CCCLXV - Catatan Harian Pengajar Muda (3)
![]() |
| Bersama PMVI Pulau Kawio di atas Pumpboat |
Hari ke-VI, 20 Juni 2014.
Jumat, pukul 20.01 Wita
Jumat. Selalu suka dengan hari
jumat. Bukan karena aku lahir di hari jumat, tapi karena, hari setelah jumat
itu, biasanya hari berkumpul dengan keluarga, sanak kerabat, juga bisa terbebas
dari rutinitas yang kadang menjemukan. Namun, sebelum aku di tempatkan di
Sangihe ini, sudah diberitahu bahwa aku tidak bisa shalat jumat secara rutin. Saat aku berada di Pulau Kawio nanti,
yang memang semuanya Kristen, maka, shalat
jumat hanya bisa aku lakukan saat aku berada di Tahuna. Dan itu satu atau dua
kali dalam tiap bulannya. Dan ini adalah jumat pertamaku di Sangihe ini.
Ada pemandangan yang berbeda siang ini.
Ketika aku mengambil air wudhu, aku melihat banyak sekali orang yang mengenakan
mukena di dalam masjid. Aku tahu, itu pasti memang wanita, bukan?
“Di sini, wanita juga boleh ikut shalat jumat, Rul,” jelas Kak Luki yang
sepertinya mengetahui kebingunganku sejak aku celingukkan ke dalam masjid.
“Ohh kitu, A. Teu terang abdi mah. Hilaf, euy, mun awewe tiasa shalat
juma’ah[1].
Hehehe,” Jawabku dengan bahasa ‘ayah’, bapakku dan Kak Luki berasal dari
Bandung, sehingga saat aku berbicara dengan Kak Luki, bahasa sunda yang biasa
kita gunakan. Meski bahasanya tidak sehalus bapakku. Sesekali aku usil untuk ‘ngomongin’ orang yang gerak-geriknya
aneh disekliling kita bersama Kak Luki, dengan menggunakan bahasa sunda
pastinya. Hehehe.
Matahari siang ini bertengger dengan
angkuhnya di atas sana. Aku yang mengenakan kaos berlengan pendek dibuatnya
melipir[2]
saat berjalan setelah keluar dari masjid.
“Kunaon,
Rul? Isukan ‘ge, maneh ka Kawio. Meunih
panas teuing. Siap-siap weh, ayeuna mah latihan[3].
Hehehe,” Kak Luki tertawa saat aku mencoba menghindari panas dan berjinjit
diikuti lompatan mencari jalan yang tertutup bayangan gedung atau pepohonan.
“Sudah siap untuk petualangan baru dan
pastinya mengasikkan?” sambungnya.
“Insha
Allah, kudu[4]
siap, A,”
Selain matahari yang angkuh, awan pun
sepertinya bersekongkol untuk tak menampakkan dirinya meski hanya segumpalan
gulali.
[1] Oh gitu, Kak. Nggak tau saya mah. Lupa kalau cewe juga bisa shalat
jumat.
[2] Berjalan kearah pinggir
[3] Kenapa, Rul? Besok juga
kamu ke Kawio. Panas banget.
Siap-siap aja, sekarang ini latihan.
[4] Harus.
***
Hari ke-VII, 21 Juni 2014.
Sabtu, pukul 12.00 Wita
Siang
yang terbilang panas, sangat panas bahkan.
Tiga puluh derajat celcius.
Hari ini, kami menuju pulau atau desa
penempatan kami masing-masing. Bersama dengan kakak pendahulu kami, Bang Didi
dan Mbak Iir sudah berangkat terlebih dahulu pagi tadi. Di susul Revi, Mbak
Afifah, Rizky, Bara, juga aku. Hanya Shaski yang berangkat esok hari.
Penginapan sederhana siang ini dipenuhi keributan kecil. Karena kami yang ingin
berangkat ke pulau, harus mengepakkan barang-barang kami. Membawa semuanya
untuk ‘dititipkan’ selama satu tahun penuh.
“Kami akan menuju rumah kami!” pekik kami
beramai-ramai.
Antusias.
