CCCLXV - Catatan Harian Pengajar Muda (25)



Hari ke-CCXIX, 19 Januari 2015. Senin, pukul 23.45 Wita
Matahari masih belum menampakkan dirinya saat hujan deras mengguyur Tahuna. Hanya sinarnya yang itu pun terlihat mendung karena sejak dini hari, hujan tak henti-hentinya.
Hari ini aku mendapat kabar bahwa pumpboat akan mengantarkan orang-orang ke Marore. Karena ada acara ibadah duka, membuat pumpboat itu disewa ke Marore terlebih dahulu. Dan aku akan ikut menumpangnya.
Sebelum aku berangkat, aku menghubungi ibuku terlebih dahulu. Mereka masih berada di Marore. Sehingga aku akan tinggal sebentar di Marore dan akan menuju Kawio bersama mereka.
Aku sudah berada di dekat pelabuhan tempat pumpboat menurunkan jangkarnya sejak pukul 8 pagi.
Hujan masih deras.
Terlihat para penumpang datang bersusulan satu per satu dengan berbalutkan jas hujan atau payung.
Ternyata, pumpboat yang akan di sewa sebanyak 2 buah. Banyak orang yang akan melakukan ibadah di rumah duka tersebut. Sehingga mengharuskan menyewa 2 buah perahu sekaligus.
Tepat pukul 11 siang, pumpboat-pumpboat kami berangkat dari pelabuhan.
Cipratan-cipratan air laut kerap mengiringi pumpboat-pumpboat kami. Pumpboat yang aku tumpangi adalah pumpboat baru dengan memiliki 2 buah mesin. Besar dan melaju sangat cepat.
 1 jam perjalanan terlewati tanpa kendala apa-apa. Dua pumpboat berkejaran bergantian memimpin di depannya. Antar penumpang masih saling berteriak memanggil atau sekedar mengajak bercanda.
Tiba-tiba, saat pumpboat aku memimpin di depan, terdengar teriakan agar kami berhenti. Mesin pumpboat yang satu mulai menunjukkan gejala macet. Karena masih berada di sekitar daratan besar, maka tepat di ujung Pulau Sangir, sebelum meninggalkan dan benar-benar ‘laut lepas’, kami menepikan pumpboat di sebuah pantai.
Pengemudi pumpboatku yang memang ahli soal permesinan diminta untuk melihat dan membetulkan pumpboat yang macet tersebut.
Setengah jam tertunda.
Belum ada tampak akan selesai.
Satu jam berlalu.
Aku mulai jenuh dengan berada di atas pumpboat yang terombang-ambing di laut. Tidak bisa menepi di pantai karena sedang surut.
Sekitar 15 menit kemudian, ‘supir’ pumpboatku sudah kembali dan berenang menuju pumpboat kami. Dua jam berikutnya masing-masing dari kami tetap melaju mengarungi lautan.
Tetap bersisian menjaga antar pumpboat yang satu dengan pumpboat yang lain.
Pumpboatku kembali berhenti. Kali ini untuk ‘isi bensin’.
Tidak sampai 10 menit kami sudah melanjutkan perjalanan.
Langit sore sudah menampakkan tanda-tanda akan menunjukkan sunset indahnya. Matahari bulat sempurna hampir jatuh di barat sana.
Semburat senja sudah mulai tampak.
Lukisan awan tergambar jelas menghiasi lembayung.
Indah.
Namun aku melupakan satu hal,
“Sudah hampir malam, namun belum ada tampak pulau-pulau yang harusnya sudah kami lewati sejak tadi.”
Mulai panik.
Belum sempat panik ini hilang, pumpboat yang satunya tertinggal jauh. Mesin mereka kembali mati. Alhasil, kami menunggu kembali. Sudah lebih dari 3 kali sejak pemberhentian di ujung daratan pumpboat tersebut mengalami mati mesin.
Kembali diam di tengah laut.
Aku sudah melupakan indahnya senja.
