CCCLXV - Catatan Harian Pengajar Muda (19)
Hari ke-CLVI, 17
November 2014. Senin, pukul 07.45 Wita –Manado
Duk! Kubuka mataku, masih samar-samar
kulihat sekitar.
Duk! Suara itu terdengar kembali. Kulihat
jam dinding bergambar klub sepak bola AC Milan di atas pintu, masih pukul 7.
Duk!
“Oi, siapa, sih, itu?” malas ku beranjak
dari kasur ini. Selepas sholat subuh tadi, niatnya hanya ingin rebahan. Namun mata tak bisa diajak
kompromi. Pulas.
“Ternyata hanya mangga yang jatuh karena
sudah matang!” periksaku ke luar jendela. Hampir tengah malam kami tiba di
Manado. Setelah mengantarkan Dowes dan ibu ke penginapan yang sudah di pesan
bapak, aku menuju kostan Kak Stenly kembali dengan taksi.
“Pagi, Kak!” sapaku melihat Kak Stenly
yang sudah menyiapkan roti tawar beserta meses di atas meja makan. Aku ikut
duduk bersamanya.
“Roti, Rul. Pasti kamu lapar. Naik
pesawat terakhir memang selalu menguras tenaga.” kini Kak Stenly menuangkan
susu ke dalam gelasku.
“Kasse,
Kak,”
“Sekarang Dowes di mana?” tanya Kak
Stenly. Aku mulai menggigit rotiku.
“Di penginapan dekat pelabuhan, Kak.
Bapaknya Dowes sudah sewa di situ. Biar lebih mudah kalau ingin ke Tahuna.”
jawabku.
“Ooh. Lalu bagaimana finalnya? Sukses?”
“Alhamdulillah, lancar, Kak. Memang harus
lebih berani lagi saja. Selebihnya, tinggal membiasakan bicara bahasa buku. Itu
kata dewan jurinya.”
“Ini pasti kali pertama buatnya, ya? Jadi
wajar saja. Nanti kalau sudah terbiasa juga mudah beradaptasi.”
“Iya. Padahal di pulau, dia aktif sekali.
Terbilang cerewet malah. Tapi pas ke Jakarta, langsung jadi pendiam. Hehehe,”
kini susu cokelat yang aku sambar. Lapar.
“Menang atau kalah, bukan itu yang kita
kejar, tho?”
“Iya, Kak. Lebih dari itu semua. Naik
pesawat, naik busway, lihat monas,
lihat kereta, dan bertemu dengan teman-teman dari sekolah lain, sudah sangat
lebih dari yang saya harapkan. Dowes jadi semakin percaya diri lagi.”
“Tepat sekali. Setidaknya, dalam
hidupnya, akan ada cerita pengalaman pertama kali ke Jakarta. Dan cerita-cerita
lain yang bisa dia bagikan ke teman-temannya di pulau.”
“Semoga, cepat atau lembat, Dowes, juga
anak-anak pulau lainnya, bisa memiliki kesempatan yang sama. Melihat dunia
luar, membuka cakrawalanya. Semoga, Kak.” rotiku sudah habis. Seperti tahu akan
maksud (perut)ku, Kak Stenly menawarkan roti kembali.
“Rencana kamu hari ini apa, Rul?”
“Nanti kapal berangkat jam 7 malam. Jadi
kami sudah harus di pelabuhan jam 6 sore. Dowes bersama ibu dan bapak langsung
bertemu di atas kapal. Setelah zuhur nanti, saya paling ke Mall sebentar.
Banyak titipan dari teman-teman. Maklum, kesempatan langka. Hehehe.”
“Oh, gitu. Sip, lah. Nanti kamu bisa
sendirian, kan? Kakak ada kerjaan soalnya.”
“Bisa, Kak! Saya serahkan semuanya sama
supir oto.”
Sarapan selesai. Setelah mencuci piring
dan gelas yang habis aku pakai, aku berniat mandi. Semalaman badan lengket
membuatku tak berminat lama-lama di atas kasur. Hitung-hitung menunggu waktu
zuhur.
***
“Bread talk? Sudah. J.Co? Ada. Roti Boy?
Siap.” Sebelum menuju pelabuhan, semua barang-barang sudah harus aku cek
terlebih dahulu. Gawat kalau tidak terbeli.
“Pesanan Revi? Ada. Titipan Shaski? Bou seng. Buku UN Mbak Iir? Bungkus!”
“Sudah siap, Rul?” tanya Kak Stenly.