Semuanya berpamitan, pelukan hangat
dari semuanya mengisyaratkan pertanyaan, “Kita beberapa hari lagi masih
bertemu, kan? Dan satu tahun kedepan juga bareng-bareng!”
namun, jujur, mungkin yang aku dan teman-teman rasakan kali ini adalah, sebuah
perasaan ‘menghadapi kemandiriannya’ masing-masing. Ini kali pertama kami
berangkat ke pulau –desa penempatan- kami, tanpa teman yang kami kenal
sebelumnya (hanya dengan kakak pendahulu yang baru kami kenal kurang dari satu
minggu), ini pasti menjadi momen yang ‘berarti’ bagi kami.
Setelah semuanya menuju tempat pemberangkatannya
masing-masing, aku dan Kak Luki menuju tempat dimana pumpboat[1]
kami berada.
“Nah, eta pumpboat na, kumaha? leuwih keren dari rafting jigana, mah[2],”
tunjuk Kak Luki kearah yang namanya pumpboat.
“Waaaw! Serius, Kak?”
“Takut? Rasakan sensasinya!” Kak
Luki meledekku yang terlihat takut memandang pumpboat kecil yang akan menghantarkan kami mengarungi lautan.
[1] Perahu yang terbuat dari
kayu atau bambu, memiliki satu atau dua beuah mesin yang berbahan bakar bensin.
[2] Nah, itu pumpboat-nya. Gimana? Lebih keren dari rafting deh
***
Pulau Kawio, pukul 21.47
Wita
“KAWIO!
KAWIO! KAWIO!!”
Tujuh jam lebih –nyaris delapan jam-
berada di atas pumpboat dari Tahuna.
Kalian tak bisa membayangkan, bukan? Subhanallah, Allahu Akbar,
Alhamdulillahirabbil’alamiin! Segala puji dan syukur aku panjatkan. Kali
pertama dalam hidup, mengarungi lautan luas, menggunakan perahu tak beratap,
duduk paling depan memandang –menghadang lebih tepatnya- lautan. Kanan, kiri,
depan, belakang, dikelilingi air laut yang bahkan, tanganku dapat menggapainya
tanpa harus menjulurkan tangan lebih jauh.
Air yang dari awal berwarna biru muda,
berubah menjadi pekat, abu-abu, sampai berubah menjadi hitam karena malam
menghampiri saat perahu ini masih berada di tengah-tengah lautan. Hati ini tak
berhenti berdoa, sepanjang perjalanan yang memang membuat jantungku berdebar
kencang saat ombak menabrak dan membuat perahu ini seakan terbang terbawa
olehnya. Cengkraman tangan di sisi perahu tergenggam erat, seluruh tubuh basah
dan di penuhi garam, hanya satu doa yang terpanjat tadi, “Ya, Allah, lindungi dan selamatkan kami hingga sampai di pulau.”
Berjam-jam ombak tak tenang,
berjam-jam pula rasa takut ini menghampiri. Namun, melihat jernihnya air laut,
birunya langit, membuatku semakin bersyukur di atas segala kekhawatiranku.
Berada di atas perahu kecil di tengah-tengah hamparan birunya air dipadu dengan
birunya langit, membuatku menyadari betapa ‘kecilnya’ aku di hadapan Tuhan.
Perjalanan panjang ini memang aku
habiskan lebih banyak dengan rasa takut. Namun berjam-jam pula aku berbincang
tentang pelbagai hal dengan Kak Luki. Ia yang sepertinya sudah ‘bersahabat’
dengan pumpboat hanya tertawa
melihatku mencengkram pinggiran perahu, berganti mengencangkan ikatan pelampung
yang aku kenakan, dan tak hentinya berdzikir saat perahu kami ’terbang’ sesaat
dan tak menghitung menit sudah menubrukkan dengan air kembali.
“Kunaon?
Aya keneh teu detakkan jantung maneh[1]?”
tanyanya beberapa kali saat aku memejamkan mata sambil mencengkram pinggiran
perahu.
“Teuing[2],”
jawabku panik beberapa detik kemudian setelah memastikan perahu sudah berjalan
‘sedikit normal’.
“Hahahaha, dulu ‘ge gue gitu. Tapi nggak
se-histeris elu. Padahal ombak waktu
itu lebih besar. Pernah kita kembali lagi ke Tahuna karena gak memungkinkan nerusin
perjalanan.” Sambungnya.
