CCCLXV - Catatan Harian Pengajar Muda (16)
Hari ke-CXX, 12
Oktober 2014. Minggu, pukul 18.48 Wita
Seratus dua puluh hari masih menghirup udara yang sejuk di
pulau ini,
Seratus dua puluh hari masih melihat dan merasakan ombak
yang berlari-lari ketepian,
Seratus dua puluh hari masih menikmati senja dari ufuk utara
Indonesia.
120 hari atau 2.880 jam sudah aku belajar
di daerah ini. Kalian pasti bosan mendengarkan, bahwa, aku sudah sangat cinta
dengan pulau ini. Waktu cepat berlalu dan semakin membuatku merasa “aku belum melakukan apa-apa”.
Melihat wajah polos mereka, mendengar
teriakkan, tangisan, serta canda dan tawa mereka, Membuat 120 hari kulalui jua
dengan senyuman, tangisan, atau sekedar decak heran sekaligus kagum akan
tingkah laku ‘ajaib’ mereka.
Mereka yang telah pandai ‘mencuri’ kebahagiaan ini,
adalah mereka yang juga sama sepertiku,
kamu, kita, yakni bagian dari negeri kita tercinta ini –Indonesia.
Bahagia yang
amat sangat [tidak] sederhana yang mereka curi dalam hidupku ini adalah, salah
satu bagian yang aku syukuri.
Karena bahagia itu,
Saat kaki ini belum sampai menginjakkan
pulau, jauh masih di atas kapal, namun teriakkan anak-anak dari kejauhan
membuat rasa yang berbeda.
Atau bahagia adalah saat pagi hari, baru saja
‘menampakkan’ diri di muka sekolah, anak-anak kelas satu sudah ber-koor ria sambil berteriak, “Engku!!” kemudian berlari dan
mendekapku ramai-ramai, tak jarang bedak-bedak celemotan[1]
mereka berpindah keseluruh baju dan celanaku.
Melihat anak-anak sekolahku sudah ramai,
dan berbaris rapi di halaman setelah lonceng dibunyikan tepat pukul 07.15 Wita,
disertai keusilan tangan-tangan kecil mereka kepada temannya, menjadi pemanis apel setiap pagi, juga menjadi
kebahagiaan tersendiri.
Belum lagi saat aku melihat mata semua anak-anak
terpejam rapat (meski kelas 1 ada yang coba-coba mengintip), saat tangan-tangan
tergenggam erat, bersamaan dengan itu terdengar kata-kata indah dalam doa pagi
mereka yang diucapkan bersama-sama. Terasa begitu khidmat.
Sungguh, itu bahagia!
Adakah diantara kalian yang memiliki
adik, murid, teman atau siapa pun yang belum bisa membaca? Saat melihat kerutan
di dahi anak-anak yang belum bisa membaca, ketika ia mengeja dengan lantang dan
terbata-bata setiap barisan, ditemani dengan butiran keringat yang mengalir
dari seluruh wajah mereka. Itu membuatku bahagia. Bukan bahagia karena mereka
belum bisa membaca, namun bahagia saat melihat mereka pantang menyerah dalam
menyelesaikan bacaannya.
Bahagia juga saat terjadi hal yang tak
terduga, saat celoteh dari salah satu murid kelas dua yang tiba-tiba datang ke
kelasku, “Engku, sudah jam sembilan
lewat. Kapan kita istirahat? Kampung sebelah sini sudah teriak-teriak!”
Tanyanya sambil telunjuknya menunjukkan ke arah perut. Terlihat lugu.
Lain hal saat terdengar embusan nafas anak-anak yang setelahnya
berkata “Yaaaahhh” ketika waktu istirahat sudah selesai, namun kata itu
berganti menjadi “Horeee!!” saat lonceng pulang berbunyi. Semuanya memiliki
rasa kebahagiaan yang lain juga untukku.
