CCCLXV - Catatan Harian Pengajar Muda (22)
Hari ke-CLXXIX, 10
Desember 2014. Rabu, pukul 09.24 Wita
Menjelang natal ini, hampir separuh
penghuni Kawio ke Tahuna. Membeli perlengkapan untuk menyambut hari raya
mereka.
Lengang.
Bahkan, anak-anakpun ikut orang tua
mereka. Sehingga, menyisakan beberapa anak saja. Kebetulan, kapal kemarin
merupakan kapal semi terakhir. Maksudnya, minggu besok ada kapal terakhir yang
akan singgah ke Kawio.
Setiap desember, ombak akan kencang
sekali. Angin pun demikian, sehingga tak akan ada kapal yang berani melintas.
Apalagi pumpboat.
Kawio sepi.
***
Hari ke-CLXXX, 11
Desember 2014. Kamis, pukul 12.25 Wita
Rupanya, tempat ini sejatinya memberikan
kedewasaan tersendiri. Berpikir lebih jernih tentang banyak hal.
Meski, kadang merasa sepi.
Merasa sendiri.
Merasa tak berarti.
“Aku
suka kenyataan bahwa hujan adalah sejenis air yang berbeda dengan air biasa.
Saat air biasa menyentuh tubuh kita, kita hanya merasa basah dan segar. Tapi
entah kenapa, saat hujan menyentuh kita, ada rasa senang dan sedih yang bercampur
aduk.
Hujan
adalah air, tapi memiliki efek yang berbeda dari air itu sendiri. Dan itu yang
membuat hujan begitu istimewa.” –Pleuvoir.
Kutipan dari novel berjudul Pleuvoir yang baru saja aku selesaikan,
sangat menggambarkan hatiku saat ini. Dan aku setuju. Teramat setuju. Aku juga
selalu suka hujan!
***
Hari ke-CLXXXI, 12
Desember 2014. Jumat, pukul 12.16 Wita
Sebentar. Aku lupa.
Bukankah ini hari ke 181?
Aku melupakan satu hal. Kemarin tepat 6
bulan aku berada di tempat ini. Berada diantara jutaan bahkan tak terhingga
nikmat Tuhan yang tentunya, tak dapat aku hitung.
Sekolahku libur menjelang natal. Sangat
lama. Sehingga, kepulanganku kali ini ke pulau hanya untuk ‘berlibur’.
Tidak kah kalian iri denganku?
Kapan lagi kalian berlibur ke suatu
pulau? Seperti memiliki pulau sendiri, bukan? Hehehe. Maka dari itu, adakah hal
yang tidak aku syukuri berada di tempat ini selama 6 bulan.
***
Hari ke-CLXXXII, 13
Desember 2014. Sabtu, pukul 09.41 Wita
___
Kawio, 13 Desember
2014
Salam
sejahtera untuk kita semua, Syaloom.
Selamat
Natal dan Tahun baru 2015 untuk Bapak Sinyo Harry Sarundajang beserta keluarga
di kediaman.
Semoga
damai natal tahun ini, memberikan makna yang indah untuk Bapak beserta
keluarga. Juga semoga kasih Tuhan menyertai segala aktivitas dan keseharian
Bapak. Amin.
Pertama-tama
saya mengucapkan maaf atas surat saya ini. Dan terima kasih karena Bapak
berkenan membacanya.
Sebelumnya,
perkenalkan terlebih dahulu. Nama saya Hairul. Saat ini saya diamanahkan
menjadi seorang Pengajar Muda dari Gerakan Indonesia Mengajar. Sudah 6 bulan
saya bertugas dan mengabdi di salah satu bagian daerah yang Bapak pimpin. Saya
ditempatkan di Kabupaten Kepulauan Sangihe, tepatnya di Pulau Kawio, pulau
paling utara dan berbatasan langsung dengan Negara Filipina.
Surat
ini hanya sebuah surat ucapan terima kasih,
Karena
Bapak selaku Gubernur sekaligus seorang pimpinan tertinggi di Propinsi Sulawesi
Utara ini, telah bekerja dengan amat sangat baik untuk memajukan propinsi ini,
bersama petinggi-petinggi di kabupaten yang berada dibawah naungan Bapak.
