CCCLXV - Catatan Harian Pengajar Muda (1)
![]() |
| Pengajar Muda VIII Kab. Kepulauan Sangihe |
Dear Angkatanku, PM 8.
Hari ini, 10 Juni 2014,
hampir dua bulan sudah kebersamaan membersamai kita. Harus aku ceritakan pada
awalnya, sulit aku mengikuti gerak-gerik bersama kalian. Ada ragu, takut, tidak
menjadi diri sendiri dan hanya menjadi pribadi palsu dan kosong. Tapi kemudian,
aku mencoba untuk yakin dan percaya bahwa tidak ada kebetulan dalam sebuah
pertemuan.
Kalian adalah orang-orang luar biasa,
berbeda dalam beragam warna, lalu aku bertanya pada Tuhan, “Mengapa Ia
mempertemukan aku dengan kalian?” lalu ada jawaban perlahan yang Tuhan
sampaikan lewat hari-hari kemarin. Kalian ternyata adalah penguat disaat aku
mulai berteriak lelah, kalian pelengkap disaat aku merasa ada ruang yang
kosong, dan kalian adalah pemanis yang menceriakan. Terima kasih untuk
kebersamaan.
“Karena ekspresi rindu
adalah doa, Maka tak ada cinta yang tak mulia. Maka, biarlah setelah ini,
keterpisahan jarak akan buat doa-doa yang terpanjat semakin kencang. Semoga
satu tahun kedepan, doa-doa kita menjadi pengikat harapan untuk impian
Indonesia, masa depan yang lebih baik J
Salam, Siti Nursari Ismarini (Riri)
–Pengajar Muda Kabupaten Bima, NTB.
___
Berawal
dari sebuah mimpi yang sama.
Mimpi
sederhana yang mungkin bagi kebanyakan orang, adalah hal yang tak terpikirkan dalam
benak mereka. Jika terpikirkan pun, mungkin hanya sebatas, “itu bukan urusan
saya”. Berawal juga dari sebuah mimpi untuk melihat di masa yang akan datang,
akan ada pemimpin-pemimpin yang ‘memimpin’. Kami, tujuh puluh lima Pengajar
Muda (PM) Indonesia Mengajar, memilih untuk turun tangan langsung melunasi
janji kemerdekaan, mencerdaskan kehidupan bangsa. Ya, pelosok tanah air, yang
mana memang masih berbangsakan bangsa Indonesia ini, meski letak tempat tinggal
mungkin tak terlukiskan dalam peta di depan kelas setiap sekolah.
Sebelum
kami ditempatkan di daerah penempatannya masing-masing, malam perpisahan pelatihan
kami selama dua bulan masih teringat jelas di benakku. Surat di atas adalah
sebuah surat dari sahabatku, Riri, melalui acara ‘tukar-menukar surat’. Mulai
dari sinilah, aku akan menceritakan sebuah pengalaman dan perjalanan penuh
makna, perjalanan menjadi seorang Pengajar Muda, yang tidak hanya, “Setahun mengajar, seumur hidup
menginspirasi”, namun juga, ”Setahun
belajar, seumur hidup terinspirasi.”
***
Hari ke-I, 15 Juni 2014.
Minggu, pukul 03.21 WIB –Jakarta
“Ada pertemuan pasti ada perpisahan.”
Selalu tidak mengerti dengan ungkapan
ini.
Menurutku, “Mengapa kita bertemu jika pada akhirnya harus berpisah? Mengapa harus
ada tangisan, dikala senyuman pertemuan sudah ranum terkembang?” entahlah,
saat ini yang ada dipikiranku adalah, bagaimana aku akan rela menyatakan sebuah
perpisahan ini. Saat ini, kami sedang berada di dalam bus yang akan mengantarkan
kami menuju bandara Soekarno-Hatta. Mengantarkan kami ke sebuah pintu yang
bernama –perpisahan. Mungkin aku yang terlalu berlebihan menanggapi kenyatan
ini, toh memang cepat atau lambat,
kami semua tahu, bahwa keikutsertaan kami menjadi Pengajar Muda memang untuk
sebuah misi. Misi tentang pembangunan taraf pendidikan di negara ini kearah
yang lebih baik.