“Kak, eta naon[3]?
Lumba-lumba atau ikan terbang?”
“Ikan terbang. Lumba-lumba juga
sering muncul. Tapi kayaknya lagi malu sama elu.
Hahaha,”
Tiba-tiba suara berisik yang
ditimbulkan dari mesin perahu, mati. Sepi. Senyap. Keadaan mulai mencekam
buatku. Senja yang tadi kami bicarakan sepertinya setuju dengan kematian mesin
ini. tiba-tiba tanpa aku sadari, langit juga semakin menghitam. Abu-abu pekat
lebih tepat. Belum terlihat adanya titik kami akan sampai. Baru kali ini, aku
merindukan sebuah keramaian. Biasanya, keadaan sepi dan tenang selalu sukses
membuatku menyukainya. Namun, kali ini. keadaan sepi akibat suara mesin mati membuatku
amat sangat tidak menikmatinya.
“Kenapa, Opo[4]?”
tanya Kak Luki setelah melihat pengemudi yang dipanggil opo itu menuju kedepan perahu. Memeriksa
sesuatu. Kami masih di atas perahu ditengah laut. Perahu terbawa arus menjauhi
sebuah gundukkan dari kejauhan yang samar-samar terlihat, dan baru aku sadari
kalau gundukkan itu adalah pulau yang akan kami tuju. Pulau Kawio.
“Kehabisan bensin, Mas.” Jawabnya.
Aku semakin takut. Saat itu yang ada di
dalam pikiranku adalah, “kehabisan
bensin? Dimana ada pom bensin di tengah laut gini?” aku pikir, kata
‘kehabisan bensin’ adalah kata-kata yang sering dilontarkan oleh pengemudi
sepeda motor atau mobil di daratan sana. Tapi dengan perahu? Di tengah lautan gini? Ahh...
“Oh, gitu,” jawab Kak Luki singkat.
Apa? Ohh
gitu? Cuma itu jawabannya? Atuh kumaha ieu Gusti nu Agung[5]?
“Tenang, mati mesin karena kehabisan
bensin itu biasa. Mereka bawa isi ulangnya, kok.” Kak Luki melihat opo mengisi bensin yang aku pun melihat
dan mengamatinya.
“Tuh, lihat. Karena perjalanan dari
Tahuna ke Kawio ini gak bisa kalau bensinnya dimasukkin semuanya ke tempat
minyak. Memang pasti akan isi ulang. Tapi biasanya, sebelum habis, sudah diisi
ulang, mungkin kali ini si opo lupa.
Yahh itung-itung kasih surprise buat elu, lah. Hehehe,”
![]() |
| Pulau Kawio dari Kejauhan |
“Aiihhh...”
aku yang sebenarnya masih khawatir sudah mulai lega.
Perahu makin menjauhi pulau. Selama mesin
belum menyala, perahu ini tidak ada yang mengendalikan, sehinggga arus dan
ombak yang mengambil alih. Aku melihat opo
sudah menarik tali mesin. Ia mencoba menghidupinya kembali. Kemudian terdengar
suara khas yang sangat berisik, aku pun lega. Alhamdullillaah. Pumpboat melaju dengan normal kembali,
menuju ke sebuah gundukan yang kemudian Kak Luki memberitahuku tentangnya.
Keadaan yang sudah menuju ke arah gelap,
masih menunjukkan dengan indahnya sebuah pulau kecil jauh di ujung sana, langit
dan awan yang berhasil tertangkap kamera pun terlihat dengan indahnya. Sebuah
lukisan maha karya yang dipandang oleh mata.
Satu jam kemudian perahu sudah
bersandar. Langit gelap.
Ini sudah malam dan betapa indahnya saat
aku mengetahui bahwa, disekeliling pumpboat
ini diterangi oleh kunang-kunang laut. Ya! Kunang-kunang. Dan jumlahnya
banyak sekali. Mereka seperti lampu yang berusaha menerangi perjalanan perahu
kami. Mereka membentuk rantai panjang di sekeliling perahu. Aku sangat
menyukainya. Kerlap-kerlipnya seperti berbisik lembut padaku, “Jangan takut, dalam kegelapan sekalipun,
kami tetap menyinarimu bersama bulan di atas sana tentunya. Selamat datang di
Pulau Kawio.” Aku mengangguk.