Malam mulai menyambut kami. Air laut sudah tak sebiru tadi.
Kelam.
15 menit kembali melaju. Malam sudah jelas hadir di tengah-tengah kita semua. Dan aku, entah apa yang aku pikirkan saat itu.
Ombak tidak kencang, aku pun tidak mual. Hanya saja, baik pinggang, leher, dan semua badanku terasa pegal.
Sudah hampir 10 jam saat jam tanganku tepat berbunyi di angka 21.00. Membuat posisi dudukku sudah berubah-ubah.
Pegal.
Lampu mercusuar pulau sudah terlihat dari kejauhan. Masih seperti titik yang kedap-kedip. Masih sangat jauh.
Sempat aku berpikir, “Mengapa kita harus menunggu pumpboat yang lain, sih? Mereka juga tahu jalan, kan? Sudah sejak sore tadi harusnya pumpboat yang aku tumpangi sudah sampai di Marore. Karena memang cepat dan tak ada kendala seperti ombak besar atau mesin mati.”
Pukul sepuluh malam.
Masih beriringan dengan pumpboat yang jalannya semakin pelan.
Aku menangis.
Menangis tertahan.
Lelah karena tidak kunjung sampai.
Pukul 11 malam.
Masih tak ada kemajuan menjanjikan.
Sempurna! Sudah dua belas jam kami mengarungi lautan.
Saat Pulau Marore sudah terlihat dengan sangat jelas, saat itu juga pumpboat kami tidak bisa bersandar. Karena masih surut untuk sekedar bersandar.
Sia-sia.
Harapanku agar segera turun kandas.
1 jam memandangi pulau di depan mata. Dengan tetap duduk di pumpboat yang entah sudah sukses membuatku enggan berbicara dengan siapa pun.
Penumpang tidur menunggu air laut pasang.
Aku?
Meringis.
Menulis di journal harian sambil menunggu air pasang lumayan menghiburku.
Menuju pukul 12 malam.
Masih duduk di sini.
Masih di tengah laut memandangi siluet pulau yang sebenarnya, sudah sejak tadi aku bisa sekedar meluruskan kaki atau menegakkan pinggangku yang pegal.
Pasrah. Beberapa menit lagi berganti hari.
***
Hari ke-CCXX, 20 Januari 2015. Selasa, pukul 00.15 Wita
Iya!
Masih di tempat yang sama, dengan keadaan yang sama tanpa kemajuan berarti.
Pukul 00.30, masih sama.
Setengah jam berlalu dengan harapan-harapan yang sudah terbang entah kemana. Harapan untuk segera sampai yang sejak tadi sudah menguap kering seperti basah di baju ini, yang sudah kering di badan entah sejak kapan.
Tepat pukul satu dini hari, ada orang di seberang pantai yang datang membawa perahu kayu seperti ketinting. Tidak bermesin. Hanya menggunkan dayung untuk membawa penumpang menepi.
Satu per satu penumpang dibawa.
Untuk menaiki perahu dayung tersebut saja masih harus berjuang karena kami masih berada di tengah laut yang dalam.
Tiba giliranku.
Tak usah aku ceritakan bagaimana aku dibawa ke lain tempat. Bukan menepi ke pantai yang surut, aku malah di bawa di ujung dermaga feri untuk dinaikkan melalui besi-besi sisa pembangunan.
Kesal!
Hampir tergelincir saat aku disuruh merayap menggapai besi.
bagaimana tidak? kalian pernah membayangkan adegan dalam film action? memanjat di ujung tebing, dengan menggapai besi-besi sisa kerangka dinding yang sudah rapuh, tinggi dari perahu sekitar dua meter untuk dapat menginjakkan dermaga, dan yang paling sempurna membuatku kesal adalah, aku berdiri tepat diujung ketinting berdiameter tidak lebih dari 20 senti, yang bergoyang tak berirama karena ombak yang membentur dermaga dan, oi, bawahku itu laut dalam!