“Sudah, Kak. Semua pesanan teman-teman
sudah terpenuhi. Lihat saja tas saya ini,” jawabku sambil menyodorkan tas-tas
dan barang bawaan lainnya.
“Hahaha, baguslah. Kesempatan banget, ya.”
“Begitulah, Kak. Harap memaklumi anak kost. Hehehe,”
Kami berdua menuju pelabuhan. Kali ini
aku di antar dengan motor. Meski hanya berdua saja, motor bebek Kak Stenly
penuh dengan barang-barang titipan.
Setelah diberitahu bapak melalui sms tentang nomer ranjang yang akan kami
tempati, aku dan Kak Stenly langsung mencari nomer tersebut. Di sana sudah ada
Dowes dan ibu. Kulihat bapak sedang merokok di luar kapal.
“Dowes! Yang sudah ke Jakarta, nih, ya. Kiapa so?” tanya Kak Stenly.
“Senang, Kak.” jawabnya malu-malu.
“Semoga lain kali bisa kembali lagi, ya,
Wes? Belajar yang rajin. Minta Engkunya
ajarin lebih lagi. Biar bisa keliling Indonesia.”
“Ungke,
Kasse bue, eung. Terima
kasih untuk semuanya.” Ucap ibu Dowes.
“Kasse
be lai, Bu.
Semoga ibu dan bapak, juga Dowes, berkenan.” jawab Kak Stenly.
Pengeras suara sudah memperingatkan para
penumpang segera naik ke kapal. Juga untuk pengantar dan para pedagang yang
masih berkeliaran di atas kapal diharuskan turun dari kapal.
“Terima kasih banyak, Kak.” aku
berpamitan dengan Kak Stenly.
“Iya, sama-sama. Terima kasih juga sudah
membawa anak-anak kami ke dunia luar pulau. Semoga semakin banyak lagi yang
berkesempatan sama seperti Dowes.” Kak Stenly sudah turun dari kapal. Setelah
‘klakson’ panjang terdengar untuk yang kedua kalinya, kapal sudah bergerak
menjauhi pelabuhan.
Burung-burung berterbangan. Lambaian
tangan Kak Stenly semakin jauh terlihat. Setelah semuanya hanya seperti
titik-titik sejauh mata memandang, aku masuk ke dalam dek kembali. Kerlipan
lampu-lampu Manado turut mengantarkanku malam ini.
Karena sholat isya sudah aku gabungkan di
waktu maghrib, membaca novel yang baru aku beli di gramedia tadi siang menjadi
pilihanku. Menemani belasan jam ke depan.
Sampai jumpa lagi, Manado.
***
Hari ke-CLVII, 18
November 2014. Selasa, pukul 06.45 Wita –Tahuna
Mentari masih malu-malu menampakkan
dirinya pagi ini. Namun, cahayanya tetap menyinari laut pelabuhan Tahuna.
Memberi kehangatan siapa saja yang kedinginan malam tadi. Sisa-sisa hujan masih
terlihat di sepanjang jalan pelabuhan.
Alhamdulillahirabbil’alamiin. Syukurku
panjatkan pada Sang pemberi pagi.
Setelah menhgubungi Pak Jafar untuk
memesan angkotnya, kami semua di antar ke rumah masing-masing.
Akhirnya, sampai juga ke rumah. Gumamku.
Belum sempat aku membuka pintu rumah, tanpa menjawab salamku, semua warga di
dalam rumah sudah menghampiriku. Bukan menanyakan kabarku. Melainkan menanyakan
barang-barang pesanan mereka.
“Asiiiiikkkk... kasse bue!” teriak Mbak Iir begitu melihat speaker aktif pesanannya.
“Waaahh... akhirnya hape-ku ganti baju juga.” pekik Revi saat melihat capdase handphone yang sudah dikeluarkan
Mbak Iir saat mencari titipannya.
“Waaawww... J.Co????? untuk kita, kan?” Bara langsung menyelidik begitu melihat
kotak dilapisi plastik khas bertuliskan J.Co itu.
“Oi, tidak ada yang nanyain kabar gue? Atau
kabar Dowes?” sindirku.
“Kamu bisa kembali dengan selamat dan
sehat sentausa saja, kami sudah senang, Rul.” jawab Shaski sambil melihat-lihat
buku-buku yang ia pesan.
“Ore
kereee...” jawabku
sambil menuju kamar mandi. Kubiarkan mereka menikmati suasana.
Alhamdulillahirabbil’alamiin. Syukran khair, ya, Rabb.