Aku menuruni perahu itu.
Sesaat dengan kakiku menginjakkan air
laut yang diselimuti pasir –esoknya aku mengetahui bahwa di sekeliling pulau
ini, pasirnya berwarna putih- seraya berkata dalam hati, “Terimalah aku, wahai, kurang dari satu kilo meter persegiku.”
[1] Kenapa? Masih ada gak detakkan jantung kamu?
[2] Nggak tahu
[3] Itu apa?
[4] Panggilan untuk laki-laki yang usianya lebih tua dari kita dalam bahasa Sangir.
[5] Bagaimana ini ,ya, Allah yang Agung?
***
Hari ke-VIII, 22 Juni 2014.
Minggu, pukul 05.00 Wita
“Engku[1]!!!”
“Engku!!!”
Matahari
saja belum mau menyapa kami. Teriakkan anak-anak di depan kamar Kak Luki
membuat kami terpana. Ini masih pukul lima subuh, kami yang memang setelah shalat subuh tadi tidur kembali masih
belum sadar betul mendengar teriakan mereka. Hari minggu pula, pikirku.
Anak-anak pastinya juga masih terbuai dalam mimpi-mimpi indah mereka.
“Oree,
hadoko[2]!”
jawab Kak Luki sambil membuka jendela di sudut kamarnya yang tak terlalu
besar. “Masih jam lima ini, kemarin janjiannya mau lari pagi pukul enung[3],
eung?” kulihat mata anak-anak berusaha mengintip
kedalam kamar. Mencari keberadaanku.
“Nanti setengah jam lagi engku tunggu di muka[4]
rumah,” pinta Kak Luki lagi. Semua anak-anak kembali ke rumahnya masing-masing,
atau sepertinya bahkan tidak. Mereka menunggu di depan rumah kami. Sedikit agak
jauh.
“Mereka bersemangat sekali, ya,
Kak?” tanyaku,
“Iya, mereka memang aktif sekali.
Kelebihan aktif malah, hehehe,”
“Keren!”
“Siap-siap aja dalam menghadapi keaktifan mereka, Engku Hairul!”
Aku terdiam. Belum percaya
pada apa yang baru saja aku dengar.
Engku?
Engku Hairul? Waahhh...
belum dipanggil oleh siswa-siswa saja, aku sudah senang. Aku memang tahu akan
panggilan itu, dan aku sangat menyukainya. Menurutku, jika aku dipanggil ‘Bapak
Guru’, itu jauh lebih berat. Berat amanahnya, berat pula usia yang tersembunyi
dibalik namanya. Belum siap dipanggil ‘Bapak’, terlalu ‘tua’ buatku. Hehehe.
Setelah merapikan kamar, kami berdua keluar
dari rumah. Anak-anak kontan berlarian menghampiri kami. Aku berkenalan pada
mereka satu-per satu.
[1] Panggilan sapaan untuk
guru laki-laki yang belum menikah dalam bahasa Sangir. Kata E pada kata Engku dibaca seperti huruf E pada
kata Enam. Jika gurunya wanita, maka disapa “Enci”.
[2] Iya, tunggu sebentar.
[3] Enam.
[4] Depan.
***
Bukit Doa, pukul 06.00 Wita
Fajar
mulai merekah, disambut pula dengan kokok ayam memecah kesunyian.
Kami berjalan bersama menelusuri jalan
setapak menuju ujung pulau. Tawa dan canda anak-anak membuat pagiku sempurna.
Burung-burung berwarna putih terlihat berterbangan di atas pohon-pohon kelapa
yang menjulang menantang langit. Udara pagi Pulau Kawio masih terbilang sejuk.
Memang, pulau ini masih sangat asri. Belum terjamah tangan-tangan ‘bisnis’.
Rumput hijau disekitaran pelataran rumah, pohon jeruk limau yang hampir seluruh
rumah memiliki sedikitnya dua buah, juga menjadi hiasan sepanjang jalan. Belum
lagi, anjing-anjing yang berlarian saling kejar-mengejar anjing-anjing lain di
halaman rumah, menjadi pemandangan yang baru bagiku.
