CCCLXV - Catatan Harian Pengajar Muda (9)



Hari ke-LVII, 10 Agustus 2014. Minggu, pukul 02.34 Wita
            Sesak.
Sebuah ruangan berukuran tak begitu besar di dalam kapal ini bagai dalam sebuah tempurung. Ruang sempit ini begitu ramai oleh penumpang lain. Kali ini, aku menaiki kapal Berkataloda. Juga sebuah kapal perintis seperti Sabuk Nusantara, namun kapal penumpang yang sudah tua ini sepertinya lebih tepat dikatakan kapal barang. Selain manusia yang memenuhi di setiap sudut kapal, barang-barang seperti sembako, peralatan dapur, perkakas rumah tangga, sampai bahan membuat rumah seperti pasir, batako, juga batu-batu tak mau absen untuk masuk kedalam kapal.
Bisa dibayangkan, bukan? Aku dan Shaski memilih ruangan paling bawah, karena lantai atas sudah terisi sesak. Ranjang besi yang sudah berkarat beralaskan papan menjadi pemandangan di dalam kapal Berkataloda ini. Ketika kami masuk, pikiran kami justru dibawa pada sebuah kamar dalam sel penjara yang pengap.
Mengerikan.
Apalagi jika kita menengok sebentar ke kamar mandinya, sebaiknya tak usah aku ceritakan. Lebih baik kalian tidak makan dan minum selama di kapal ini. Kecuali jika kalian cukup punya ‘nyali’ untuk berhadapan dengan kamar mandinya saat kalian kebelet. Intinya, karena memang hanya kapal ini yang sedang bertugas, mau tidak mau, kami harus menaikinya.
            Kapal sudah berangkat pukul dua dini hari tadi.
Saat ini, aku sedang duduk di atas ranjang papan, meluruskan kaki sedikit, dan bertahan dalam posisi ini. Kalian tahu ikan asin? Sejenis makanan berasal dari ikan yang rasanya asin. Semua penumpang mirip seperti ikan asin yang sedang dijemur. Berdesakan di atas papan. Panas. Dan aroma yang terhirup sebelas dua belas dengan aroma ikan asin. Bagi yang belum tahu ikan asin saat dijemur, cobalah mampir ke Sangihe, cari kapal perintis bernama Berkataloda, masuk, dan lihatlah sebuah pemandangan ‘manusia asin’.
        Mataku belum juga terpejam. Kulihat Shaski yang sudah tertidur berbatasan ransel di sebelahku, sedang berjuang menahan panas dan pengapnya udara. Sesekali ia terbatuk, menggaruk kaki karena nyamuk, atau sesekali bangun karena gerah. 
          Kasihan, kulihat kanan dan kiri, pemandangannya tak jauh berbeda. Hanya saja mereka terlihat lebih nyenyak dan lebih menikmati suasana kapal. Mungkin sudah terbiasa dengan kapal yang akhir tahun nanti, menurut informasi, kapal ini akan diganti dengan kapal baru. Semoga saja.
        Pukul empat pagi, namun mataku masih  tak mau terpejam juga. Kuambil jurnal harianku, kubaca-baca lagi tentang pengalamanku saat di Kawio beberapa minggu yang lalu, dan beberapa jam lagi aku akan kembali ke tempat ini. Semoga kedatanganku saat ini dapat memberikan sesuatu yang maksimal. 
         Kali ini kegiatan belajar mengajar akan dilaksanakan dengan penuh. Aku akan menjadi seorang guru kembali. Dan belajar menjadi siswa juga. Menjadi seorang siswa yang masih belajar, belajar bagaimana caranya mengajar dengan baik, dan menjadi seorang siswa yang belajar dari kehidupan masyarakat pulau.
***

Pukul 21.00 Wita –Pulau Kawio
Aku tiba di Kawio pukul tujuh malam tadi. Sebuah dermaga panjang dan ramai dengan masyarakat sudah menanti. Setelah kapal bersandar dengan sempurna, aku menuruni tangga kapal. Kulihat ada bapak dan ibu angkatku di dermaga.
“Engku, kami mau ke Tahuna. Bapak mau ujian, nanti engku tinggal dengan mama Alya saja. Tadi ibu sudah bilang.” Kata ibu angkatku setelah aku menyalaminya.
“Oh, iya, Bu. Tidak apa-apa. Hati-hati di Jalan, berapa lama di sana?”
“Semoga kapal selanjutnya sudah bisa kembali lagi. Tergantung jadwal ujian akhir Bapak. Semoga bisa dipercepat.”
“Baik, Bu. Semoga sukses ujiannya.” aku berpamitan. Setelah menemui bapak angkatku juga. Aku menuju rumah yang berada di depan rumahku. Sendiri lagi kah aku?
Baiklah. Bukankah ini akan jadi pengalaman baru lagi? Selamat datang di Kawio!

