CCCLXV - Catatan Harian Pengajar Muda (6)



 
Suasana Ibadah Pagi
Hari ke-XXXI, 15 Juli 2014. Selasa, pukul 08.02 Wita
         Sekolah masih belum belajar efektif. Sebentar lagi memasuki libur hari raya, sehingga saat ini, anak-anak sedang kerja bakti membersihkan sekolah. Mencabut rumput, menyapu kelas dan halaman, juga membakar dedaunan kering yang dikumpulkan di belakang sekolah. Aku hanya tersenyum melihat tingkah mereka. Meski aku jumpai juga perkelahian ringan dalam memerebutkan sapu lidi atau golok, namun dengan cepat juga mereka berbaikan.
Aku yang saat ini sedang duduk di pelataran depan kelas, mengamati mereka satu per satu. Bukan berarti aku tak ingin membantu mereka, saat aku memegang sapu, mereka berteriak, “Engku sedang berpuasa. Nanti lelah. Jadi istirahat saja.” Tidak sekali, saat aku berusaha mengulanginya, teriakkan yang sama aku dengar. Ah.. kaliaan...
            Pohon cemara yang tepat di atasku saat ini, memberikan bebarapa daun yang menguningnya untukku. Tepat di atas buku harianku, daun ini bagaikan sebuah pena yang diberikan Tuhan dalam diamku. Aku simpan daun itu, ku mulai menuliskan sebuah surat untuk Tuhan.
___
Untuk: Tuhan Sang Pembuat Skenario Terindah dalam Hidup.

“Ada pertemuan, pasti ada perpisahan.”
Menurutku, mengapa kita bertemu jika pada akhirnya harus berpisah? 

Tuhan, mengapa harus ada air mata perpisahan disaat lengkungan senyum pertemuan sudah ranum terkembang? Lagi dan lagi, Tuhan. Tak hanya satu kali.

Tuhan, tiga puluh hari yang lalu, tepat tanggal lima belas di bulan Juni tahun 2014, aku masih berada di ibu kota negara bangsa ini, bersama teman-teman Pengajar Muda angkatan delapan lainnya. Tepatnya, kami masih bersama menuju hari pelepasan kami, kami masih bersama mengukuhkan niat dan cita-cita kami untuk ikut turun tangan dalam melunasi janji kemerdekaan bangsa ini. Mencerdaskan kehidupan bangsa di pelosok-pelosok penjuru nusantara. Bukankah terdengar hebat sekali, Tuhan? Entahlah, tapi aku dan ke-74 Pengajar Muda lainnya memiliki satu niatan yang sama, yakni belajar!

Sampai saat sebelum pesawat meninggalkan bandara ‘Soekarno-Hatta’, masih belum tergambar sama sekali akan tempatku nanti, tempat dimana aku akan mengalahkan semua rasa takut dan cemasku, tempat dimana aku akan mengikiskan egoisme serta idealisme diri, dan tempat dimana aku akan ‘belajar’ selama 365 hari kedepan.

Pelukan dan dekapan hangat dari teman-teman menghantarkanku dengan satu kalimat, “Kita pergi untuk kembali!”

Hanya butuh waktu tiga jam dari ibu kota Jakarta menuju kota provinsi ini, kota yang tak jauh berbeda dengan ibu kota Jakarta ini bukanlah tempat dimana aku ditugaskan. Masih harus menempuh sekitar 12,5 jam jalur laut untuk sampai di kabupatenku. Namun, tak sebatas itu kekhawatiranku berakhir, masih dibutuhkan waktu 7-8 jam menggunakan pumpboat atau 12-24 bahkan 48 jam dengan kapal perintis untuk menuju desa dimana aku akan ditugaskan.

Hingga saat senja, deburan ombak menyampaikan pesan, desau angin menyapaku dari kejauhan, birunya laut dan langit berbisik lirih , “Selamat datang di pulau ini. Selamat datang di perbatasan utara negeri ini. Selamat belajar!” 
 
