CCCLXV - Catatan Harian Pengajar Muda (18)
Hari ke-CXLVII, 08
November 2014. Sabtu, pukul 20.09 Wita
Aroma ombak kali ini berbeda. Deburan dan
angin malam ini membuat kapal yang melaju cepat tak aku hiraukan.
Oi, bagaimana tidak? Ini perjalanan kapal
menuju Manado. Iya, Manado. Seperti menghirup dunia nyata lagi! Baiklah, aku
berlebihan. Yang jelas, kapan lagi kita melihat ‘dunia kota’?
Ranjang di dak 2 ini tidak seperti Sabuk.
Lebih mirip ranjang-ranjang di pengungsian tatkala bencana alam. Semua orang
juga terlihat pasrah di atas kasur hijaunya.
“Sudah siap ke Jakarta, Wes?” tanyaku.
Yang ditanya tak menjawab. Hanya mesem-mesem bersembunyi di ketiak ibunya.
“Itu engku
ada batanya. Ngana so siap?” ibu
yang menjawab.
“Iya.” hanya itu yang keluar dari mulut
kecilnya.
“Nanti, kita tinggal di rumah Kak Stenly
dulu ,ya, Bu. Kakak PM yang asli Sangir juga. Dia kerja di Manado dan tempat
kostnya tidak jauh dari pelabuhan.”
“Iya, engku.
Tapi torang mo pigi ke kost Dedi
dulu. Nanti sore atau sebentar malam torang
ke kost kakak kelasnya.”
“Oh, iya, Bu.” Dedi yang dimaksud adalah
kakaknya Dowes yang sedang kuliah di Manado.
Menurut perkiraan, kami akan tiba di
Manado pukul lima pagi. 10 jam dari Tahuna. Rasa kantuk belum hinggap padaku.
Akhirnya, aku memilih membaca novelku yang belum selesai kubaca.
Harus kuakui, aku sedang tidak enak
badan. Tadi aku diantar Bang Martin, Revi, juga Mbak Iir ke pelabuhan. Kepalaku
pusing dan badanku panas. Tapi, karena tidak ingin menunjukkan ke keluargaku,
maka sebisa mungkin aku terlihat segar.
Setelah semua sudah pulas dalam buaian
dewi malam, aku mencoba peruntungan dengan memejamkan mata. Angka di jam
digitalku sudah berganti menjadi 22.45, aku harus beristirahat agar esok lebih
baik. Sebelum aku tidur, aku mengetik pesan singkatku unutuk Kak Stenly perihal
pertemuan esok pagi.
***
Hari ke-CXLVIII, 09
November 2014. Minggu, pukul 10.25 Wita
Selamat pagi, Manado!
“Yeaaaaahhh!!!” teriakku saat kaki
menginjakkan daratan.
Mengulet
penuh nikmat,
menghirup udara pelabuhan Manado –di tambah bumbu-bumbu suasana ‘dunia nyata’-
membuat semuanya semakin nikmat. Indah.
Kami tiba di Manado hampir pukul setengah
enam. Sambil menunggu Kak Stenly yang sedang dalam perjalanan, aku pamit ke
mushola untuk sholat subuh. Setelah menunggu hampir 15 menit, Kak Stenly datang
(sejujurnya aku lupa wajahnya). Setelah berkenalan dengan keluargaku, dan juga
memberi selamat pada Dowes, kami berpisah. Keluargaku menuju Tomohon –daerah
tempat kost Dedi, sedangkan aku dan Kak Stenly pergi ke kostnya.
“Wah! Itu lampu merah?” tanyaku pada diri
sendiri. Kami menaiki angkutan umum menuju kostan Kak Stenly. Seperti anak desa
yang baru ke kota; anak pulau yang baru ke peradaban, membuat kepala dan mata
ini tak henti-hentinya celingukan.
“Waaaahhh! Ada KFC! Waaaahhhhhh ada
tulisan Pizza Hut!” mataku membulat takjub. Karena hari minggu, kota Manado
yang memang juga mayoritas beragama Kristen, sedang beribadah ke gereja.
Sehingga jalanan tampak lengang.
“Oi, anak pulau! Hati-hati itu mata bisa
copot.” sergah Kak Stenly mengagetkan.
“Hahahaha, iya, Kak. Masih takjub. Lama
banget nggak ngeliat yang beginian.” jawabku nyengir.
“Mall belum buka jam segini. Nanti
setelah Zuhur saja kamu keluar. Itung-itung istirahat dulu di tempat kakak.”
“Sigaaaap!”
***
Solaria Manado Town
Square –Pukul 14.40 Wita
Memang gaya betul anak pulau ini.