***
Hari ke-CLVIII, 19
November 2014. Rabu, pukul 14.54 Wita
Tubuhku tak mampu menahannya. Aku tak
bisa berdiri. Badanku panas, kakiku lemas. Mungkin aku terlalu memforsir
tenagaku untuk persiapan ke Jakarta ini. Tubuhku menuntut untuk istirahat
sejenak. Maka hari ini, aku hanya berdiam diri di kamar.
***
Hari ke-CLIX, 20
November 2014. Kamis, pukul 22.05 Wita
Ibu...
Tak
ada ungkapan yang dapat aku siapkan.
Tak
ada kejutan yang dapat aku berikan.
Ibu...
Aku
tahu, jauhnya jarak tak menghalangi derasnya doamu.
Doamu
dekat.
Bahkan,
di setiap tidurku, di setiap jalanku, di setiap semua perbuatanku,
Doamu
semakin dekat.
Ibu...
Lima
puluh tujuh bukan angka sedikit, bukan?
Lima
puluh tujuh di kali tiga ratus enam puluh lima.
Maka
aku tak akan sanggup menghitung.
Berapa
banyak hari-hari yang sudah engkau lalui.
Berapa
banyak dari hari-hari itu engkau habiskan untukku,
Untuk
mendoakanku.
Bahkan,
aku tahu, pernah aku terbangun dari tidurku beberapa tahun lalu,
Remangnya
cahaya lampu kamar,
Tak
membuatku tidak melihat putihnya mukena yang kau kenakan.
Saat
itu, aku hanya berpikir, “Ibu sedang sholat malam seperti biasa,”
Tapi
saat aku ingin melanjutkan tidurku,
Aku
tahu, Bu.
Namaku
kau sebut dalam lirihnya doamu.
“Lindungi
anak-anakku. Berikan terangnya jalan-jalan mereka,”
Kau
sebutkan satu-per satu anakmu, termasuk aku.
“Mudahkan
semua urusan Hairul, anak bungsuku.”
Ya,
aku, anak bungsumu.
“Jangan
tambah kesedihan padanya. Dia sudah sangat mengalah pada semua kakaknya,”
“Berikan
kemudahan dalam menyelesaikan kuliahnya,”
“Dia
harapan kami satu-satunya.”
“Mudahkan
dia,”
“Bahagiakan
dia.”
Tahukah
ibu? Aku tak bisa tidur setelahnya.
Aku
menangis.
Sejak
saat itu, maka aku tak akan mengecewakanmu. Sedikitpun.
Aku
selalu ingin melakukan apa pun untukmu. Juga Bapak.
Selamat
ulang tahun ke-57, Ibu.
Semoga
Allah senantiasa memberikan kelapangan hati, kemurahan rejeki.
Kesabaran
tiada tara padamu.
Untuk
kami, putra dan putrimu.
Tetaplah
tersenyum, Bu.
Tak
ada yang menandingi senyummu.
Dan
tanpa aku minta untuk engkau doakanku, engkau selalu melakukannya,
Maka,
doakan aku agar bisa membuat senyum itu selalu ada di wajahmu.
Menenangiku,
menyemangatiku.
Selamat
ulang tahun, Ibu.
***
Hari ke-CLX, 21
November 2014. Jumat, pukul 17.20 Wita
Tidak
terasa, jumat lalu aku masih berada di keramaian ibu kota bangsa ini. Mengadu
peruntungan dan membuat semuanya seperti mimpi; bisa kembali ke Jakarta sebelum
bulan Juni tahun 2015.
Menjelang
maghrib, dalam mendungnya suasana senja di kontrakan, mengingatkan aku akan
peristiwa sebelum aku berangkat ke Jakarta. Persis di kamar ini.
Baiklah. Aku
akan sedikit menceritakannya pada kalian.
***
“Kamu pernah
menangis?” Tanya salah seorang teman memecah kesunyian kala senja.
“Iya, sering
bahkan!” Jawabku tak berpaling ke sumber suara.
Bagaimana
tidak? Sifat Introvert-ku ini selalu
membuatku memilih menyendiri ketimbang bercerita dengan orang lain, dan tak
jarang menangis adalah cara yang sangat ampuh untuk sekedar menghilangkan
masalah. Plong.
“Lalu,
disaat aku melihatmu memandang kosong keluar jendela itu, apakah kamu sedang
menangis?” Tanyanya lagi. Kali ini aku terpaksa menatapnya. Belum mengerti akan
maksud pertanyaannya.
“Menurutmu?”
Aku balik bertanya.
“Seperti
yang aku lihat, tak ada yang menetes atau mengalir dari kedua mata atau pipimu.
