CCCLXV - Catatan Harian Pengajar Muda (21)
Hari ke-CLXVIII, 29
November 2014. Sabtu, pukul 22.43 Wita
Setengah
lusin kebahagiaan marario itu masih berkumpul di dunia ini.
Mungkin
tetap tak ada yang tahu, kecuali hangatnya air, riuhnya ombak, dan
‘kunang-kunang’ yang memberikan cahayanya tidak pada umumnya.
Berikan
sedikit saja.
Biarlah
marario itu tetap bahagia.
Biar.
Dan
biarkan hanya setengah lusin itu saja yang tahu.
***
Hari ke-CLXIX, 30
November 2014. Minggu, pukul 09.43 Wita
Putihnya
serat kain sebagai alas tidur ternyata membuat tidur terjaga lebih lama.
Setengah
lusin kebahagiaan marario itu masih berkumpul di dunia ini.
Mungkin
tetap tak ada yang tahu, kecuali hangatnya air, riuhnya ombak, dan
‘kunang-kunang’ yang memberikan cahayanya tidak pada umumnya.
Berikan
sedikit saja.
Biarlah
marario itu tetap bahagia.
Biar.
Dan
biarkan hanya setengah lusin itu saja yang tahu.
Karena
esok, mungkin kunang-kunang akan bergantikan jelaga hitam.
Sekali
lagi, biar.
Dan
biarkan hanya setengah lusin itu saja yang tahu.
***
Hari ke-CLXX, 01
Desember 2014. Senin, pukul 06.23 Wita
Putihnya
serat kain sebagai alas tidur ternyata membuat tidur terjaga lebih lama.
Setengah
lusin kebahagiaan marario itu masih berkumpul di dunia ini.
Mungkin
tetap tak ada yang tahu, kecuali hangatnya air, riuhnya ombak, dan
‘kunang-kunang’ yang memberikan cahayanya tidak pada umumnya.
Berikan
sedikit saja.
Biarlah
marario itu tetap bahagia.
Biar.
Dan
biarkan hanya setengah lusin itu saja yang tahu.
Mungkin
tetap tak ada yang tahu, kecuali hangatnya air, riuhnya ombak, dan
‘kunang-kunang’ yang memberikan cahayanya tidak pada umumnya.
Karena
pagi ini, kunang-kunang sudah redup.
Bergantikan
jelaga yang tampak nyata.
Pelita
yang bersaing dengan kelamnya malam.
Terima
kasih untuk semuanya.
Daijou!
Jika kamu
bingung mengapa beberapa hari ini aku menuliskan hal yang sulit sekali kamu
pahami, aku minta maaf.
Dan jika ada orang lain yang ingin tahu,
berikan padaku.
Biar aku yang menjawab semuanya.
Atau, mungkin, marario yang berbahagia bisa membantuku.
***
Hari ke-CLXXI, 02
Desember 2014. Selasa, pukul 05.40 Wita
Mentari pagi ini membuat rasa rindu ini
pada Kawio-ku. Rindu dengan semua tingkah ‘ajaib’ mereka.
Untuk mengobatinya, maukah kamu mendengar
–membaca- tulisan Dowes yang sudah aku janjikan tempo hari?
Baiklah.
Simak ini baik-baik, ya.
***
Anak Bahari Di Utara Negeri
Namaku Dowes Samskarson Sumolang,
tetapi aku biasa disapa oleh teman-temanku Dowes. Tubuhku tidak terlalu tinggi,
bisa dibilang aku paling kecil diantara teman-teman kelasku yang lain. Saat ini
aku duduk dikelas 6 sekolah dasar di SD GMIST (Gereja Masehi Injil Sangihe
Talaud) Smirna Kawio. Kalau dari kabupatenku yaitu Kabupaten Kepulauan Sangihe,
Provinsi Sulawesi Utara, hanya dapat menempuh perjalanan melewati laut sekitar
12-24 jam. Bahkan bisa sampai 2 hari jika menggunakan kapal laut yang sudah
tua. Belum lagi jika keadaan alam tidak mendukung, seperti angin kencang atau
ombak laut yang besar bisa membuat perjalanan semakin lama atau mungkin tidak
bisa berangkat.
