CCCLXV - Catatan Harian Pengajar Muda (27)
Hari ke-CCXXXIX, 08
Februari 2015. Minggu, pukul 01.00 Wita
24 tahun yang lalu, hari ini adalah hari
ibuku menunggu kehadiranku. Kehadiran putra yang pada awalnya tidak diharapkan
ada.
Ya, aku adalah anak yang tidak
direncanakan. 5 orang anak sebelumku –kakakku- sudah terlebih dahulu menjalani
‘bahagianya dunia’ fana ini. Anak ke-4 orang tuaku, yaitu Abangku, sudah
berusia 1 tahun saat tahun sembilan puluh silam. Tepat diusianya yang sudah
menginjak tahun pertama, ibuku terkejut bahwa, di dalam rahimnya, terdapat
janin yang tidak diduga-duga. Merasa program ‘KB’ nya gagal, sempat berpikir
untuk ‘meniadakanku’ saja.
Jika kata ‘sempat’ diganti dengan
‘langsung’, mungkin, pada tahun 91 di bulan februari, pada hari jumat dan tepat
pada tanggal hari ini, aku tidak akan ada. Tangisanku tak mungkin meramaikan
rumahku, ulahku tak mungkin menambah kesal orang-orang disekelilingku. Dan jika
dirunut hingga panjang, tidak akan ada pembelajaran berharga untukku di tempat
ini.
Aku, anak ke-6 di keluargaku (2 dari
kakakku sudah dipanggil terlebih dahulu oleh Tuhan, kini kami tinggal
berempat), lahir pada tanggal di hari ini. Delapan bulan ke-dua, waktu setelah
maghrib, ikut ‘merepotkan’ keluargaku.
Ikut meramaikan,
Ikut menjengkelkan,
Ikut menghabiskan jatah makanan
kakak-kakakku,
Dan,
Ikut menyumbangkan keluarnya air mata
dari perempuan yang paling aku cintai di dunia ini. Ibuku.
24 tahun yang lalu, hari ini adalah hari
ibuku menunggu kehadiranku. Kehadiran putra yang pada awalnya tidak diharapkan
ada.
Proses
melahirkanku yang orang bilang ‘sungsang’, membuat ibuku yang hanya di bantu
neneknya dalam melahirkanku menaruhkan seluruh hidupnya.
Iya,
aku, tahu, semua ibu kalian juga sama. Sama-sama memerjuangkan hidupnya saat
melahirkan kalian. Oleh karena itu, tak masalah jika aku membahasnya, bukan?
Satu
yang aku yakini. Dan kalian harus setuju tanpa ada bantah-membantah, adalah,
Ibu kalian adalah orang hebat! Memilih ‘mengadakan’ kalian, padahal, jika
terlintas ‘sempat’ berpikir untuk ‘menyudahi’, mungkin saja, bukan?
24 tahun yang lalu, hari ini adalah hari
ibuku menunggu kehadiranku. Kehadiran putra yang pada awalnya tidak diharapkan
ada.
Selain
hanya berdua dengan neneknya –buyutku- saja dalam melahirkanku, aku dilahirkan
di atas kasur di kamar tidur di rumahku. Tidak ada rumah sakit, tak ada bidan,
dan tak ada yang bisa memotong tali pusarku. Sungguh.
Beberapa
saat berada di atas perut ibuku setelah aku berhasil diselamatkan dari
‘sungsang’, keluargaku memanggil salah satu mahasiswi asal Bandung yang masih
kuliah perbidanan dan kost di kampungku. Untuk apalagi jika bukan untuk
memotong tali pusarku. Itupun dia belum pernah praktek ‘manusia’ nyata.
Berbekal
buku pegangan yang ia bawa, tali pusarku pun berhasil dipotongnya.
Tahukah
kalian? Sejak aku kecil, saat bertemu (mantan) mahasiswi yang sampai sekarang
memilih tinggal di desaku itu –kini ia sudah jadi bidan terkenal dan bekerja di
rumah sakit besar di Jakarta- Ibu itu selalu berkata, “Rul, awas, ya, kalau
kamu nakal sama Ibumu, melahirkanmu itu susah. Jangan ditambah dengan
kenakalanmu kalau sudah besar!”