Bahkan linangan di sudut matamu pun kering.”
“Lalu?”
“Nah! Kamu
pernah menangis, bukan? Sering bahkan. Lantas saat ini kamu yang sedari tadi
menatap kosong ke jendela itu sedang tidak menangis. Dalam arti lain, kamu
hanya duduk di sudut rumah kontrakan kita ini, menatap ke jendela, mengamati
senja dengan tidak menangis.” Ia menarik napas sejenak,
“saat kamu
menangis, kemudian pasti akan berhenti. Mungkin bisa sekedar tersenyum atau
bahkan tertawa lagi, kan? Begitu juga dengan permasalahan, Sob!” Kini ia
mendekatiku. Duduk di sebelahku, ikut menatap jendela dan mencoba melihat ke
arah yang aku lihat dari tadi.
“Dan?”
Tanyaku lagi.
“Permasalahan
itu pasti ada. Tak sedikit malah. Apalagi kita masih hidup. Salah satu bentuk
uji tes apakah kita masih hidup atau sudah mati, ya dengan adanya permasalahan
dalam hidup ini. Namun, seperti analogi tentang menangis yang aku tanyakan
tadi, air mata yang kita keluarkan saat menangis itu, kita ibaratkan dengan
suatu permasalahan. Dan sebuah senyuman atau tawa setelah kita menangis itu,
kita ibaratkan dengan kebahagiaan. Jadi, seperti saat kita menangis, mengeluarkan
banyak air mata, percayalah, bahwa air mata itu akan diganti Tuhan dengan
sebuah kebahagiaan. Dalam hal ini adalah senyuman.” Penjelasannya berakhir
tepat rintik hujan mulai membahasi kota di kepulauan kecil ini.
Kulihat
senyumnya mengembang.
Ku
menoleh padanya, “Kamu benar. Bukankah tangis dan tawa itu satu paket yang
Tuhan tawarkan untuk kita, ya?” Senyumku ikut mengembang.
Setidaknya,
aku memiliki sebuah pemikiran baru. Hujan semakin deras, kini sudah masuk musim
penghujan rupanya.
***
Saat pengumuman
yang kami tunggu sudah datang, itu aku anggap suatu kebahagiaan, karena memang
salah satu dari lima belas peserta yang lolos lomba menulis cerita, tingkat SD
dan SMP se-Indonesia adalah muridku. Jumlah peserta yang mengirimkan naskahnya
sekitar 1.200-an tulisan dari seluruh siswa SD se-Indonesia, dan sebanyak
1.900-an naskah untuk tingkat SMP.
Jadi aku
menganggap ini sebuah kebahagiaan, meski masih ada yang mengganjal dari kabar
baik ini.
***
Sebelum aku
menceritakan lebih lanjut tentang kebahagiaan ini, aku ingin menceritakan
terlebih dahulu akan sebuah proses panjang untuk meraih ini semua. Aku menyebutnya dengan, “Dua bulan melawan kemalasan”.
Saat kami
datang di pulau ini, terbersit kabar dari kementerian pendidikan, bahwa telah
diadakannya lomba menulis bagi siswa SD dan SMP yang sudah berjalan sejak awal
tahun, dan akan berakhir beberapa bulan lagi. Siang itu, sebuah poster berwarna
merah yang kami lihat di Dinas Pendidikan membuatku semangat.
Bagaimana
tidak? Setelah aku membaca baik-baik pengumumannya, di sana tertulis hadiah
utama berupa uang jutaan rupiah, dan yang paling membuatku terkesan adalah,
terdapat sebuah kalimat, “15 (lima belas)
peserta terbaik akan diundang ke Jakarta untuk mengikuti seleksi final!”
Maka aku langsung mengatur beberapa teknis pembelajaran untuk murid-muridku
nanti, setelah aku kembali ke pulau.
Di dalam
kepala ku saat itu, adalah, bagaimana caranya membuat murid-murid dari SD
perbatasan yang pelosok ini, pergi ke ibukota negaranya –Jakarta? Bukan untuk
menjadikannya tak cinta tempat kelahiran, namun lebih dari itu. Aku hanya ingin
memberitahu bahwa diluar pulau mereka –yang luas pulaunya saja tak sampai satu
kilo meter persegi- masih ada kehidupan lain. Sebuah kota besar, lebih besar
dari kota yang ada di propinsi mereka sendiri, sehingga mereka bisa membuka
cakrawala, menambah referensi cita-cita mereka, dan sebuah pengalaman berharga
yang mungkin orang tua mereka saja belum sempat ‘mencicipinya’.