Terima kasih. Aku tak ingin melanjutkan cerita.
Setengah 2 pagi aku jalan menuju rumah keluargaku yang jaraknya lumayan jauh. Gelap dan seorang diri.
Sempurna.
Sempurna keadaanku.
Sempurna rasa kesalku.
Namun, saat tiba di rumah, melihat kedua orang tuaku menungguku dengan rasa kantuknya, menyediakan teh manis panas –yang katanya sudah di ganti beberapa kali saat aku bilang sudah menepi di Marore tadi- membuat kesalku hilang.
Kasse bue, Pak, Bu.
***
Hari ke-CCXXI, 21 Januari 2015. Rabu, pukul 09.22 Wita
Alunan lagu daerah yang dibawakan oleh tetua pulau menandakan bahwa aku sudah kembali ke Kawio ini.
Kemarin, kami sekeluarga pulang ke Kawio.
Untuk kali ini, aku tidak akan menceritakan tentang pengalaman aku naik pumpboat lagi. Pasti kalian pun sudah bosan tentang itu semua.
Baiklah, aku akan menceritakan satu pengalamanku pagi ini.
“Engku, mengapa pengajar muda hanya lima tahun berada di pulau ini?” tanya salah satu orang tua murid tiba-tiba setelah aku memimpin apel pagi.
“Eh, iya, Bu?” jawabku tak siap. Mencoba mencari jawaban yang tepat.
“Kata anak saya, dorang senang belajar bersama engku deng enci pengajar muda. Katanya, mereka cepat mengerti.” sambung ibu tersebut.
“Terima kasih, Bu. Iya, kami memang ditugaskan hanya lima tahun mengajar di sini. Itu pun bergantian setiap tahunnya. Sebenarnya, diharapkan saat kami sudah tidak berada di Kawio atau di Sangir lagi nantinya, baik guru atau masyarakat setempat sudah semakin luar biasa lagi. Selama ini, kami banyak belajar dari masyarakat dan guru-guru di sini. Dan kami melihat, saat kami sudah tidak ada di tempat ini, semua bisa berjalan menjadi lebih baik.”
“Tapi deng guru-guru di sini, anak saya tidak senang, Ngku. Malah kalau tahun depan sudah tidak ada lagi, sedangkan dia masih kelas 4 sekarang, dia tidak mau sekolah.”
“Semua guru di sekolah masing-masing memiliki tujuan yang sama, kok, Bu. Berharap semua anak didiknya menjadi seseorang yang berguna. Seseorang yang berhasil. Setidaknya, ia akan jadi lebih baik lagi. Hanya saja, memang mungkin cara mengajarnya saja yang berbeda-beda. Dan mungkin itu juga yang membuat murid terkadang merasa takut. Tapi, jauh dari itu semua, saya melihat kasih sayang para guru kepada semua murid-murid meski lewat dari teriakan atau hal-hal yang tidak disukai murid itu sendiri.”
“Iya, sih, engku. Kadang saya berpikir bahwa anak saya saja yang memang nakal dan pemalas sehingga sering dimarahi guru-guru.”
“Anak ibu tidak nakal, kok. Diusianya yang masih sangat muda, memang sedang masa kanak-kanaknya tumbuh. Lebih aktif kalau saya bilangnya.”
“Oh begitu, ya? Hehehe. Saya pikir anak saya nakal terus.”
“Saya percaya, Bu. Karena para orang tua, termasuk ibu dan bapak di rumah adalah orang-orang yang lebih sering berinteraksi ketimbang saya, atau kami para guru di sekolah. Saya percaya bahwa sebenarnya, pendidikan yang paling hebat adalah dari orang tua anak itu sendiri. Kami hanya membantu tentang pelajaran umum dan sikap-sikap baik yang diajarkan di sekolah. Selebihnya, orang tua-lah yang paling memiliki peran di sini.”