Tuhan,
Satu bulan sudah aku berada di daerah ini, berada di sebuah desa yang sebenarnya hanya berjarak kurang lebih 37 mil laut dengan negara tetangga Filipina, berbatasan langsung dengan pulau terluar Filipina (Balut dan Saranggani) yang jika menggunakan pumpboat, hanya menghabiskan waktu 3-4 jam.
Bahkan, beberapa penduduk di desaku lahir dan besar di sana. Tidak sampai disitu saja, meski tak banyak, peralatan rumah tangga dan bahan makanan di desa ini juga berasal dari negara yang ber-ibukota-kan Manila tersebut. Bukankah ini ironis, Tuhan?

Suatu waktu, di dalam perjalanan menuju desaku, aku bertemu dengan salah satu masyarakat yang desanya dekat dengan pulauku. Setelah aku merasa akrab dengannya melalui perbincangan ringan di atas kapal, aku pun mulai bertanya,
       
       Aku     : “Mengapa tetap memilih kembali ke Indonesia, mengakui warga negara bangsa ini disaat Wawu[1]  lahir dan besar di Filipina?” tanyaku.
     Kakak : “Saya memang lahir, sekolah hingga menengah atas, bahkan ikut merasakan bahagia dan bangganya saat Filipina merayakan hari kemerdekaan. Tapi, satu yang membuat saya ingin kembali ke tanah kelahiran orang tua saya adalah, sebuah persaudaraan. Indonesia yang menurut kebanyakan orang adalah negara korupsi, negara teroris, tapi buat saya, Indonesia adalah tempat ibu saya dilahirkan. Tempat ibu saya mengenal budaya timur, tempat ibu saya mengenal rasa belas kasih dan peduli terhadap sesama, dan tempat ibu saya mengenal cinta kepada lelaki yang itu adalah ayah saya sendiri. Namun, saya tetap suka dengan Filipina. Berkatnya, kedua orang tua saya mendapatkan rezeki yang menghantarkan saya hingga ke sekolah menengah atas di sana. Saat orang tua saya tak ada tambahan penghasilan di Indonesia ini, Negara tetangga tersebut tak hanya menjanjikan, tapi memberikannya. Jadi, saya tetap semangat saat Filipina merayakan hari kemerdekaannya disetiap pertengahan tahun.” Jawabnya sambil tertawa kecil. Rasa penasaranku semakin menjadi,
       Aku     : “Lalu, Wawu memutuskan menjadi WNI saat usia 17 tahun karena sebuah persaudaraan di Indonesia?”
     Kakak : “Bukan berarti dengan saya merayakan kemerdekaan Filipina berarti saya tidak ada rasa nasionalisme, Engku. Itu memang bentuk rasa terima kasih saya. Karena saya bahkan warga pulau tidak memungkiri, bahwa Filipina memang konsumen terbesar ikan-ikan di pulau kita. Mereka tak ragu membeli berjuta-juta rupiah hasil ikan kita ketimbang bangsa kita sendiri, mereka mau ikut menyelam dan mengambilnya sendiri. Jadi, kami warga pulau tetap harus berterima kasih pada mereka.” Paparnya. “Tapi Engku jangan khawatir, persaudaraan bangsa ini yang membuat saya tetap memilih menjadi warga bangsa kita tercinta ini, dan pastinya juga karena persaudaraan bangsa ini yang membawa Engku ikut mengabdi ke Pulau ini, toh?” sambungnya.

Obrolan di dalam sebuah kapal bersama kakak –yang aku lupa namanya- membuatku teringat akan sebuah rekaman suara anak-anak kepulauan ini dari kakak pendahuluku, 

“Kami tinggal di perbatasan, namun rasa cinta kami kepada Negara Indonesia melebihi luasnya samudera. Kami berjanji dengan segenap jiwa dan raga akan selalu membela tanah air Indonesia.”[2]
 
Semakin yakin dan membuat tekad ini bulat untuk berada di perbatasan utara negeri ini.
Pulau ini memberikan banyak alasan mengapa aku harus bersyukur pada-Mu, Tuhan.
Misalnya saja, saat berpuasa di ramadhan kali ini, disaat aku berpuasa seorang diri karena memang seluruh warga di sini beragama kristen, membuatku setuju dengan perkataan kakak tersebut bahwa, bangsa ini memiliki persaudaraan yang luar biasa indah. Masih banyak orang-orang baik di sini yang memberikan jauh dari apa yang kebanyakan orang di ibu kota berikan. 
Bagaimana tidak? Mereka memberikan apa yang mereka bisa berikan bukan disaat mereka berlebihan. Atau bahkan pada saat mereka tercukupkan. Mereka memberikan disaat mereka juga sebenarnya membutuhkan.