Maka, kami,
delapan Pengajar Muda kepulauan ini, memiliki impian yang sama terhadap
murid-murid kebanggaan kami.
Kapalku sudah datang. Dua minggu yang
kunantikan tiba, dan itu berarti kapal untuk ke pulauku akhirnya bersandar di
pelabuhan jua. Sebuah kapal perintis yang akan menghantarkanku mengarungi
lautan, dan akan menyampaikan berita ini secepatnya kepada murid-muridku.
Maka tak sabar menunggu belasan jam dalam
kapal untuk bertemu dengan mereka. Kali ini, semangat itu ikut terlelap
bersamaku di atas kapal. Aku tertidur.
***
“Bapak
kami di Surga, dikuduskanlah atas nama-Mu, datanglah kerajaan-Mu, ...
...
mulai dari saat ini dan untuk selama-lamanya. Amin!”
Pagi di hari selasa itu, setelah doa pagi
yang diucapkan bersama oleh seluruh murid di halaman sekolah, aku meminta ijin
untuk berbicara di depan murid-murid.
“Hormat satu-dua-tiga!” Teriak pemimpin
barisan apel setelah aku berada di depan mereka.
“Slaaamaaat Paaagiiii, Engkuu!” Teriak mereka bersama-sama.
Kulihat senyum tulus mereka. Dua minggu tak melihat mereka, rindu ini yang
membuatku juga senyum-senyum sendiri.
“Selamat pagi, semua! Waahh... pagi ini
kalian semangat sekali. Engku juga
melihat kalian makin khusyu saat berdoa tadi. Tidak ada yang mengintip atau
bahkan bercanda dengan teman disebelahnya. Engku
punya kabar gembira untuk kita semua. Kabar datang dari Jakarta-” belum sempat
melanjutkan, mereka sudah keburu berisik dengan teriakan “HOREE”.
“Tapi berita ini untuk kakak-kakak kelas
empat, lima, dan enam saja, ya.” Sambungku meledek dan tentunya kali ini
terdengar teriakan tak sekompak tadi. Karena untuk kelas 4-6, mereka senang
sekali. Tapi untuk kelas 1-3 teriakan “Hore” mereka berganti menjadi “Yaaahhhh”
dengan nada kecewa.
Aku langsung menceritakan tentang berita
lomba itu.
Aku juga menjanjikan pada mereka bahwa
aku akan siap mengajarkan mereka, mendampingi hingga seluruh karyanya rampung.
Aku juga menceritakan tentang teknis perlombaan. Meski banyak murid yang sudah
mengeluh terlebih dahulu, tapi apel pagi itu kututup dengan memberikan semangat
untuk mereka.
“Dimana ada kemauan, disitu ada jalan.
Tak ada yang tak mungkin bagi Tuhan. Apakah kalian lupa? Saat sekolah minggu di
gereja juga sudah diajarkan bagaimana kuasa dan kasih Tuhan dalam memberikan
semua pertolongan untuk kita semua. Jadi, kalau kalian bersungguh-sungguh untuk
bisa mengikuti perlombaan ini, Engku
percaya, bahwa, Tuhan akan selalu senatiasa bersama kalian. Membantu memberikan
tenaga-Nya untuk kalian semua. Dan kalian jangan takut akan hal itu.” Aku
tersenyum.
Apel pagi itu pun selesai. Petualangan
seru baru akan di mulai. Semua murid kembali ke kelas mereka masing-masing
setelah menyanyikan lagu pujian bersama-sama.
Aku masih optimis. Masih.
Hari-hari berikutnya kesibukan bagi kelas
4 sampai dengan kelas 6 bertambah. Setelah mendapat ijin dari kepala sekolah
dan guru-guru lain, aku mengajarkan mereka setelah aku sholat ashar. Mereka
berkumpul di kelas 4. Oh iya, kalian jangan beranggapan bahwa kelas 4-6
disekolahku itu banyak anak-anaknya, murid di sekolah ini memang tak sampai 50
saat itu bahkan untuk kelas 1-6 (sekarang jumlah murid bertambah menjadi 53
orang karena ada pindahan murid dari Filipina).
Jadi, sore itu, aku mengawali belajar tambahan
tentang menulis hanya diikuti oleh 9 murid. Itu pun ada yang meminta ijin untuk
mengail ikan, atau sekedar mengambil air dari sumur –membantu orangtua mereka
masing-masing. Namun, mereka tetap antusias mengikuti kegiatan ini.