“Terima kasih ya, engku. Setidaknya, kami orang pulau merasa beruntung. Mendapatkan kesempatan untuk bertemu dan kenal dengan engku dan enci dari Jawa sana. Apalagi untuk anak saya. Ia sangat beruntung bisa diajarkan oleh guru-guru yang hebat seperti kalian.”
“Waduh, Ibu ini. Kami yang paling beruntung. Tidak pernah sebelumnya belajar banyak hal seperti belajar di Kawio ini. Masyarakat Kawio ini memang luar biasa. Masipate kebi[1].”   
“Hahaha, masipate wa’de. Kasse be lai, engku.”
“Sembau lai, kukis-kukis su Kawio, matemang-temang. Mapulu ia. Kong, enterang ia mapure seng sarang Jakarta, tala kumang kukis lai[2]. Hehehe.
“Hahahaha. Makannya, belajar bikin kukis jo,engku!”
“Ore o. Pasti, Bu.”
***
Hari ke-CCXXII, 22 Januari 2015. Kamis, pukul 10.46 Wita
Hujan pagi ini menyejukkan tanah-tanah yang berdebu.
Setiap hujan, aku selalu suka dengan aroma khas tanahnya.
Setiap hujan juga, aku selalu bersyukur bahwa Tuhan masih memberikan air untuk sumur-sumur di pulau kami.
Meski, setiap hujan juga, selalu saja khawatir dengan kehadiran murid-murid hebatku. Tak masalah jika mereka telat, namun tetap mengisi gedung sekolah ini dengan teriakan-teriakan ajaib mereka.
Jika sebaliknya? Jika sepi?
Cuma satu kata sakti yang bisa membuat hari hujanku semakin indah,
“Engku!” dengan teriakkan yang terkadang membuat sakit telinga.
Ya, hanya itu yang membuat lengkap kebahagiaanku saat hujan. Menandakan mereka hadir.
***
Hari ke-CCXXIII, 23 Januari 2015. Jumat , pukul 09.23 Wita
Senam seperti biasa, olahraga seperti biasa, dan bermain “Engku berkata”.
Setidaknya, tawa anak-anak mengobati rasa kesalku pada guru-guru –yang tidak usah dibahas penyebabnya apa-
Anak-anak, kalian memang pintar sekali menarik hati ini.
Terima kasih, oi!
***
Hari ke-CCXXIV, 24 Januari 2015. Sabtu, pukul 08.22 Wita
Kebahagiaan pagi ini disponsori oleh anak-anak kelas 1 dan kelas 2 yang kugabungkan menjadi satu kelas.
Wajah-wajah mereka memang sukses membuatku tertawa.
Meski kelas rangkap kali ini terbilang sedikit berisik, karena kami sedang belajar menjadi pemimpin pembawa lagu. Anak-anak belajar menggerakkan tangan ke atas dan ke bawah mengikuti irama empat per empat, atau dua per empat saat membawa lagu.
Sambil masing-masing maju ke depan kelas, memulai memimpin teman-temannya yang lain.
Ajaib!
***
Hari ke-CCXXV, 25 Januari 2015. Minggu, pukul 08.01 Wita
“Pendidikan yang baik mengajarkan anak didiknya untuk berbakti bagi nusa dan bangsa.” –dr.Sutomo.
“Salah satu cara untuk membebaskan diri dari penjajahan, rakyat harus cerdas.” –dr. Wahidin Sudiro Husodo.
Kutipan-kutiapan di atas aku ambil dari buku perjuangan para pahlawan milik perpustakaan sekolah.
Menurut dr.Sutomo, mengajarkan anak didiknya untuk berbakti bagi nusa dan bangsa, memang sangat krusial mengingat kami berada di perbatasan negeri.
Acap kali anak-anak kami, berkata, “Di Filipin enak, engku! Torang bisa makan makanan yang murah. Kata bapak saya, orang-orang sana lebih enak kalau membeli ikan bapak. Dibayar mahal.”
Ironis.