Selepas sholat Zuhur, tanpa menunggu hari
makin siang, aku meminta ijin untuk ‘jalan-jalan’. Sepertinya Kak Stenly
mengerti –mantan anak PM. Maka, ia tersenyum sambil bilang, “Hati-hati,
perutmya masih perut Sangir. Nanti kaget ketemu fast food. Hahahaha.”
Sambil mencari spot internet yang asik –hampir di semua tempat- 3G dari handphone ku bisa bekerja sebagaimana
mestinya. Maka tidak buang-buang waktu untuk men-download semua list-list lagu-lagu
atau film yang sudah menjadi inceran. Tak lupa juga pesanan teman-teman terkait
apa saja yang ingin di download.
Makanan pertama yang aku pesan di ‘dunia
nyata’ ini adalah kwetiau goreng seafood-nya
Sola**a. Belum lengkap tanpa menjadi manusia jahat; mengambil gambar, mengirim
ke group whatsapp PM Sangihe, dan,
tersenyum penuh kemenangan. Mereka hanya bisa teriak-teriak menandakan “Gue juga mau!”
Setelah makan, aku berjalan-jalan
mengelilingi Mall ini. Seorang diri pastinya. Oi, tidak di pulau, tidak di
desa, di kota pun demikian. Kasihan.
Puas mengelilingi jajanan yang sudah lama
ngidam, puas baca buku-buku di
Gramedia, maka aku berencana menunggu Dowes, Ibu, juga Bapak untuk bersama-sama
pulang ke tempat Kak Stenly.
“Engku!” teriak Dowes dari seberang
jalan Mall.
***
Hari ke-CXLIX, 10
November 2014. Senin, pukul 14.44 WIB –Bogor
Kalian bisa tebak aku sekarang sedang
berada di mana?
Menyerah?
Baiklah, kalau kalian tidak sabar
menunggu. Aku akan memberitahu.
Sekarang-aku-sedang-berada-di-Bogor! iya,
BOGOR!! yeaaaahhhh!!!
Alhamdulillahirabbil’alamin.
Pukul 6 tadi pagi, pesawat mengantarkan
kami ke Jakarta. Ini kali pertama Dowes dan ibu menaiki pesawat. Jangan ditanya
bagaimana mereka.
Takjub! Tak henti berdoa, dan untuk Dowes yang duduk di dekat
jendela, ia sibuk sekali melihat awan-awan yang seperti meledeknya untuk minta
di kejar. Sedangkan ibu sibuk mendengarkan musik-musik dari headphone dan sibuk memilih lagu di
layar yang berada di hadapannya.
Setelah menempuh perjalanan laut, udara,
dan kini darat, 3 jam perjalanan Manado-Jakarta tidak terasa. Tiba di bandara
Soekarno Hatta sudah di tunggu oleh Kak Luki. Karena waktu registrasi yang
sudah mendekati batas akhir, maka kami langsung menuju tempat perlombaan
diadakan –Bogor. Bus Damri mengantarkan kami sampai terminal Baranangsiang yang
dilanjutkan menaiki ‘taksi’ sampai tiba di hotel.
“Iruuuul!!” teriak seorang wanita setiba
kami berada di hotel.
“Lidya!” aku yang memang sudah tahu
bahwa, Lidya, PM Fakfak-Papua Barat juga mengirimkan satu siswanya dalam
penjurian final ini.
“Alhamdulillah, yah, kita bisa ketemu
sebelum Juni nanti, hehehe,” sambungnya. Kami memperkenalkan murid kami
masing-masing. Juga ibunya Dowes.
Karena hotel tempat kami menginap tidak
memperbolehkan siswa dan guru yang berbeda jenis kelamin untuk tinggal bersama,
maka, Lidya dengan muridnya berada di kamar yang berbeda. Harusnya aku bersama
Dowes bisa satu kamar. Namun, karena Ibu harus menginap di hotel yang berbeda,
maka sudah sangat dipastikan, Dowes ikut dengan ibu.
Alhasil, setelah semua adminitrasi
selesai aku urus, aku kembali ke kamar hotel. Ya, saat ini aku sedang
menuliskan semuanya di atas kasur empuk hotel berbintang. Karena acara
pembukaan baru di mulai pukul 7 malam nanti, maka setelah makan siang, aku
menginjinkan Dowes untuk beristirahat di hotel sebelah bersama ibu.
***
Hari ke-CL, 11
November 2014. Selasa, pukul 08.28 WIB
Kicauan burung pagi ini membuat cuaca
Bogor yang memang dingin semakin syahdu. Ujung-ujung pohon cemara yang berbaris
di sekeliling hotel bergoyang berirama mengikuti hembusan angin. Sedangkan di
balik tembok sana, terlihat hamparan kebun teh hijau yang sudah sibuk dipetikki
oleh para petani. Pemanis dari semuanya adalah, kokohnya gunung yang berdiri
menantang hotel, lengkap selimut kabut putih mengitarinya.
