CCCLXV - Catatan Harian Pengajar Muda (21)

Hari ke-CLXVIII, 29 November 2014. Sabtu, pukul 22.43 Wita

Setengah lusin kebahagiaan marario itu masih berkumpul di dunia ini.
Mungkin tetap tak ada yang tahu, kecuali hangatnya air, riuhnya ombak, dan ‘kunang-kunang’ yang memberikan cahayanya tidak pada umumnya.
Berikan sedikit saja.
Biarlah marario itu tetap bahagia.
Biar.
Dan biarkan hanya setengah lusin itu saja yang tahu.
***
Hari ke-CLXIX, 30 November 2014. Minggu, pukul 09.43 Wita
Putihnya serat kain sebagai alas tidur ternyata membuat tidur terjaga lebih lama.
Setengah lusin kebahagiaan marario itu masih berkumpul di dunia ini.
Mungkin tetap tak ada yang tahu, kecuali hangatnya air, riuhnya ombak, dan ‘kunang-kunang’ yang memberikan cahayanya tidak pada umumnya.
Berikan sedikit saja.
Biarlah marario itu tetap bahagia.
Biar.
Dan biarkan hanya setengah lusin itu saja yang tahu.
Karena esok, mungkin kunang-kunang akan bergantikan jelaga hitam.
Sekali lagi, biar.
Dan biarkan hanya setengah lusin itu saja yang tahu.
***
Hari ke-CLXX, 01 Desember 2014. Senin, pukul 06.23 Wita
Putihnya serat kain sebagai alas tidur ternyata membuat tidur terjaga lebih lama.
Setengah lusin kebahagiaan marario itu masih berkumpul di dunia ini.
Mungkin tetap tak ada yang tahu, kecuali hangatnya air, riuhnya ombak, dan ‘kunang-kunang’ yang memberikan cahayanya tidak pada umumnya.
Berikan sedikit saja.
Biarlah marario itu tetap bahagia.
Biar.
Dan biarkan hanya setengah lusin itu saja yang tahu.
Mungkin tetap tak ada yang tahu, kecuali hangatnya air, riuhnya ombak, dan ‘kunang-kunang’ yang memberikan cahayanya tidak pada umumnya.
Karena pagi ini, kunang-kunang sudah redup.
Bergantikan jelaga yang tampak nyata.
Pelita yang bersaing dengan kelamnya malam.
Terima kasih untuk semuanya.
Daijou! Jika kamu bingung mengapa beberapa hari ini aku menuliskan hal yang sulit sekali kamu pahami, aku minta maaf.
Dan jika ada orang lain yang ingin tahu, berikan padaku.
Biar aku yang menjawab semuanya.
Atau, mungkin, marario yang berbahagia bisa membantuku.
***
Hari ke-CLXXI, 02 Desember 2014. Selasa, pukul 05.40 Wita
Mentari pagi ini membuat rasa rindu ini pada Kawio-ku. Rindu dengan semua tingkah ‘ajaib’ mereka.
Untuk mengobatinya, maukah kamu mendengar –membaca- tulisan Dowes yang sudah aku janjikan tempo hari?
Baiklah.
Simak ini baik-baik, ya.
***
Anak Bahari Di Utara Negeri
Namaku Dowes Samskarson Sumolang, tetapi aku biasa disapa oleh teman-temanku Dowes. Tubuhku tidak terlalu tinggi, bisa dibilang aku paling kecil diantara teman-teman kelasku yang lain. Saat ini aku duduk dikelas 6 sekolah dasar di SD GMIST (Gereja Masehi Injil Sangihe Talaud) Smirna Kawio. Kalau dari kabupatenku yaitu Kabupaten Kepulauan Sangihe, Provinsi Sulawesi Utara, hanya dapat menempuh perjalanan melewati laut sekitar 12-24 jam. Bahkan bisa sampai 2 hari jika menggunakan kapal laut yang sudah tua. Belum lagi jika keadaan alam tidak mendukung, seperti angin kencang atau ombak laut yang besar bisa membuat perjalanan semakin lama atau mungkin tidak bisa berangkat.