Bolehkah  aku bertanya pada-Mu, Tuhan?

Ya Tuhan, mengapa Engkau tempatkan aku di Pulau ini? Pulau yang di dalamnya banyak sekali hal yang tidak aku sukai. Aku tidak bisa berenang, tapi Engkau tempatkan aku di pulau yang tidak hanya harus bisa berenang saja, karena memang untuk menuju pulau ini hanya dapat melewati sekitar 12 hingga 24 jam lautan. Ya! Laut! Bukan kolam renang yang aku tahu seberapa dalamnya, sehingga aku akan memilih tempat yang tak dalam.

Ya Tuhan, aku takut sekali dengan anjing, tetapi Engkau tempatkan aku di pulau yang tidak hanya ada seekor anjing, bahkan beratus-ratus anjing berkeliaran ditempat ini. Kenapa, Tuhan?

Ya Tuhan, dulu, aku selalu bercanda dengan teman-temanku. Disaat ada sesuatu yang tidak kami senangi, kami selalu berkata ‘Pergi atau buang saja ke laut!’. Bukan hanya pergi ke laut, kini, setiap saat, deburan ombak dan desau angin laut selalu menyapaku seraya berkata, ‘Aku laut, tempat yang selalu kau buat bercandaan. Kemarilah!

Ya Tuhan, aku baru mengerti.
Memang, yang aku inginkan adalah berada ditempat yang tidak ada hubungannya dengan dua hal di atas. Kini aku mengerti, Tuhan. 
Kau memberikan bukan apa yang aku inginkan, melainkan, Kau memberikan apa yang aku butuhkan.

Mungkin benar, Tuhan. Saat aku tidak dapat berenang, kau memberikanku siswa-siswa yang tidak hanya bisa berenang, tetapi siswa-siswaku dibesarkan di tempat yang bersahabat dengan air. Mereka dengan berbaik hati mengajari dan melindungiku saat aku bermain di laut. Selain pelampung yang memang telah ku bawa, tangan-tangan kecil mereka jua yang membuatku tetap menikmati laut-Mu ini. 

Mungkin benar, Tuhan,
Saat aku takut dengan anjing, Kau ‘menghadirkan’ anjing-anjing ditempat ini dan menunjukkan Kuasa-Mu bahwa, ada makhluk hidup lain yang juga Engkau ciptakan untuk beribadah pada-Mu. Tahukah, Tuhan? Satu bulan hidup berdampingan dengan anjing-anjing itu, membuat rasa takutku hilang. Aku sudah terbiasa dengan kehadiran mereka. Kami sudah menjadi teman, Tuhan. Bahkan, setiap aku berangkat ke sekolah, anjingku selalu menemani. Kemudian ia pulang setelah aku masuk ke kelas. Atau saat malam datang, saat aku ingin ke kamar mandi yang letaknya jauh dari rumahku, anjingku itu dengan baik mengantarkanku. Menunggu, dan kembali bersamaku lagi ke rumah. Betapa indah bukan, Tuhan? 

Terakhir, Tuhan.
Mungkin memang benar, disaat laut menjadi bahan bercandaan kami, aku baru mengerti. Bahwa dari laut ini, sejatinya banyak menyimpan pesona keindahan. Jernihnya air laut membuatku dapat dengan mudahnya melihat beranekaragam terumbu karang, melihat dengan indahnya bintang laut saat berjalan, dan yang terpenting adalah, bahwa aku tetap bertahan hidup karena laut. Ya, masyarakat di pulau ini menjadikan laut sumber kehidupan mereka. segala jenis ikan laut yang telah ku makan, menjadi salah satu anugerah untuk kelangsungan hidupku. Terima kasih, Tuhan.
___
 
Beberapa pertanyaan yang kemudian ku jawab sendiri membuatku semakin yakin untuk tetap ‘belajar’ dari manapun, semakin yakin bahwa di pulau ini, di desa ini, di ujung perbatasan utara negeri ini, terdapat SKENARIO terindah dari Tuhan, skenario bernama KAWIO. 

