CCCLXV - Catatan Harian Pengajar Muda (23)
Hari ke-CCI, 01
Januari 2015. Kamis, pukul 00.15 Wita
Dar! Dar! Dar!
“Puji Tuhan kita disampaikan pada Tahun
yang baru,” belum selesai ibu pendeta melanjutkan doanya, kelompok pemuda di
depan gereja sudah keburu menyalakan petasan.
Dar! Dar! Dar!
Kontan, Ibu pendeta menyudahi doa pembuka
awal tahun. Tanpa di komando lebih lama lagi, semua anak-anak –tak terkecuali
aku dan orang dewasa lainnya- ikut keluar menyaksikan ‘perayaan’ pergantian
tahun.
Bremm... Bremm... Breeemmmm.. Ngeeng...
Ngeeengg... Ngeenngg...
Tak hanya petasan yang mewarnai
pergantian tahun ini. Motor-motor yang knalpotnya telah diubah menjadi knalpot racing ikut menyumbangkan suara
nyaringnya. Dibunyikan berbarengan dengan petasan, juga mesin pumpboat diangkat dari tempatnya melengkapi
tahun baru ini.
Amat berbeda.
Tak ada kemacetan, tak ada perkelahian.
Semua warga menyambut tahun baru ini
dengan suka cita. Semua bersalaman dan berpelukkan sambil mengucapkan selamat
tahun baru.
“Selamat tahun baru, engku!” Ibu pendeta menghampiriku setelah ‘parade’ tahun baruan
selesai.
“Sama-sama, Ibu. Selamat tahun baru
juga.” Jawabku.
“Semoga Tuhan memberikan kasih-Nya untuk
kita semua.”
“Aamiin, Ibu. God bless!”
Selamat tahun baru, Kawio! Semoga di
tahun ini, segala rahmat dan berkah selalu Tuhan berikan untukmu. Happy New Year!
***
Pukul 19.00Wita
Sore tadi, aku dan keluargaku –Bapak,
Ibu, dan kedua adikku; Dowes dan Dedi- sudah siap berangkat ke Marore. Kami
sudah naik pumpboat dan sudah
meninggalkan Kawio sekitar 20 menit. Cuaca sejak pagi teduh, sehingga kami
memilih berangkat ke Marore hari ini.
Tuhan memang Maha Kuasa.
Maha Pengatur segala.
Cuaca dan laut yang terkendali dalam
seketika berubah menjadi ombak yang sangat kencang. Bapakku mengemudikannya
dengan lebih hati-hati.
“Sepertinya kita pulang kembali.” teriak
Bapak dari depan kemudi.
Aku semakin panik, karena pelampungku aku
letakkan di atas pumpboat di bagian
depan. Sehingga tak bisa diambil. Perahu tertabrak ombak. Di hadapan kami
terlihat ombak sekitar 3 meter lebih. Perahu kami berada di lembah ombak.
Aku berdoa.
Mataku terpejam.
Keadaan di perburuk dengan menangisnya
Dowes –adikku.
“Kita putar balik!” teriak Bapak tetap di
depan kemudi. Kini pumpboat semakin
tergoncang.
Jangan membayangkan memutar perahu dalam
keadaan ombak besar semudah memutar motor untuk melawan arus jalan raya. Kami
harus melihat arus ombak yang tepat.
Perahu hampir terbalik. Bapakku kalah
cepat mencari ‘jalur’ ombak. Aku sudah tak bisa membayangkan apa pun.
Pucat.
Dowes menangis semakin kencang di dalam
dekapan Ibuku. Sedangkan Dedi membantu mengendalikan perahu dari belakang.
Saat ketegangan sudah semakin parah, pumpboat berhasil memutar dengan ombak
tetap kencang. Saat berada di lembah ombak –depan dan belakang ombak lebih
tinggi dari perahu kami- aku semakin mengencangkan peganganku pada pinggiran
perahu. Semua pakaian basah, semua wajah lelah.
Tak ada kata yang bisa kuucapkan saat pumpboat menepi di pantai pulau, selain
kata “Alhamdulillahirabbil’alamiin”.
***
Hari ke-CCII, 02
Januari 2015. Jumat, pukul 14.20 Wita
Kalian tahu aku saat ini berada di mana?
Pulau Marore.
Iya, aku kembali menuju tempat ini. Acara
pulang kampung –pulang pulau lebih tepatnya- keluargaku ke Marore berhasil
dengan selamat.
Sebenarnya, ombak tidak sekencang
kemarin, meski tetap tidak bisa dikatakan teduh. Namun, setelah melewati
setengah perjalanan, mesin pumpboat kami
mati. Keadaan semakin panik saat setelah beberapa kali mesin diperbaiki, tetap
tidak membuahkan hasil.