Saya
merasa perlu berterima kasih karena saya bisa merasakan bagaimana indahnya
Pulau Kawio, bagaimana arif dan ramahnya lingkungan serta masyarakat Sangir,
dalam menerima saya sebagai tamu selama satu tahun ditempatkan disini.
Saat ini saya sudah berada di bulan
ke-6 di Sangir (tiba di Sangir pada bulan Juni 2014). Begitu banyak hal yang
saya syukuri, karena Tuhan memberikan Skenario Terindahnya untuk saya tahun
ini.
Ingin
sekali, dan merasa sangat terhormat jika suatu waktu nanti, sebelum saya
kembali ke Jakarta, saya diberikan kesempatan untuk bertemu dengan Bapak, dan
bercerita tentang banyak hal selama saya berada di Pulau Kawio. Meminta
pendapat yang pastinya penuh dengan saran-saran yang sifatnya konstruktif bagi
diri saya pribadi, atau pun bagi daerah yang saya tempati.
Saya
sangat berharap untuk berada di dalam satu ruangan atau bahkan di suatu tempat
yang terbuka dan santai dengan Bapak. Bercerita dalam suasana dimana tidak ada
pakaian batik atau kemeja resmi, tidak ada agenda yang padat meski itu tidak
mungkin bagi seorang pemimpin hebat seperti Bapak, dan berharap keakraban yang
terjalin antara kita bisa membuat syukur saya bertambah pada Tuhan, karena bisa
bertemu dengan Bapak dan melihat Bapak dengan Kaos oblong yang pastinya
kebersahajaan Bapak tidak bisa ditandingi, hehehe.
Mungkin
juga bisa berada ditengah keluarga Bapak yang pastinya semuanya merupakan
orang-orang hebat yang dianugerahi kasih sayang Tuhan.
Bersama ini saya juga mengirimkan
beberapa cerita yang saya buat selama penempatan. Sebuah cerita yang saat saya
baca ditahun-tahun kedepan, senyuman ranum terkembang pasti akan menghiasi
wajah saya.
Semoga
tulisan cerita-cerita saya, bisa Bapak baca disela kesibukan- Bapak.
Membuat
rasa cinta Bapak pada daerah Bapak semakin mendalam.
Akhir
kata, tak banyak ungkapan yang saya bisa tuliskan selain mengucapkan
banyak-banyak terima kasih kepada Bapak, sekali lagi, kasse bue lawo-lawo.
Ia
mapulu sarang Sangir, Sangihe su naung. Sangihe ika kendage.
Besar
harapan saya, saya bisa menerima jawaban dari Bapak, baik dalam bentuk surat
(karena keterbatasan signal di Pulau, surat menyurat menjadi hal yang paling
seru saat ini, hehehe.
Terima
kasih banyak, Pak.
Salam
hormat.
___
Niatnya, surat ini akan aku kirimkan saat
aku sudah di Tahuna nanti. Sebuah surat yang isinya tidak lebih dari kekaguman
berada di tempat ini.
Bertemu dengannya merupaka suatu
kehormatan besar bagiku.
Semoga saja semua bisa berjalan seperti
yang aku harapkan.
***
Hari ke-CLXXXIII,
14 Desember 2014. Minggu, pukul 09.57 Wita
Rindu ini sedikit terobati oleh
‘sisa-sisa’ muridku yang masih berada di pulau.
Setiap sore, tak sedikitpun
kami lewatkan tanpa berenang di laut, menikmati kelapa langsung dari pohonnya
–anak-anak yang manjat, aku hanya menunggu di bawah- semua rindu itu terbayar
sudah.
***
Hari ke-CLXXXIV, 15
Desember 2014. Senin, pukul 10.40 Wita
Satu tahun lalu, mengawali niat ini untuk
mengabdikan diri pada bangsa ini. Ya, tepat tanggal 15 bulan Desember tahun
lalu, saat pengumuman pendaftaran menjadi pengajar muda di buka, saat itu aku
masih bekerja di Dompet Dhuafa. Mengisi seluruh esai yang tersedia,
menyelesaikannya tanpa berpikir untuk mengurungkan niat ini.