Ya! Pulau Kawio, pulau terluar utara negeri ini, salah satu pulau penempatan Kabupaten Kepualuan Sangihe di Provinsi Sulawesi Utara yang akan memberikan banyak ‘kehidupan’ untukku.

Satu lagi yang ingin aku ulang, Tuhan. Dan aku mohon untuk izin-Mu,
“365 hari kedepan, aku akan belajar! Belajar dari Kawio, belajar dari masyarakat, belajar dari ibu dan bapak guru, dan belajar dari siswa-siswa SD GMIST Smirna Kawio ini.”
“365 hari kedepan, aku akan jatuh cinta! Jatuh cinta pada Kawio, jatuh cinta pada masyarakat, jatuh cinta pada guru-guru, dan jatuh cinta pada siswa-siswa sekolah ini.”
“365 hari kedepan, aku akan mengabdi! Mengabdi pada Kawio, mengabdi pada sekolah dan masyarakat, juga mengabdi pada Bangsa dan Negara ini.”
Terakhir, Tuhan, Engkau adalah pembuat SKENARIO terindah dalam hidup.


[1] Sapaan untuk kakak perempuan dalam bahasa sangir dan biasanya yang menyapa dengan kata ini untuk orang yang belum menikah.
[2] Rekaman diambil saat acara FAS (Festival Anak Sangihe) yaitu kegiatan yang digagas oleh Pengajar Muda angkatan pertama di Kabupaten Kepulauan Sangihe.
***

Hari ke-XXXII, 16 Juli 2014. Rabu, pukul 06.09 Wita
Dalam sebuah doa di waktu fajar,

Saat lelah ini merasuk ke rongga jiwa,
Saat nafas ini terasa sesak karena tak kuasa menahan iba,
Tuhan...
Berilah siswaku kelapangan hati,
Buatlah senyum tetap menghiasi wajah-wajah kecil mereka.
Mereka adalah aku,
Aku adalah mereka.
Biarkan tangan-tangan kecil mereka menggapai apa yang mereka inginkan,
Biarkan kaki-kaki kecil mereka memijakkan apa yang ingin mereka kejar,
Dan biarkan, mereka tetap menjadi diri mereka sendiri.
Mereka adalah aku,
Aku adalah mereka.



Tepat doa selesai kupanjatkan, terdengar dari depan rumahku, aku langsung bergegas untuk mandi di sumur bersama sumber suara.
“Engku, ndeno![1]


[1] Mandi (bahasa Sangir)