Aku tinggal di Desa Pulau Kawio,
Kecamatan Pulau Marore. Desaku lebih dekat dengan Negara Filipina. Bahkan, dari
pantai di ujung pulauku yang tidak terlalu besar ini aku bisa melihat pulau
terluar Filipina yaitu Pulau Balut dan Pulau Saranggani. Menurut ayahku, jarak
pulau kami dengan Negara Filipina tersebut hanya berkisar 37 mil laut atau jika
menggunakan pumboat (perahu yang terbuat dari kayu dan bambu dengan 1 atau 2
mesin berbahan bakar bensin) dapat ditempuh sekitar 3-4 jam saja. Tidak sejauh
jika aku harus ke ibu kota kabupatenku sendiri. Bahkan, di tempatku ini, banyak
warga yang lahir dan besar di Filipina termasuk teman sekolahku juga ada yang
lahir di Filipina, namanya Diana Poae. Di desaku, bahasa Filipina juga menjadi
bahasa sebagian orang yang pernah tinggal disana. Sehingga pulau ku memang
tidak asing dengan negara tersebut.
Ayahku pernah bercerita, saat Filipina
merayakan hari kemerdekaannya setiap pertengahan tahun, kepala desa dan
beberapa perwakilan masyarakat dari pulauku juga diundang untuk menghadiri
upacara di Filipina. Begitupun sebaliknya, saat Negara Indonesia ini merayakan
hari kemerdekaannya di bulan agustus, beberapa perwakilan dari negara tersebut
diundang untuk upacara di kecamatanku. Sebegitu dekatnya aku dengan negara
tersebut. Sampai-sampai, menurut ayahku juga, Filipina adalah pembeli hasil
laut kami (ikan) yang paling banyak. Tidak tanggung-tanggung, mereka ikut
menyelam bersama nelayan-nelayan di pulauku. Sehingga kami memang sangat akrab
dengan negara yang beribukotakan Manila tersebut.
Negara Filipina tidak hanya seputar
tempat kelahiran dan tumbuh besar serta pembeli ikan terbesar bagi pulauku.
Barang-barang sampai makanan khas negara tersebut meski tak banyak juga
mencukupi kebutuhan hidup warga pulauku. Banyak dari makanan dan minumannya
sangat bersahabat denganku juga dengan teman-temanku di sekolah. Kami sangat
menyukainya. Harganya murah dan enak sekali. Sehingga buatku Filipina lebih
dari sekedar negara tetangga seperti yang aku baca di buku atlas
perpustakaanku. Sampai-sampai, guruku yang datang untuk mengabdi di desaku dari
Pulau Jawa pernah bercanda sampai membuatku tertawa terbahak-bahak, “Belahlah
dadaku, disana akan kau temukan bendera bangsa Indonesia. Tapi belahlah
perutku, disana akan kau temukan negara Filipina didalamnya.”
Namun, semua hal yang aku utarakan
diatas bukan berarti aku tidak mencintai bangsa dan negaraku sendiri. Aku
sangat cinta pada bangsa ini. Pada Negara Kesatuan Republik Indonesia ini.
Meski aku berada di ujung utara perbatasan negara, meski aku banyak
mengkonsumsi makanan, minuman juga alat-alat permainan dari Filipina, saat
ditanya oleh guruku tentang apa nama negaraku saat aku duduk dikelas tiga dulu,
aku dengan lantang menjawab “INDONESIA!!” Aku bangga menjadi bagian dari negara
ini. Oleh karenanya setiap apel pagi yang dilaksanakan setiap hari, sekolahku
selalu menyanyikan lagu-lagu wajib nasional yang dengannya dapat membuat
semangat kebangsaan kami tumbuh.