Aku yang sedikit memiliki pengetahuan
tentang bagaimana menulis cerita dengan benar, memberikan beberapa pembelajaran
terkait teknis penulisan, seperti penggunaan tanda baca, penggunaan huruf
kapital, penggunaan bahasa asing dan aku juga memberikan berbagai macam contoh
bacaan dari beberapa tulisan yang pernah aku buat, dari novel-novel koleksiku,
dan juga dari majalah anak-anak yang ada di dalam perpustakaan.
Aku mengijinkan mereka membawa dan
mempelajari satu buah buku cerita dari perpustakaan. Kemudian akan ku tunjukkan
tentang semua teknis penulisan yang sudah ku jelaskan di awal pertemuan.
Sejauh ini proses pembelajaran ini
mengasikkan. Meski harus kuakui, murid-muridku di sini belum terbiasa dengan
menulis sebuah karangan panjang. Apalagi dalam penggunaan bahasa Indonesia, masih
terbilang sulit. Sehingga, masih banyak hal-hal yang perlu ditingkatkan. Namun,
melihat semangat mereka dalam mengikuti lomba ini membuatku juga semangat dalam
mengajari mereka.
“Engku, saya sudah tidak sanggup. Terlalu
banyak untuk mendapatkan 5 halaman.” teriak salah satu murid kelas 4
ditengah-tengah pembelajaran, membuat semuanya berhenti melakukan aktivitasnya
masing-masing,
Memang aku menyuruh mereka menulis dengan
tangan di buku tulis mereka masing-masing minimal 5 halaman baru kemudian
dipindahkan ke dalam laptop. karena memang persyaratan lomba mengatakan
demikian. Peserta diwajibkan menulis 3 halaman kertas A4. Namun, aku menyuruh
mereka menulis 5 halaman, agar saat dipindahkan ke laptop, tulisan bisa
memenuhi persayaratan.
“Ya sudah, semampu kalian. Lagian Engku tidak menyuruh semuanya
diselesaikan hari ini, toh? Masih ada sekitar 6 minggu lagi. Waktu kita
menyelesaikan tulisan ini masih ada 2 bulan kurang. Jadi, kalau kalian sudah
lelah, jangan dipaksakan. Dan pastikan pilih salah satu tema dari 13 tema yang
ada dalam poster lomba tersebut. Pilih sesuai yang kalian minati. Oke?” aku
mencoba menghibur.
“Okeee, Engku!” teriak mereka bersama-sama.
Satu jam pembelajaran sore itu selesai.
Anak-anak kembali ke rumah masing-masing untuk menaruh tasnya, dan beberapa
menit kemudian berlarian mengiringiku ke darmaga. Peluh kami hari itu terbayar
saat kami berenang bersama di laut.
Aku masih optimis. Berkurang sedikit
lebih tepatnya.
Satu bulan tidak terasa sudah kami
lewati. Tidak terasa pula sudah banyak kertas-kertas berganti cerita, berganti
judul, malah jumlah anak-anak yang mengikuti lomba ini sudah berkurang. Hanya
tinggal 4 orang. Itu pun tak sepenuhnya
datang setiap hari pembelajaran. Hingga menuju batas pengumpulan karya, hanya
tersisa 2 orang dari kelas 6, sampai hari dimana aku harus ke kota untuk
mengirimkan karya, hanya tersisa 1 orang, dan itu pun, sebenarnya sudah
menyerah juga. Namun berkat dorongan dari kedua orang tuanya, dan berkat
iming-iming ‘Jakarta’ dan ‘Play station (PS)’ membuat satu buah karya berjudul
“Anak Bahari di Utara Negeri” rampung. Selesai diketik ke dalam 4 halaman A4,
dan dikumpulkan tepat waktu lewat pos.
Dua bulan melawan kemalasan, melawan
keputusasaan selesai juga. Selanjutnya, berdoa adalah cara yang bijak untuk
menyerahkan semuanya pada Tuhan akan semua perjuangan kami, dan menunggu hingga
hampir 2 bulan untuk pengumuman lomba tersebut.
***
Tentunya kalian tak menunggu selama itu
untuk mengetahui kelanjutan perjuangan kami, bukan? Karena saat ini, bahkan
sebelum kalian tahu cerita dua bulan perjuangan kami, kalian sudah tahu bahwa 1
orang yang tersisa di batas pengumpulan karya, 1 orang dari kelas 6, seseorang
yang bernama Dowes Samskarson Sumolang, adalah 1 dari 15 karya yang akan
diundang ke JAKARTA! Alhamdulillahirabbil’alamiin.
