” tanya Christy Harman, siswi kelas 5 di sore hari.
           “Iya, engku. Apa tidak haus?” tanya Putra.
           “Engku, saya bisa membaca doa berbuka puasa, allahuma lakasumtu, wabika amantu, rizkika, rohmatika, rohimin.”  Dowes tiba-tiba melanjutkan. Mereka semua ternyata hafal doa tersebut, meski masih salah –karena memang bukan kewajiban mereka untuk menghafalnya- Mereka hafal karena melihat televisi kampung saat azan waktu Jakarta diputar, lengkap dengan doa berbuka puasa (baca: televisi ini dinyalakan saat mesin genset hidup, pukul 6 malam sampai dengan 10 malam).
           Aku masih melihat mereka satu persatu dengan wajah heran mereka. memikirkan jawaban yang baik untuk mereka.
           “Kalau puasa, kita dilarang makan, juga minum. Sampai waktu berbuka magrib. Tidak hanya itu, kita juga diperintahkan untuk menahan amarah, tidak boleh berbohong, tidak boleh ngatain teman, dilarang berkelahi,” aku menjelaskan sambil menekankan kata ‘berkelahi’, karena saat ini, Dowes dan Putra sedang berebutan tempat duduk di sebelahku dengan paksa.
            “Terus, kalau sudah buka puasa, kita boleh semuanya?” tanya Christy.
            “Kalau makan dan minum, iya. Kita boleh makan dan minum apa saja sampai besok sebelum waktu imsak. Tapi, kalau berantem, berbohong, dan semua sifat yang tidak baik, itu tetap dilarang, dong. Kalian juga sama, kan? Dilarang semua yang sifatnya tidak baik?” jawabku sambil kami semua berangkat ke pantai. Kami berencana berenang sore ini.
          “Engku, kalau engku berenang, nanti airnya masuk tertelan, gimana?” tanya Putra, ku lihat ia dan anak-anak lain sudah melepaskan semua pakaiannya.
          “Jangan sampai di minum, kalau terminum, puasanya batal. Lagian engku hanya menyeburkan kaki saja, kok.” kami semua sudah sibuk dengan laut dan pelbagai macam permainannya. Aku melirik ke langit sejenak, senja mau datang. 

***

Hari ke-XXVII, 11 Juli 2014. Jumat, pukul 17.53 Wita
          Jumat pertama tanpa aku shalat jumat.
Rasanya aneh. Ada yang hilang. 
Menjadi minoritas, ralat, menjadi seorang diri yang beragama berbeda, membuatku selalu mensyukuri dengan apa yang sudah aku imani. Aku harus menjadikannya sebagai wadah ibadah dengan mungkin ujiannya kali ini berbeda dari saat aku di Jakarta. 
Tidak akan pernah terdengar suara azan untuk mengingatkanku akan waktu bertemunya aku dengan Tuhan. Tidak akan ada yang memberitahu juga seandainya aku lupa, tak mendengar, atau bermalasan untuk sekedar mengundur waktu shalat. Semuanya, memang harus dilakukan dengan kesadaran sendiri –kenapa lagi-lagi kata ini muncul dalam ceritaku?- Maaf, ya, daijou! intinya, pengalaman ini, sejatinya akan menjadi sebuah pengalaman yang luar biasa kelak.
            Sangihe ika kendage sarang papa teku,
Sidutu nakaruase darungu naungku,
Maning pia dade dala limembong bangtuge,
Takere soang sangihe maning kurang damene,
Soang kina riadiangku, sangihe!
Soang kina riadiangku, sangihe!
Ene ene naungku takute tahendungang,
Soang kina riadiangku, sangihe!
Sore hari di pinggiran pantai, sambil menunggu orang tua anak-anak mengail. Kami bernyanyi diringi petikan keroncong –gitar kecil- yang dimainkan oleh Dowes. Anak-anak bernyanyi dengan suara melengkingnya. Gitar dibunyikan dengan syahdunya. 
Daun-daun, berjatuhan dan berlabuh ke putihnya pasir pantai. 
Lagu pertama yang dinyanyikan di atas berjudul Sangihe ika kendage yang artinya kurang lebih adalah, Sangihe yang kucintai. Lagu tersebut menceritakan tentang kerinduan dengan Sangihe, meski tidak sepenuhnya mengerti akan penjelasan dari anak-anak tentang arti lagu itu, tapi sepertinya aku memahami, bahwa, akan ada masanya kita merindukan kampung halaman. Dan aku mengerti dengan baik saat ini.
Soang kina riadiangku, sangihe!
Soang kina riadiangku, sangihe!
Ene ene naungku takute tahendungang,
Soang kina riadiangku, sangihe!