Dan
satu lagi. Selain (mantan) mahasiswi kebidanan yang sudah menjadi bidan
terkenal, Almarhummah buyutku itu, setelah mengeluarkanku dari ‘sungsangnya’,
ia menjadi dukun beranak kampung. Dan, aku adalah bayi pertama yang berhasil ia
keluarkan; tentunya setelah itu ia sudah bisa memotong tali pusar.
24 tahun yang lalu, hari ini adalah hari
ibuku menunggu kehadiranku. Kehadiran putra yang pada awalnya tidak diharapkan
ada.
Sampai
kapanpun, aku tak akan membiarkan perempuan yang paling aku cintai itu,
mengeluarkan air matanya lagi karenaku.
Sampai
kapanpun.
24 tahun yang lalu, hari ini adalah hari
ibuku menunggu kehadiranku. Kehadiran putra yang pada awalnya tidak diharapkan
ada.
Aku,
Hairul, lahir pada tanggal delapan, hari jumat di bulan februari tahun 1991
yang lalu, saat hujan di waktu maghrib, sangat mencintai dia. Dia yang pada
tanggal hari ini 24 tahun yang lalu, sedang berjuang menaruhkan semua hidupnya
untukku. Anak ke-6 nya. Anak yang awalnya tidak diharapkan ada.
***
Pukul 19.30 Wita –kontrakan rumah.
Gelap.
Setiba
di rumah kontrakan pukul setengan dua dini hari, tiba-tiba lampu padam. Kami
baru saja kembali dari rumah Ci Melda. Menemani anaknya menonton Petualangan
Sherina –yang niatan pada awalnya adalah menonton Laskar Pelangi- hingga larut.
Aku,
Rizky, Bara dan Mbak Afifah yang masih di Tahuna. Bara yang sedang menginap di
rumah temannya tidak ikut dengan kami.
“Happy birthday to you, happy birthday
to you, happy birthday, happy birthday, happy birthday to you,” tiba-tiba,
Ci Melda, Ko Dani, Margie, Rizky dan Mbak Afifah keluar dalam kegelapan membawa
kue tart yang dibuat oma khusus untukku.
Dengan
lilin bertuliskan angka 24 diatasnya, aku disuruh berdoa lalu meniup lilin
tersebut, dan memotong kuenya.
Jujur,
aku sudah menahan tangisan, lho. Tapi, tiba-tiba, Rizky memutarkan video yang
di sana ada Revi, Mba Iir, Mba Afifah, Rizky, dan Bara sedang menyanyikan lagu
selamat ulang tahun padaku. Lengkap dengan doa dan harapan-harapannya. Mereka
sukses membuatku menangis.
Menangis
dengan doa-doa mereka yang isinya sama semua, “Semoga jomblo 24 tahunnya
berakhir di angka 24 saja. Tahun depan jangan.”
Terima
kasih, lho. Sebelum kalian kembali ke pulau, mendoakan dan ‘menyemangati’ saya,
sukses membuat saya terharu. Sampai menangis, bahkan. Pasti kalian tidak heran,
sih.
Terima
kasih, Ci Melda, terima kasih Ko Dani, juga Margie. Pagi-pagi buta merelakan
waktu istirahatnya. Terima kasih juga untuk Oma. Untuk kue tart yang sudah
tidak diragukan lagi rasanya. Nikmat!
Tepat
selepas maghrib (waktu Jakarta) yang di sini sudah isya; selamat ulang tahun,
Rul. Selamat berusia 24!
Semoga
semua yang diharapkan, semua yang ingin ditingkatkan, semua yang ingin
ditinggalkan, dapat segera tercapai.
Ya
Allah, terima kasih untuk usia 24 tahun ini.
Terima
kasih telah memberikan kesempatan belajar, bersyukur, dan berpikir untuk bisa
memperbaiki semuanya.
Aamin.
***
Hari ke-CCXL, 09
Februari 2015. Senin, pukul 16.35 Wita
Kapal
tidak jadi singgah hari ini.
Bersama
Rizky, aku ke Dinas Perhubungan. Mengemukakan permohonan kerja sama untuk
membantu kegiatan FAS 2015.