Terbayang saat panas terik disiang hari,
jendela kamarku yang menghadap keluar di ketuk, dan seperti yang sudah kuduga, “Engku! Mari ke hutan! kita cari kelapa
muda!”. Sesampainya di Hutan, tak sampai hitungan 60 detik, beberapa anak sudah
berada di atas pohon kelapa yang berbeda-beda, yang rata-rata tingginya lebih
dari 8 meter. Tak lupa peda (golok) sudah
tertancap manis di atas pohon. Aku yang hanya melihat mereka dari bawah, tak lama
terdengar bunyi kelapa berjatuhan satu per satu dari masing-masing pohon yang
mereka panjat.
Bahagia sekali, bukan?
Tak sampai disitu kebahagiaanku berakhir.
Kami menuju dermaga dan tanpa peluit
seperti yang ada dalam pertandingan, kami lompat dan salto bersama-sama (aku
hanya lompat, tanpa salto pastinya) dari atas darmaga ke laut. Kali ini
dinamakan kebahagiaan yang memicu adrenalin!
Berbeda Saat kedua tanganku ditarik oleh
2 orang anak yang masing-masing memegang satu tanganku, untuk kemudian dibawa
sambil berenang menuju tepian, itu adalah bagian dari bahagia yang mengharukan.
Bahagia yang tak sederhana juga saat kami
berlomba menahan nafas di dalam air, sambil menyelam dan siapa yang paling
terakhir muncul ke permukaan, dialah pemenangnya.
Lalu tiba-tiba hujan turun, menikmati air
dari atas dan air di laut, sambil wajah-wajah kami menengadah ke langit
memiliki sisi kebahgiaan tersendiri untukku.
Kebahagiaan ini adalah kebahagiaan
yang bercampur rasa syukur kita pada Tuhan atas apa yang telah IA berikan.
Kemudian saat sudah kedinginan, kami beranjak mandi ke sumur terdekat. Menimba
air (tanpa katrol) dengan ember atau bekas kaleng cat bertali, dan mengguyurkan
badan kami satu per satu. Tak lengkap jika tidak bercanda tentunya.
Hal seperti itu menurut kami adalah,
b-a-h-a-g-i-a.
Lain halnya saat melihat acting mereka yang kata mereka itu
adalah tiruan dari ‘Arga’ sinetron harimau-serigala-yang-sejujurnya-aku-tak-menyukai-dampak-dari-sinetron-tersebut.
Meski jengkel akan pengaruh sinteron tersebut, namun gaya
‘ke-harimau-harimau-an’ mereka membuatku tak berhenti tertawa. Apalagi dengan
gigi taring buatan yang mereka buat dari berbagai macam benda. Terlihat polos
sekali, bukan?
Kebahagiaan mengharukan lainnya adalah
saat tanganku diperebutkan anak-anak untuk mereka genggam ketika ada kapal ke
kabupaten dan mereka mengantarku hingga naik kapal, sambil teriak, “Engku!
Jangan lama-lama di Tahuna ya. Cepat pulang!” hati mana yang tak terenyuh
mendengar hal seperti itu?
Semuanya tak ada yang tidak membuatku
bahagia.
Semua kebahagiaan itu tak berhenti sampai
disitu saja. Masih banyak hal-hal yang membuatku tak berhenti ketawa, kesal,
marah, atau menangis karena tingkah mereka.
Namun kebahagiaan itu, Minus 245.
Semoga keberadaanku yang tinggal 245 hari
lagi di pulau ini memiliki manfaat bagi mereka meskipun “hanya sebuah sekrup kecil” dalam sebuah mesin yang besar[2].
***
Hari ke-CXXI, 13
Oktober 2014. Senin, pukul 22.00 Wita
Hingga malam, kapal masih bersandar di
dermaga Pulau Kawio dikarenakan ombak kencang. Tidak berani mengarungi lautan
kala angin masih berhembus kencang pula. Aku dan Shaskia sudah berada di kapal
sampai entah kapan. Menurut informasi dari komprador, kapal akan berangkat
sekitar pukul 12 malam nanti. Selamat malam, daijou!