Setelah semalam acara penjurian final
resmi dibuka, maka hari ini adalah hari pengeksekusian. Semua peserta di uji
kembali oleh para juri yang kompeten dibidangnya. Bahkan, ada seorang profesor
yang menguji anak-anak itu. Tak kalah hebat, ada Bapak Taufik Ismail, sang
sastrawan legendaris Indonesia, juga menjadi juri dalam acara ini.
Kami para guru pendamping tidak
diperbolehkan berada di dalam ruangan yang sama. Semua peserta benar-benar
berjuang seorang diri. Sempat kuintip, mereka di suruh membuat cerita dengan
judul yang baru. Setelahnya, satu peserta akan di uji tentang cerita yang sudah
di buatnya oleh masing-masing 5 juri.
Aku khawatir. Dowes memang pintar. Tapi,
ini kali pertama ia menghadapi hal demikian. Semoga ia baik-baik saja.
Karena penjurian ini memakan waktu yang
lama, maka aku berkenalan dengan guru-guru pendamping lainnya. Tak sedikit yang
meminta aku dan Lidya untuk menceritakan tentang Indonesia Mengajar, dan
bagaimana kami semua menjalaninya.
“Saya hanya ingin, anak-anak nun jauh di
sana, juga mendapatkan kesempatan yang sama seperti anak-anak Bapak dan Ibu
guru sekalian di sini.” ujarku.
“Karena menurut kami, bukankah pendidikan
itu adalah hak semua manusia? Baik di kota, atau bahkan di pedalaman ujung
sana.” sambung Lidya.
“Saat mereka tersenyum, itu sudah jauh
lebih dari cukup bagi kami, Pak, Bu.” kataku.
“Maka kami, anak baru yang baru juga
dalam ‘mencicipi’ profesi guru, sangat berterima kasih kepada Bapak dan Ibu
guru sekalian. Menjadi guru itu sangat sulit. Tak hanya mengajarkan pelajaran,
lebih dari pelajaran seperti sikap yang baik, itu yang paling sulit.” semua
guru pendamping tersenyum. Bahkan ada yang sudah menghapus air matanya.
“Tapi, Mas Irul dan Mbak Lidya hebat, lho. Masih muda sudah mau pergi jauh ke
sana.” ucap salah seorang guru
pendamping yang di sambut anggukan kepala guru-guru lain menandakan sependapat
dengannya.
“Hehehe, Kami masih butuh bimbingan dari
Bapak juga Ibu sekalian. Banyak sekali yang harus kami pelajari dari Bapak dan
Ibu semuanya.” jawabku sopan. Setelahnya, kami semua saling bertukar kontak
telepon. Bertemu dengan guru-guru yang hebat-hebat ini membuat aku dan Lidya
semakin bersemangat menjalani sisa-sisa pengabdian kami.
Maka hari itu, selain semua peserta yang
‘pasrah’ pada hasil juri, maka kami guru-guru pendamping juga turut merasakan
hal yang sama. Pasrah.
***
Hari ke-CLI, 12
November 2014. Rabu, pukul 21.17 WIB
Setelah senam pagi dan sarapan, maka hari
ini semua peserta dan guru pendamping diajak ke Taman Safari Indonesia (TSI) di
Bogor. Jaraknya sangat dekat dari hotel, sehingga tidak membutuhkan waktu yang
lama untuk sampai di tempat tersebut.
Dowes juga sangat terhibur mengunjungi
TSI. Ia bisa melihat beraneka hewan. Dari yang sudah dilihat di pulau seperti
ikan, burung, lumba-lumba, dan hewan ‘biasa’ lainnya, kini ia melihat
hewan-hewan yang hanya ia lihat di televisi. Gajah, singa, harimau, jerapah,
dan banyak hewan lainnya yang kini sangat dekat keberadaannya.
“Engku,
itu ada Arga si
manusia harimau dan ganteng-ganteng serigala.” Tunjuk Dowes saat melihat haimau
sedang tidur.
“Iya, hati-hati. Nanti kalau malam, dia
berubah jadi manusia harimau. Tinggal nunggu mana singanya.” jawabku menimpali.
“Konti.
Itu kan cuma di
film.”
“Kalau di Bogor, itu semua jadi nyata,
Wes.”
“Engku
konti. Saya nggak percaya.”
“Ya sudah kalau tidak percaya. Nanti di
hotel, dari jendela kamu, hewan-hewan yang
sudah kamu foto tadi, akan berubah. Hiiiii.”