***

Hari ke-LVIII, 11 Agustus 2014. Senin, pukul 09.00 Wita
Siwa-siswa SD GMIST Smirna Kawio

Akhirnya, setelah liburan panjang, sekolah bisa buka kembali.
Buka? Iya, buka. Karena seharusnya, sekolah sudah masuk sejak minggu lalu, namun, karena semua guru sedang berada di kota, maka, sekolah masih ditutup. Menjadi kebiasaan guru-guru setempat, fasilitas sekolah yang sudah sangat lengkap, gedung sekolah yang bagus - karena memang sekolah di perbatasan akan mendapat perhatian yang lebih dari pemerintah- tidak di dukung oleh sumber daya manusianya. Di sini tantangannya untukku. Berada di sebuah daerah pedalaman, realita yang dihadapi tak melulu soal fasilitas. Karena memang ada yang jauh lebih penting dari itu semua. Ya, sumber daya yang mengelola itu sendiri.
Seperti saat ini, setelah apel pagi –yang aku pimpin sendiri- selesai, guru-guru belum ada yang datang. Sebenarnya aku tak terlalu kaget, karena sudah diberitahu oleh Kak Luki. Namun, masa iya? Sudah di tahun ke-empat Indonesia Mengajar berada di tempat ini, belum ada perubahan kearah yang lebih baik? Padahal, rumah guru-guru di sini tak ada yang jauh. Tidak sampai lima menit untuk bisa sampai ke sekolah. Tidak menghabiskan 2 jam untuk bisa datang setiap harinya. Ya, mereka datang rata-rata pukul sembilan. Bahkan, yang paling membuat aku tak habis pikir, guru datang saat siswa kelasnya sudah pulang. Bisa dibayangkan, bukan?
Kalau kalian bertanya, “Kenapa tidak menegurnya?”, sudah.
Secara halus yang jelas. Namun, entah karena sudah membudaya (aku tak suka saat menulis kata ini), atau karena memang sudah menjadi sifat yang mendarah daging. Oh, iya, pernah sesekali seorang guru yang selalu telat, datang tidak terlalu telat (jam setengah delapan), namun, ia tidak mengajar ke kelas, justru mengobrol dengan guru lain yang memang satu tipe. Sehingga tak jarang aku mengajar kelas rangkap. Mengajar lebih dari satu kelas secara bersamaan. Kalau seperti ini, siapa yang dirugikan? para siswa.
Meski hari ini, belum terlalu belajar efektif, semua siswa aku pulangkan jam 12 siang. Kecuali kelas 1dan 2, aku sudah pulangkan mereka sejak pukul 11 tadi. Terik matahari menyengat dengan semangatnya. Membuat aku yang lelah karena mengajar lebih dari satu kelas, segera menuju pantai bersama siswa-siswaku. Tiduran sambil bercerita tentang apa pun di bawah pohon-pohon besar beralaskan pasir putih yang terhampar luas.
Sejuk.
“Saya senang bisa melihat engku lagi.” Putra memulai percakapan.
“Iya, saya juga. Habisnya kalau sama guru-guru yang lain, kami sering dimarahi. Malah sering di jewer atau di cubit.” sambung Inne. Selain bermasalah pada jam kehadiran, guru-guru di sekolahku memang masih menggunakan ‘hukuman’ yang menurutku sangat berlebihan. Anak-anak masih sering dipukul, cubit perutnya, menjewer telinga, atau menarik jambang halus mereka.
“Memangnya kalian salah apa sampai bisa dihukum?” tanyaku.
“Misalnya, kemarin di kelas saya, ada yang mengobrol. Mereka berdua langsung di hukum di depan kelas.” Jawab Putra.
“Menurut kamu, kalau di dalam kelas, kita boleh mengobrol, tidak?” tanyaku pada Putra dan Inne.
“Tidak boleh, engku. Kita harus mendengarkan guru!” jawab Inne dengan semangat. Sampai-sampai pasir mengenai wajahnya ketika tiba-tiba terbangun dari tidur saat menjawab pertanyaan.
“Betul. Oleh karena itu, kalian harus mendengarkan. Bukan untuk tidak dihukum, tapi mendengarkan untuk kalian memahami pelajaran yang sedang diajarkan.”
“Iya, saya akan belajar dengan giat.”
“Saya juga!”
“Nah, bagus. Sekarang mari kita nikmati angin yang berhembus ini!”

