CCCLXV - Catatan Harian Pengajar Muda (24)
Hari ke-CCXIII, 13
Januari 2015. Selasa, pukul 20.55 Wita
Nama saya Aldine Barahama, namun saya
biasa dipanggil oleh teman dan keluarga dengan sebutan Inne. Saat ini saya
sudah kelas 6 di SD GMIST (Gereja Masehi Injil Sangihe Talaud) Smirna Kawio.
Saya tinggal di sebuah desa di Pulau Kawio. Sebuah desa perbatasan antara
Negara Indonesia dengan Negara Filipina. Sehingga banyak yang mengatakan bahwa
saya dan teman-teman yang lainnya adalah anak bahari di perbatasan utara
negeri. Menurut berita dan orang-orang diluar sana, desa saya memang terbatas,
di pulau ini, belum ada listrik yang masuk ke desa. Selama ini saya hanya hidup
dengan menggunakan mesin genset untuk mengalirkan listrik sejak pukul 6 malam
sampai pukul 10 malam.
Guru saya
datang dari Jakarta. Ia adalah seorang pengajar muda. Sudah dua bulan ia berada
di desa dan mengajar di sekolah saya. Meski ia mengajar di kelas 3, namun ia
sering mengajar kelas 6 juga kelas-kelas lainnya jika guru-guru tidak datang.
Guruku itu selalu membawa sebuah botol dari pelastik kecil yang didalamnya
terdapat cairan bening sedikit kental yang jika cairan itu dituangkan ke
telapak tangan kami maka akan terasa dingin sekali. Setelah saya bertanya
tentang cairan tersebut, guru saya berkata dalam bahasa inggris yang saya sulit
sekali memahaminya, kemudian guru saya menuliskannya di papan tulis dan terbaca
hand sanitizer.
Menurutnya, cairan kental dan dingin tersebut (saya sulit sekali mengulang atau
bahkan menuliskannya) merupakan cairan pembersih untuk tangan dari kuman-kuman.
Sebagai
anak pulau, desa saya dikelilingi oleh lautan. Desa saya memiliki tiga buah
pantai yang memiliki air yang jernih dan pasir putih yang indah sekali.
Sehingga saya dan teman-teman selalu bermain dan berenang di pantai tersebut.
Sepulang dari pantai biasanya saya selalu disediakan teh manis hangat dan kue
oleh oma saya. Sebelum diberitahukan oleh pengajar muda tersebut, saya dan
keluarga tidak pernah memperdulikan kebersihan tangan. Biasanya cukup dengan
mengelap di lap yang terbuat dari baju yang tak terpakai lagi diatas meja makan
dan langsung menyantap makanan. Kebiasan keluarga saya atau mungkin juga sudah
menjadi kebiasaan semua warga desa saya ini disebabkan karena dirumah kami
tidak ada kamar mandi, sehingga semua air harus diambil dari sumur terdekat.
Bukan berarti saya tidak pernah mencuci tangan sebelum makan, ternyata setelah
tahu dari pengajar muda itu cara mencuci tangan saya yang belum benar.
Kebiasaan keluarga saya adalah mencuci tangan di sebuah mangkuk atau ember
kecil yang diambil dari sumur yang dipakai secara bergantian dan tidak diganti.
Sehingga tidak jarang air tersebut menjadi keruh.
Saya baru
mengetahui mengapa di desa saya selalu terjangkit penyakit diare dan bisul.
Penyakit tersebut sering dialami oleh hampir semua warga, termasuk saya juga
pernah. Hal ini mungkin dikarenakan kami memakan makanan yang menjadi tidak
sehat karena tangan kami kotor pada saat memakannya dan kami yang selalu mandi
di pantai juga jarang sekali membersihkan tubuh dengan menggunakan air bersih.
Saya memang belum terlalu mengenal cairan bening sedikit dingin yang selalu
dibawa oleh pengajar muda tersebut, namun bukan berarti saya dan teman-teman
terlambat untuk mengetahui pentingnya mencuci tangan sebelum kita mengkonsumsi
makanan. Mari mencuci tangan dengan benar!
___
Tak
sengaja kutemukan kertas folio bergaris yang sudah sedikit kotor dengan bekas
lipatan di sana-sini.