***



Hari ke-XXVIII, 12 Juli 2014. Sabtu, pukul 19.00 Wita
          Seharian mengerjakan laporan. Tak ada cerita yang ingin aku bagi. Semua berjalan seperti biasa. Aku mau shalat tarawih dulu, ya. Malam!

*** 


Hari ke-XXIX, 13 Juli 2014. Minggu, pukul 19.36 Wita
          Lonceng gereja pagi ini terdengar dengan cukup keras.
Semua masyarakat dengan tertib memasuki dan mengikuti kebaktian hingga Misa dengan khidmat. Seperti biasa, aku mengambil duduk dibagian paling belakang. Memilih untuk mengamati suasana ibadah di gereja tiap minggunya. Dan seperti minggu-minggu sebelumnya, Putra dengan setia berada disampingku, setelah sekolah minggu selesai, ia akan pindah ke kursi bagian belakang untuk duduk dekat denganku. Pesannya, “Engku, titip satu kursi disebelah engku, ya. Kasse,”  sebelum sekolah minggu dimulai. Maka selama tiga jam ibadah, kami duduk bersebelahan.
            Lebih dekat dengan masyarakat, membuatku merasa nyaman. Kami memang berbeda dalam satu hal, kami tak sama dalam beberapa hal, namun, kami sama-sama meyakini bahwa, kami diciptakan Tuhan untuk saling  berbagi, saling menghormati, dan saling mengasihi antar sesama.
            Ada yang seru setiap hari minggu sore di Kawio.
Di lapangan yang terletak di belakang rumahku, lapangan yang cukup besar itu digunakan sebagai salah satu bentuk kebersamaan antar warga. Diadakan pertandingan sepak bola bagi anak-anak, dilanjutkan pertandingan sepak bola bagi orang tua, juga diadakannya pertandingan bola voli bagi ibu-ibu. Peserta lomba akan memberikan iuran sebesar seribu rupiah, dan bagi kelompok yang memenangkan pertandingan, akan mendapatkan masing-masing satu buah sabun cuci berbentuk batangan. Uang yang dikumpulkan, akan dibelikan sabun oleh pengelola lombanya. Setiap minggunya, kegiatan ini rutin diadakan. Kompak, sportif, dan lebih mementingkan kebersamaan. Buatku, ini sebagai ajang pendekatan dengan semua masyarakat. Karena, bagi yang tidak bertanding, mereka turut hadir untuk sekedar menonton dan memberi semangat bagi rekan-rekannya. Luar biasa.
            Sore tadi, sebelum aku berbuka, sambil menunggu waktu aku berjalan menelusuri dermaga panjang seusai pertandingan di lapangan. Ditengah perjalanan, kutemui siswa kelas 6, Indo –Marcellindo Tamusa. Ada satu pemandangan yang tak biasa. Untuk seusianya, Indo mengangkat sebongkah kayu besar untuk dijadikan kayu bakar. Kayu yang melebihi besar tubuhnya itu diletakan di atas pundaknya, hal itu membuatnya berjalan terengah-engah. Pernah ia bercerita beberapa waktu yang lalu, di Kawio ini ia tinggal bersama kakek dan neneknya. Kedua orang tuanya tinggal di ibu kota propinsi, sejak kecil, ia sudah terbiasa tanpa orang tuanya. Sebagai balas budi akan kebaikan sang kakek, ia selalu membantu apa pun perintah kakek juga neneknya. Semua yang ia alami, membuat Indo kecil tetap tersenyum. Dan memang tetaplah tersenyum, Indo.
***