***

Hari ke-LIX, 12 Agustus 2014. Selasa, pukul 10.02 Wita
Haruskah?
Haruskah untuk menertibkan siswa, kekerasan menjadi pilihan utama?
Harus juga kah dalam menyampaikan pesan untuk siswa, menggunakan lagi-lagi sebuah kekerasan?
Pagi yang sebenarnya cerah ini, tak melulu membuat perasaan yang menikmatinya ikut damai. Pemandangan pagi ini membuat semua keindahan yang harusnya orang alami saat pagi hari, hilang seketika.
Setelah apel tadi, di depanku, aku melihat secara langsung beberapa siswa sedang di jewer, di cubit perutnya, dan diinjak kakinya dengan sepatu. Karena apa? Kalian tahu masalahnya apa? Mereka tidak membantu orang tua mereka saat pagi. Tidak menyapu rumah untuk anak laki-laki, dan tidak membantu mencuci piring bagi anak perempuan.
Membantu orang tua saat pagi hari atau kapan pun memang benar. Namun, haruskah dengan kekerasan dalam memberitahukannya? Yang aku khawatirkan, mereka melaksanakan semua tugas karena takut di hukum. Bukan karena sebuah tanggung jawab.
Tanggung jawab? Oke, kalau kalian merasa sebuah tanggung jawab terlalu ‘berat’ untuk anak-anak sekolah dasar. Bagaimana dengan Bullying? Mempermalukan seseorang di depan umum bukankah termasuk dalam kategori Bullying? Bagaimana kedepannya nanti, jika anak-anak ini beranjak dewasa? Mental anak tersebut, bukankah akan berdampak berkepanjangan?
Ah... andai saja, di dalam sebuah komunikasi, tak ada kekerasan, menggunakan hati, biarkan hati yang berbicara. Aku yakin, jika hati yang berbicara, hati lain juga akan merasakannya dengan baik.
“Sakit, engku!” salah satu siswa sambil memegang telinganya menghampiriku. Novi, siswi kelas 6, ia tidak mencuci piring, oleh karena itu ia juga dihukum.
“Memangnya kamu tadi pagi kenapa?” tanyaku.
“Saya sakit, ngku. Semalam badan saya panas. Tadi pagi saya bangunnya kesiangan. Jadi tak sempat membantu mamak.”
“Sudah bilang kalau kamu sakit?”
“Iya, tapi katanya, lain kali jangan bangun kesiangan.”
“Yasudah, kamu istirahat saja dikelas. Kalau masih tidak enak badan, mainnya dikurangi dulu.” Kami masuk ke kelas masing-masing. Wahai Bapak dan Ibu guru, tidakkah kalian dengar? Tidak kah mencoba mendengarkan apa alasannya? Apakah selesai dengan kalian melakukan kekerasan? Mereka juga butuh didengar. Mereka juga butuh kebebasan berpendapat. Bukankah ini yang diberikan oleh pendahulu?
Lonceng istirahat dibunyikan.
Sudah pukul 10 pagi, namun guru yang datang baru aku dan guru kelas 5 yang menghukum anak-anak tadi pagi. Lalu guru lain? Entah. Setelah istirahat selesai, aku yang sejak pagi keluar masuk kelas 3, kelas 2, juga kelas 4 -untuk mengajar kelas rangkap- kembali melakukannya. Bapak guru yang sedang mengajar di kelas 5 pun melihatnya, entah karena merasa tersindir atau bagaimana, ia mulai mengajar di kelas 6 dan kadang ke kelas 1 juga. Baguslah. Sampai saat ini, aku hanya bisa ‘menyindir’ dengan aku mengerjakannya terlebih dahulu.