Seperti
yang kalian sudah baca, itu tulisan Inne –muridku- untuk diajukan lomba menulis
cerita singkat tahun lalu. Namun, belum berhasil membuatnya ke Jakarta.
Bukan
tentang tidak diberangkatkannya ke Jakarta yang aku ingin ceritakan, melainkan
tentang keadaannya saat ini.
Karena
keadaan keluarganya yang tidak harmonis –kedua orang tua Inne tidak menikah
meski ia sebenarnya bukan anak pertama dari pasangan tersebut- saat ini kedua
orang tuanya sudah tidak tinggal bersama. Dan masing-masing tidak berada di
Kawio. Sehingga Inne tinggal bersama oma dan opanya.
Sudah
satu bulan ini, Inne berangkat menemui Ibunya di luar pulau, bahkan di luar
kabupaten bersama omanya. Menurutnya, ia sangat rindu dengan ayah dan ibunya,
tapi, ia tetap ingin bersekolah di Kawio. Ia tidak tega meninggalkan oma dan
opanya.
Harusnya,
Inne sudah kembali ke Kawio dan masuk seperti biasanya, namun, sampai saat ini
belum tampak batang hidungnya.
Dari
cerita yang ia tulis di kertas folio tadi, di balik kertas terdapat tulisan,
“Inne
sayang engku Hairul. Saya senang diajar engku. Semoga kita bisa ketemu
terus-terusan kalau engku sudah kembali ke Jakarta.”
Tahukah,
Inne? Engku juga sayang sama Inne.
Cepet kembali, ya. Kita belajar dan bermain bersama lagi.
***
Hari ke-CCXIV, 14
Januari 2015. Rabu, pukul 17.45 Wita
Diundang
untuk menghadiri acara forum dari Front Pejuang Mahasiswa Sangir (FPMS) yang
diadakan di kantor bupati esok hari. Beberapa perwakilan dari kepanitiaan
mereka datang ke rumah kami, mengundang langsung untuk kami para Pengajar Muda
yang menurut mereka, “Orang luar yang merelakan hidupnya untuk membangun
Sangir”
FPMS
ini merupakan sekumpulan pemuda dan pemudi asli Sangir yang sedang berkuliah di
Manado. Acara kali ini merupakan salah satu bentuk kepedulian mereka kepada
budaya khas daerah mereka.
Semoga
esok berjalan dengan lancar. Kami semua memang ingin bertemu dengan
pemuda-pemudi yang masih semangat untuk membangun daerah mereka sendiri.
***
Hari ke-CCXV, 15
Januari 2015. Kamis, pukul 21.50 Wita
Seharian
ini, kami berada di aula rumah dinas bupati. Forum yang sudah disiapkan
matang-matang ini mengundang banyak orang dari berbagai instansi.
Acara
dibuka dan dipimpin langsung oleh bapak wakil bupati. Diskusi-diskusi mengenai
kebudayaan dan kesenian daerah memang selalu menyenangkan.
“Kesenian dan kebudayaan Sangihe perlu dijaga
dan dilestarikan oleh putra dan putri daerah itu sendiri.” ucap salah satu
pembicara yang disambut teriakan “Merdeka!” oleh seluruh peserta forum.
“Cintai,
bangga pada kesenian dan budaya daerah dari yang paling sederhana. Misal,
biasakan mebisara berang Sangir[1]. Dimanapun kita
semua berada. Karena bahasa kita, melambangkan budaya kita.”
“Merdeka!”
***
Hari ke-CCXVI, 16
Januari 2015. Jumat, pukul 08.33 Wita
“Happy birthday, Rizky
Januar Haryanto!” teriak kami sambil membangunkan rizky. Sebenarnya, rencana
mengerjai Rizky terbilang terlambat.
Karena
semua mengantuk, aku menahan mata sampai pukul 12 kurang 15 malam. Semua
tertidur sejak pukul 11 malam. Tinggal aku sendiri yang menjadi wasit mereka.
Memang,
malam ini menggoda sekali untuk menyatu dengan kasur dan teman-temannya –bantal
dan guling- tapi, karena ada agenda untuk memberikan kejutan untuk Rizky, aku
menguatkan tekad untuk tidak ikut tertidur.