“Engku,
kita mau menuju bukit doa di ujung jalan panjang ini.” cerita Putra
Andaria, siswa kelas 5. Putra yang sejak berangkat tadi mensejajarkan denganku,
mulai bercerita tentang bukit doa yang akan kami tuju. Aku sedikit senang
mendengar titel baru pengganti atau pelengkap namaku –Engku!
“Kamu tahu tentang bukit doa itu? Ceritakan
ke Engku, Putra.” Tanyaku penasaran.
“Jadi, kata opa dan oma saya, bukit
doa itu dulunya tempat para raja dan ratu di pulau ini menyimpan barang-barang
berharganya. Seperti piring atau gelas yang terbuat dari emas. Sendok dan garpu
juga dari emas, meja, kursi, semuanya dari emas. Ada juga batu gosok yang konon
barang berharga dari ratu dan raja pulau Kawio. Kata oma dan opa juga, Kawio
ini dulunya sebuah kerajaan, Engku.
Makannya jalanannya sudah mulai tertata rapi, kan?”
“Lalu, sekarang kita semua mau
menuju kesana?” tanyaku, sepertinya asik juga mengunjungi ‘bekas’ kerajaan,
pikirku.
“Tidak boleh, Engku! Ada cerita mistisnya di sana. Kami, atau bahkan opa dan oma
saya juga belum pernah kesana,” perjalanan yang memang sedikit jauh membuat aku
bisa mendengarkan kelanjutan cerita Putra yang semakin menarik.
“Terus?” tanyaku tak sabar,
“Siapa yang menaiki bukit doa itu,
dan mencoba mengambil barang-barang yang ada di sana, mereka tidak bisa kembali
ke Kawio lagi, Engku. Mereka seperti
di tahan. Pernah ada yang bisa menuruni bukit itu, tba-tiba sampai di rumah,
saat ia mau duduk, ia sudah berada di atas bukit itu lagi. Begitu seterusnya
sampai ia mengembalikan barang yang sudah ia ambil.” Putra berhenti. Mengatur
napasnya yang terengah-engah akibat bercerita sambil berjalan.
“Pernah juga seorang tentara yang
mencoba menaiki bukit doa itu. Dan semuanya terulang persis seperti orang-orang
sebelumnya. Alhasil, barang yang ingin di ambil, tidak bisa di bawa dari bukit
doa itu.” jalanan panjang ini melewati sebuah hutan. Banyak pohon kelapa di
kiri dan kanan jalan. Tinggi menjulang dan diberkahi buah kelapa yang melimpah.
Buah kelapa inilah yang menjadi sumber penghasilan warga, kelapa mereka dijadikan kopra untuk dijual di kota
kabupaten.
“Sekarang, barang-barang raja dan
ratunya di mana? Masih ada di atas sana?”
“Dulu memang semua barang berserakan
dimana-mana di atas bukit itu. Tapi sekarang sudah di pendam. Di kubur di atas
bukit doa itu. Pernah juga ada cerita, orang Filipin yang mencari ikan di
Kawio, mengambil barang dari bukit doa itu. Mereka kembali ke Filipin, kong[1]
setelah sampai di sana, jangkar perahunya sudah kembali lagi ke bukit doa
itu. Lengkap bersama orangnya. Cerita yang paling seram, orang-orang yang nekat
mengambil barang-barang di sana, bisa mati, Engku.
Iiihhhh sereemm,” anak ini, baru aku mengenalnya kurang dari satu jam. Sudah
membuatku rindu untuk kembali mendengar semua celotehannya.
[1] Lalu.
![]() |
| Sunrise di bukit doa |
Kami
sudah hampir sampai. Sudah terlihat laut dan sebuah bukit kecil yang harus
menyebrang jika ingin menuju sana.
“Lihat,
Engku! Itu bukitnya!” pekik Putra
sambil menunjuk ke sebuah bukit. Kami yang tertinggal jauh di belakang karena
asik bercerita, harus mengejar mereka. Kami berdua berlari menyusul Kak Luki
dan anak-anak yang lain. Di ujung jalan ini, kami harus menuruni tebing untuk
sampai ke dasar pulau. Kami sudah di sambut dengan pasir putih dan bebatuan
yang besar. Lengkap disajikan bersama dengan air laut yang bening.