Setiap hari aku bermain ke laut bersama
teman-temanku. Jika cuaca teduh, aku bisa melihat dengan jelas pulau paling
selatan dari Filipina tersebut dan aku semakin menyadari bahwa aku adalah
seorang anak yang berada di pulau terluar bangsa ini. Seperti yang sering aku
dengar, bahwa aku juga adalah sebagian dari orang-orang yang hidup diperbatasan
negara dimana menurut berita, masyarakat perbatasan memiliki
fasilitas-fasilitas yang serba terbatas juga.
Aku tidak menyangkal bahwa di desaku,
di pulauku ini, belum ada listrik yang masuk ke desa. Selama ini aku hanya
hidup dengan menggunakan mesin genset untuk mengalirkan listrik sejak pukul 6
malam sampai pukul 10 malam. Hanya 4 jam aku bisa menikmati acara anak-anak di
televisi yang jumlahnya pun tak banyak jika malam hari. Pernah aku bertemu
dengan seorang teman di kapal laut yang berasal dari kota Manado dalam
perjalanan menuju kabupatenku. Saat itu kami bercerita tentang hobi juga dengan
acara televisi favorit kami masing-masing. Saat ia bercerita, ia menyebutkan
tokoh “Doraemon” dan “Shincan” yang masih asing ditelingaku. Menurutnya, itu
adalah film kartun kesukaannya yang ia tonton setiap hari minggu pagi. Pantas
saja nama dari tokoh kartun yang ia tulis di kertas saat itu tak pernah aku
dengar sebelumnya. Aku tak pernah merasakan asiknya nonton televisi di hari
minggu. Selain memang di desaku listrik dari genset hanya nyala 4 jam di malam
hari, setiap minggu pagi aku pergi bersama teman-temanku untuk berenang ke laut
dan sepulang dari laut aku berangkat ke sekolah minggu di gereja. Sehingga
kartun yang ku ketahui hanya kartun dari sebuah kaset VCD player yang pernah ku
beli saat aku di kabupaten.
Tak hanya itu, saat aku dan
teman-temanku menonton film yang berjudul “Shaolin Soccer” yang aku beli di
kabupaten, guruku yang berasal dari Jawa itu berkata bahwa ia telah menontonnya
sejak ia kecil. Sekitar 11 tahun yang lalu. Perbedaan waktu yang sangat lama
untuk aku bisa tonton sebuah film dan masih banyak hal lainnya yang mungkin
saja aku tertinggal jauh dari anak-anak di kota besar sana.
Selain listrik, desaku juga tidak ada
signal telepon. Meski ada di beberapa titik yang menghadap ke pulau kecamatanku
yang disana ada tower signal, signal tetap sulit dan kami harus berjalan menuju
tempat tersebut. Sehingga signal bukan hal penting yang harus aku pusingkan
jika itu tidak ada. Tak hanya sebatas listrik dan signal, menurut sebagian
kakak-kakak dari desaku yang pernah merantau sekolah ke ibu kota provinsi atau pernah
ke pulau Jawa, pulau atau bahkan kabupatenku tidak ada tempat hiburan atau
tempat mainan untuk anak-anak seperti mall atau taman rekreasi. Sehingga kami
hanya bisa melihat itu dalam acara sinetron yang ibuku selalu tonton di malam
hari.