Perahu terombang-ambing mengikuti arus
ombak.
Sesekali ombak menampar bibir perahu
kami, membuat air laut masuk tanpa disangka-sangka. Meski kali ini pelampung
aku pegang –tidak aku kenakan- tetap saja panik tetap datang.
Sekitar 15 menit kami terombang-ambing di
tengah laut, mesin hidup kembali. Hingga menghantarkan kami ke pulau ini.
Pumpboat
yang mengantarkan kami
***
Hari ke-CCIII, 03
Januari 2015. Sabtu, pukul 13.43 Wita
“Mau ikut ke kebun, engku?” tanya Ibuku.
“Mekapura[1],
Ibu?”
“Ada pitik[2]
cengkih.”
“Waah? Cengkih yang rempah-rempah itu?”
tanyaku antusias
“Iya. Kong
engku belum tahu?”
“Masingka
seng, mar [3]belum pernah liat langsung.”
“Minjo,
tumore deng torang[4].”
“Ore.
Ia mapulu[5].”
Dan untuk kali pertama –lagi dan lagi-
aku baru melihat hal baru. Cengkih. Sesederhana itu bahkan. Tak hanya lihat
saja, aku ikut memanjat dan mengumpulkannya langsung dari pohonnya!
***
Hari ke-CCIV, 04
Januari 2015. Minggu, pukul 19.29 Wita
“Makannya, cepetan pulang!” teriak Mbak
Iir dan Revi bergantian di ujung telepon sana. mereka sudah di Tahuna sejak
tahun baru.
Karena aku berada di Marore, maka sinyal
telepon dan listrik full 24 jam. Maka
sudah dapat dipastikan, ‘udik’.
“Iyaaaa, gue juga udah pengen banget ke
sana. udah mau sebulan di sini. Apa boleh buat, kapal gak ada yang lewat.”
jawabku.
“Semoga kamu masih inget peradaban, ya, Rul”
Revi terdengar jemawa.
“Sial!”
Hampir satu jam kami bercerita melalui telepon. Saat matahari benar-benar hilang –aku melihatnya jalan sambil
terbenam- di detik-detik tenggelamnya matahari, saat itu juga percakapan kami
berakhir.
Senja masih menyisakan ronanya di
kejauhan.
Tetap indah.
Selama di Marore ini, seperti biasa, aku
tidur di pos angkatan laut setiap malam. Tentunya setelah berpamitan dengan
keluargaku. Karena di sana banyak orang-orang yang berasal dari Pulau Jawa,
juga banyak yang muslim. Sehingga lebih merasa ‘senasib’.
Dan malam ini, sesi curhat dengan
bapak-bapak angkatan laut pun akan dimulai.
Bye!
***
Hari ke-CCV, 05
Januari 2015. Senin, pukul 19.18 Wita
Tidak ada yang lebih bahagia saat kita
bisa mendengarkan kabar orang-orang terkasih. Mendengarkan keluhnya, kesahnya,
ataupun berita bahagia darinya.
Menjelang maghrib, sambil menunggu waktu
berbuka puasa, aku menelpon sahabatku, Danang. Sudah lama tak mendengar tawanya
yang khas itu.
Percakapan sore kali ini berbeda. Selain
menghibur seperti biasa, kali ini Danang berbagi cerita saat dirinya disuruh
untuk memimpin membaca doa.
Menurutnya, doa ini sudah ia hafal sejak
kecil. Dan berkat doa yang ia bawakan kali ini, membuat dirinya dielu-elukan
masyarakat.
Berikut arti doanya yang ia kirim melalui
pesan singkat untukku,
“Wahai
Tuhanku,
Bagaimana
aku meminta kepada-Mu,
Sedangkan
aku adalah aku (yang banyak kekurangan dan maksiat);
Dan
bagaimana aku memutuskan harapanku kepada-Mu,
Sedangkan
Engkau adalah Engkau (Allah yang baik dan pemurah)?
Wahai
Tuhanku,
Belum
lagi aku meminta pada-Mu,
Engkau
telah memberikan;
Siapakah
yang aku minta (selain-Mu) yang akan memberikanku?
Wahai
Tuhanku,
Belum
lagi aku berdoa pada-Mu,
Engkau
telah mengabulkannya;
Siapakah
yang ketika aku berdoa (kepada selain-Mu) yang akan mengabulkannya?
Wahai
Tuhanku,
Aku
merintih pada-Mu, lalu Engkau menyayangiku,
Siapakah
yang jika aku merintih (selain-Mu) yang akan menyayangiku?