***

Hari ke-LX, 13 Agustus 2014. Rabu, pukul 07.00 Wita
Tidak terasa, sudah dua bulan aku berada di sini. 
Saat membuka jurnal harianku, tertulis hari ke-enam puluh. Banyak sekali hal yang sudah aku dapatkan di tempat ini. Tapi, apa yang sudah aku berikan? Dua bulan kulewati lebih banyak dengan mengeluh dan pasrah pada keadaan. Sudahkah aku memberikan sesuatu yang suatu saat, jika ada yang bertanya, “Kalian dapat apa dari engku Hairul?” maka aku berharap ada sesuatu jawaban yang setidaknya bisa membuatku merasa tidak gagal menjadi seorang yang mengabdi di sini. Apa pun itu.
Pernah aku bertanya pada Putra, “Sebenarnya, apa yang kamu harapkan dari seorang Pengajar Muda, Putra?” dan tahu kah kalian apa yang ia jawab?
“Senyum, engku. Karena kami butuh senyuman setiap hari. Karena kami sudah bosan dengan hukuman. Dengan melihat senyuman minimal satu kali setiap pagi, saya akan semangat terus mengikuti pelajaran sampai nanti siang.” Putra diam sesaat, aku tercengang akan jawabannya.
“Dan engku sudah melakukan itu. Bagaimanapun perasaan engku saat itu, meski kami sering nakal, sering membuat kesal, engku selalu tersenyum. Meski kadang senyumnya sambil geleng-geleng kepala yang menandakan engku sudah nggak tahu lagi harus memperlakukan kita seperti apa. Hehehe.”
Benarkah? Sebuah senyuman sangat berharga untuk mereka? Jika iya, maka sudah jelas bahwa aku harus tersenyum setiap saat, bukan?
Sudah tiga hari setelah sekolah kembali beraktivitas, sudah tiga kali pula, aku yang membunyikan lonceng dan memipin apel setiap pagi. Dan tentunya, mengajar lebih dari dua kelas juga menjadi rutinitasku kali ini.
Bukannya aku tidak mau menjalankan ini semua, tapi, bagaimana jika nanti sudah tidak ada Pengajar Muda? Karena tahun depan setelahku, masih ada satu lagi, dan setelahnya tak ada. Kawio kembali melakukan aktivitasnya tanpa ada lagi campur tangan Pengajar Muda. Bukan berarti kami adalah orang-orang yang berjasa besar bagi sekolah atau pulau ini. Tapi, kehadiran kami memang mengharapkan adanya keberlanjutan yang jauh lebih baik dalam hal apa pun, terlebih dalam hal pendidikan.
***

Senja sudah menampakkan dirinya.
Berjalan sepanjang dermaga bersama anak-anak membuat soreku selalu terasa indah. Aku pun juga tidak tahu, selalu ada saja hal-hal yang kami bicarakan sambil menelusuri dermaga panjang ini.
Dan sejatinya benar. Baru aku menyadari, bahwa, anak-anak memang memiliki senyuman dan tertawa yang menenangkan hati siapa saja yang melihatnya.
“Kapan karya kita mau dikirimkan, engku?”
“Akhir bulan ini batas pengumpulan. Mungkin nanti kalau engku ke Tahuna, baru engku kirim lewat pos ke Jakarta. Semoga ada yang berangkat ke Jakarta, ya. Siapa pun dari kalian.”
“Iya, engku. Kan, ada dua lomba, saya hanya ikut satu saja. Tapi semoga satu itu yang lolos. Mau ngerasain naik pesawat,”
“Aamiiiinnnn...”
Ya, semoga saja. Kami sedang berjuang mengikuti beberapa perlombaan yang diadakan untuk seluruh siswa sekolah dasar se-Indonesia. Berharap anak-anakku bisa melihat dunia luar. Semoga.
***