***

Hari ke-XXXIII, 17 Juli 2014. Kamis, pukul 07.07 Wita
          Sejak subuh tadi, hujan lebat mengguyur pulauku.
Deburan ombak dan terpaan angin kencang kerap terdengar. Rumahku yang memang berada di dekat laut, sangat jelas mendengar setiap angin, ombak, atau bahkan suara pumpboat yang sekedar lewat.
            Aku sudah rapi dengan kemeja panjang biruku. Kutengok jalanan utama menuju sekolah, sepi. Belum ada tanda-tanda kehidupan di sana. Tak terdengar teriakan-teriakan yang selalu menghiasi pagi di sekolah. Datangkah mereka? Apalagi, kemarin, baru saja ada gempa yang cukup lama terasa di pulau kecil ini.
Hujan yang tak berhenti membuat tekadku semakin bulat. Aku harus berangkat. Meski tak ada satu pun siswa yang datang, aku tetap harus menunggu mereka di sekolah. Ku buka payung hitam bergarisku, kunaikkan celana panjang bahanku hingga lutut, dan menjinjing sepatuku agar tak basah.
            Sekolah masih sepi.
Bendera di ujung tiang yang belum sempat diturunkan kemarin sore tampak kuyup. Sesekali bergerak karena tiupan angin kencang. Aku membawa sebuah bangku kayu dari dalam ruang guru ke depan kelas. Takut-takut ada yang datang, namun kembali lagi karena merasa tak ada orang di sekolah. 
Jam digitalku menunjukkan angka delapan. Sudah hampir satu jam aku duduk menanti siswa-siswa hebatku. Tak ada yang datang. Ku amati sekitar sekolah, semua pintu rumah tertutup. Sepertinya, memilih tidur kembali karena mengail pun saat ini tidak memungkinkan. Ombak dan angin cukup besar. 
         “Engkuuuu Hairuuuul!!” suara yang sudah sangat aku kenal mengagetkanku. Ku cari kearah sumber suara. Sepi. Tak ada siapa pun di sana. Halusinasikah?
         “Engkuuu!!” kali ini aku cepat menengok. Jas hujan berwarna hijau muda tampak di balik dinding perpustakaan. Putra. Ya, suara Putra. ia sengaja bersembunyi saat memanggilku pertama tadi. Aku tersenyum dan menggelengkan kepala. Sempat-sempatnya bercanda dan bersembunyi di bawah hujan deras ini? Putra menghampiriku, menyalamiku, dan melepaskan jas hujan bergambar ‘upin-ipin’ nya. Ia menggantungkan jas hujannya di paku depan kelasnya. Dibalik jas hujannya, masih terdapat jaket yang menghangatkan tubuhnya.
Ia mengenakan sepatu yang sejak tadi ia masukkan ke dalam tas sekolah, mengambil bangku dari dalam kelasnya, dan  beberapa menit kemudian, kami sudah duduk bersama. Menanti teman-teman lainnya sambil bercerita apa saja ditengah derasnya hujan.
            “Sepertinya tidak ada yang datang, Ngku. Kita pulang saja, ya? Sudah jam sembilan kurang. Pasti tidak ada yang datang.” ajak Putra. sudah hampir satu jam kami duduk menanti siswa lain. Dan aku sudah dua jam duduk di sini.
            “Tunggu tujuh menit lagi, gimana? Biar pas jam sembilan kita pulang,” tawarku.
            “Oke deh, Engku! Sip!” kami melanjutkan obrolan.
            “Saya kangen mamak saya,” ucapnya lirih tiba-tiba. Suaranya tak mampu menyaingi hujan.
            “Apa, Putra?”
         “Sudah lama sekali saya tidak bertemu mamak. Terakhir kali waktu saya kelas 2.” Putra menangis. Kuraih kepalanya, kusandarkan di dadaku. Sudah tiga tahun tidak bertemu ibunya. Ibu Putra tinggal dan bekerja di ibu kota propinsi. Menjadi pembantu rumah tangga. Ia tinggal dengan kakek dan neneknya. Ayahnya masih ada di pulau ini, tapi karena ada permasalahan keluarga, membuat ayah Putra tidak satu rumah dengannya. Aku yang sedikit banyaknya mengetahui tentang keluarga siswa-siswaku, hanya bisa berkata ‘sabar’, aku juga tak mengerti, hampir semua siswa-siswa di sini, tidak tinggal bersama kedua orang tuanya. Mereka dititipkan pada kakek atau adik dari orang tuanya.
           “Mama kamu pasti berat meninggalkan anaknya yang pintar ini. Tapi, engku yakin, ini semua untuk kamu. Mama kamu bekerja di sana demi menyekolahkan kamu. Maka dari itu, kalau kamu sayang sama mama, jangan malas belajar. Sekolah yang rajin, dan harus menuruti apa yang kakek dan nenekmu bilang.” aku mengelus rambutnya. Ia masih sesenggukkan.
         “Tapi kenapa sudah mau tiga kali natal, mama tidak pulang ke Kawio? Apa tidak sayang lagi sama saya?” tanyanya sambil mengusap air mata.
          “Tidak mungkin mama kamu tidak sayang sama kamu, Putra. Dan tidak akan mungkin seorang ibu membenci anak kandungnya sendiri. Saat ini, sudahkah kamu mendoakannya?”
            “Jarang, Ngku.
          “Nah, itu dia. Setiap berdoa, jangan lupa mendoakan kedua orang tuamu juga. Mendoakan agar mereka baik-baik saja. Dan semoga Tuhan menjaga dan melindungi mereka. Dan yang paling penting sekarang, kamu harus tetap belajar. Buat mereka bangga sama kamu.”
           “Iya, Ngku. Saya akan doakan mamak dan papa.” Putra sudah berhenti menangis. Bekas air matanya masih ada di pipinya. Kami memasukkan bangku ke ruangan. Tujuh menit yang dijanjikan berganti menjadi setengah jam. Sekolah masih sepi. Hujan juga masih deras. Kami mengenakan perlengkapan masing-masing. Ku antar Putra sampai ke rumahnya. “Jangan lupa doa. Disaat tak mungkin bertemu, hanya doa yang bisa menyampaikan. Tuhan tahu itu.” kataku sebelum kami berpisah. Semangat terus, Putra. Semangat terus! dan jangan sekalipun berpikir untuk menyerah pada keadaan.
***