Saat itu juga,
Aku memutuskan untuk ‘memilih’
pertualangan ini.
Memilih belajar bagaimana sebuah
ketulusan,
Memilih belajar bagaimana sebuah
keberagaman,
Memahami pentingnya sebuah harapan, dan
Menjadi Indonesia.
Dan kini, semuanya sedang aku jalani.
Berada di tempat yang banyak sekali memberikan kedewasaan untukku.
Teruskan!
***
Hari ke-CLXXXV, 16
Desember 2014. Selasa, pukul 11.45 Wita
Baru saja aku menerima sebuah paket
kiriman dari Shaski melalui kapal Mega Abadi yang baru saja singgah di pulauku.
Aku tak akan membicarakan apa isi
paketnya, karena seperti biasa, mie instan sudah pasti berada di jajaran paling
atas.
Kali ini, aku hanya ingin berterima kasih dengan Mega Abadi. Karena hari ini
merupakan hari terakhirnya berada di Sangir ini. Ia sudah tidak akan berlayar karena kapal ini sudah sangat tua.
Terima kasih wahai, Mega Abadi.
Jasamu untuk pulau kami, tak terperi.
Selamat jalan,
Jasamu, akan selalu kami kenang di dalam
hati.
***
Hari ke-CLXXXVI, 17
Desember 2014. Rabu, pukul 19.40 Wita
Selamat malam.
Taburan bintang di langit menemaniku
malam ini.
Duduk di atas balai bambu di depan rumah,
ditemani anjing-anjing Dowes yang sepertinya juga sudah mulai malas-malasan di
atas rumput.
Puas rasanya seharian ini bermain dengan
anak-anak di laut. Berlarian, berenang, menyelam. Dan pastinya, kami selalu
memainkan permainan kesukaan kami –menahan napas di dalam air.
Kembali menatap bintang-gemintang tanpa
bosan. Kerlipnya seperti mata genit yang siap menggoda siapa saja. Sekitar
rumahku yang memang gelap, membuat cahaya bintang dan bulan pastinya, lebih
indah dari biasanya.
“Engku,
punya pacar,
ya?” tiba-tiba Dowes datang dari dalam rumah.
“Oi, anak kecil ngomongnya pacar-pacaran.
Tidak boleh itu.” jawabku buru-buru.
“Habisnya engku senyum-senyum sendiri sambil liat langit.”
“Emangnya kalau senyum sama langit, itu
artinya senyum sama pacar?”
“Iya.” Dowes langsung lari sebelum aku
kejar.
***
Hari ke-CLXXXVII,
18 Desember 2014. Kamis, pukul 19.56 Wita
Menjadi Indonesia.
Aku rasa, Pulau Kawio yang belum dialiri
listrik –meski sudah 69 tahun merdeka- tetap harus “Menjadi Indonesia”.
***
Hari ke-CLXXXVIII,
19 Desember 2014. Jumat, pukul 13.10 Wita
Selamat hari Jumat, teman. Saya rindu
sholat Jumat.
Semoga harimu berjalan dengan baik.
Sebaik diriku di sini.
***
Hari ke-CLXXXIX, 20
Desember 2014. Sabtu, pukul 11.15 Wita
“Orang yang bangun pagi, melihat matahari
terbit, dan memulai kegiatan dari awal, akan banyak yang dapat dicapai”
–Kasran Moh Doerjat dalam Surat Untuk
Generasi Penerus yang ditulis oleh Herawati Sudoyo.
Membaca pesan beliau, membuatku
termotivasi untuk melakukan semuanya lebih serius, lebih ikhlas, dan pastinya,
tetap harus tersenyum.
***
Hari ke-CXC, 21
Desember 2014. Minggu, pukul 14.35 Wita
“Natal di Kawio, engku?” tanya Putra sambil minum air kelapa muda.
“Sepertinya begitu. Nggak ada kapal lagi, kan? Sampai akhir tahun, engku akan terkurung di tempat ini. hahahaha.”
“Nanti ada drama natal lagi. Engku mau jadi apa?”
“Memangnya ada apa saja?”