Fasilitas yang menurut sebagian atau
kebanyakan orang lain serba terbatas untuk pulau perbatasan, aku tetap
mencintai pulauku. Aku tetap jatuh cinta pada pulauku. Menurutku, meskipun
listrik tidak ada, bukan berarti kami tak bisa hidup. Bukan berarti tanpa
adanya listrik 24 jam di desaku, aku tidak bisa merasakan kebahagiaan anak-anak
seperti yang temanku ceritakan di kapal. Dengan aku tidak menonton Doraemon
atau Shincan, dengan cerianya aku sebagai anak-anak menikmati hari libur minggu
pagi kami dengan bermain dan berenang ke laut. Bermain bersama teman-teman
sekolahku mencari ikan, melewati terumbu karang dan bahagianya bermain bersama
birunya bintang laut. Selain itu, tanpa adanya handphone aku bisa leluasa
bermain dengan teman-temanku tanpa harus ada yang terganggu dengan asiknya
bermain gadget yang terkadang dikeluhkan oleh teman sebayaku di kota-kota besar
seperti yang guruku katakan.
Satu hal terpenting lainnya, tanpa
adanya mall atau tempat hiburan rekreasi seperti di kota-kota besar, aku
semakin dapat bersyukur pada Tuhan karena menciptakan keindahan laut beserta
isinya yang luar biasa. Selain itu, sebagai anak Indonesia, aku semakin cinta
dan bangga menjadi anak Indonesia yang seutuhnya. Meski kami tinggal di
perbatasan, meski fasilitas kami terbatas, namun rasa cinta kami kepada bangsa
ini melebihi luasnya lautan dan tak sedikitpun berbatas. Karena Indonesia
adalah negara kepulauan yang sebagian besar wilayahnya terdiri dari lautan.
Meski demikian, aku tak memungkiri
bahwa suatu saat nanti, aku juga ingin menginjakkan kaki ke ibu kota Negara
Indonesia ini. Menginjakkan kaki di Jakarta atau kota-kota besar lainnya untuk
meraih pendidikan tinggi dan atau sekedar menjadikannya sebuah pengalaman dalam
hidupku.
Pulau terluar ini, pulau perbatasan utara
negara bangsa ini menyadariku bahwa aku adalah anak bahari yang hakiki. Aku
adalah anak bahari di utara negeri ini. Sehingga tak ada alasan untuk aku tidak
mencintai negaraku. Sehingga tidak ada yang membuatku ragu meski aku berdekatan
dengan negara lain untuk berjanji dengan segenap jiwa dan ragaku akan selalu
membela tanah airku. AKU CINTA INDONESIA.
***
“...Meski demikian, aku tak memungkiri
bahwa suatu saat nanti, aku juga ingin menginjakkan kaki ke ibu kota Negara
Indonesia ini. Menginjakkan kaki di Jakarta atau kota-kota besar lainnya untuk
meraih pendidikan tinggi dan atau sekedar menjadikannya sebuah pengalaman dalam
hidupku.”
Dan,
harapannya sudah terkabul, bukan? Ia sudah menginjakkan kaki kecilnya di ibu
kota bangsanya. Bangsa kita semua. Tak hanya Jakarta, bahkan. Bogor pun sudah
pernah ia jajaki.
Tahukah
kalian?
Untuk
menghasilkan karya yang menurutku, sangat luar biasa tersebut, kami harus
melewati berbagai macam rintangan. Mungkin kalian juga sudah tahu sebelumnya.
Terkadang,
batinku berkecamuk.
Dengan
aku memberikan semua buku dan tulisan-tulisanku pada murid-muridku, akankah
mereka tidak memiliki gaya bahasa penulisan atau bacaan sendiri?
Karena
bagi mereka yang baru mengenal dunia tulis menulis, dan langsung aku berikan
semua tulisan dan buku-buku yang aku kuasai, aku takut mereka tak memiliki jati
diri.
Kekhawatiran
ini aku tanyakan pada salah satu profesor yang juga sebagai juri dalam lomba
tersebut, menurutnya, untuk saat ini, gaya bahasa, gaya tulisan mereka memang
mungkin terhasut dengan apa yang aku berikan, namun, beranjaknya usia mereka,
beranjak pula tingkat pemahamannya, dan akan memiliki jati dirinya sendiri.
Semoga
saja.
***
Hari ke-CLXXII, 03
Desember 2014. Rabu, pukul 21.20 Wita
Mimpi itu datang kembali.