Wahai
Tuhanku,
Sebagaimana
Engkau telah membelah laut untuk Nabi Musa as,
Serta
Engkau selamatkan dia,
Aku
meminta kepada-Mu,
Sampaikan
shalawat kepada Nabi Muhammad SAW dan keluarganya,
Dan
agar Engkau menyelamatkan aku dari derita,
Dan
Engkau bebaskan aku dari derita itu.
Secepat-cepatnya
tidak diperlambat.
Dengan
karunia dan rahmat-Mu,
Wahai
Yang Penyayang di antara yang penyayang.”
***
Hari ke-CCVI, 06
Januari 2015. Selasa, pukul 21.50 Wita
Sekitar pukul 9 pagi tadi, aku diajak
naik pumpboat ke Tahuna. Karena kapal
masih belum jelas kapan ia bersandar, maka keluargaku memutuskan untuk ke
Tahuna dengan pumpboat. Hal ini
dikarenakan banyak anak sekolah dan mahasiswa yang masih berada di pulau,
sedangkan efektif belajar sudah di mulai.
7 jam lebih kami berada di pumpboat. Cuaca memang teduh. Hanya
menyisakan setidaknya 1 meter ombak. Seperti beberapa hari yang lalu, perahu
kami mati berulang-ulang kali di tengah laut. Bukan karena mesin rusak, tetapi
karena memang sudah harus ‘isi bensin’.
Banyak penumpang yang muntah. Bahkan ada
yang pingsan karena bensin dan mesin yang panas di dekat kemudi yang ia duduki.
Semakin lama mesin mati, semakin lama
pula ombak membawa perahu kami untuk ‘pasrah’ pada keinginannya.
Terombang-ambing kembali.
Meski tidak sepanik beberapa hari yang
lalu, sekitar 7 kali pumpboat kami
berhenti untuk sekedar isi bensin, atau untuk menenangkan penumpang yang mabuk
dan pinsan, hal itu cukup membuatku mual.
Perut ini dikocok-kocok oleh guncangan
perahu akibat ombak.
Aku duduk di bagian depan. Seorang diri,
dengan pelampung yang aku pegang, sedikit membuatku lebih nyaman.
Hingga hampir pukul 5 sore, pumpboat kami bersandar di daratan besar
dengan selamat. Dan sekarang, aku sedang berkumpul bersama teman-teman
penempatanku.
“Selamat!”
Hanya itu yang mereka ucap saat aku
ceritakan tentang pengalamanku hari ini. Ucapan yang memiliki dua arti;
“Selamat karena aku bisa melewati dengan
baik.” atau,
“Selamat! Itu derita anda!”
Maka tak ada satu pun kulit kacang yang
masuk ke dalam tempat sampah. Semua berterbangan menimpa wajah-wajah kami.
Norak!
Dasar anak pulau!
Gak apa-apa.
Tapi, bahagia.
***
Hari ke-CCVII, 07 Januari
2015. Rabu, pukul 22.22 Wita
“Hei, golongan darah kalian apa?” tanya
Bara tiba-tiba. Kami yang sedang berkumpul di meja makan kontan berhenti
tertawa.
“Aku, O, Bar,” jawab Shaski.
“Aku juga, O,” jawab Mbak Iir.
“Yah, aku juga, O. Kenapa kita semua O,
ya?” Bara pasrah
“Mas, golongan darahmu apa?” tanya Bara
padaku.
“Aku, B, Bar.”
“Wah, pas banget. Mas mau donor darah, nggak?”
“Kapan?”
“Sekarang.”
“Oh, boleh.” jawabku singkat. Tanpa
banyak tanya, aku langsung mengiyakan apa yang bara minta.
“Makasih, Mas. Ini, keluarga dari pendeta
yang aku kenal, ada yang butuh darah B. Stok di rumah sakit habis. Banyak yang
butuh B. Salah satunya keluarga pendeta tadi.” Bara menjelaskan sambil kami
menunggu mobil jemputan.
“Oh, boleh. Sudah lama juga aku nggak ngedonor darah. Biasanya rutin 3
bulanan.”
“Puji Tuhan, syukur deh. Kita berdelapan
yang darahnya B cuma Mas, ya?” tanya Bara. Mobil sudah parkir di depan rumah.
“Aku sama Rizky kalau nggak salah. Yang lainnya O sama A.
Karena Rizky masih cuti ke Jawa, berarti cuma aku sekarang.” jawabku.
“Hati-hati, ya, kalian.” teriak Shaski
dari dalam rumah.
“Kalau masih banyak darahnya, donor 2
kantong aja sekalian, Rul!” Mbak Iir meledek.
“Jangan lupa minta susu sama telur
rebusnya kalau sudah.” Mbak Afifah ikut nimpali.
“Oi, karamase!”
***
Hari ke-CCVIII, 08
Januari 2015. Kamis, pukul 21.18 Wita
Setelah berbuka puasa, tak ada kegiatan
selain berkumpul dengan teman-teman. Hari ini berjalan seperti biasa.