Alhamdulillah,
semua seperti yang diharapkan.
Semua
disambut baik.
***
Hari ke-CCXLI, 10
Februari 2015. Selasa, pukul 16.35 Wita
Saat
kamu mulai merasa lelah, lihatlah ke belakang.
Banyak
orang yang berlomba-lomba mengejar apa yang telah kamu gapai, apa yang telah
kamu selesai laksanakan hingga saat ini.
Saat
kamu mulai merasa lelah, lihatlah ke depan.
Banyak
orang-orang yang berlomba-lomba berlari mengerjakan apa yang masih menjadi
impiannya, apa yang masih menjadi harapan, serta cita-citanya.
Saat
kamu mulai merasa lelah, lihatlah ke bawah.
Banyak
orang-orang yang sangat menekuni apa yang mereka kerjakan saat ini, mensyukuri
apa yang tidak dan dimilikinya saat ini.
Saat
kamu mulai merasa lelah, lihatlah ke atas.
Banyak
orang-orang yang dengan keberhasilannya saat ini, dengan apa yang sudah
dimilikinya saat ini, tetap menengadahkan wajahnya, tetap memohon dan meminta
untuk keberkahan hidupnya. Pada Ia. Pada-Nya, Sang Pemiliki segalanya.
Dan,
Saat
kamu mulai merasa lelah, lihatlah ke sekelilingmu. Lihatlah di sekitarmu.
Banyak
orang-orang yang mencintai dan peduli padamu. Mencintai dan peduli pada apa
yang telah kamu capai, pada apa yang kamu bisa dan tidak bisa kamu kerjakan. Karena
mereka, karena di sekitarmu, terlalu berharga untuk kamu anggap tak ada.
Maka,
semangatlah, kawan! Kamu, tidaklah seorang diri.
***
Hari ke-CCXLII, 11
Februari 2015. Rabu, pukul 23.35 Wita
Tak selamanya, hujan deras itu besar.
Semua berawal dari rintik-rintik yang
membasahi bumi. Menyejukkan, menentramkan, mendamaikan.
Tak selamanya, sebuah lukisan indah itu
indah.
Semua berawal dari kanvas kosong, guratan
sketsa, serta percikan tinta berwarna. Menyejukkan hati, menentramkan jiwa,
mendamaikan mata siapa saja yang memandangnya.
Tak selamanya, ukiran patung mewah itu
mewah.
Semua berawal dari tanah liat, pola,
serta kesabaran dalam membentuknya. Menyejukkan, menentramkan, mendamaikan.
Kawan,
Tak selamanya, kesuksesan sejati itu
sejati.
Semua berawal dari kerja keras, pantang
menyerah, dan selalu berdoa pada-Nya. Menyejukkan, menentramkan, mendamaikan.
Karena hujan, lukisan indah, patung
mewah, serta kesuksesan sejati itu tidak
datang tiba-tiba. Tidak muncul dengan sendirinya. Semua, butuh perjuangan, usaha,
serta doa.
Bismillahirrahmaanirrahiim.
***
Hari ke-CCXLIII, 12
Februari 2015. Kamis, pukul 19.55 Wita
Buka puasa bersama Martin.
Banyak bercerita, menceritakan semua
tentang pertahanan. Bertahan untuk berada di tempat ini, bertahan memegang
teguh prinsip pribadi. Dan bertahan dari rasa rindu. Rindu pada keluarga, rindu
pada situasi kampung kita –Tangerang. Dan, rindu pada orang terkasih.
“Lu
mao ampe kapan, Bang di mari?” tanyaku dengan logat Betawi
kental. Lama tak berdialek seperti ini.
“Au,
dah. Maonya, sih, buruan. Jangan lama-lama. Ini mangkannya gua mau nyoba tes D4 nya. Yah, semoga keterima. Biar bisa ke sono.” jawabnya. Iya, Betawi rasa
Sangir.
“Amin, dah. Entar kite ketemuan di
kampung tercinta aje, ye. Hehehe.”