Hari ke-XXXIV, 18 Juli 2014. Jumat, pukul 06.23 Wita
         Jumat kedua aku berada di tempat ini. 
         Itu berarti, sudah dua kali juga aku tidak melaksanakan shalat jumat. Kemarin, hujan baru berhenti sekitar magrib. Menyisakan dingin di pagi ini. Semoga hari ini anak-anak datang ke sekolah. Sebelum aku mandi ke sumur, aku mengamati jalanan utama, sudah ada kehidupan di sana. Setidaknya, aku sudah meilhat ada salah seorang siswa yang juga selesai mandi di sumur pemandian. Aku bergegas.
        Setelah apel dan doa pagi bersama, aku masuk ke kelasku. Lima Pahlawan Mudaku sudah duduk dengan rapi. Senyum-senyum yang khas dari mereka membuat pagi dingin itu tak terasa. 
        Aku membuka buku pelajaran bahasa Indonesia. Guru-guru yang lain sudah berkata, bahwa, kelasku hanya dua orang yang bisa membaca. Selebihnya belum, dan mereka di cap “bodoh” oleh salah seorang guru di sini.
Kesal sebenarnya, tapi akan ku buktikan, bahwa, setiap anak tidak ada yang bodoh. Dua dari lima siswaku sudah tinggal kelas beberapa kali, Jesika dan Junikson seharusnya sudah kelas 5, namun, karena keterbatasan, mereka harus mengulang kembali saat duduk di kelas 1 dulu. Memang, hanya Miranda yang sudah dengan lancar membaca. Jesika, Anto, Junikson, dan Ulinsia, mereka masih harus banyak belajar membaca. 
Aku yakin mereka pasti bisa!


[1] Sapaan untuk kakak perempuan dalam bahasa sangir dan biasanya yang menyapa dengan kata ini untuk orang yang belum menikah.
[2] Rekaman diambil saat acara FAS (Festival Anak Sangihe) yaitu kegiatan yang digagas oleh Pengajar Muda angkatan pertama di Kabupaten Kepulauan Sangihe.
[3] Mandi (bahasa Sangir)
 ***

Hari ke-XXXV, 19 Juli 2014. Sabtu, pukul 10.19 Wita

Suasana Ibadah Pagi


Setiap sabtu pagi, sekolahku mengadakan ibadah atau doa pagi bersama di satu ruangan. Setiap kelas tinggi akan bergiliran menjadi petugasnya. Seperti ibadah-ibadah pada umumnya, anak-anak dilatih menjadi seorang pemimpin dan memiliki tanggung jawab masing-masing. Ibadah pagi ini berjalan khidmat meski ada beberapa anak kelas 1 yang bercanda. Namun, mereka akan dengan tertib kembali ke ibadahnya.
          “Saat teduh, Mulai.” perintah salah satu guru pembimbing ibadah. Semua kepala ditundukkan. Tak ada satu pun yang bercanda.
          “Selesai.” ibadah selesai diadakan. Semua siswa kembali ke kelasnya masing-masing.

(bersambung...)

Komentar

Postingan Populer