***
Hari ke-CXXII, 14
Oktober 2014. Selasa, pukul 16.25 Wita
Tahuna. Tak ada yang aku ingin bagi. Sorry.
***
Hari ke-CXXIII, 15
Oktober 2014. Rabu, pukul 21.14 Wita
Hectic.
Hanya itu.
***
Hari ke-CXXIV, 16
Oktober 2014. Kamis, pukul 21.46 Wita
Drop!
Beberapa hari
ini aku selalu pulang malam, kehujanan, telat makan. Aku butuh istirahat.
***
Hari ke-CXXV, 17
Oktober 2014. Jumat, pukul 19.45 Wita
Malam, sampaikan maafku pada
teman-temanku. Keras kepala mereka yang sudah di ambang batas, membuatku enggan
menimpalinya. Keras kepala, kok, di
pelihara?
***
Hari ke-CXXVI, 18
Oktober 2014. Sabtu, pukul 23.45 Wita
Saat semua sedang asik menikmati jalan
pikirnya masing-masing, aku nyaman dengan kesunyian ini.
Malam ini, aku menghubungi sepupuku
karena di rumah kami, salah satu sepupuku ada yang menikah. Semua keluarga
berkumpul untuk bantu-bantu memasak dan menyiapkan semuanya. Untuk kali
pertama, aku video call dengan
sepupuku dan di serahkan pada ibu, bapak, kakak, kemenakan, dan semua keluarga
besarku.
Ah, tahu kah kalian, aku rindu semuanya?
Kesunyian di kontrakan saat ini mendukung untuk terhanyut dalam kerinduan.
***
Hari ke-CXXVII, 19
Oktober 2014. Minggu, pukul 18.58 Wita
Renang bersama relawan
Meski dalam diam, hari ini kami bertegur
sapa karena putri dari Ci’ Melda meminta kami semua untuk menemaninya berenang
di kolam air tawar. Tidak mudah membuat kami pada akhirnya pergi bersama.
Setidaknya, sudah ada niatan.
Itu sudah lebih dari cukup.
***
Hari ke-CXXVIII, 20
Oktober 2014. Senin, pukul 15.33 Wita
Nyatanya, kesunyian itu masih senang
berada di sekitar kami. Bertegur sapa hanya jika membutuhkan sesuatu. Bertatap
mata hanya saat bertemu dan bersisian ketika jalan.
Canggung.
Padahal kami sudah 4 bulan
lebih bersama. Tapi aku ralat dengan segera. Kami, baru 4 bulan mengenal diri
masing-masing. Entah butuh berapa lama lagi untuk paham dengan “Inilah aku”,
“Inilah kamu”, dan “Inilah kita”.
***
Hari ke-CXXIX, 21
Oktober 2014. Selasa, pukul 21.18 Wita
Kegiatan masak bersama pagi tadi
menjembatani kekakuan antara kami semua. Setidaknya, kami sudah banyak
berbicara lagi. Menggelikan memang, seperti anak-anak saat berselisih.
Diam-diaman sampai tidak kerasan dengan keadaan. Saat bertanya tentang perasaan
kami beberapa hari yang lalu, semua berkata tidak nyaman dan sudah ingin sekali
mengakhiri ‘perang dingin’. Hanya saja, gengsi kami masih di atas segalanya.
Malu untuk memulainya. Satu kalimat yang
membuat kami tertawa terbahak-bahak adalah,
“Kelingkingan, yuk!” Mbak Iir menyodorkan jari kelingkingnya.
Dan masih dengan kaku, jarinya di sambut
oleh yang lain. Benar-benar seperti anak-anak yang ingin berbaikan.
Sederhana,
tapi membuat kami menjadi lebih baik.
Sejatinya, bukankah di dalam jiwa kita
yang paling dalam, kita rindu dengan hal-hal yang berhubungan dengan masa
kanak-kanak?
