Sejauh apa pun aku melangkah, tanah airku, tetap Indonesia



Sejak subuh tadi, hujan lebat mengguyur pulauku.
           Deburan ombak dan terpaan angin kencang kerap terdengar. Rumahku yang memang berada di dekat laut, sangat jelas mendengar setiap angin, ombak, atau bahkan suara pumpboat[1] yang sekedar lewat.
           Aku sudah rapi dengan kemeja panjang biruku. Kutengok jalanan utama menuju sekolah, sepi. Belum ada tanda-tanda kehidupan di sana. Tak terdengar teriakan-teriakan yang selalu menghiasi pagi di sekolah. Datangkah mereka? Apalagi, kemarin, baru saja ada gempa yang cukup lama terasa di pulau kecil ini.
Hujan yang tak berhenti membuat tekadku semakin bulat. Aku harus berangkat. Meski tak ada satu pun siswa yang datang, aku tetap harus menunggu mereka di sekolah. Kubuka payung hitam bergarisku, kunaikkan celana panjang bahanku hingga lutut, dan menjinjing sepatuku agar tak basah.
            Sekolah masih sepi.
Bendera di ujung tiang yang belum sempat diturunkan kemarin sore tampak kuyup. Sesekali berkibar karena tiupan angin kencang. Aku membawa sebuah bangku kayu dari dalam ruang guru ke depan kelas. Takut-takut ada yang datang, namun kembali lagi karena merasa tak ada orang di sekolah. Jam digitalku menunjukkan angka delapan. Sudah hampir satu jam aku duduk menanti siswa-siswa hebatku. Tak ada yang datang. Ku amati sekitar sekolah, semua pintu rumah tertutup. Sepertinya, memilih tidur kembali karena mengail pun saat ini tidak memungkinkan. Ombak dan angin cukup besar. 
            “Engkuuuu[2] Hairuuuul!!” suara yang sudah sangat aku kenal mengagetkanku. Kucari ke arah sumber suara. Sepi. Tak ada siapa pun di sana. Halusinasikah?
            “Engkuuu!!” kali ini aku cepat menengok. Jas hujan berwarna hijau muda tampak di balik dinding perpustakaan. Putra. Ya, suara Putra, siswa kelas 5 kebangganku, ia sengaja bersembunyi saat memanggilku  tadi. Aku tersenyum dan menggelengkan kepala. Sempat-sempatnya bercanda dan bersembunyi di bawah hujan deras ini? 
             Putra menghampiriku, menyalamiku, dan melepaskan jas hujan bergambar ‘upin-ipin’ nya. Ia menggantungkan jas hujannya di paku depan kelas. Dibalik jas hujannya, masih terdapat jaket yang menghangatkan tubuhnya.
Sambil duduk, Putra mengenakan sepatu yang sejak tadi ia masukkan ke dalam tas sekolah, mengambil bangku dari dalam kelasnya, dan  beberapa menit kemudian, kami sudah duduk bersama. Menanti teman-teman lainnya sambil bercerita apa saja ditengah derasnya hujan.
            “Sepertinya tidak ada yang datang, Ngku. Kita pulang saja, ya? Sudah jam sembilan kurang. Pasti tidak ada yang datang.” ajak Putra. sudah hampir satu jam kami duduk menanti siswa lain. Dan aku sudah dua jam duduk di sini.
            “Tunggu tujuh menit lagi, gimana? Biar pas jam sembilan kita pulang,” tawarku.
            “Oke deh, Engku! Sip!” kami melanjutkan obrolan.
            “Saya kangen Mamak saya,” ucapnya lirih tiba-tiba. Suaranya tak mampu menyaingi hujan.
            “Apa, Putra?”
         “Sudah lama sekali saya tidak bertemu Mamak. Terakhir kali waktu saya kelas 2.” Putra menangis. Sudah tiga tahun ia tidak bertemu dengan Mamak-ibunya. Ibu Putra tinggal dan bekerja di ibu kota propinsi. Menjadi pembantu rumah tangga. Ia tinggal dengan kakek dan neneknya. Ayahnya masih ada di pulau ini, tapi karena ada permasalahan keluarga, membuat ayah Putra tidak satu rumah dengannya. Aku yang sedikit banyaknya mengetahui tentang keluarga siswa-siswaku, hanya bisa berkata ‘sabar’, aku juga tak mengerti, hampir semua siswa-siswa di sini, tidak tinggal bersama kedua orang tuanya. Mereka dititipkan pada kakek atau adik dari orang tuanya.
           “Mama kamu pasti berat meninggalkan anaknya yang pintar ini. Tapi, engku yakin, ini semua untuk kamu. Mama kamu bekerja di sana demi menyekolahkan kamu. Maka dari itu, kalau kamu sayang sama mama, jangan malas belajar. Sekolah yang rajin, dan harus menuruti apa yang kakek dan nenekmu bilang.” aku mengelus rambutnya. Ia masih sesenggukkan.
           “Tapi kenapa sudah mau tiga kali Natal, mama tidak pulang ke Kawio? Apa tidak sayang lagi sama saya?” tanyanya sambil mengusap air mata.
          “Tidak mungkin mama kamu tidak sayang sama kamu, Putra. Dan tidak akan mungkin seorang ibu membenci anak kandungnya sendiri. Saat ini, sudahkah kamu mendoakannya?”
            “Jarang, Ngku.
           “Nah, itu dia. Setiap berdoa, jangan lupa mendoakan kedua orang tuamu juga. Mendoakan agar mereka baik-baik saja. Dan semoga Tuhan menjaga dan melindungi mereka. Dan yang paling penting sekarang, kamu harus tetap belajar. Buat mereka bangga sama kamu.”
            “Iya, Ngku. Saya akan doakan Mamak dan Bapak.” Putra sudah berhenti menangis. Bekas air matanya masih ada di pipinya.
            “Oh iya, kamu tahu tidak, siapa Bapak Presiden kita saat ini?” tanyaku sambil sesekali membersihkan tempias air hujan di wajah.