“SUBHANALLAAAAHHHH!!!”
teriakku tak percaya melihat pemandangan di depanku. Bahkan warna pasir yang
putih terlihat memang putih di dasar air laut. Jernih.
“Engkuuuu!!!
Ayo turun! Cepat!” teriak Inne –Aldine Barahama, siswi kelas 6.
“Iya, tunggu. Tebingnya licin. Engku belum biasa,” anak-anak yang lain
juga memberi dukungan menyemangatiku. Akhirnya
sampai juga.
Setiba aku di pantai, kami berfoto-foto,
bermain air, berenang, dan kami juga mengunjungi Pantai Ratu atau Pantai Raja
–keduanya adalah sebuah nama pantai yang sama. Pemandangan di sana jauh lebih
indah. Tidak ada batu-batu yang mengalangi kami saat berenang. Semuanya pasir
putih. Sama jernihnya dengan pantai di dekat bukit doa.
“Ayo, kita pulang. Kalian harus
sekolah minggu, kan?” ajak Kak Luki.
Kami semua bergegas pulang. Kami menuju
sebuah sumur pemandian, lalu mandi bersama warga di sana. Sebuah sumur yang
jika musim kemarau, airnya tidak ada. Menurut Kak Luki, beberapa bulan lalu,
sumur itu kering. Sambil mandi, aku bertegur sapa dengan warga yang sedang
mencuci atau mandi juga. Keramahan yang kudapat. Terdegar nyanyian merdu dari
burung-burung yang melintas di atas. Indah.
***
Sekolah Minggu, pukul 07.00
–Gereja Kawio
Memasuki
pelataran gereja, suasana gereja yang pembangunannya belum rampung ini cukup
besar. Sebuah ruang utama yang dipenuhi kursi-kursi pelastik, langit-langit
yang berhiaskan pernak-pernik natal, dan di depan, terlihat sebuah mimbar besar
dan patung Yesus yang berdiri dengan kokohnya menjadi penyempurna gereja itu.
Suasana dalam gereja sudah dipenuhi
dengan anak-anak Kawio yang akan bersekolah minggu. Sebuah pendalaman
pembelajaran agama kristen yang dilakukan setiap minggu pagi. Mungkin, kalau
dalam ajaran kepercayaanku, ini sama dengan halnya mengaji di langgar/Mushola.
Anak-anak terlihat sangat manis, mereka
mengenakan pakain terbaik mereka. Wajah mereka yang hampir seluruhnya dipenuhi
dengan bedak-bedak putih, rambut yang diikat bagi anak perempuan, atau yang
diberi minyak rambut bagi anak laki-laki, menjadi pemandangan yang membuat
siapa saja tersenyum. Mereka rapi dan wangi. Tak luput juga dari pandanganku,
sebuah alkitab yang mereka dekap di dadanya masing-masing.
Ibu Anet Mamintade –seorang guru
pensiunan di sekolahku- bertugas menjadi guru pembimbing sekolah minggu pagi
ini. Ia menaiki mimbar di hadapan anak-anak, mulai berkhutbah dan menceritakan
tentang keberadaan Adam dan Hawa. Siswa-siswa kelas atas (kelas 4-6) yang sudah
bisa membaca, disuruhnya membaca alkitab secara bergantian. Menyampaikan ayat
demi ayat sebuah pasal dalam alkitab, membuat sebuah renungan bersama oleh
seluruh siswa.
Semuanya terlihat khusyuk mendengarkan,
bertanya dan menjawab atas pertanyaan-pertanyaan yang diberikan Ibu Anet.
Setelah pembacaan doa penutup selesai dibacakan, semua anak-anak membubarkan
dirinya. Ada yang kembali kerumahnya masing-masing, ada yang bermain, atau ada
juga yang tetap memilih berada di gereja, karena setelahnya, ibadah minggu di
gereja akan dilaksanakan.
Semua warga akan datang
berbondong-bondong untuk melaksanakan Misa di gereja. Dan aku memilih untuk
tetap berada di sini. Aku akan mengikuti ibadah di gereja. Bukan mengikuti tata
ibadahnya, namun hanya ikut duduk bersama warga. Tentu dengan hanya duduk dan
melihat saja.