Namun, tak selamanya ombak tenang. Tak
selamanya jalan mulus. Tak selamanya pula cuaca cerah. Untuk menjadikan kapten
yang handal, untuk menjadikan pengemudi, dan pilot yang handal, rintangan
seperti ombak, jalan yang tak mulus, dan cuaca yang buruk harus dilewati.
Saat pengumuman bahagia itu datang, saat
seluruh biaya tiket pesawat hingga akomodasi ditanggung seluruhnya oleh
kementerian, disaat itu juga permasalahan baru datang. Dari pulauku menuju
bandara di ibu kota propinsi kami ini, Bandara Samratulangi –Manado, Sulawesi
Utara- masih harus melewati satu hari perjalanan laut ke kabupaten, dan satu
hari menuju propinsi. Semua tidak dijelaskan dalam teknis pemberangkatan, yang
tertera hanya ketika menaiki pesawat sampai kami tiba di Jakarta dan Bogor
(acara penjurian akan dilangsungkan di Puncak-Bogor, Jawa Barat). Semua itu
juga harus menggunakan biaya sendiri (biaya talangan) dan baru akan direimburse
setelah acara final ini selesai. Dengan kata lain, untuk sampai Bogor, kami
harus menggunakan biaya sendiri. Setidaknya, kami harus berpikir untuk bisa
sampai di sana. Dan itu yang menjadi hambatan bagi kami. Kami tak ada dana
untuk itu semua.
***
Tahukah kalian, betapa bersyukurnya
karena aku memiliki kakak Pengajar Muda pendahuluku? Saat semua kurasa
mustahil, saat itu juga, setelah selesai perbincangan dengan temanku di suatu
senja di sudut kontrakan kami, aku menemukan titik cerah.
Hal pertama yang aku lakukan adalah, aku
menghubungi dan menceritakan semuanya pada kakak-kakak pendahuluku.
Menceritakan akan keberhasilan dan prestasi murid sekolah kami, menceritakan
perjuangan kami sampai sejauh ini, dan tentunya menceritakan pula hal yang
membuatku ragu akan ketersediaan dana untuk kami.
Tahukah, kalian? Tuhan memang tak pernah
tidur, dan Tuhan juga selalu menepati janji dan kuasa-Nya. “Tuhan tidak
memberikan suatu ujian melebihi kemampuan hamba-hamba-Nya.” Satu-per satu,
titik terang itu muncul, setelah mendapatkan saran dari kakak pendahuluku,
mulai terhubunglah aku dengan salah seorang Pengajar Muda yang merupakan putra
daerah kepulauan kami, saat ini ia tinggal dan bekerja di ibukota propinsi
–Manado. Berkatnya, setelah aku menceritakan hal yang sama padanya, satu yang
membuatku tenang saat itu adalah, tiket pesawat kami bisa dipesan dan boleh
membayarnya saat biaya reimburse sudah diberikan. Ia juga menjamin tempat
tinggal saat kami di Manado nanti, juga mengantarkan kami ke bandara.
Saat itu juga, setelah mendengar kabar
itu, rasa syukurku tak terperi. Kakak itu juga menceritakan bahwa tiket pesawat
kami dibantu oleh sebuah jasa tour & travel tempat rekannya bekerja, yang
memang peduli dan berkontribusi nyata pada pendidikan anak-anak. Aku semakin
menyadari bahwa, kepedulian itu masih ada. Memang masih ada.
Satu-per satu permasalahan mulai
teratasi.
Masih ada hal yang harus ku selesaikan,
masih ada biaya-biaya seperti biaya kapal, makan, biaya yang berhubungan dengan
administrasi penjurian final ini, dan semua masih harus diperjuangkan.
Seketika aku menyerah dan pasrah saat
sebelum aku menghubungi kakak pendahuluku, terbersit sebuah ide bahwa aku akan
membawa ini hingga ke pemimpin tertinggi propinsi ini. Karena bagaimana tidak,
ini merupakan suatu kebanggaan. 15 dari 1.200-an peserta pemenang yang akan
melakukan penjurian final ke Jakarta, 12 peserta berasal dari Pulau Jawa, 3
peserta dari luar Jawa, dan 1 dari 3 peserta itu adalah muridku, siswa dari
sekolah perbatasan paling utara di negeri kita ini. Bahkan, se-Pulau Sulawesi
ini, hanya muridku yang berhasil untuk mengharumkan Pulau Sulawesi, Sulawesi
Utara secara khususnya. Mengenalkan pada mereka bahwa, Kepulauan Sangihe, satu
dari kabupaten yang berada di Indonesia, memiliki potensi luar biasa akan
generasi penerus bangsa ini. Namun, jarak dan berbagai teknis lainnya membuat ide
ku itu tidak terlaksanakan.