            “Bapak Jokowi, Engku! Kemarin waktu di Pulau kita sedang pemilihan, saya tahu siapa saja Bapak calon presiden kita.” Jawabnya sambil mengacungkan tangan. Terlihat antusias. Aku memang selalu ‘menyelipkan’ pertanyaan-pertanyaan apa pun kepada murid-muridku, baik pertanyaan mengulang pelajaran atau apa pun saat kami sedang bermain atau hanya saat sekedar duduk santai di pinggiran dermaga pantai.
            “Nah, betul. Lalu, kamu tahu siapa Bapak Presiden ke-3 kita?” tanyaku kemudian.
            “Hemmm… Bapak Soekarno itu yang pertama, itu, kan, ada di pelajaran tentang proklamasi. Yang ke-2 itu Bapak Soeharto, kan?” tanyanya memastikan. Aku mengangguk.
         “Yang ke-3, ya, pertanyaan Engku?” tanyanya memastikan kembali. Putra terlihat diam sejenak. “Aha!! Saya tahu! Bapak Habibie, kan??! Yang membuat pesawat terbang itu, kan??” jawabnya penuh percaya diri hingga ia melompat dari kursinya.
         “Betul sekali! Nah, kamu tahu, tidak? Bapak Habibie yang memiliki nama lengkap Bacharuddin Jusuf Habibie, atau disingkat B.J. Habibie itu lahir di Sulawesi juga, lho. Sama kayak kamu. Kalau kamu di Pulau Kawio, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, sedangkan Pak Habibie itu lahir di Parepare, Sulawesi Selatan. Sama-sama Sulawesi, kan?” hujan belum menunjukkan tanda akan berhenti. Murid-murid juga belum ada yang datang, tujuh menit yang dijanjikan berganti menjadi setengah jam.
            “Sejak kecil, Pak Habibie itu sama seperti kamu. Pintar, disenangi banyak teman, dan amat sangat mencintai Ibunya. Meski ayah Pak Habibie meninggal saat beliau berusia belasan tahun, Pak Habibie tidak pernah menyerah pada keadaan. Bersama Ibu dan saudara-saudaranya, Pak Habibie pindah ke Bandung, melanjutkan sekolah hingga ke Jerman. Beliau sangat pintar. Sama seperti kamu yang suka sekali dengan pelajaran IPA, Pak Habibie juga sangat senang, hingga akhirnya seperti yang kamu bilang tadi, beliau dan pesawat adalah hal yang sangat membanggakan bagi Negara kita.”
            “Hebat!” pekik Putra. Senyumnya mengembang.
           “Nah, kamu tahu, tidak? Sepengetahuan Engku, kalau tidak salah, Ibu dari Pak Habibie itu membiayai kuliah Pak Habibie dengan usaha catering atau makanan dan kost atau tempat untuk menginap kalau di Tahuna sana. Ibu dari Pak Habibie itu sama seperti Mamak kamu. Bekerja dan tinggal jauh dari anaknya, untuk membiayai sekolah anaknya, untuk melihat anaknya bisa berhasil. Dan kamu lihat, bukan? Pak Habibie sekarang menjadi orang besar!”
          “Saya juga mau seperti Pak Habibie! Putra Andaria akan menjadi orang besar juga. Tidak hanya di Sangihe saja, tidak hanya di Indonesia saja, tapi di seluruh dunia!” bekas air matanya sempurna menghilang. Rona wajahnya terlihat semangat menggebu-gebu.
            “Aamiin! Semoga Tuhan mengabulkannya. Jadi? Putra harus apaa???” tanyaku menggoda.
        “Putra Andaria harus rajin belajar dan mendoakan Mamak supaya selalu sehat untuk membiayai saya. Dan saya mau melihat Mamak bangga sama saya seperti Mamaknya Pak Habibie yang sangat bangga dengan Pak Habibie!” percakapan kami diakhiri dengan semangat yang tak padam, semoga tak akan pernah padam. 
           Kami memasukkan bangku ke ruangan. Tujuh menit yang dijanjikan entah berganti menjadi berapa lama. Sekolah masih sepi. Hujan juga masih deras. Kami mengenakan perlengkapan masing-masing. Kuantar Putra sampai ke rumahnya.
“Jangan lupa berdoa. Disaat tak mungkin bertemu, hanya doa yang bisa menyampaikan. Tuhan tahu itu.” kataku sebelum kami berpisah. Semangat terus, Putra. Semangat terus! dan jangan sekalipun berpikir untuk menyerah pada keadaan. Seperti Pak Habibie.
***
Pulau Kawio, Kabupaten Kepulauan Sangihe - Sulawesi Utara
Satu tahun mengabdi menjadi seorang Pengajar dari sebuah gerakan di bidang pendidikan, yang mengajak berbagai pihak, termasuk masyarakat umum, untuk turut terlibat aktif dalam usaha peningkatan kualitas pendidikan bangsa, membuatku selalu bersyukur. Ditempatkan di sebuah pulau yang luasnya saja tidak sampai 1 kilo meter persegi, di tengah lautan luas, tidak bersinyal, tidak berlistrik, mengarungi lautan belasan hingga 24 jam ke daratan besar menggunakan pumpboat atau kapal laut jika bisa berlayar, dan bahkan lebih dekat dengan Negara tetangga dibandingkan ke kabupaten bangsa ini, membuatku semakin mencintai bangsaku.
Selama setahun itu juga, sejatinya aku tidak hanya mengajar, melainkan belajar. Belajar dari kearifan warga pulau, juga belajar toleransi yang tidak hanya teori dari pelajaran kewarganegaraan saat aku sekolah dasar dulu, melainkan langsung menjalankannya. Seratus persen di pulau tempat aku ditugaskan beragama kristen, dan aku menjadi satu-satunya muslim dari empat ratus jiwa penghuninya. Bukankah amat indah jika sebuah perbedaan dapat beriringan? 