Teng.. teng.. teng...
Teng.. teng.. teng...
Teng.. teng.. teng...
Pukulan lonceng ketiga sudah
ditabuhkan oleh petugas, itu tandanya ibadah akan dimulai. Aku dan Kak Luki
memilih mengambil kursi dibagian belakang aula. Aku duduk di sana, dan
mengikuti ibadah ini dengan perasaan yang baru. Ini memang menjadi pengalaman
baru bagiku. Meski teman dan keluargaku juga banyak yang beragama kristen,
mengikuti ibadah secara penuh adalah hal yang baru kali ini aku ikuti.
“Engku,
kok, engku masuk gereja? Engku, kan, beragama Islam?” tanya Putra
tiba-tiba yang duduk di depanku, saat ini pemberkatan sedang berlangsung.
“Memangnya kenapa, Putra? Bukan
berarti engku yang bukan beragama
kristen, tidak boleh masuk gereja, tho? Ssst...
nanti kita sambung lagi pembicaraan ini setelah gereja selesai. Perhatikan
kedepan sana!,” perintahku sambil meletakkan jari telunjuk kananku di depan
mulut. Sebenarnya, aku sedang menyiapkan beberapa jawaban untuknya. Sebuah
jawaban untuk seorang anak kelas 5 SD, memilih kata yang tepat, gumamku.
Setelah Ibu pendeta membacakan
sebuah doa penutup, yang kemudian ia meninggalkan gereja setelahnya, ibadah pun
selesai. Tepat disaat matahari berada di atas kepala kami masing-masing, aku
mohon izin untuk melaksanakan shalat
zuhur terlebih dahulu. Karena setelah Misa di gereja, aku di ajak Kak Luki dan
diperkenalkan dengan pemuda-pemuda dalam perkumpulan ibadah pemuda Kawio.
Ibadah pemuda di sini adalah suatu
perkumpulan para pemuda (remaja masuk di dalamnya, karena jumlah remaja dan
pemuda terbilang sedikit, jika ibadah harus dilaksanakan terpisah) yang dalam
agenda peribadatan, sama seperti ibadah di gereja. Ada pembacaan alkitab, ada
yang khutbah, ada pemberkatan, dan lain-lain.
Namun, ibadah pemuda menjadi salah satu
wadah untuk mempertemukan anak-anak muda pulau, membahas tentang apa yang
sedang terjadi di pulau mereka, juga menjadi satu wadah melatih kepemimpinan.
Karena di dalamnya terdapat ketua, sekertaris, bendahara, juga pembawa acara
yang setiap pekan dibawakan secara bergantian. Kami berkenalan antara satu
dengan lainnya.
“Engku!”
teriak Putra mengagetkan. Bagaimana tidak, kenapa
ditempat ini, Putra datang? Ia bahkan belum berusia 10 tahun untuk dikatakan
remaja, apalagi pemuda. Setelah aku tanya, ternyata, ia mengikuti kakaknya
yang datang untuk ibadah pemuda ini.
“Putra?” aku merangkulnya yang
kemudian ia sudah duduk disebelahku. Beberapa hari ini kami sangat intens untuk
berbicara. Tak heran jika kami sudah langsung dekat, karena Putra memang anak
yang pandai. Ia menjadi juara di kelasnya sejak kelas 1 hingga kini. Ia juga
seorang anak yang baik dan sangat menyayangi ibu dan bapaknya.
“Lanjutkan cerita tadi di gereja, engku. Kenapa engku masuk gereja, bahkan sekarang ikut ibadah pemuda?” pintanya,
“Ohh yang itu,” aku menggarukkan
kepala yang tidak gatal,
“Bukankah kamu sudah mendapatkan
pelajaran kewarganegaraan tentang toleransi beragama? Kalau kamu lupa, engku akan cerita sedikit. Kamu tahu
arti bineka tunggal ika, bukan?”
tanyaku pada Putra yang mendengarkan dengan serius. Aku menginginkan
pembicaraan ini dua arah. Berusaha tidak menggurui atau sejenisnya. Aku hanya
ingin pembicaraan ini tidak terlalu berat.