***
Hari ke-CCXLIV, 13 Februari
2015. Jumat, pukul 23.40 Wita
Baru selesai rapat bersama relawan di
rumah Ci Melda.
Semangat mereka masih menggebu-gebu.
Tuhan, limpahkan kesabaran dan
peliharalah semangat-semangat juang kami. Tak ada yang tak mungkin bagi-Mu,
Tuhan. Kami percaya itu.
Selamat malam.
***
Hari ke-CCXLV, 14
Februari 2015. Sabtu, pukul 22.55 Wita
Semua teman-teman sudah kembali ke pulau.
Harusnya, kapal hari ini berangkat. Ia
sudah ada di pelabuhan Tahuna. Tapi, karena masih ada perbaikan, keberangkatan
ditunda sampai esok.
Banyak muda-mudi di Tahuna ini sedang
merayakan hari kasih sayang. Banyak baliho-baliho yang menuliskan “Happy Valentine’s Day”.
Tak jarang, bunga-bunga di tangan,
boneka-boneka yang dibungkus rapi, diberikan pada orang terkasihnya. Di
sepanjang jalan pemandangan ini terlihat.
Unik.
Sedangkan aku, sedang mengantar Martin
kondangan di Kampung Tidore. Menggantikan Pak Farai. Ini juga kali pertama aku
datang ke acara pernikahan di Sangihe. Dari mulai acara, hingga selesai.
Dan, ada kuliahnya!
“Hadirin yang saya hormati, tahukah
mengapa wanita diciptakan dari tulang rusuk pria?” tanya seorang Bapak berpeci
hitam dengan kemeja batik senada dengan pecinya di pembuka kuliah pernikahan.
“Jawabannya, bukan dari kepala, karena
wanita bukan ditakdirkan menjadi pemimpin. Juga bukan dari tulang kaki, karena
wanita bukan sebagai alas kaki yang bisa diinjak dan dijadikan pembantu.”
pemberi materi diam sejenak.
“Tetapi, dari tulang rusuk, yang di dekat
di hati. Karena, wanita memang sudah selayaknya berada di sisi pria, berada di
dekat hati yang mana untuk dicintai dan merasa aman karenanya. Itulah mengapa
wanita di ciptakan dari tulang rusuk pria. Bukan dari kepala, apalagi dari
kaki.”
“Bapak-bapak, ibu-ibu, serta anak-anakku
yang Bapak cintai. Tahukah kalian bagaimana saat kita dikatakan menjadi istri
yang baik? Atau menjadi suami yang bertanggung jawab?”
“Semua berdasarkan kasih sayang, saling
menghargai, dan saling terbuka antara satu dengan yang lainnya.” sambungnya.
Semua tamu yang datang khusyu mendengarkan. Sedangkan aku? menurut kalian? saat
aku menceritakan dengan sempurna kalimat pembuka di atas? Ya, aku juga
mendengarkan –mau tidak mau- eh, tapi memang penasaran, sih. Hehehe.
Tidak akan aku tulis di sini. Semua sudah
aku catat di note handphoneku.
***
Hari ke-CCXLVI, 15
Februari 2015. Minggu, pukul 21.33 Wita
Ya! Tidak jadi pulang lagi. Kapal belum
siap.
Persiapan cabai, bawang merah, bawang
putih, gula, dan kebutuhan-kebutuhan untuk di pulau yang sudah aku beli sejak
kemarin semakin lama tersimpan di dalam kardus.
Oi, sendirian dan di PHP-in itu nggak enak, oi!
Apalagi, 24 tahun!
Oke, sorry
daijou, aku bercanda. Tidak bermaksud curcol
–curhat colongan.
Good
night!
***
Hari ke-CCXLVII, 16
Februari 2015. Senin, pukul 22.17 Wita
Akhirnya!
Kali ini, aku sedang berada di Sabuk.
Tadi diantar oleh Ci Melda, Ko Dani, juga Margie ke pelabuhan.
Selamat mengarungi belasan jam mengarungi
lautan, Rul!
Selamat malam, sampai jumpa di Kawio.
***
Hari ke-CCXLVIII,
17 Februari 2015. Selasa, pukul 19.19 Wita
KAWIO su
naung.