Hari ke-XXX, 14 Juli 2014. Senin, pukul 09.51 Wita –SD GMIST Smirna Kawio
          30 hari berada jauh dari Jawa.
            30 hari jauh dari Tangerang Selatan, tempat kelahiran.
            30 hari tak berada disisi ibu, bapak, keluarga, juga sahabat.
            Dan 30 hari sudah, keberadaanku di Sangir ini.
          Semilir angin menyampaikan pesan singkat untukku pagi ini. katanya, hari ini adalah hari pertama masuk sekolah. Itu juga menandakan, bahwa, hari ini adalah hari sejarah aku menjadi seorang guru. Betapa deg-degan menjadi seorang guru di sekolah untuk kali pertama. Menatap semua mata yang memandang kearahku. Ada harapan besar dimata mereka masing-masing. Dan aku melihat itu.
            Aku ditugaskan oleh bapak kepala sekolahku untuk menjadi wali kelas. Dan kelas yang akan aku pimpin adalah kelas 3. Jumlah siswaku tak banyak, bisa dikatakan sedikit. Hanya lima orang. Ya, lima orang. Bukan lima belas, apalagi lima puluh.
            “Slaaamaaaat paagiii engku!” teriak mereka ber-lima sesat aku memasuki kelas.
            Hari pertama di tahun ajaran baru ini, aku tak memulainya dengan pelajaran. Aku membuat beberapa games untuk mengenalkan antar kami. Juga membuat beberapa peraturan di dalam kelas. Semuanya mereka yang memberi usul, seperti, dilarang terlambat, dilarang mencontek, dilarang membuang sampah sembarangan.
Namun, kata-kata tersebut aku ganti dengan “harus datang tepat waktu”, “harus mengerjakan ujian seorang diri”, dan “membuang sampah ditempatnya”. 
Suasana di kelas aku buat bernuansa positif. Tidak ada kata “jangan”, “dilarang”, atau “tidak boleh”. Semua kata-kata negatif kami ubah bersama menjadi kata yang lebih menyemangati kami. Tak lupa juga, kami membuat beberapa ‘konsekuensi’ jika kami semua melanggar peraturan yang telah kami tulis. Dan yang paling terpenting, aku memberikan kebebasan mereka untuk berkreasi.
Setelah semua ‘peraturan’ dan ‘konsekuensi’ sudah dibuat, aku membentuk struktur kepengurusan kelas. Sebelumnya, kami memberikan sebuah nama penggilan untuk kelas 3 kami, nama yang cukup kreatif, “Pahlawan Muda”, mereka pilih bersama setelah menimbang beberapa pilihan nama yang  mereka buat. “Pahlawan Muda” yang mereka pilih mencontoh kata “Pengajar Muda”. Dan menurutku, itu ide yang luar biasa. Aku segera menyetujuinya.

Miranda, Jesika, Icon, Ulinsia, Anto



Setelah kami bermusyawarah dalam pemilihan struktur kelas, Miranda terpilih menjadi Ketua Pahlawan Muda, Jesika sebagai Sekretaris, Junikson sebagai Pahlawan Keamanan Muda, Ulinsia sebagai Pahlawan Kesantunan Muda, dan Anto sebagai Pahlawan Kebersihan Muda. Mereka senang dan semangat dengan amanah mereka masing-masing. Mungkin, lain waktu aku bisa menceritakan kepribadian Pahlawan Muda ku satu per satu.
Hari ini, hari yang bersejarah ini, membuat keyakinanku bertambah. 
Keyakinan akan nasib masyarakat pulau ini. Melalui pendidikan, mereka bisa tumbuh dan bermanfaat, setidaknya, bermanfaat untuk diri sendiri agar tidak dibodohi oleh siapa pun. Semuanya, berawal dari pendidikan mereka. 
Aku optimis dengan itu. Pasti. 
(bersambung...)





Komentar

Postingan Populer