Rencana ku untuk menceritakan hal ini ke
propinsi gagal.
Namun disaat yang bersamaan pula, aku
berencana mendatangi beberapa dinas di kabupaten, berharap mereka masih peduli
akan prestasi anak pulau mereka sendiri. Aku menghubungi kepala Bappeda
kabupaten, mendatangi Dinas Pariwisata, Dinas Perbatasan, juga masyarakat yang
peduli akan nasib pendidikan di kabupaten ini. Tentunya, setelah aku mendapat
persetujuan dari Dinas Pendidikan ketika tak ada dana dari dinas untuk kami.
Maka, semua pepatah itu benar, munculnya
pelangi selepas hujan, munculnya sebuah senyuman saat setelah kita menangis,
kepedulian di kabupaten ini sangat terasa.
Kepala Bappeda kabupaten menyampaikan
kesanggupan untuk membantu kami, dari Dinas Perbatasan juga menyanggupi
membantu kami, dan banyak sekali masyarakat sedikit demi sedikit memberikan
bantuannya kepada kami. Mereka hanya ingin memberikan kesempatan pada anak dari
salah satu pulau kecil di perbatasan, melihat dunia luar. Memberikan sedikit
banyaknya pengalaman luar biasa yang kelak, mungkin, akan membuat perubahan
pada anak tersebut. Hingga suatu saat nanti, anak kebanggan pulau inilah yang
akan merubah kehidupan menjadi jauh lebih baik lagi. Amin!
Perjuangan dan kesungguhan akan niat dan
doa kami sudah sampai pada titik akhir. Sebuah akhir yang pada awalnya aku rasa
tidak mungkin, menjadi sebuah bagian akhir yang penuh rasa syukur. Membuat
senyum-senyum siapa saja ranum terkembang tanpa diminta.
“...
bukan berarti aku tidak mencintai bangsa dan negaraku sendiri. Aku sangat cinta
pada bangsa ini. Pada Negara Kesatuan Republik Indonesia ini. Meski aku berada
di ujung utara perbatasan negara, meski aku banyak mengkonsumsi makanan,
minuman juga alat-alat permainan dari Filipina, saat ditanya oleh guruku
tentang apa nama negaraku saat aku duduk di kelas tiga dulu, aku dengan lantang
menjawab “INDONESIA!!” Aku bangga menjadi bagian dari negara ini. Oleh karena
itu setiap apel pagi yang dilaksanakan setiap hari, sekolahku selalu
menyanyikan lagu-lagu wajib nasional yang dengannya dapat membuat semangat
kebangsaan kami tumbuh....”
Itu sedikit dari tulisan yang Dowes buat.
Mungkin lain waktu aku akan ceritakan semuanya secara lengkap.
Aku hanya ingin memberitahu bahwa
Jakarta, untuk muridku yang satu itu, memberikan satu bahkan jutaan pelajaran
berharga bagi hidupnya. Bertemu dengan profesor, sasatrawan terkemuka, juga
teman-teman dari kota dan pulau lain, adalah hal yang pastinya akan ia
ceritakan pada siapa pun nantinya.
Satu hal yang pasti, aku percaya bahwa,
sebuah air mata akan digantikan dengan sebuah senyuman dan kebahagiaan.
Permasalahan? Pasti dan akan selalu ada
dalam hidup kita. Hanya bagaimana kita menyikapi suatu permasalahan tersebut,
dan jangan mengkhawatirkan akan sebuah kepedulian, aku sendiri merasakannya,
bahwa, peduli dan kepedulian terhadap pendidikan itu masih ada.
Masih.
Dan aku tak menyangsikannya. Satu lagi,
bukan mengingatkan –karena kalian pun pasti tahu- bahwa, Tuhan itu selalu ada,
selalu menjawab dan memberikan bantuan untuk kita, karena, Tuhan adalah pembuat
SKENARIO terindah dalam hidup.
***
Sungguh, kepedulian itu masih ada. Kalian
sudah menyaksikan sendiri, bukan? Kebaikan Kak Stenly, Kak Deswitha, juga
kakak-kakak lain dan tentunya, masyarakat Sangir sendiri.
Maka aku tak akan khawatir.
Maka aku akan selalu yakin.
Saat kita melakukannya dengan hati, maka
akan sampai ke hati juga.
(Bersambung...)

Komentar
Posting Komentar