Tidak ada yang istimewa.
Terima kasih untuk hari ini, ya, Tuhan.
***
Hari ke-CCIX, 09
Januari 2015. Jumat, pukul 18.13 Wita
Setengah
lusin kebahagiaan marario itu, kini hanya tersisa 3. Mereka masih berkumpul di
dunia ini.
Mungkin
tetap tak ada yang tahu, kecuali hangatnya air, riuhnya ombak, dan
‘kunang-kunang’ yang memberikan cahayanya tidak pada umumnya.
Berikan
sedikit saja.
Biarlah
marario itu tetap bahagia.
Biar.
Dan
biarkan hanya 3 yang tersisa itu saja yang tahu.
Dan
biarkan hanya 3 yang tersisa itu saja mengulanginya.
Dan
biarkan hanya 3 yang tersisa itu saja yang tahu.
***
Hari ke-CCX, 10
Januari 2015. Sabtu, pukul 22.08 Wita
Putihnya
serat kain yang dulu, kini berganti warna lain. Tak seindah dan tak se-elok
warna lalu. Namun, ternyata juga membuat tidur terjaga lebih lama.
3
yang tersisa kebahagiaan marario itu masih berkumpul di dunia ini.
Mungkin
tetap tak ada yang tahu, kecuali hangatnya air, riuhnya ombak, dan
‘kunang-kunang’ yang memberikan cahayanya tidak pada umumnya.
Berikan
sedikit saja.
Biarlah
marario itu tetap bahagia.
Biar.
Dan
biarkan hanya 3 tersisa itu saja yang tahu.
Karena
esok, mungkin kunang-kunang akan bergantikan jelaga hitam.
Sekali
lagi, biar.
Dan
biarkan hanya 3 tersisa itu saja yang tahu.
***
Hari ke-CCXI, 11
Januari 2015. Minggu, pukul 19.54 Wita
Putihnya
serat kain yang dulu, kini berganti warna lain. Tak seindah dan tak se-elok
warna lalu. Namun, ternyata juga membuat tidur terjaga lebih lama.
3
yang tersisa kebahagiaan marario itu masih berkumpul di dunia ini.
Mungkin
tetap tak ada yang tahu, kecuali hangatnya air, riuhnya ombak, dan ‘kunang-kunang’
yang memberikan cahayanya tidak pada umumnya.
Berikan
sedikit saja.
Biarlah
marario itu tetap bahagia.
Biar.
Dan
biarkan hanya 3 tersisa itu saja yang tahu.
Mungkin
tetap tak ada yang tahu, kecuali hangatnya air, riuhnya ombak, dan ‘kunang-kunang’
yang memberikan cahayanya tidak pada umumnya.
Karena
pagi ini, kunang-kunang sudah redup.
Bergantikan
jelaga yang tampak nyata.
Pelita
yang bersaing dengan kelamnya malam.
Terima
kasih untuk semuanya.
Daijou!
Jika kamu
bingung kembali mengapa aku menuliskan hal yang sulit sekali kamu pahami, aku
minta maaf.
Sekali lagi mohon maaf.
Dan jika ada orang lain yang ingin tahu
kembali, berikan padaku.
Biar aku yang menjawab semuanya.
Atau, mungkin, marario yang berbahagia bisa membantuku.
***
Hari ke-CCXII, 12
Januari 2015. Senin, pukul 18.10 Wita
Daun yang jatuh saja, semuanya atas
kehendak Tuhan.
Lalu?
Apalagi hidupku? Semuanya sudah Tuhan
yang atur, bukan?
Suara adzan yang dibawakan oleh anak
santri di masjid pusat kota menyadarkanku dari lamunan. Sudah lebih dari
setengah tahun berada di sini, kerinduanku pada suasana surau di kampung
halamanku menjadi hal yang menarik untuk selalu diingat-ingat.
Suara adzan yang masih sangat khas
ke-kanak-kanakannya,
Kaki-kaki kecil anak-anak yang saling
kejar-kejaran sampai keringat membanjiri. Bahkan saat imam sudah bertakbir.
Tangan-tangan usil saat sujud.
Melakukan tingkah “suit-suitan” saat
tahiyat awal atau akhir –jari telunjuk yang memang digunakan saat tahiyat,
diadu dengan jempol atau jari kelingking anak lain di sebelahnya- membuat itu
amat sangat kurindukan di sini.
Daun yang jatuh saja, semuanya atas
kehendak Tuhan.
Lalu?
Apalagi hidupku? Semuanya sudah Tuhan
yang atur, bukan?
Iya. Allah, Sang Pembuat skenario
terindah dalam hidup!
(bersambung...)

Komentar
Posting Komentar