Dini hari yang dingin ini membuat Jakarta
sepertinya ‘tega’ menambah kepiluanku. Di dalam bus ini, aku duduk berdampingan
dengan dua sahabat yang aku kagumi, Danang Aditya Nizar dan Teguh Wibowo.
Mereka berdua ditempatkan di Pulau Bawean, Kabupaten Gresik-Jawa Timur. Iri
melihat mereka bisa bersama. Setidaknya satu tahun kedepan mereka tetap
bersama. Tidak berpisah seperti aku dengan dua sahabatku itu. Saat aku menulis
ini, bahuku sedikit berat, karena kepala Danang bersandar di bahu kananku. Ia
tertidur lelap rupanya. Atau mungkin ia pasrah juga dengan apa yang akan kita
hadapi beberapa jam lagi. Sedangkan Teguh, aku melihat kepalanya tenggelam
dalam sandaran kursi, sesekali ia mengangkat dan membenarkan posisi kepalanya,
saat bus terguncang akibat jalanan yang kurang baik. Semakin aku melihat kedua
sahabatku ini, semakin berat meninggalkan mereka. Tak terasa air mata sudah
berlari-lari dari muaranya, membasahi pipi tanpa izin terlebih dahulu.
Bagaimana tidak, saat ikatan pertemanan kami baru saja terjalin erat selama
pelatihan, disaat itu juga kami harus merelakan ‘dipisah’ oleh yang namanya
perpisahan itu sendiri.
Masih menatap ke jalan-jalan yang dilalui
bus ini, melihat berjuta-juta cahaya dari lampu yang menghiasi ibukota ini,
tiba-tiba Teguh terbangun,
“Sudah sampai mana, Rul? Masih jauh, tah?” tanyanya sambil mencoba mengamati
keadaan luar bus. Ia juga mengucek-ngucek kedua matanya. Masih mengantuk.
“Entah, sepertinya masih jauh, Guh. Belum
masuk ke kompleks Soetta,” jawabku.
Setelahnya, tanpa hitungan menit, Teguh sudah kembali menyandarkan kepalanya.
Ia kembali tidur setelah mengucapkan terima kasih padaku. Aku melirik Danang
yang ada di sebelahku, entah sejak kapan kepalanya sudah kembali ke posisi
tegak namun masih tertidur. Sesekali dengkuran halus terdengar di telingaku.
Aku menguap. Mengantuk. Namun aku adalah seorang yang tak bisa tidur dalam
perjalanan. Aku hanya bisa tidur jika posisi badanku berada dalam posisi tidur
dalam makna sesungguhnya, rebahan atau
merabah kalau dalam bahasa keseharianku. Sehingga, di dalam bus ini, aku melihat dan
menyapu seisi bus. Semua teman-teman Pengajar Muda lainnya tertidur pulas.
Sesekali mencoba membenarkan posisi kepala mereka jika terjatuh dari sandaran.
Aku juga melihat ke tempat duduk teman-teman satu penempatanku. Memeriksa
ke-tujuh teman yang satu tahun akan berjalan beriringan bersamaku di penempatanku
nanti. Mungkin, perjalanan kami akan dimulai beberapa jam lagi. Kulihat mereka
semua tertidur. Meski aku merasa belum begitu dekat dengan ke-tujuh temanku
itu, aku percaya bahwa kami bisa menjadi teman dan sahabat yang baik dalam
keadaan suka atau duka nantinya. Aku tersenyum melihat mereka satu per satu.
Perjalanan menuju bandara kali ini
mungkin merupakan perjalanan pertama sebuah perpisahan sekaligus perjalanan yang
menjadi titik uji sebuah keikhlasan. Keikhlasan dan kerelaan untuk membiarkan
sahabat-sahabat yang kita cintai pergi untuk sementara waktu. Pergi untuk
kembali membawa sesuatu yang berharga bagi diri mereka masing-masing.
Sebuah
tulisan, “Selamat Datang di Bandara Internasional Soekarno Hatta” bus
kami telah lewati. Itu akhirnya, sebuah perjalanan baru akan segera dimulai. Aku
mendengar suara kakak pendamping kami, membangunkan semua teman-teman dalam
bus, “Kita sudah sampai di Bandara, ayo
siap-siap!”