Hari ke-LXI, 14 Agustus 2014. Kamis, pukul 07.58 Wita
“Ayooo... coba kalian tulis ulang huruf-huruf yang ada di papan tulis. Kalau sudah selesai, kumpulkan ke depan. Nanti engku kasih bintang buat kalian.” belum pengumuman selesai aku bicarakan, seluruh siswa kelas 1 yang kali ini aku ajar sudah berlarian ke tempat mereka masing-masing. Menulis dan mencoba menyalin sederetan abjad yang aku beri contoh di papan.
Engku, Freddy ada ambe kita pe pensil[1]!” teriak salah satu siswa di belakang.
“Tala, engku. Konti[2].” setelahnya, aksi kejar-kejaran mengelilingi kelas terjadi. Bukan hanya Freddy dan siswa yang mengadu tadi, hampir semua siswa kelas 1 berlari-lari kemanapun mereka mau.
Aku hanya geleng-geleng kepala. Setelah menyuruh mereka kembali ke tempatnya masing-masing, kini, aku memeriksa satu per satu dari mereka.
Ada hal yang selalu membuat aku tertawa jika mengajar di kelas 1 atau 2. Melihat mereka yang menulis di lantai sambil tiduran, melepas sepatu atau sendal yang mereka pakai, menjadi salah satu pemandangan khas dari kelas kecil ini.
Aku seperti di bawa pada masa kanak-kanak dulu. Bebas. Tidak harus memikirkan kerasnya hidup yang mereka jalani saat ini. Semua terasa natural. Marah, benci, berkelahi, menghasut teman untuk tidak bermain dengan teman yang lainnya, namun, setelahnya, semua kembali seperti sediakala. Bermain bersama lagi. Ahh... indahnya saat-saat itu.
Maka, melihat tingkah anak-anak kelas 1 ini, aku tak begitu banyak melarang mereka saat melakukan apa pun. Tak melarang jika mereka lebih memilih lantai dari pada kursi dan mejanya, lebih memilih nyeker, dari pada sepatu atau sandalnya, dan hanya berkata, “Ayo, kembali duduk. Hati-hati nanti terjatuh kalau lari-lari terus” saat mereka berlari-lari mengelilingi ruang kelas.
Setelah kurasa semua sudah tertib, semua sudah berada di ‘tempat’ mereka masing-masing, aku izin untuk kembali ke kelas yang aku tinggalkan. Lagi dan lagi. Sudah tidak terlalu kaget sebenarnya, baru satu guru yang datang selain aku, dan aku cukup senang, guru-guru sudah mau mengajar selain di kelasnya.
Aku lihat guru kelas 5, sudah masuk ke kelas 6, dan kemarin, kelas 2 diambil alih oleh guru kelas 4. Setidaknya, meski aku tak berbicara secara langsung, dengan melakukannya terlebih dahulu, kurasa strategiku ini berhasil.
***

Hari ke-LXII, 15 Agustus 2014. Jumat, pukul 06.14 Wita
T.G.I.F. Thanks God Its Friday!
Sama seperti hari-hari yang lalu, jumat pagi ini di hiasi dengan hujan sejak tadi. Deras. Sangat deras. Dan seperti saat hujan yang biasa terjadi, kekhawatiran akan kehadiran siswa-siswa di sekolah menjadi salah satu rutinitas untuk dipikirkan.
Di tambah dengan satu kekhawatiran yang setiap hari –tak harus hujan- selalu menyita perhatianku. Akankah siswa-siswa hebat sekolah ini, kembali ‘berbagi’ guru dengan siswa kelas lain? Selain waktu yang mungkin terbagi juga, perhatian dan kasih sayang yang seharusnya bisa mereka terima dengan penuh, lagi dan lagi harus terbagi.
Semoga saja tidak.
Hujan berhenti. Namun, masih menyisakan embun di rerumputan. Basah, dan tercium aroma tanah setelah hujan. Aku menikmatinya sesaat. 
Kulangkahkan kakiku ke pelataran sekolah. Sudah ada beberapa siswa yang datang. Kulihat mereka sedang berganti sendalnya dengan sepatu. Syukurlah. Sekolah kembali ‘hidup’ hari ini.
“Selamat pagi, engku!” terdengar dari beberapa siswa lain yang baru berdatangan.
“Selamat pagi...” jawabku sambil tersenyum.
Lonceng segera dibunyikan. Seperti biasa, banyak siswa-siswa yang mengantri untuk membunyikan lonceng tersebut.
Setelah apel dan berdoa, kami membentuk sebuah barisan dan banjar untuk melakukan senam pagi bersama. Aku memimpin senam pagi di jumat ini seorang diri. Guru-guru belum ada yang datang, sehingga kami semua senam dengan semangat tanpa harus ada yang takut dimarahi.
Aku memang saat ini tidak terlalu peduli akan keterlambatan guru-guruku. Aku juga tidak terlalu ambil pusing akan datang atau tidaknya mereka. Yang jelas, pagi ini, di jumat yang masih sejuk ini, kami senam bersama. Dengan memberi kesempatan pada beberapa siswa untuk memimpin gerakan senamnya. Dari pemanasan, menggerakan kepala, tangan, bahu. Sampai gerakan inti, dan pendinginan diambil oleh beberapa siswa secara bergantian.
“Tangan kanan!” teriak salah satu pemimpin. Memberikan aba-aba untuk mulai bernyanyi sambil berolahraga. Aku sudah mengajarkan beberapa games sebelum memulai pelajaran. Ice breaking.
Tangan kanan ke depan, ke belakang, depan belakang lalu goyangkan.
Tepuk tangan, dan berputarlah. Mudah, kan, caranya?