Aku tinggal di Desa Pulau Kawio, Kecamatan Pulau Marore. Desaku lebih dekat dengan Negara Filipina. Bahkan, dari pantai di ujung pulauku yang tidak terlalu besar ini aku bisa melihat pulau terluar Filipina yaitu Pulau Balut dan Pulau Saranggani. Menurut ayahku, jarak pulau kami dengan Negara Filipina tersebut hanya berkisar 37 mil laut atau jika menggunakan pumboat (perahu yang terbuat dari kayu dan bambu dengan 1 atau 2 mesin berbahan bakar bensin) dapat ditempuh sekitar 3-4 jam saja. Tidak sejauh jika aku harus ke ibu kota kabupatenku sendiri. Bahkan, di tempatku ini, banyak warga yang lahir dan besar di Filipina termasuk teman sekolahku juga ada yang lahir di Filipina, namanya Diana Poae. Di desaku, bahasa Filipina juga menjadi bahasa sebagian orang yang pernah tinggal disana. Sehingga pulau ku memang tidak asing dengan negara tersebut.
Ayahku pernah bercerita, saat Filipina merayakan hari kemerdekaannya setiap pertengahan tahun, kepala desa dan beberapa perwakilan masyarakat dari pulauku juga diundang untuk menghadiri upacara di Filipina. Begitupun sebaliknya, saat Negara Indonesia ini merayakan hari kemerdekaannya di bulan agustus, beberapa perwakilan dari negara tersebut diundang untuk upacara di kecamatanku. Sebegitu dekatnya aku dengan negara tersebut. Sampai-sampai, menurut ayahku juga, Filipina adalah pembeli hasil laut kami (ikan) yang paling banyak. Tidak tanggung-tanggung, mereka ikut menyelam bersama nelayan-nelayan di pulauku. Sehingga kami memang sangat akrab dengan negara yang beribukotakan Manila tersebut.
Negara Filipina tidak hanya seputar tempat kelahiran dan tumbuh besar serta pembeli ikan terbesar bagi pulauku. Barang-barang sampai makanan khas negara tersebut meski tak banyak juga mencukupi kebutuhan hidup warga pulauku. Banyak dari makanan dan minumannya sangat bersahabat denganku juga dengan teman-temanku di sekolah. Kami sangat menyukainya. Harganya murah dan enak sekali. Sehingga buatku Filipina lebih dari sekedar negara tetangga seperti yang aku baca di buku atlas perpustakaanku. Sampai-sampai, guruku yang datang untuk mengabdi di desaku dari Pulau Jawa pernah bercanda sampai membuatku tertawa terbahak-bahak, “Belahlah dadaku, disana akan kau temukan bendera bangsa Indonesia. Tapi belahlah perutku, disana akan kau temukan negara Filipina didalamnya.”
Namun, semua hal yang aku utarakan diatas bukan berarti aku tidak mencintai bangsa dan negaraku sendiri. Aku sangat cinta pada bangsa ini. Pada Negara Kesatuan Republik Indonesia ini. Meski aku berada di ujung utara perbatasan negara, meski aku banyak mengkonsumsi makanan, minuman juga alat-alat permainan dari Filipina, saat ditanya oleh guruku tentang apa nama negaraku saat aku duduk dikelas tiga dulu, aku dengan lantang menjawab “INDONESIA!!” Aku bangga menjadi bagian dari negara ini. Oleh karenanya setiap apel pagi yang dilaksanakan setiap hari, sekolahku selalu menyanyikan lagu-lagu wajib nasional yang dengannya dapat membuat semangat kebangsaan kami tumbuh.
Setiap hari aku bermain ke laut bersama teman-temanku. Jika cuaca teduh, aku bisa melihat dengan jelas pulau paling selatan dari Filipina tersebut dan aku semakin menyadari bahwa aku adalah seorang anak yang berada di pulau terluar bangsa ini. Seperti yang sering aku dengar, bahwa aku juga adalah sebagian dari orang-orang yang hidup diperbatasan negara dimana menurut berita, masyarakat perbatasan memiliki fasilitas-fasilitas yang serba terbatas juga.