Inspirasi sosok Pak Habibie kepada Anak Negeri, sejatinya ingin aku rasakan. Banyak yang menanyakan sebelum aku mengikuti seleksi menjadi seorang pengajar tersebut, mengapa aku mau ditempatkan di pedalaman Negeri, pelosok Negeri, yang menurut orang lain merupakan hal yang menakutkan. “Bukankah mengapa kita harus memilih hidup susah di pedalaman, jika kemudahan perkotaan menjanjikan?” kata mereka.

Pak Habibie dicintai di Jerman, tapi bukankah beliau sangat atau bahkan lebih mencintai bangsa ini? Bangsa Indonesia ini? Maka aku langsung menjawab semua pertanyaan tersebut,
“Aku lahir dan besar di Negeri ini. Makan dan minum dari tanah dan air bangsa ini, memijakkan kali pertama kaki, memandang dan beratapan langit di tanah dan langit Negeri ini. Maka, tak akan sanggup aku membayar semua kebaikan bangsa ini. Mengabdikan diri hanya setahun, lantas apakah aku pantas jika ini dikatakan membalas semua kebaikan bangsa ini? Tentu tidak. Tapi, setidaknya, sekali dalam hidupku, aku tidak hanya mengutukki kegelapan, aku memilih untuk ikut meyalakan lilin. setidaknya, sekali saja dalam hidupku, aku dapat melihat - juga merasakan- senyuman anak-anak terbaik bangsa ini. Anak-anak yang sama seperti kita, anak Indonesia, yang juga memiliki semangat dan cita-cita sama seperti anak-anak di kota besar lainnya.”

Lagi dan lagi, Pak Habibie memang sejatinya sosok inspirator bagiku. Cinta Sang Inspirator Bangsa kepada Negeri, membuatku semakin yakin, bahwa, dimana pun kita berada, Indonesia, Jerman, Sangihe, Pulau Kawio, atau bahkan belahan dunia di koordinat mana pun, sejauh apa pun aku melangkah, tanah airku, tetap Indonesia.


[1] Perahu yang terbuat dari kayu atau bambu, memiliki satu atau dua beuah mesin yang berbahan bakar bensin.
[2] Panggilan sapaan untuk guru laki-laki yang belum menikah dalam bahasa Sangir. Kata E pada kata Engku dibaca seperti huruf E pada kata Enam. Jika gurunya wanita, maka disapa “Enci”.

***

Hadirilah!
Pameran foto Habibie dan gebyar aneka lomba yang diselenggarakan berbagai komunitas yang tergabung dalam Friends Of Mandiri Museum. Pameran ini dibuka untuk umum mulai 24 Juli 2016 hingga 21 Agustus 2016 di Museum Bank Mandiri, Kota Tua – Jakarta Barat.

Komentar

Postingan Populer