Semua siswa bernyanyi sambil memeragakan setiap kata dari nyanyian tersebut.

“Tangan kiri!”
Tangan kiri ke depan, ke belakang, depan belakang lalu goyangkan.
Tepuk tangan, dan berputarlah. Mudah, kan, caranya?

“Dua tangan!”
Dua tangan ke depan, ke belakang, depan belakang lalu goyangkan.
Tepuk tangan, dan berputarlah. Mudah, kan, caranya?

“Kaki kanan!”
Kaki kanan ke depan, ke belakang, depan belakang lalu goyangkan.
Tepuk tangan, dan berputarlah. Mudah, kan, caranya?

“Kaki kiri!”
Kaki kiri ke depan, ke belakang, depan belakang lalu goyangkan.
Tepuk tangan, dan berputarlah. Mudah, kan, caranya?

“Dua kaki!”
Dua kaki ke depan, ke belakang, depan belakang lalu goyangkan.
Tepuk tangan, dan berputarlah. Mudah, kan, caranya?
. . .


[1] Ambil pensil punya saya.
[2] Tidak, engku, bohong.

***

Hari ke-LXIII, 16 Agustus 2014. Sabtu, pukul 21.02 Wita
Ada tiga hal yang akan aku ceritakan untuk kalian. Tiga kejadian yang menurutku berkesan di sabtu ini.
Pertama, seperti biasa, kalian sudah tahu dari hari-hari lalu. Aku memimpin apel seorang diri. Guru-guru belum ada yang datang (dan semoga, kata ‘belum’ di sini tidak akan berganti menjadi ‘tidak’).  Namun, bukan ini yang berkesan. Setelah apel selesai, seperti biasa, setiap hari sabtu, akan diadakan ibadah di dalam satu ruangan. Nah, biasanya, ada guru lain yang menjadi pembimbingnya. Atau memimpin mereka untuk memulai ibadah. Entah, sampai pukul delapan tadi pagi, belum ada satu guru pun yang kelihatan batang hidungnya. Akhirnya, dengan meyakinkan diri sendiri, aku yang akan memimpin ibadah ini. 
Lalu, bagian mana yang berkesan? Selama ini, setiap ibadah sabtu, aku hanya duduk di barisan paling belakang, mengawasi, dan mengikuti ibadah dengan diam. Namun hari ini, aku menjadi pemimpin ibadah dan mengatur semuanya dibantu oleh kelas 6. Sempat ada keraguan karena kalian juga tahu, kan? Tapi, keraguan itu langsung ku buang jauh-jauh. Ini untuk mereka. Akhirnya, dengan bekal buku panduan tata cara beribadah, aku yang dibantu kelas 6, memulai ibadah sampai akhir. Satu lagi. Pengalaman baru yang luar biasa.
Kedua, hal yang membuat hari ini berkesan lainnya adalah, menjadi saksi perkelahian, sekaligus perdamaian antara dua orang siswa kelas 2 setelah ibadah selesai. Mereka bernama Tian dan Eldi. Tahu kah? Mereka berdua adalah kakak beradik. Entah siapa yang memulai perkelahian, saat aku mengajar di kelasku, kelas 3, -yang bersebelahan dengan kelasnya- mendengar ada yang menangis kencang sekali. Langsung aku masuk ke kelas mereka, dan sudah terjadi baku hantam antara dua bersaudara ini. Anak-anak yang lain seperti mendapat ‘tontonan’ gratis, maka mereka bertepuk tangan sambil meneriakkan jagoan mereka masing-masing.
“Abe pedaria! Karemase kebi![1]aku mendekati perkumpulan yang tampak lebih mirip dengan arena tinju itu.
Setelah aku tanya tentang kronologis kejadiannya, aku memutuskan untuk membawa Tian ke dalam kelasku. Setelah keadaan sudah kembali tenang, ku tinggalkan kelas 2 dengan tetap membawa Tian yang masih menangis ke dalam kelasku.