***
Hari ke-CXXX, 22
Oktober 2014. Rabu, pukul 13.18 Wita
“ALHAMDULILLAHIRABBIL’ALAMIIN.
DOWES LOLOS KE FINAL LOMBA MENULIS CERITA (LMC)! DAN AKAN DI KIRIM KE
JAKARTAAAAAAAAAA!!!!” teriakku penuh syukur saat menerima kabar dari Dikpora
setelah makan siang tadi.
Hal yang tidak di duga. Teman-teman yang
lain turut berbahagia meski murid-murid mereka belum mendapatkannya.
“Waaaaaahhh... selamat!!!” teriak Mbak
Iir dan Revi berbarengan.
“Aku seneng dengernya.” Shaski ikut
bahagia.
“Cieeehhhhh ke Jakartaaaaaaaaa!!!” teriak
Bara.
Maka hari itu, aku tak sabar untuk pulang
ke pulau, dan memberitahukan berita bahagia ini.
***
Hari ke-CXXXI, 23
Oktober 2014. Kamis, pukul 22.53 Wita
Hari ini sangat antusias.
Aku menghubungi para panitia dari
Kementerian Pendidikan di Jakarta, menanyakan terkait teknis keberangkatan.
Setelah mendapatkan arahan, bahwa, kami sudah di kirimkan semua berkas terkait
hal teknis melalui kantor pos.
Tak lama setelahnya, sebuah paket yang berisi
surat undangan, penjelasan keberangkatan, dokumen-dokumen yang harus di bawa,
serta dua buah bahan batik yang akan kami jahit dan di pakai saat malam
penganugerahan piala. Berita yang paling bagusnya adalah, bahwa, hal-hal yang
mengenai transportasi dan ongkosnya, semua akan di tanggung melalui sistem riemburse. Alhamdulillah!
***
Hari ke-CXXXII, 24
Oktober 2014. Jumat, pukul 21.55 Wita
Memang, untuk mendapatkan apa yang kita
butuhkan, butuh banyak pengorbanan dan perjuangan juga. Karena semua biaya
terkait transportasi akan di bayar setelah kami tiba di sana, maka muncul
permasalahan baru. Kami tidak ada biaya untuk menalanginya terlebih dahulu.
Untuk sampai Jakarta, kami harus melewati semua jalur. Laut, udara, dan darat.
Dan tidak sedikit kami memerlukan dana. Sempat bingung apa yang harus aku
lakukan? Menghubungi kepala sekolah, tak ada dana. Biaya BOS belum turun.
Menghubungi Dikpora? Jawabannya tak ada dana seperti itu. Nihil.
“Halo?” terdengar suara berat dari ujung
telepon. Ini kali pertama aku menghubunginya.
“Assalamualaykum,
Kak. Ini saya,
Hairul. PM delapan Sangihe. Ini dengan Kak Stenly?” Kak Stenly Kiraling,
Pengajar Muda angkatan V yang merupakan putra daerah asli Sangir. Ia dulu di
tempatkan di Bengkalis, dan kini kembali ke daerah asalnya. Namun, ia sedang
bekerja di Manado saat ini.
“Oh, iya, Hairul. Ada apa? Ada yang bisa
Kakak bantu?”
Aku menceritakan semua tentang
keberhasilan muridku serta semua yang menjadi kendala saat ini. Saat kami tiba
di Sangihe bulan juni lalu, kami sudah bertemu dengan Kak Stenly sebenarnya.
Namun, aku lupa karena kami hanya bertemu di Manado saat di jemput beliau.
Berbicara dengannya melalui telepon tadi, membuatku tenang.
Setidaknya, aku tidak menghawatirkan
masalah tiket pesawat, karena bisa di talangi dulu oleh temannya yang bekerja
di sebuah tour and travel. Dan
masalah penggantian uang, bisa setelah kami mendapatkan reimburse nanti.