“Ada pengemis, orang gila, pemabuk,
ibu-ibu melahirkan, ada Tuhan Yesus juga.”
“Kong,
engku pantasnya
jadi apa?” tanyaku penasaran.
“Eh, ada 1 lagi. Jadi domba mau?” dan aku
pun tersedak air kelapa.
***
Hari ke-CXCI, 22
Desember 2014. Senin, pukul 09.36 Wita
Semburat putihnya awan menghiasi sejuknya
pagi di pulau ini. Kicauan burung terdengar merdu bernyanyi-nyanyi sambil
mengitari dahan-dahan tertinggi pepohonan. Kontras dengan gonggongan anjing
yang saling bersahutan antara anjing yang satu dengan anjing yang lainnya.
Pagi yang damai.
Masih dalam situasi libur menyambut
natal, pulau sudah mulai terlihat beberapa kesibukkan di sana-sini.
Membuat kue natal.
Dan saat ini, aku sedang duduk bersama
Oma Toci. Menyaksikan dan menemaninya –lebih banyak mencicipi- proses pembuatan
makanan tradisonal khas daerah ini.
“Apa de
pe nama kukis ini, Oma?” tanyaku sambil mencicipi kue yang baru matang.
Karena masih panas, maka kue tersebut aku oper-oper dari tangan kanan ke kiri
dan seterusnya.
“Kue lipa’
engku.” karena bentuknya di lipat-lipat, sesuai namanya, maka kue ini
dinamakan kue lipa atau dalam bahasa
Indonesia, artinya lipat.
“Manis, ya, Oma. Temang! Enak!” jawabku sambil tetap mengunyah.
“Kasih banyak, jo, engku. Kase habis de pe
kukis.”
“Kasse
bue, Oma. Pasti
itu! hehehe”
Lalu kami bererita tentang segala bahan
untuk membuat kue ini. Oma Toci sangat dengan senang hati memberikan
resep-resep andalannya. Dia merasa senang karena aku menemaninya sejak pagi.
Sampai selesai pukul 5 sore. Aku hanya ijin sholat tiap datang waktunya, lalu
kembali menemani Oma Toci kembali di dapurnya.
“Di
elo marukade. Oma
bekeng kukis lai, engku. Datang lagi,
ya.” Oma berseru sambil membersihkan cemong di wajahnya. Karena kami
menggunakan tungku dalam pembuatan kue ini.
“Kalau itu, mah. Jangan ditanya. Saya
akan datang kembali. Siap menemani Oma dengan kukis-kukis lezat Oma Toci.”
Maka hari ini. Satu lagi hal yang semakin
membuatku belajar dari tempat ini.
Memberikan bukan saat kita berlebihan.
Memberikan dengan ketulusan. Tanpa mengharapkan imbalan atau apa pun.
Terima kasih, Oma!
***
Hari ke-CXCII, 23
Desember 2014. Selasa, pukul 10.01 Wita
Sepagi ini. sudah berada di dapur Oma
Toci kembali.
Jangan tanya sedang apa aku di tempat
ini. Tungku berasap, cemong arang sana-sini, dan penuh dengan tepung yang
tercecer.
Ya, aku kembali lagi.
Lebih dari ‘mencicipi’, lebih dari itu
semua.
Aku ingin mendengar cerita-cerita Oma
tentang apa pun. Aku selalu suka itu.
***
Hari ke-CXCIII, 24
Desember 2014. Rabu, pukul 18.32 Wita
Tak ada yang tak membuatku bahagia,
ketika hujan turun, kami sedang mandi di laut. Dengan gaya ‘tidur celentang’ di
permukaan laut, bergandengan tangan, menengadahkan wajah-wajah kami di tetesan
hujan, dan semua terasa begitu indah!
Sungguh. Kalian pasti iri denganku.
Aku bisa jamin itu!
Malam ini, aku sudah berada bersama
masyarakat di dalam gereja. Duduk di tempat biasa –di belakang- sambil
mengamati anak-anakku beribadah.
Semua warga juga sangat khusyu dalam
menyambut malam natal ini.