Mimpi yang selama ini aku tak ingin mengulanginya.
Bahkan sekejap saja dalam tidurku. Sungguh.
Kalian pernah tahu, bahwa ada orang yang
bisa mengontrol mimpinya? Bisa meneruskan mimpi indahnya. Namun, tak bisa
mengontrol mimpi buruknya.
Itu aku.
Jika kalian pernah dengar atau bahkan
juga mengalaminya, aku hanya ingin
tanyakan satu hal.
“Apakah kita normal?”
Sejak kecil, aku sudah menyadarinya. Dan
sejak itu juga aku mengkhawatirkan masalah ini.
Aku bisa mengatur mimpiku.
Bahkan, aku tahu bahwa aku sedang di
dunia mimpi. Aku tahu, meski itu mimpi indah, aku tahu bahwa itu semua hanya
mimpi. Tetapi aku tetap bahagia dan sangat menikmatinya. Tak jarang aku bisa
meneruskannya saat sudah terbangun. Seperti sinetron yang bersambung.
Pun jika itu mimpi buruk, aku juga
mengetahui bahwa itu hanya mimpi. Namun, seberat apa pun usahaku untuk tidak
ingin meneruskannya, sayangnya itu semua tidak bisa kulakukan. Nyatanya, baik
mimpi indah, atau bahkan mimpi buruk sekalipun, aku tetap bisa ‘menikmatinya’.
Pernah juga aku menyadari bahwa aku
sedang bermimpi di dalam mimpi. Maksudku, aku sedang bermimpi. Tapi, aku juga
sedang bermimpi dalam mimpi tersebut. Dan aku tahu bahwa semuanya
memang-hanya-mimpi.
Aaaarrrgggghhhh!!
Kalian bingung? Apalagi denganku.
Baik, aku perjelas.
Misalnya, aku sedang bermimpi indah. Aku
sedang makan pizza yang lezat sekali.
Saat itu, aku tahu ini semua hanya mimpi. Namun, aku tetap menikmati lezatnya pizza tersebut. Sampai tiba-tiba aku
terbangun, baik karena dibangunkan orang lain, atau memang hanya terbangun
sendiri.
Nah, saat aku terbangun tersebut, saat
aku merasa bahwa sayang sekali irisan pizza
terakhir tidak aku habiskan karena aku terbangun, atau sayang sekali pizza tersebut tidak aku bungkus untuk
teman-temanku.
Maka aku bisa meneruskan ‘episode’
keduanya.
Aku hanya butuh memejamkan mataku lagi,
tidak merubah posisi apa pun bahkan sebesar 0,5 cm saat terakhir aku terbangun
tadi, maka, irisan pizza terakhir
sukses masuk ke dalam perutku. Nikmat. Sungguh nikmat meski –nyatanya- aku
sadar itu hanya mimpi.
Seperti malam ini.
Aku terbangun karena mimpi buruk. Selalu
mimpi yang sama sejak tahun 2008 –saat aku kuliah di IPB. Aku bermimpi di
tinggal seseorang yang aku kagumi. Orangnya tidak bisa aku sebutkan di sini.
Tapi intinya, sejak kejadian beberapa tahun lalu, aku selalu memimpikan hal
yang sama. Baik di tinggal karena ia berlari menjauh, atau di tinggal karena
kami tak boleh satu payung berdua saat hujan. Maka, ia pun meninggalkanku
seorang diri di derasnya hujan.
Saat aku terbangun, berbeda dengan mimpi
indah yang tidak akan aku ganti posisinya sampai mimpi itu tersambung kembali,
kali ini aku sebisa mungkin untuk merubah posisiku. Merubahnya sampai
benar-benar tidak sama dengan posisi terakhir. Namun, mimpi tersebut ‘memaksa’
untuk datang kembali. Padahal, aku menginginkan ini episode terakhir. Tamat.
Tak ada episode-episode selanjutnya.