***
Soekarno-Hatta subuh hari kali ini tidak mati, memang tidak pernah mati.
Keramaian lalu-lalang orang-orang kerap
menjadi pemandangan yang biasa di pelataran bandara berskala internasional ini.
Terlihat tawa bahagia saat semua orang menjemput dan bertemu dengan keluarga
atau rekan terkasih mereka, yang mungkin baru bertatap muka setelah beberapa
waktu. Selain pemandangan itu, terlihat juga air mata dan kesedihan penuh haru di
antaranya. Mungkin juga ini waktu bagi mereka untuk berpisah dengan orang
terkasih. Menghantarkan kepergian mereka ke suatu tempat nun jauh di sana. Sama
halnya sepertiku. Seperti kami yang akan menghantarkan kepergian teman dan
sahabat terkasih ke suatu tempat yang akan ‘menempa’ pribadi kami.
Pukul 05.10 waktu Jakarta merupakan waktu
perpisahan untukku. Boarding time di
tiketku sepertinya memaksaku untuk tak sempat berbincang-bincang dengan
semuanya. Pagi itu, setelah penempatan Kabupaten Fak-fak –Papua Barat,
berangkat terlebih dahulu di malam sebelumnya. Di hari ini, penempatanku
berangkat pertama kali menuju ibu kota Propinsi dimana aku ditempatkan. Peluk
penuh kehangatan dari teman-teman menghantarkan aku dan ke-tujuh teman lainnya.
Air mata keharuan melengkapi hari perpisahan itu, sebelum aku berangkat, Danang
dan Teguh menghampiriku,
“Jaga diri baik-baik, Irul! Sampai
bertemu di tahun yang akan datang. Tetap jaga silaturrahmi dan jaga niat diri
kita baik-baik, ya. Sukses menyertaimu, Bro!”
Teguh memelukku erat. Meski tak menangis, ku melihat ada perasaan sedih di
wajahnya.
“Sama-sama, Guh. Lo juga, ya. Inget niat kita untuk ikutan ini. Sampai jumpa di
bulan Juni tahun depan.” Aku membalas pelukkan perpisahan itu juga dengan sama
kuatnya.
Danang menghampiriku, “Selamat jalan,
Irul. Gue tau lo bakal kuat buat ngejalaninnya. Thanks untuk dua bulan ini, ya. Jaga diri di sana. Sampai jumpa
lagi.” Ia memberiku sebuah kartu ucapan. “Baca kalau sudah di dalam pesawat,
ya, Rul,” sambungnya sambil melepaskan pelukannya.
“Terima kasih juga buat semua kebaikan lo. Gue
bangga banget bisa kenal lo, Nang. Jaga silaturrahmi kita nanti,
ya.” Aku berusaha tak menangis meski linangan air mata di kedua ujung mataku
sudah mengembang.
Semua teman-teman lain ikut memeluk kami
satu per satu. Kami ber-delapan pergi dan sudah harus menaiki pesawat kami.
Lambaian tangan dari semuanya menghantarkan kami pada tekad perjuangan yang
bulat. Pesan dan dukungan dari teman-teman semua membuat niat ini sejatinya tak
pernah sarat akan suatu perjuangan.
“Kawan, kita pergi untuk kembali!”
![]() |
| Foto sebelum kami menaiki pesawat. Suasana haru menghiasi perpisahan. |
Di dalam pesawat setelah kami duduk di
tempatnya masing-masing, setelah kami meletakkan barang bawaan kami ke dalam
kabin, aku membuka surat dari Danang. Terdapat post card yang di halaman depannya bergambar Arabesque nan gagah berdiri di sana, aku membalikkan post card itu, kutemui sebuah tulisan di
sana,
___
Irul!
Gue nggak akan pernah lupa
gimana pelajaran pertama gue tentang nyuci di kamar mandi mushola. Jujur itu
prestasi banget! Buat gue bahkan sampe pamer ke anak-anak saat itu hahaha.
Belom lagi pelajaran nyetrika, ngejemur dan menata ‘LOKER’.
Hidup Tim Keputraan! Gue
bakal kangen banget dibangunin pagi-pagi buta, terus kita nyuci (dan ‘diskusi’)
dengan penuh kemenangan saat orang-orang lain pada belom siap. Hahahaha.