Lain lagi kutipan dari dr.Wahidin Sudiro Husodo, jika kita tidak ingin di jajah oleh siapa pun, termasuk di jajah oleh ‘terbatasnya’ kehidupan, maka sudah seharusnya kita harus cerdas. Pintar untuk semua hal. Dan yang paling penting, kita tidak mudah di bodohi oleh orang lain. Apalagi oleh orang yang ingin ‘menjajah’ kita.
***
Hari ke-CCXXVI, 26 Januari 2015. Senin, pukul 18.05 Wita
Berenang di laut.
Bersamaan dengan hujan.
Menengadahkan wajah bersama anak-anak sambil berpegangan tangan dan tiduran di permukaan air laut.
“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah, yang kamu dustakan?”
***
Hari ke-CCXXVII, 27 Januari 2015. Selasa, pukul 07.35 Wita
Sekolah berjalan seperti biasanya.
Selamat pagi anak-anakku!
***
Hari ke-CCXXVIII, 28 Januari 2015. Rabu, pukul 06.40 Wita
Berita bagus!!
Di Kawio sudah terdapat listrik dari genset kampung yang menyala lebih lama. Hingga pukul 11 malam! Yeaaah!! Lumayan, 1 jam tambahan untuk aliran listrik genset.
Setidaknya, meski warga yang tidak memiliki genset, tetap bisa menikmati terangnya bohlam lampu. Kali ini kampung memiliki genset besar yang dialirkan ke seluruh rumah. Memang tidak gratis untuk ikut serta dalam program ini, tapi, setidaknya, mereka tidak harus mencari minyak untuk bahan bakar genset.
Semua urusan sudah diserahkan kepala desa kami kepada salah satu warga lulusan STM. Ia yang mengelola pemasangan listrik, dan mengelola semuanya. Iuran yang dibayar warga untuk menggaji orang tersebut. Semoga program yang baru mulai ini tetap berjalan.
***
Hari ke-CCXXIX, 29 Januari 2015. Kamis, pukul 11.07 Wita
Buat: Engku Hairul
Dari: Melda Papangge

___
Betapa hatiku berterimakasih Yesus,
Kau mengasihiku.
Kau memilikiku.
Hanya ini Tuhan,
Persembahan segenap hidupku, jiwa dan ragaku.
Sebab tak kumiliki harta kekayaan yang cukup berarti tuk kupersembahkan.
Hanya ini Tuhan, permohonanku.
Terimalah Tuhan,
Persembahanku.
Pakailah hidupku sebagai alatMu.
Seumur hidupku.
Terima kasih Yesusku.
___
Engku, saya buatkan surat untuk engku. Sebagai ucapan terima kasih buat engku yang sudah mengajari kami melakukan lomba kuis.
Salam,
Melda Papangge.
___
Tidak ada yang sia-sia jika kita mau berusaha, bukan?
Ya, terima kasih, Melda.
Engku akan buat kuis lagi nanti. Kalian luar biasa.
***
Hari ke-CCXXX, 30 Januari 2015. Jumat, pukul 22.45 Wita
Karena di pulau kami, listrik dari genset terbilang baru menyala hingga pukul 11 malam, maka malam ini, aku mencicipi lamanya pemadaman.
“Mas, ayo mampir ke pos? Ngobrol-ngobrol.” ajak salah satu polisi yang ditugaskan di Kawio.
“Boleh, Kak. Sekalian coba terangnya Kawio. Hehehe.”
Tepat setelah sholat isya, aku ke pos untuk sekedar bercerita dengan polisi –aku memanggilnya Kakak-
Sebelum berangkat, karena di rumah tidak ada orang, semua keluargaku sedang ibadah di rumah lain, maka aku meninggalkan pesan di selembar sticky notes yang aku tempel di pintu kamarku.
“Ibu, Bapak, saya main ke pos. Mau ngobrol dengan Kakak. Kasse bue –Engku.”