Wajah Dowes berubah. “Hahahaha, konti, Wes. Makannya jangan sering
nonton manusia harimau sama jelek-jelek serigala itu.” kataku karena melihat
Dowes mulai ketakutan.
Menjelang maghrib, kami menuju ke hotel.
Setelah mengantarkan Dowes ke hotel ibu, dan menceritakan pengalaman hari ini,
aku pamit menuju kamarku. Sebelum tidur, aku menghubungi ibuku. Jarak kami
tidak terlalu jauh sekarang. Mendengarnya saja sudah menghangatkan tubuh yang
kedinginan ini. Selamat malam, Cisarua!
***
Hari ke-CLII, 13
November 2014. Kamis, pukul 19.10 WIB
Hari yang di tunggu-tunggu tiba. Dengan
mengenakan batik yang sudah kami jahit di Tahuna, acara penganugerahan tiba.
Semua peserta dan guru pendamping juga mengenakan batik yang serupa. Terlihat
wajah-wajah senang dari para peserta. Kelima belas peserta tingkat SD juga 15
peserta SMP sudah mendapatkan hadiahnya masing-masing. Dowes cukup puas dengan
berada di nomer urut 15, sedangkan anak Lidya di nomer urut 14.
Setelah foto-foto bersama dan pembagian
hadiah, aku mengantarkan Dowes ke kamar ibu. Sudah sangat senang melihat Dowes
sudah berhasil sejauh ini. Sesungguhnya, 15 yang di undang ke Jakarta adalah
pemenang. Maka, janganlah bersedih karena itu, Dowes.
Dowes luar biasa. Engku bangga dengan Dowes. Sungguh!
Selimut tebal ini membalutku yang
kedinginan. 5 bulan di Sangir yang panas membuatku yang baru beberapa hari saja
terkena dinginnya puncak Bogor menjadi pilek. Suaraku juga habis. Maka di malam
terakhir kami berada di hotel ini, setelah mandi dengan air hangat, dan
menghubungi Bapakku di rumah karena hari ini beliau ulang tahun, aku memilih
untuk beristirahat.
Selamat ulang tahun, Pak.
***
Hari ke-CLIII, 14
November 2014. Jumat, pukul 21.18 WIB
Setelah sholat jumat di Baranangsiang,
kami menuju rumah Kak Deswitha –PM VI Sangihe- sampai kami pulang ke Sangihe
lusa nanti.
Aku bertemu dengan orang-orang terbaik.
Kalian tak mesti tahu, biar aku dan teman-teman saja yang tahu. Biar.
Terima kasih, Bogor!
***
Hari ke-CLIV, 15
November 2014. Sabtu, pukul 17.15 WIB
Hari ini, aku dan Kak Deswitha mengajak
Ibu dan Dowes ke pasar Tanah Abang. Ibu Dowes yang sudah mendengar ‘hebatnya’
pasar Tanah Abang ini ingin melihat secara langsung dan membawa oleh-oleh
darinya.
Baiklah. Tidak orang Jakarta, tidak orang
Sangir, yang namanya ibu-ibu, kalau belanja, cukup membuatku memilih mencari
kursi saja ketimbang ‘olahraga’.
Kasse
bue Kak
Deswitha. Anda menyelamatkan saya. Selamat belanja!
***
Hari ke-CLV, 16
November 2014. Minggu, pukul 16.55 WIB
Belum lengkap kalau ke Jakarta tanpa
melihat Monas.
Karena Monas hanya ada di Jakarta, dan
Dowes sedang di Jakarta, maka pagi tadi, kami semua ke Monas. Sekedar melihat
dan berfoto di depan tugunya.
“Engku,
itu beneran emas
di atas sana?” tanya Dowes.
“Iya, berat, lho.”
“Tidak ada yang mencurinya?”
“Yang mau, sih, banyak. Tapi, susah ambilnya.
Hehehe.”
“Bagaimana cara pasang emas itu di sana?”
oke, aku mencari jawaban.
“Hemm.. pakai tangga nggak mungkin rasanya. Mungkin menggunakan helikopter.” jawabku
ngaco.
“Coba ada spiderman, ya, engku.”
Diam. Kehabisan ide.
Setelah dirasa semua oleh-oleh terbawa,
maka kami berpamitan dengan Kak Deswitha. Pesawat kami akan berangkat pukul
setengah tujuh malam nanti. Sehingga untuk menghindari macetnya Jakarta, maka
pukul 3 sore kami sudah naik taksi menuju bandara.
Sampai jumpa lagi, Jakarta. Aku pasti
akan menginjakkan kembali beberapa bulan lagi.
Tunggu!
(bersambung...)

Komentar
Posting Komentar