Kalian masih bingung?
Apalagi denganku. Aku sejak kecil sudah
mengalami hal ini. Dan aku tak berani mengkonsultasikan ke psikolog atau
sejenisnya. Aku takut dikira aneh. Gila, bahkan.
Jadi, aku biarkan sampai detik ini.
Temanku Rizky pernah bilang, bahwa ia memiliki teman yang juga mengalami hal yang hampir
sama denganku. Dia lebih ‘hebat’ lagi. Ia bisa meneruskan mimpinya sampai
berhari-hari. Berbeda denganku yang bisa ‘berlanjut’ ke episode 2, 3, atau
selanjutnya hanya di hari yang sama; malam yang sama lebih tepatnya. Sedangkan
temannya Rizky bisa sampai berhari-hari. Dan katanya, itu menyebabkan ia lebih
senang tidur. Karena bisa menjalani hari-hari ‘indah’ setiap saat. Dibandingkan
dengan menghadapi kenyataan di dunia nyata.
Aku ingin sekali bertemu dengannya. Oi,
bagaimana tidak? Selama ini aku merasa ini sangat aneh. Di sekitarku, sampai
saat ini belum aku temukan ‘spesies’ sepertiku. Mengatur dan mengendalikan
mimpi. Meneruskan episode lanjutan dari mimpi-mimpi. Baik mimpi indah, atau
sayangnya, mimpu buruk pun bisa bersambung meski sejujurnya, aku tak
mengendalikannya sama sekali.
Jika kalian ternyata memiliki ‘anugerah’
–untuk tidak aku katakan ‘nasib’- yang sama, bisakah kita berbicara?
Aku hanya ingin memastikan, bahwa, aku
normal. Tidak aneh, atau bahkan gila.
***
Hari ke-CLXXIII, 04
Desember 2014. Kamis, pukul 19.25 Wita
Tak ada yang ingin aku ceritakan hari
ini, daijou! Semua berjalan seperti
biasa. Normal. Aku berpuasa, tidak bersemangat kemanapun, lalu saat maghrib aku
berbuka, dan ngobrol dengan
teman-temanku. Sampai aku memutuskan untuk kembali ke kamarku. Itu saja.
***
Hari ke-CLXXIV, 05
Desember 2014. Jumat, pukul 07.05 Wita
Alhamdulillahirabbil’alamin.
Masih bisa bertemu dengan hari penuh
berkah ini.
A.L.I.F. ALhamdulillah Its Friday
***
Hari ke-CLXXV, 06
Desember 2014. Sabtu, pukul 19.00 Wita
Hanya aku dan Shaski yang tertinggal di
Tahuna. Siang tadi, semua sudah kembali ke pulaunya masing-masing.
***
Hari ke-CLXXVI, 07
Desember 2014. Minggu, pukul 11.00 Wita
Memang, kebahagiaan itu berdampingan
dengan kesedihan.
Pagi ini, angin sepertinya tak mau
melewati kontrakan kami untuk sekedar menyejukkan kami. Hati dan persaan kami.
Baru saja, kami diuji Tuhan.
Apakah kami sabar? Atau justru mengutuki
keadaan?
Rumah kami baru saja kemalingan. Minggu
pagi ini rencanya aku akan mengantarkan Shaski ke panti asuhan. Namun, saat
semuanya sudah siap, Shaski mencar tas dan dompetnya. Seingatnya, ia menaruh
semuanya di atas meja di ruang tengah. Namun, cukup lama mencari, akhirnya
menyadari satu keadaan.
Kami kemalingan.
Kursi ruang tamu sudah bergeser sangat
jauh dari jendela. Jendela kami yang memang tidak memiliki tralis untuk
menjaganya, sudah di bobol. Maling tersebut masuk dan memanjat melalui jendela
tersebut. padahal, jendela tersebut cukup tinggi dari luar.