Berjam-jam aku berada di pos dengan Kakak. Bercerita tentang apa pun. Di mulai dari keamanan pulau, penempatan Pengajar Muda, sampai masalah percintaan Kakak yang sedang dilanda rindu. Sudah 2 minggu ia tidak pulang ke Tahuna.
“Mas sudah punya pacar?” tanyanya seperti yang sudah kuduga.
“Eh? Belum, Kak. Eh?” dan aku tetap belum siap menjawabnya.
“Belum punya dua?” ledeknya.
“Jangankan dua, Kak. Mau menginjak angka 1 saja, belum. Hahaha,”
“Atau belum ada di Sangihe? Tapi di Jawa sudah?”
“Oi? Mau di sini-sana-atas-bawah-depan-belakang, belum, Kak. Nanti saja. Mau fokus dulu.”
“Fokus apa? Fokus dalam kesendirian? Kasihaaan. Hahaha,”
“Mau fokus menyeleksi yang antri, Kak. Hahaha, fokus sama pekerjaan sekarang dulu, Kak. Masalah pacar atau pendamping, masih bisa nanti-nanti-lah.”
Tepat pukul sepuluh lewat lima menit, ternyata benar, genset masih tetap menyala.
Tanpa aku sadari, dari rumahku sedang ada masalah.
Masalah yang disebabkan karena aku.
Aku yang menyebabkan orang-orang mondar-mandir dengan kekhawatiran.
Tepat pukul setengah sebelas malam, aku pamit dari pos. Tanpa merasa ada masalah apa-apa, aku melenggang pulang dengan santai. Menikmati terangnya bohlam-bohlam rumah di waktu yang biasanya, jangankan orang, hewan peliharaan saja enggan untuk sekedar menggonggong atau melenggokkan badan di luar.
“Engku, dari mana?” tanya tetangga rumahku.
“Eh? Saya dari pospol, Bu. Kiapa?” tanyaku khawatir karena ibu tersebut juga menunjukkan ekspresi khawatir.
“Dari tadi, Pak Sumolang ada cari pa engku. Dia sudah bolak-balik sejak selesai ibadah ke rumah opla –sebutan untuk kepala desa- sampai ke rumah Putra.”
“Astaghfirullah! Saya pergi ke pos setelah sholat isya tadi. Saya sudah menuliskan pesan. Baik, Bu, saya pulang dulu. Kasse bue, Bu.” aku pulang dengan sedikit berlari –bisa dibilang kencang-
“Malam,” teriakku setiba di rumah.
“Malam, engku.” sahut Ibuku. Masih terlihat wajah bekas paniknya.
“Maaf, Ibu. Kata Mama Alya, Bapak ada cari-cari saya, ya? Aduh, maaf. Saya sedang main ke pospol. Ada bacarita deng Kakak.”
“Iya, ini Bapak masih belum pulang. Dari rumah opla, Bapak pigi ke rumah Putra. Tapi engku tetap tidak ada. Ini sekarang mau ke rumah Aris. Mungkin sebentar lagi pulang kalau di sana juga tidak ada.”
“Maaf, Ibu. Saya sudah menuliskan pesan di depan pintu kamar saya. Sepertinya jatuh sehingga tidak terbaca.” aku langsung menuju kamar. Mencari kertas sticky notes yang aku buat tadi. Dan benar, kertas tersebut sudah ada di lantai.
“Engku sudah pulang? Tadi ketemu Mama Alya di depan.” Bapakku baru sampai rumah.
“Iya, ternyata engku ke pospol. Engku ada tulis ini, tapi terjatuh.” Ibu sambil menunjukkan sticky notes tersebut. Tertawa.
“Maaf, Pak. Karena tidak ada orang di rumah, Kakak ada ajak main ke pos, makannya saya buat surat itu. Biar Bapak dan Ibu tidak khawatir kalau saya pulang kemalaman. Dan karena kertas itu terjatuh, Bapak jadi bolak-balik. Maaf, ya, Pak.” aku merasa benar-benar bersalah. Kami sudah duduk di lantai bersama-sama. Juga ada Dowes yang sudah tertidur.