Aku tidak menyangkal bahwa di desaku, di pulauku ini, belum ada listrik yang masuk ke desa. Selama ini aku hanya hidup dengan menggunakan mesin genset untuk mengalirkan listrik sejak pukul 6 malam sampai pukul 10 malam. Hanya 4 jam aku bisa menikmati acara anak-anak di televisi yang jumlahnya pun tak banyak jika malam hari. Pernah aku bertemu dengan seorang teman di kapal laut yang berasal dari kota Manado dalam perjalanan menuju kabupatenku. Saat itu kami bercerita tentang hobi juga dengan acara televisi favorit kami masing-masing. Saat ia bercerita, ia menyebutkan tokoh “Doraemon” dan “Shincan” yang masih asing ditelingaku. Menurutnya, itu adalah film kartun kesukaannya yang ia tonton setiap hari minggu pagi. Pantas saja nama dari tokoh kartun yang ia tulis di kertas saat itu tak pernah aku dengar sebelumnya. Aku tak pernah merasakan asiknya nonton televisi di hari minggu. Selain memang di desaku listrik dari genset hanya nyala 4 jam di malam hari, setiap minggu pagi aku pergi bersama teman-temanku untuk berenang ke laut dan sepulang dari laut aku berangkat ke sekolah minggu di gereja. Sehingga kartun yang ku ketahui hanya kartun dari sebuah kaset VCD player yang pernah ku beli saat aku di kabupaten.
Tak hanya itu, saat aku dan teman-temanku menonton film yang berjudul “Shaolin Soccer” yang aku beli di kabupaten, guruku yang berasal dari Jawa itu berkata bahwa ia telah menontonnya sejak ia kecil. Sekitar 11 tahun yang lalu. Perbedaan waktu yang sangat lama untuk aku bisa tonton sebuah film dan masih banyak hal lainnya yang mungkin saja aku tertinggal jauh dari anak-anak di kota besar sana.
Selain listrik, desaku juga tidak ada signal telepon. Meski ada di beberapa titik yang menghadap ke pulau kecamatanku yang disana ada tower signal, signal tetap sulit dan kami harus berjalan menuju tempat tersebut. Sehingga signal bukan hal penting yang harus aku pusingkan jika itu tidak ada. Tak hanya sebatas listrik dan signal, menurut sebagian kakak-kakak dari desaku yang pernah merantau sekolah ke ibu kota provinsi atau pernah ke pulau Jawa, pulau atau bahkan kabupatenku tidak ada tempat hiburan atau tempat mainan untuk anak-anak seperti mall atau taman rekreasi. Sehingga kami hanya bisa melihat itu dalam acara sinetron yang ibuku selalu tonton di malam hari.
Fasilitas yang menurut sebagian atau kebanyakan orang lain serba terbatas untuk pulau perbatasan, aku tetap mencintai pulauku. Aku tetap jatuh cinta pada pulauku. Menurutku, meskipun listrik tidak ada, bukan berarti kami tak bisa hidup. Bukan berarti tanpa adanya listrik 24 jam di desaku, aku tidak bisa merasakan kebahagiaan anak-anak seperti yang temanku ceritakan di kapal. Dengan aku tidak menonton Doraemon atau Shincan, dengan cerianya aku sebagai anak-anak menikmati hari libur minggu pagi kami dengan bermain dan berenang ke laut. Bermain bersama teman-teman sekolahku mencari ikan, melewati terumbu karang dan bahagianya bermain bersama birunya bintang laut. Selain itu, tanpa adanya handphone aku bisa leluasa bermain dengan teman-temanku tanpa harus ada yang terganggu dengan asiknya bermain gadget yang terkadang dikeluhkan oleh teman sebayaku di kota-kota besar seperti yang guruku katakan.
Satu hal terpenting lainnya, tanpa adanya mall atau tempat hiburan rekreasi seperti di kota-kota besar, aku semakin dapat bersyukur pada Tuhan karena menciptakan keindahan laut beserta isinya yang luar biasa. Selain itu, sebagai anak Indonesia, aku semakin cinta dan bangga menjadi anak Indonesia yang seutuhnya. Meski kami tinggal di perbatasan, meski fasilitas kami terbatas, namun rasa cinta kami kepada bangsa ini melebihi luasnya lautan dan tak sedikitpun berbatas. Karena Indonesia adalah negara kepulauan yang sebagian besar wilayahnya terdiri dari lautan.
Meski demikian, aku tak memungkiri bahwa suatu saat nanti, aku juga ingin menginjakkan kaki ke ibu kota Negara Indonesia ini. Menginjakkan kaki di Jakarta atau kota-kota besar lainnya untuk meraih pendidikan tinggi dan atau sekedar menjadikannya sebuah pengalaman dalam hidupku.
 Pulau terluar ini, pulau perbatasan utara negara bangsa ini menyadariku bahwa aku adalah anak bahari yang hakiki. Aku adalah anak bahari di utara negeri ini. Sehingga tak ada alasan untuk aku tidak mencintai negaraku. Sehingga tidak ada yang membuatku ragu meski aku berdekatan dengan negara lain untuk berjanji dengan segenap jiwa dan ragaku akan selalu membela tanah airku. AKU CINTA INDONESIA.