***
Hari ke-CXCIV, 25
Desember 2014. Kamis, pukul 18.44 Wita
“Bukan keahlian yang menunjukkan siapa
kita sebenarnya, tapi pilihan yang akan kita ambil.” –Dumbledore
Ya, saat menonton Harry Potter –yang
entah sudah berapa ratus kali aku ulang- selalu membuatku terkagum-kagum dengan
pesan di dalamnya.
Sebuah
pilihan yang kita ambil. Maka,
aku mengambil langkah ini. Membuatnya menjadi hal yang menyenangkan. Bermain di
hari raya warga pulauku. Bermain dengan anak-anak, pun berkumpul dengan warga.
Meski, kebiasaan yang sangat tidak baik saat natal adalah bagate atau lebih kita kenal dengan “Mabuk”. Mabuk secara harfiah.
Mabuk karena minuman keras.
Dan tidak mengenal gender untuk siapa yang boleh mabuk. Semuanya.
***
Hari ke-CXCV, 26
Desember 2014. Jumat, pukul 18.15 Wita
Masih banyak serangkaian ibadah yang
dilakukan warga pulau.
Masih banyak juga cemilan-cemilan
mengundang selera makan.
Masih banyak juga godaan untuk
menghabiskan.
Maka hal apa yang membuatku tidak bahagia
di sini? Meski natal ini (hampir) semua warga mabuk setiap malam –setiap saat-
tapi tidak menggangguku.
Oi, bahkan, aku sudah terbiasa berada
dengan orang-orang mabuk. Menimpali omongan-omongan mereka yang kacau.
Hiburan.
***
Hari ke-CXCVI, 27
Desember 2014. Sabtu, pukul 06.42 Wita
Sedang berada di ujung dermaga. Bermain
bersama anak-anak, dan sepertinya, sebentar lagi kami akan lompat dari atas
sini menuju beningnya air laut.
Mau ikut?
Bye.
***
Hari ke-CXCVII, 28
Desember 2014. Minggu, pukul 10.20 Wita
Hujan kali ini membuatku enggan untuk
bermain bersamanya. Padahal, sudah lama sekali tidak hujan. Tapi, godaan
kamarku lebih mengundang dan menyita perhatianku secara penuh.
Dan aku sudah memeluk salah satu
bantalku.
***
Hari ke-CXCVIII, 29
Desember 2014. Senin, pukul 18.05 Wita
Menurut ibu dan bapakku di sini, setiap
natal dan menjelang tahun baru, tidak akan ada kapal yang berlayar. Hujan badai
disertai ombak dan angin yang kencang membuat semua orang akan terkurung di
pulau.
Harusnya, hari ini kami ke Marore.
Kedua orang tuaku akan pulang kampung ke
pulau asalnya. Tapi, rupanya belum teduh. Sehingga mungkin esok, lusa, atau
esoknya lagi.
Atau tidak jadi.
***
Hari ke-CXCIX, 30
Desember 2014. Selasa, pukul 08.14 Wita
Hujan masih belum berhenti sejak kemarin.
Makin kencang sepertinya. Karena orang-orang di pulau ini sudah hidup sejak
mereka lahir di sini, mereka tahu semua tanda-tanda alam. Kapan hujan, kapan
badai, itu juga yang membuat mereka tahu kapan dan tidaknya mereka mencari ikan.
Amat sangat membantu.
Dan, saat kencang seperti ini, maka ikan
adalah barang langka.
Tidak selangka Tanduay atau CT –Cap Tikus.
Dan kembali tidak jadi ke Marore.
***
Hari ke-CC, 31
Desember 2014. Rabu, pukul 20.00 Wita
Saat ini, aku sedang berada di gereja. Di
undang untuk ibadah akhir tahun. Seperti hari-hari lainnya, saat di gereja, aku
memilih posisi terbaikku; di belakang.
Tidak pernah bosan melihat anak-anak
muridku beribadah dengan tertib. Sesekali jahil dengan teman sebelah, sesekali
diam karena diperingatkan oleh orangtuanya. Atau bahkan, sibuk memperlihatkan
foto-foto yang di simpan di dalam alkitab mereka masing-masing.
Sepertinya, aku tidak pulang sampai
pergantian tahun nanti.
(Bersambung...)

Komentar
Posting Komentar