“Hehehe, syukurlah. Tidak apa-apa. Itu karena angin yang bikin kertas tacabut. Saya sama Ibu cuma takut engku ada dijahatin orang. Takut engku ada makan atau minum yang diberi racun oleh orang. Sedang banyak masalah karena itu, ngku.” Bapak terlihat lebih santai, meski napasnya masih satu-dua.
“Eh? Yang benar, Pak? Di Kawio juga ada seperti itu?” tanyaku yang malah membuatku lebih khawatir.
“Iya, engku. Sekarang sudah banyak terjadi. Biasanya selain dikasih lewat makanan atau minuman, di ujung kuku jari juga di kasih racun. Jadi dia pura-pura meminta api dari rokok yang sedang dihisap oleh orang lain. Jari yang sudah diberi racun di ujung kukunya akan dilepaskan di tempat orang lain itu menghisap rokok. Sehingga, saat ia merokok kembali, racun itu akan terhisap.” Ibu menjelaskan.
“Astaga, sampai saat ini masih ada seperti itu? Saya pikir itu hanya cerita lama.”
“Betul, engku. Masih banyak. Makannya, saya selalu bilang sama Bapak, harus bawa macis[3] kemanapun. Jadi kalau ada orang mau minta api, tidak dari rokok Bapak. Suka merokok, kok, tidak mau membawa macis sendiri.” sahut ibu lagi.
“Makannya, saya takut engku ada dikasih makan atau minuman yang diberi racun. Makannya tadi saya langsung cari begitu engku tidak pulang sampai jam 9 lewat.” Kali ini Bapak benar-benar sudah bernapas dengan normal.
“Iya, Pak. Terima kasih, ya. Maaf kalau sudah membuat semua orang cemas.” aku undur diri. Terlihat Bapak dan Ibu butuh istirahat. Sudah larut dan hanya hitungan menit saja lampu akan dipadamkan.
Kalian tahu? Betapa aku bersyukurnya ditempatkan bersama keluargaku di sini?
Kejadian tadi salah satu contohnya.
Mereka mencemaskanku seperti anaknya sendiri. Bukan hanya itu saja, karena aku muslim, dan setiap aku ingin mengambil air wudhu untuk sholat subuh, pasti akan ada air 1 timba untukku. Karena sulitnya air, setiap malam mereka selalu menyisakan 1 timba untukku. Bahkan jika Dowes meminta untuk dipakai, maka Bapak selalu berkata, “Untuk engku wudhu besok pagi. Jangan pakai!”
Sekali lagi, adakah hal-hal yang membuatku tidak menyayangi mereka juga?
Mereka keluargaku.
Orang yang harus aku hormati, sayangi, juga cintai seperti aku mencintai diriku dan keluargaku sendiri nun jauh di sana.
Terima kasih, Pak.
Bapak yang selalu diam. Tak banyak bicara, tapi selalu cemas jika ada hal-hal yang terjadi padaku.
Terima kasih, Ibu. Terima kasih untuk semuanya.
***
Hari ke-CCXXXI, 31 Januari 2015. Sabtu, pukul 10.58 Wita
Hujan deras.
Setelah lonceng dibunyikan, semua murid masuk di kelas 1 untuk melakukan ibadah bersama. Karena guru-guru belum ada yang datang, maka aku yang memimpin ibadah mereka. Aku hanya menyuruh salah satu murid dari kelas 6 untuk menjadi pemimpin ibadah, aku hanya mengawasi dari belakang kelas.
Semua tertib beribadah.
Sabtu pagi, saat teduh, selalu teduh.
(bersambung...)

[1] Bagus semua
[2] Satu lagi, kue-kue di kawio enak-enak. Saya suka. Terus, nanti kalau saya pulang ke Jakarta, tidak makan kukis lagi.
[3] Korek api

Komentar

Postingan Populer