***
“...Meski demikian, aku tak memungkiri bahwa suatu saat nanti, aku juga ingin menginjakkan kaki ke ibu kota Negara Indonesia ini. Menginjakkan kaki di Jakarta atau kota-kota besar lainnya untuk meraih pendidikan tinggi dan atau sekedar menjadikannya sebuah pengalaman dalam hidupku.”
Dan, harapannya sudah terkabul, bukan? Ia sudah menginjakkan kaki kecilnya di ibu kota bangsanya. Bangsa kita semua. Tak hanya Jakarta, bahkan. Bogor pun sudah pernah ia jajaki.
Tahukah kalian?
Untuk menghasilkan karya yang menurutku, sangat luar biasa tersebut, kami harus melewati berbagai macam rintangan. Mungkin kalian juga sudah tahu sebelumnya.
Terkadang, batinku berkecamuk.
Dengan aku memberikan semua buku dan tulisan-tulisanku pada murid-muridku, akankah mereka tidak memiliki gaya bahasa penulisan atau bacaan sendiri?
Karena bagi mereka yang baru mengenal dunia tulis menulis, dan langsung aku berikan semua tulisan dan buku-buku yang aku kuasai, aku takut mereka tak memiliki jati diri.
Kekhawatiran ini aku tanyakan pada salah satu profesor yang juga sebagai juri dalam lomba tersebut, menurutnya, untuk saat ini, gaya bahasa, gaya tulisan mereka memang mungkin terhasut dengan apa yang aku berikan, namun, beranjaknya usia mereka, beranjak pula tingkat pemahamannya, dan akan memiliki jati dirinya sendiri.
Semoga saja.
***
Hari ke-CLXXII, 03 Desember 2014. Rabu, pukul 21.20 Wita
Mimpi itu datang kembali.
Mimpi yang selama ini aku tak ingin mengulanginya. Bahkan sekejap saja dalam tidurku. Sungguh.
Kalian pernah tahu, bahwa ada orang yang bisa mengontrol mimpinya? Bisa meneruskan mimpi indahnya. Namun, tak bisa mengontrol mimpi buruknya.
Itu aku.
Jika kalian pernah dengar atau bahkan juga mengalaminya, aku  hanya ingin tanyakan satu hal.
“Apakah kita normal?”
Sejak kecil, aku sudah menyadarinya. Dan sejak itu juga aku mengkhawatirkan masalah ini.
Aku bisa mengatur mimpiku.
Bahkan, aku tahu bahwa aku sedang di dunia mimpi. Aku tahu, meski itu mimpi indah, aku tahu bahwa itu semua hanya mimpi. Tetapi aku tetap bahagia dan sangat menikmatinya. Tak jarang aku bisa meneruskannya saat sudah terbangun. Seperti sinetron yang bersambung.
Pun jika itu mimpi buruk, aku juga mengetahui bahwa itu hanya mimpi. Namun, seberat apa pun usahaku untuk tidak ingin meneruskannya, sayangnya itu semua tidak bisa kulakukan. Nyatanya, baik mimpi indah, atau bahkan mimpi buruk sekalipun, aku tetap bisa ‘menikmatinya’.
Pernah juga aku menyadari bahwa aku sedang bermimpi di dalam mimpi. Maksudku, aku sedang bermimpi. Tapi, aku juga sedang bermimpi dalam mimpi tersebut. Dan aku tahu bahwa semuanya memang-hanya-mimpi.
Aaaarrrgggghhhh!!
Kalian bingung? Apalagi denganku.
Baik, aku perjelas.
Misalnya, aku sedang bermimpi indah. Aku sedang makan pizza yang lezat sekali. Saat itu, aku tahu ini semua hanya mimpi. Namun, aku tetap menikmati lezatnya pizza tersebut. Sampai tiba-tiba aku terbangun, baik karena dibangunkan orang lain, atau memang hanya terbangun sendiri.
Nah, saat aku terbangun tersebut, saat aku merasa bahwa sayang sekali irisan pizza terakhir tidak aku habiskan karena aku terbangun, atau sayang sekali pizza tersebut tidak aku bungkus untuk teman-temanku.
Maka aku bisa meneruskan ‘episode’ keduanya.