Membaca
novel, bermain handphone, mendengarkan
musik, tetap saja membuat mata berat. Padahal, kurang 15 menit menuju
pergantian hari.
15
menit terasa lambat sekali.
15
menit seperti meledekku.
Mataku
melihat jam tangan, 23.50. artinya 10 menit lagi untuk acara kejutan ini. Aku
terlena untuk menyenderkan kepalaku pada bantal yang tergeletak di atas kasur.
Padahal, sejak tadi posisiku duduk sempurna. Dengan seperti itu, aku tidak akan
tertidur.
Entah,
angin apa yang membuatku perlahan menurunkan kepala untuk mendekati bantal di
atas kasur tersebut.
Pelan
tapi pasti, seperti menguatkan diri bahwa, “Gue nggak bakal ketiduran!” kalau hanya 10 menit saja.
Novel
tetap terbuka sempurna saat kepalaku sudah bersandar. Angka di jam digital
tanganku terus bertambah mendekati pukul 12 malam. Aku masih membaca dengan
lancar.
Satu
kalimat.
Lima
kalimat.
Satu
paragraf.
Paragraf
awal selanjutnya masih terbaca.
Pegangan
tangan pada buku yang kuangkat mulai naik turun.
Buku
tegak kembali.
Kalimat
selanjutnya masih terbaca.
Mulai
beralih ke baris baru.
Senyap.
Senyap.
Senyap.
Mata
terbuka, seperti tak berdosa.
Novel
tetap berada di atas dada, playlist
dari handphone tetap berputar
mendendangkan lagu-lagu favorit.
Kuangkat
pergelangan tangan kiriku, melirik perlahan,
OI!
PUKUL 01.30!
Aku
langsung melompat dari kasur. Menyingkirkan bantal-bantal pembawa nikmat
berujung sengsara itu, mematikan musik, dan langsung membangunkan cewek-cewek di kamar sebelah.
“Semoga
makin kece, Ky!” ucap Shaski sesaat
Rizky sudah sadar.
“Makin
cool, Ky!” Mba Iir melanjutkan.
“Pokoknya,
kalo udah tiup lilin, kita tidur lagi, ya, Ky. Karena pada ngantuk, kita
jadinya telat kasih surprise.” kalimat belum terucap sempurna, lilin di tiup,
hadiah diberikan, doa terucap, foto bersama –yang kemudian langsung dishare ke group whatsapp- selesai dilaksanakan, maka, lampu kembali
dimatikan.
Ruangan
gelap.
Ruangan
sepi.
Permpuan-perempuan
sudah sempurna melanjutkan tidur cantiknya.
Senyap.
Senyap.
Senyap.
“Happy birthday, Rizky
Januar Haryanto!”
***
Hari ke-CCXVII, 17
Januari 2015. Sabtu, pukul 16.33 Wita
Informasi
kapal masih belum jelas.
Teman-teman
sudah kembali ke pulau, menyisakan aku, Shaski, Rizky, dan Mbak Afifah. Tidak
ada agenda yang kami urus membuat kami tetap di rumah hingga sore ini.
***
Hari ke-CCXVIII, 18
Januari 2015. Minggu, pukul 11.45 Wita
Siap-siap
ke Kawio dengan pumpboat kembali.
Kalau tidak ada halangan, hari ini aku sudah bisa kembali ke Kawio. Shaski
sudah berangkat pagi tadi. Rizky juga sudah pulang.
Baiklah.
Menunggu.
“Kamu jadi pulang, Rul?” Mbak Afifah
mengagetkan.
“Eh,
insha Allah, Mbak. Tapi belum jelas. Hari ini atau besok. Kalau kamu, Mbak?
Jadi pulang hari ini?”
“Aku
nggak ada pumpboat hari ini. Mungkin besok.”
“Oh.
Sama, Mbak.”
“Kalau
kamu jadi pulang hari ini, kabari aku, ya. Aku mau menginap di rumah Pak Farai
saja. Takut kalau sendirian di rumah.”
“Siap!”
(bersambung)...

Komentar
Posting Komentar