Kami semakin yakin bahwa kami kemalingan,
ketika melihat uang receh berserakkan di sekitar meja dan kursi ruang tamu.
Mungkin maling itu terburu-buru sehingga uang logamnya berceceran.
Saat menyadari dengan benar keadaan ini,
maka kami langsung mengecek semua barang. Tak hanya tas yang berisikan dompet
beserta uang dan isinya, di dalam tas tersebut terdapat kamera digital, hard disk eksternal, dan uang cash yang akan disumbangkan ke panti
asuhan pagi ini. Laptop Shaski yang berada di dekat televisi pun juga ikut di
curinya. Semua yang hilang merupakan barang Shaski. Aku yang memang tidak
pernah meletakkan barang di luar kamar, tidak kehilangan satu barangpun.
“Allah punya cara lain untuk
mengembalikan sesuatu yang hilang, Shas. Tidak dengan cara yang kita mengerti
sekalipun.” hiburku. Shaski sudah menangis.
“Apa aku kurang beramal, ya, Rul?”
tanyanya di sela isakkannya.
“Hanya Allah yang tahu seberapa jauh amal
atau semua ibadah kita.”
“Kenapa kita bisa tidak menyadarinya, ya?
Padahal, kamar kamu di sebelah ruang tamu. Dan kamu orang yang selalu bangun
jika ada suara sedikitpun.” Shaski masih menangis.
“Entah, Shas. Gue juga nggak tahu. Dan
siapa pun pelakunya, dia atau mereka tahu bahwa kita tinggal berdua. Mereka
sudah mengamatinya. Mengawasi gerak-gerik kita semua.”
“Aku harus mengambil hikmahnya, bukan?
Pelajaran dari musibah ini?” tanyanya.
“Iya. Sebaiknya memang begitu.”
“Aku harus lebih hati-hati lagi untuk
menaruh semua barangku. Aku harus lebih memperkuat amalku.”
“Dan tetap husnuzan, ya, Shas. Tetap berbaik sangka sama Allah.”
“Iya. Benar.” tangisannya berhenti. Ia
sudah menjadi Shaskia yang aku kenal kembali. Shaskia yang seberat apa pun
permasalahan yang ia alami, maka ia selalu bisa tersenyum. Menganggapnya semua
baik-baik saja.
“Nah, itu baru namanya Shaskia Shinta
Rialny. Wonder woman yang diletakkin
di Matutuang. Hahahaha,” aku hanya sebisa mungkin menghiburnya, meski aku tahu
hatinya terdalam sedang sedih.
Maka setelah keadaan kami sudah mulai
membaik, kami melaporkan ke polisi. Menceritakan kejadiannya, dan menyerahkan
semuanya pada pihak yang berwenang untuk menanganinya.
***
Hari ke-CLXXVII, 08
Desember 2014. Senin, pukul 21.20 Wita
Karena ombak besar, kapal yang akan
mengantarkan kami membatalkan perjalanannya. Sehingga kami masih harus menunggu
hari esok untuk kembali ke pulau.
Untuk kamu nun jauh di sana. Di hari ini,
di tanggal ini, semoga kamu baik-baik saja. Semoga harapan dan semua impianmu
di permudah Allah.
Maafkan kesalahanku.
Sungguh, aku hanya ingin silaturrahmi
kita tidak terputus.
Tahukah kamu? Hal itu, kesalahan itu yang
selalu menghampiriku di dalam tenangnya tidurku. Rasa bersalah yang membuatku
selalu ingin mengakhiri mimpiku namun tak bisa kulakukan. Lebih dari 5 tahun
sudah.
Jadi, maafkan aku di harimu ini.
Semoga Allah selalu menjaga niatan
baikmu.
***
Hari ke-CLXXVIII,
09 Desember 2014. Selasa, pukul 01.18 Wita
Bismillah. Semoga selamat sampai Kawio.
Sampai berjumpa kembali, Tahuna.
(bersambung...)

Komentar
Posting Komentar