Aku hanya butuh memejamkan mataku lagi, tidak merubah posisi apa pun bahkan sebesar 0,5 cm saat terakhir aku terbangun tadi, maka, irisan pizza terakhir sukses masuk ke dalam perutku. Nikmat. Sungguh nikmat meski –nyatanya- aku sadar itu hanya mimpi.
Seperti malam ini.
Aku terbangun karena mimpi buruk. Selalu mimpi yang sama sejak tahun 2008 –saat aku kuliah di IPB. Aku bermimpi di tinggal seseorang yang aku kagumi. Orangnya tidak bisa aku sebutkan di sini. Tapi intinya, sejak kejadian beberapa tahun lalu, aku selalu memimpikan hal yang sama. Baik di tinggal karena ia berlari menjauh, atau di tinggal karena kami tak boleh satu payung berdua saat hujan. Maka, ia pun meninggalkanku seorang diri di derasnya hujan.
Saat aku terbangun, berbeda dengan mimpi indah yang tidak akan aku ganti posisinya sampai mimpi itu tersambung kembali, kali ini aku sebisa mungkin untuk merubah posisiku. Merubahnya sampai benar-benar tidak sama dengan posisi terakhir. Namun, mimpi tersebut ‘memaksa’ untuk datang kembali. Padahal, aku menginginkan ini episode terakhir. Tamat. Tak ada episode-episode selanjutnya.
Kalian masih bingung?
Apalagi denganku. Aku sejak kecil sudah mengalami hal ini. Dan aku tak berani mengkonsultasikan ke psikolog atau sejenisnya. Aku takut dikira aneh. Gila, bahkan.
Jadi, aku biarkan sampai detik ini.
Temanku Rizky pernah bilang, bahwa ia memiliki teman yang juga mengalami hal yang hampir sama denganku. Dia lebih ‘hebat’ lagi. Ia bisa meneruskan mimpinya sampai berhari-hari. Berbeda denganku yang bisa ‘berlanjut’ ke episode 2, 3, atau selanjutnya hanya di hari yang sama; malam yang sama lebih tepatnya. Sedangkan temannya Rizky bisa sampai berhari-hari. Dan katanya, itu menyebabkan ia lebih senang tidur. Karena bisa menjalani hari-hari ‘indah’ setiap saat. Dibandingkan dengan menghadapi kenyataan di dunia nyata.
Aku ingin sekali bertemu dengannya. Oi, bagaimana tidak? Selama ini aku merasa ini sangat aneh. Di sekitarku, sampai saat ini belum aku temukan ‘spesies’ sepertiku. Mengatur dan mengendalikan mimpi. Meneruskan episode lanjutan dari mimpi-mimpi. Baik mimpi indah, atau sayangnya, mimpu buruk pun bisa bersambung meski sejujurnya, aku tak mengendalikannya sama sekali.
Jika kalian ternyata memiliki ‘anugerah’ –untuk tidak aku katakan ‘nasib’- yang sama, bisakah kita berbicara?
Aku hanya ingin memastikan, bahwa, aku normal. Tidak aneh, atau bahkan gila.
***
Hari ke-CLXXIII, 04 Desember 2014. Kamis, pukul 19.25 Wita
Tak ada yang ingin aku ceritakan hari ini, daijou! Semua berjalan seperti biasa. Normal. Aku berpuasa, tidak bersemangat kemanapun, lalu saat maghrib aku berbuka, dan ngobrol dengan teman-temanku. Sampai aku memutuskan untuk kembali ke kamarku. Itu saja.
***
Hari ke-CLXXIV, 05 Desember 2014. Jumat, pukul 07.05 Wita
Alhamdulillahirabbil’alamin.
Masih bisa bertemu dengan hari penuh berkah ini.
A.L.I.F. ALhamdulillah Its Friday
***
Hari ke-CLXXV, 06 Desember 2014. Sabtu, pukul 19.00 Wita
Hanya aku dan Shaski yang tertinggal di Tahuna. Siang tadi, semua sudah kembali ke pulaunya masing-masing.
***
Hari ke-CLXXVI, 07 Desember 2014. Minggu, pukul 11.00 Wita
Memang, kebahagiaan itu berdampingan dengan kesedihan.
Pagi ini, angin sepertinya tak mau melewati kontrakan kami untuk sekedar menyejukkan kami. Hati dan persaan kami.
Baru saja, kami diuji Tuhan.
Apakah kami sabar? Atau justru mengutuki keadaan?