“Tahu, Engku! Berbeda-beda namun tetap satu!” jawabnya cepat dengan
semangat seperti menjawab soal ujian lisan. Memang sudah kuduga, Putra yang
pintar tidak akan kesulitan dalam menjawab pertanyaanku ini.
“Nah, betul! Itu juga berarti untuk
sebuah agama yang kita anut. Yang kita percayai. Seperti Putra yang beragama
Kristen, engku dan engku Luki yang beragama Islam, juga
teman-teman kita di luar Kawio sana yang beragama Katolik, Hindu, Budha, dan
kepercayaan lainnya. Perbedaan agama ini justru bukan menjadi pemisah, atau
membuat kita harus berkelahi untukmembuktikan ajaran agama mana yang paling
benar. Mangkanya[1]
engku tadi masuk gereja dan sekarang
ikut ibadah pemuda bersama Putra. Engku
tidak mengatakan bahwa ajaran agama engku
yang paling benar, atau ajaran agama lain yang begini dan begitu. Tapi engku
datang karena untuk yang namanya toleransi. Dalam hal ini, toleransi beragama.”
“Kong,
engku berdoanya sama tidak dengan kami?”
“Secara gerakan mungkin berbeda,
saat kalian mengatupkan tengan, disaat itu juga engku menengadahkan tangan. Seperti ini,” aku mempraktekan gerakan
tangan saat umat muslim berdoa. “Tapi,
secara intinya sama, kita berdoa kepada Tuhan, untuk meminta dan memohon
segala ampunan atau meminta mengabulkan semua doa-doa kita.” sambungku.
“Engku
tidak dimarahi sama orang tua engku
kalau masuk gereja?”
“Kenapa harus marah, Putra? Yang
paling penting itu, keyakinan kita tidak berubah hanya karena kita masuk ke
gereja. Atau masuk ke masjid, atau ke tempat-tempat peribadatan lainnya. Bukan
berarti jika engku masuk gereja, lalu
engku dikatakan pindah agama menjadi
Kristen, kan? Atau sebaliknya, jika ada orang yang beragama selain Islam, lalu
masuk ke dalam masjid, lantas berubah agamanya menjadi Islam? Tidak tho? Saat ini, mungkin kamu belum
memahami maksud engku sejak tadi.
Tapi nanti setelah kamu mengerti, cepat atau lambat, hal yang terpenting dalam
sebuah toleransi adalah, menyatukan perbedaan itu sendiri, bukan justru untuk
saling berjauhan. Seperti halnya minyak
dengan air. Mereka memang beda. Tidak bisa disatukan. Tapi, mereka bisa berdampingan,
kan? Malah jadi enak dan sedap saat
makan mie instan, ada air panas dan minyak serta bumbunya disatukan, kan?
Hehehe,” Putra ikutan tersenyum. Anak ini, dengan keingintahuannya yang besar,
semoga kelak menjadi pemikir yang hebat. Aku tersenyum melihat semangatnya yang
besar meski tubuhnya tak sebesar semangatnya.
“Miee intsann... seleraku!” Putra
menirukan sebuah iklan di televisi, kami tertawa.
Kali ini, sepertinya matahari
mendengarkan senandung mie instan Putra tadi, terbukti dengan langit merubah
warnanya menjadi tak seterang tadi –mendung. Angin juga sepakat dengan
memberikan hembusannya yang membuat rambutku bergoyang kecil. Ibadah pemuda juga
selesai.
Setelah acara makan-makan kue dan minum teh
manis, aku dan Kak Luki kembali ke rumah. Setibanya di kamar, aku menuliskan
pengalaman ini di jurnal harianku. Menuliskannya sambil tak hentinya tersenyum.
Hari yang luar biasa. Sebuah hari toleransi. Toleransi beragama yang dulu,
sejak aku sekolah dasar, aku hanya mengetahui toleransi hanya sebagai sebuah
teori atau bahan pembelajaran di buku pembelajaran saja. Namun kini, di usiaku
yang menginjak dua puluh tiga tahun, aku bersyukur telah diberi ‘praktek’
langsung tentang sebuah kata sakti itu, toleransi.
[1] Maka dari itu
(bersambung...)




Komentar
Posting Komentar