“Semangat, Hairul. Insha Allah semua dimudahkan. Dan Kakak yakin, orang-orang Sangir
masih memiliki hati untuk membantu putra daerahnya.” kalimat penutup Kak Stenly
membuatku semakin lebih tenang. Selain pesawat yang sudah ‘aman’, tempat
tinggal kami di Manado saat menunggu keberangkatan juga sudah di tanggung
olehnya. Terima kasih, Kak. Terima kasih.
***
Hari ke-CXXXIII, 25
Oktober 2014. Sabtu, pukul 21.19 Wita
Satu per satu, permasalahan yang sedikit
menghambat kami mulai teratasi. Aku menghubungi kakak-kakak PM Kawio sebelumku.
Kak Jesika, Kak Priska, dan Kak Luki. Aku meminta saran dan masukan dari
mereka. Apa yang harus dan tidak harus aku lakukan.
Tahukah kalian, memiliki mereka adalah
salah satu bagian yang patut aku syukuri juga. Banyak sekali saran dan doa
serta semangat yang mereka berikan untukku. Aku semakin tenang.
***
Hari ke-CXXXIV, 26
Oktober 2014. Minggu, pukul 20.53 Wita
Saat matahari baru saja meninggalkan kami
dan menukar ‘jam kerjanya’, kami sudah berkumpul di kontrakan, berkumpul di
depan TV, menyaksikan berita yang membuat kami cemas beberapa waktu belakangan
ini; pengumuman para menteri yang membantu Bapak Presiden kita. Biasanya, kami
tak pernah sesemangat ini dalam menunggu hal-hal yang berbau pemerintah. Tapi,
kali ini berbeda. Orang kebanggaan kami, orang yang membuat kami bisa sampai di
tempat ini –Bapak Anies Baswedan, menjadi satu-satunya faktor semangat tadi.
Dan, dengan menggunakan kemeja putih, dan dengan senyuman manis khasnya, Bapak
Presiden memanggil nama beliau.
“Tidak perlu diragukan lagi, kiprah
beliau sudah terbukti dengan Indonesia Mengajar. Bapak Anies Baswedan.” ucap
Bapak Presiden kurang lebih. Kami terlalu fokus melihat senyum manis Pak Anies
yang membuat kami teriak bersama di depan TV. Bersorak-sorak dan ikut bertepuk
tangan bersama orang-orang yang ada di sana. Selamat, Pak Menteri Pendidikan.
***
Hari ke-CXXXV, 27
Oktober 2014. Senin, pukul 22.23 Wita –Pulau Kawio
Jam 9 malam akhirnya bersandar di dermaga
Kawio.
Karena lama berhenti di pulau-pulau lain, pulauku yang paling terakhir
harus bersabar dan lebih ‘akrab’ berteman dengan laut. Tak sabar aku ingin
menyampaikan berita untuk Dowes.
Maka, sudah seperti yang aku duga;
biasa-biasa saja.
Bahagia? Iya. Bangga? Pasti.
Tapi, semua biasa-biasa saja. Ia
menginginkan ada yang menemaninya ke Jakarta. Satu dari kedua orang tuanya.
Kalau tidak, maka ia juga tak mau.
Ternyata Tuhan masih ingin membuatku terus berusaha.
Lagi-lagi, permasalahan kembali datang. Kali ini, semakin besar.
Selamat, malam, Kawio. Aku hanya ingin
berbaring. Lelah. Semoga besok datang keajaiban. Amin!
***
Hari ke-CXXXVI, 28
Oktober 2014. Selasa, pukul 13.17 Wita
Upacara memperingati Hari Sumpah Pemuda.
Semua murid diharuskan berbicara menggunakan Bahasa Indonesia saat di sekolah
selama bulan ini. Meski permasalahanku belum selesai perihal ‘merayu’ Dowes,
maka sedikit terlupakan dengan sikap polos semua siswa saat tiba-tiba ia
berbicara dengan bahasa Sangir. Hanya bisa tersenyum.

Komentar
Posting Komentar