“Kamu tetap duduk di sini, engku mau ke kelas 2 lagi. Jangan kemana-mana. Dan jangan ganggu kakak kelas kamu, ya.” setelah beberapa menit, aku kembali menuju kelas 2 yang sudah aku beri tugas menggambar. Aku membawa Eldi, berencana mempertemukan mereka kembali.
“Ayo, jabat tangan. Saling meminta maaf!” perintahku.
Sejak aku berada di sekolah ini, setiap ada siswa yang berkelahi, aku selalu menyelesaikannya dengan berjabatan tangan. Mereka tampak malu-malu saat bilang “Maaf”, namun, seperti yang kita ketahui, anak-anak pasti berbaikan kembali setelah berkelahi. Bermain kembali tanpa mengungkit apa yang baru saja mereka alami.
“Maaf, Yan.” tangan Eldi sudah terjulur. Tian menyambutnya.
“Iya, maafin Ian juga.” Semuanya selesai. Mereka keluar dari kelasku dengan saling meletakkan tangannya di bahu yang lainnya. Berangkulan. Sangat berkesan!
Adapun kisah yang terakhir, yang membuatku berkesan di akhir pekan ini adalah, saat jam istirahat, seperti biasa aku ikut bermain di halaman sekolah bersama anak-anak. Saat sudah berkeringat, aku duduk di bawah pohon cemara yang adem. Tempat favoritku. Anak-anak banyak yang duduk juga disebelahku. Saat ada anak kelas 1 yang ingin duduk dalam pangkuanku, aku memegang pergelangan tangannya, sambil aku melihat kukunya. Dan yang terlihat di sana adalah kuku yang panjang dan hitam. Aku langsung mengambil gunting kuku yang selalu berada dalam tasku, aku potong dengan hati-hati. Aku ingin melihat kuku anak-anak yang lainnya, dan semua sama. Panjang dan hitam.
“Ayo, setiap minggu, kalau kuku kamu sudah panjang seperti ini, minta mamak potongin kukumu, kalau kamu belum bisa potong sendiri.” sambil terus memotong kuku salah satu anak yang duduk di pangkuanku.
“Iya, engku.”
“Kalau kotor seperti ini, kuman bisa masuk saat kamu makan. Apalagi kalau kamu tidak mencuci tangan sebelum makan. Kamu bisa sakit perut nanti.”
“Iya, engku. Kalau bersih, tapi panjang, boleh?” tanya salah satu siswa.
“Bagaimana kamu tahu kalau itu bersih? Hanya karena tidak ada warna hitamnya? Lebih baik, dipotong saja, ya, lebih aman. Kamu tidak khawatir kalau-kalau kukumu yang panjang akan patah, lalu sakit, atau kamu tidak perlu susah-susah untuk membersihkan setiap ada kotoran yang masuk.”
“Iya, ngku. Suka sakit kalau saya lagi main pasir di pantai. Dan lelah juga membersihkannya kalau ada pasir yang masuk. Hehehe,”
“Siip!”
Lebih dari sepuluh siswa kuku jari tangannya aku potong. Mereka semua duduk dalam pangkuanku, dan aku jelaskan akan pentingnya merawat kuku terhadap kesehatannya. Ini sesuatu yang sederhana, hanya mengguntingkan kuku seseorang. Tapi, sepertinya, mereka tampak bahagia setelah melihat kuku-kuku jari tangannya bersih. Tersenyum memandang kukunya sendiri.
“Kassee, engku!”
“Kasse lai”


[1] Jangan berkelahi! Diam semua!
 
(bersambung...)


Komentar

Postingan Populer