Rul, tapi jujur lo sangat
menginspirasi gue dan gue banyak belajar dari lo.
Jadi, sesulit-sulitnya
kondisi lo di sana nanti (walalupun lo nggak boleh nyuci dan ke dapur), lo
pasti kuat, Rul! Gue yakin tantangan lo di sana bakal gak ada apa-apanya
dibanding dengan apa yang udah lo lewatin selama ini.
Tuhan pasti gak secara
kebetulan milih lo untuk ngelewatin itu semua, Rul J
Terima kasih banyak buat
semuanya, Rul.
Gue bisa ngebayangin gimana
nanti anak-anak dan orang-orang di sana pasti bakal belajar banyak banget dari
lo. Tetap dan terus semangat, anggap aja ini surat pembuka untuk program
sahabat pena kita. Hahaha. Bismillah!
Danang, 15 Juni 2014 –Wisma
Handayani, pukul 00.44.
___
Aku tak kuasa menahaan air mata ini.
Sambil tersenyum kecil karena tulisan di surat itu, mengingat-ingat akan kegiatan
kami selama pelatihan, lagi-lagi rasa sesak yang memang sejak tadi aku tahan
akhirnya tumpah. Aku menangis disaat pesawat sudah dengan sempurna mensejajari
awan-awan. Pagi itu, aku mengerti akan suatu hal. Mengerti akan pentingnya
suatu keihklasan dan ketulusan.
***
Manado pukul 11.22 Wita
Saat perpisahan di bandara ibarat
mengulang kisah ‘Cinta dan Rangga’, tiga jam perjalanan Jakarta – Manado
kulewati dengan haru biru. Melihat awan yang sepertinya tak kuasa menahan
kondensasinya, bukan hujan yang turun saat ini, melainkan kucuran doa dari sahabat
terkasih. Hingga pesawat kami landing
dengan sempurna di bandara yang bertuliskan “Sitou
Timou Tumou Tou”, sebuah motto dari bandara Sam Ratulangi, Manado.
Di depan bandara, kami sudah di
jemput oleh dua orang kakak PM angkatan VI –Kak Monik dan Kak Sanuri. Setelah
mencari di mana titik temu kami, aku melihat dua buah senyuman penuh makna dari
mereka. Hal ini membuatku semakin yakin, bahwa, aku tidak salah berada di sini
saat ini. Kami segera menghampiri mereka, barang bawaan kami sudah di angkut ke
dalam mobil yang akan menghantarkan kami ke pelabuhan.
“Salamate
Nasahampi[1],
gengs! Welcome! Gimana perjalanannya? Akhirnya kalian menggantikan kami
juga. Kita kira, kita terus di sini. Hehehe,” mereka merangkul kami satu per
satu. Kehangatan mereka membuat kedekatan kami mulai terjalin. Kami banyak
bertukar cerita di dalam kijang yang
membawa kami ke tempat selanjutnya. Kami berdelapan beristirahat di sebuah
hotel di dekat pelabuhan sambil menunggu kapal yang mengantar kami berangkat
sore nanti.
Hampir saja aku lupa mengenalkan
satu-per satu teman-teman satu penempatanku. Teman-teman yang satu tahun
kedepan akan berjalan beriringan bersama, membagi keluh kesah bersama, dan
belajar agar terinspirasi bersama.
Memiliki nama lengkap Rizky
Januar Haryanto, pria lulusan teknik elektro dari Universitas Gadjah
Mada (UGM) ini lahir dan besar hingga sekolah menengah atas di Jakarta, namun,
sejak kuliah hingga saat ini, ia berdomisili di Jogjakarta. Saat aku bertanya
mengapa pindah kesana, ia hanya menjawab “Jogja itu tenang.” Rizky akan
ditempatkan di Pulau Kalama.
Kedua, Bang Didi. Jebolan Abang None
Jakarta yang biasa kami sapa, Bang
Didi ini memiliki nama lengkap Ahmad Hadian Pratama Hamzah, lulusan
Magister yang berhubungan dengan ekosistem laut dari Universitas Padjajaran
Bandung ini akan ditempatkan di Pulau Enggohe. Ciri khas Bang Didi adalah kawat yang menempel di giginya.