Rumah kami baru saja kemalingan. Minggu pagi ini rencanya aku akan mengantarkan Shaski ke panti asuhan. Namun, saat semuanya sudah siap, Shaski mencar tas dan dompetnya. Seingatnya, ia menaruh semuanya di atas meja di ruang tengah. Namun, cukup lama mencari, akhirnya menyadari satu keadaan.
Kami kemalingan.
Kursi ruang tamu sudah bergeser sangat jauh dari jendela. Jendela kami yang memang tidak memiliki tralis untuk menjaganya, sudah di bobol. Maling tersebut masuk dan memanjat melalui jendela tersebut. padahal, jendela tersebut cukup tinggi dari luar.
Kami semakin yakin bahwa kami kemalingan, ketika melihat uang receh berserakkan di sekitar meja dan kursi ruang tamu. Mungkin maling itu terburu-buru sehingga uang logamnya berceceran.
Saat menyadari dengan benar keadaan ini, maka kami langsung mengecek semua barang. Tak hanya tas yang berisikan dompet beserta uang dan isinya, di dalam tas tersebut terdapat kamera digital, hard disk eksternal, dan uang cash yang akan disumbangkan ke panti asuhan pagi ini. Laptop Shaski yang berada di dekat televisi pun juga ikut di curinya. Semua yang hilang merupakan barang Shaski. Aku yang memang tidak pernah meletakkan barang di luar kamar, tidak kehilangan satu barangpun.
“Allah punya cara lain untuk mengembalikan sesuatu yang hilang, Shas. Tidak dengan cara yang kita mengerti sekalipun.” hiburku. Shaski sudah menangis.
“Apa aku kurang beramal, ya, Rul?” tanyanya di sela isakkannya.
“Hanya Allah yang tahu seberapa jauh amal atau semua ibadah kita.”
“Kenapa kita bisa tidak menyadarinya, ya? Padahal, kamar kamu di sebelah ruang tamu. Dan kamu orang yang selalu bangun jika ada suara sedikitpun.” Shaski masih menangis.
“Entah, Shas. Gue juga nggak tahu. Dan siapa pun pelakunya, dia atau mereka tahu bahwa kita tinggal berdua. Mereka sudah mengamatinya. Mengawasi gerak-gerik kita semua.”
“Aku harus mengambil hikmahnya, bukan? Pelajaran dari musibah ini?” tanyanya.
“Iya. Sebaiknya memang begitu.”
“Aku harus lebih hati-hati lagi untuk menaruh semua barangku. Aku harus lebih memperkuat amalku.”
“Dan tetap husnuzan, ya, Shas. Tetap berbaik sangka sama Allah.”
“Iya. Benar.” tangisannya berhenti. Ia sudah menjadi Shaskia yang aku kenal kembali. Shaskia yang seberat apa pun permasalahan yang ia alami, maka ia selalu bisa tersenyum. Menganggapnya semua baik-baik saja.
“Nah, itu baru namanya Shaskia Shinta Rialny. Wonder woman yang diletakkin di Matutuang. Hahahaha,” aku hanya sebisa mungkin menghiburnya, meski aku tahu hatinya terdalam sedang sedih.
Maka setelah keadaan kami sudah mulai membaik, kami melaporkan ke polisi. Menceritakan kejadiannya, dan menyerahkan semuanya pada pihak yang berwenang untuk menanganinya.
***
Hari ke-CLXXVII, 08 Desember 2014. Senin, pukul 21.20 Wita
Karena ombak besar, kapal yang akan mengantarkan kami membatalkan perjalanannya. Sehingga kami masih harus menunggu hari esok untuk kembali ke pulau.
Untuk kamu nun jauh di sana. Di hari ini, di tanggal ini, semoga kamu baik-baik saja. Semoga harapan dan semua impianmu di permudah Allah.
Maafkan kesalahanku.
Sungguh, aku hanya ingin silaturrahmi kita tidak terputus.
Tahukah kamu? Hal itu, kesalahan itu yang selalu menghampiriku di dalam tenangnya tidurku. Rasa bersalah yang membuatku selalu ingin mengakhiri mimpiku namun tak bisa kulakukan. Lebih dari 5 tahun sudah.
Jadi, maafkan aku di harimu ini.
Semoga Allah selalu menjaga niatan baikmu.

***
Hari ke-CLXXVIII, 09 Desember 2014. Selasa, pukul 01.18 Wita
Bismillah. Semoga selamat sampai Kawio.
Sampai berjumpa kembali, Tahuna.
(bersambung...)

Komentar

Postingan Populer