Selanjutnya,
pria kelahiran Malang yang memiliki nama lengkap Indra Umbara atau -Bara
kita biasa memanggilnya- adalah lulusan manajemen keuangan dari universitas
Paramadina Jakarta, dan akan ditempatkan di Pulau Para untuk satu tahun
kedepan.
Ke-empat, Rofiqoh Yuli Afifah yang
akrab disapa Afifah, lulusan pendidikan matematika dari Universitas Islam
Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Ia berasal dari Magelang dan akan ditempatkan
di Pulau Lipang. Kami biasa memanggilnya, “Mbak
Apip.”
Temanku selanjutnya adalah Iir
Maghfiroh. Lulusan ilmu gizi dari Universitas Brawijaya Malang yang
akrab disapa Iir ini akan ditempatkan di Pulau Nanusa/Nusa (Nanedakele). Iir
juga berdomisili di Jawa Timur, tepatnya dari daerah Jember.
Ke-enam, Reviline Sijabat. Lahir
dan besar di Sumatera Utara ini adalah lulusan perencanaan wilayah dan kota
dari Universitas Diponegoro Semarang. Satu tahun kedepan, gadis batak ini akan
ditempatkan di Pulau Beeng Darat.
Shaskia Shinta Rialny yang akrab disapa Shaski ini adalah
lulusan dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung jurusan manajemen
pemasaran pariwisata. Shaski akan ditempatkan di Pulau Matutuang. Bersama
dengannya, sebagai pelengkap dari tim penempatanku, adalah aku sendiri. Hairul
atau akrab disapa Irul, lulusan dari
Institut Pertanian Bogor (IPB) jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan, satu
tahun kedepan, aku akan ditempatkan di Pulau Kawio, tepatnya di SD GMIST Smirna
Kawio, Kecamatan Pulau Marore.
Kalau
kalian membaca tempat penempatan kami, semua tempat diawali dengan kata
‘Pulau’. Ya, karena kami memang ditempatkan di suatu tempat yang secara
geografisnya merupakan kepulauan. Aku dan ketujuh temanku akan ditempatkan di Kabupaten Kepulauan Sangihe. Jika
kalian lihat dengan jelas di dalam peta, kabupatenku masih masuk ke wilayah
Propinsi Sulawesi Utara. Jauh di sebelah utara peta Indonesia. Dan semoga, hari
pertama di perjalananku ini akan membuat hari-hari selanjutnya penuh akan makna
yang berarti.
[1] Selamat datang dalam
bahasa ‘Sangir dalam’ (Sangir dolom)
***
Di dalam sebuah kapal
bernama “Ratu Maria”, Pukul 17.25 Wita
Penasaran.
Disaat teman-teman Sangihe beristirahat
dalam lelahnya, aku dan Rizky berencana untuk keluar sebentar. Meski kami sebenarnya
belum tahu dengan baik daerah ini, kami ‘jalan-jalan’ untuk mencari
perlengkapan yang kami pikir tidak akan ada di Tahuna –Ibu kota Kabupaten
Kepulauan Sangihe. Bermodal ‘tanya sana-tanya sini’ akhirnya aku mendapatkan
satu buah recorder, satu buah tongsis,
dan sebuah buku kumpulan lagu anak-anak. Sedangkan Rizky mendapatkan satu buah
gitar kecil. Saat aku menuliskan ini, aku tepat berada di dalam kamar sebuah
kapal. Kapal yang akan menghantarkan kami ke Tahuna, dan menurut informasi yang
kami dapatkan, perjalanan kami akan tiba esok pagi. Sehingga, setelah kami
berbincang-bincang di luar kamar, karena sejak berangkat dari Jakarta aku belum
tidur, aku izin untuk istirahat terlebih dahulu. Aku dan Rizky berada dalam
satu kamar bernomor 29 di kapal itu. setelah ngobrol sebentar, aku pun tertidur (karena ada kasur dan posisiku
benar-benar dalam posisi tidur). Sebelum terlelap, aku berdoa agar esok akan
datang hari yang menakjubkan.
(bersambung...)



Komentar
Posting Komentar