“Kami kangen deng engku.” teriak anak-anak di dermaga saat kapal bersandar tadi.
“Oi, apalagi engku. Selalu bermimpi mandi air masin –air laut- bersama kalian. Selalu mimpi balompa dari dermaga.” jawabku sambil memeluknya secara bersamaan.
“Minjo,
engku. Torang balompa!”
teriak Acil atusias.
“Eh? Jangan sekarang. Sudah mau malam.
Nanti dimarahi mama.” kelitku.
“Yaaahh, engku! Besok saja, ya, kalau begitu.” sambung Putra.
“Eh, eh, eh, iya, iya.”
***
Hari ke-CCXLIX, 18
Februari 2015. Rabu, pukul 19.51 Wita
Desau angin malam ini benar-benar
membuatku bahagia.
Kalian tahu? Masih kenal dengan murid
kelas 3 ku yang bernama Ulinsia Adingkaka?
Iya, dia yang sangat mencintai ayahnya.
Dia yang masih belum bisa membaca dengan baik.
Kalian tahu? Baru hari ini. Rabu di
tengah bulan kedua ini.
Ulinsia sudah bisa membaca!
Lancar!
Membaca alkitab saja ia bisa. Alhamdulillahirabil’alamiin.
“Uli luar biasa! Coba kita tanya bersama,
bagaimana cara Uli bisa membaca selancar ini sekarang?” tanyaku pada Uli di
depan kelas tadi pagi.
“Mungkin Anto dan Icon bisa mencontoh
Uli.” sambungku.
“Saya belajar membaca setiap hari, engku. Belajar membaca alkitab setiap
saat di rumah. Ternyata senang kalau kita bisa membaca. Saya bisa tahu apa yang
Tuhan firmankan dalam alkitabnya.” jawabnya.
Menakjubkan.
“Benar sekali, Uli. Membaca itu
mengenalkan kita pada dunia.” timpalku. Sungguh, aku sangat terharu. Kini, 3
sudah dari 5 muridku bisa membaca dengan lancar.
“Anto, Icon, coba ikuti Uli. Lebih giat
lagi membacanya di rumah, ya.” lirikku pada Anto dan Icon bergantian.
“Iya, engku!”
jawab Anto dan Icon bersamaan. Semangat.
“Uli, lalu bagaimana setelah kamu bisa
membaca dengan lancar? Masih tetap belajar terus, kan? Jangan berhenti membaca
alkitabnya.”
“Iya, engku.
Saya masih terus membaca. Agar saya bisa membaca alamat untuk mencari ayah
saya yang kabur karena gila. Saya ingin mencarinya sampai dapat.” wajahnya tak
terlihat sedih. Ia justru berseri-seri.
“Aamin. Kita doakan bersama, ya. Ayo,
sekarang, Uli, Miranda, Jesika, kalian bisa membantu engku untuk mengajari Anto dan Icon untuk bisa membaca secara
lancar. Kalian siap?”
“Siaaap, engku!”
***
Hari ke-CCL, 19
Februari 2015. Kamis, pukul 18.47 Wita
Karena keluargaku sedang di Tahuna, sejak
kedatanganku beberapa hari yang lalu, aku tinggal sendirian di rumah. Setiap
malam, Putra menemaniku.
Seperti hari ini.
Hari ini sekolah libur. Tanggal merah.
Main bersama, masak, makan, juga tidur
bersama Putra. Seharian ini banyak hal yang membuatku semakin dekat dengan
murid kebanggaanku itu.
“Saya ingin menjadi seperti Lintang, engku!” ucapnya sesaat kami selesai
menonton film Laskar Pelangi dari laptopku.
“Memangnya kenapa dengan Lintang?”
pancingku.
“Dia pintar. Menjawab matematika tanpa
menggunakan kertas dan pensil. Dia juga hebat. Mengurusi semua adik-adiknya
sendirian. Dan yang paling penting, dia dicintai oleh semua teman-temannya saat
dia pergi.”
“Iya. Itu memang kisah nyata. Berarti,
kamu juga bisa seperti Lintang. Asal be-“
“Belajar!” potongnya dengan cepat.
“Oi, engku
belum selesai.”
“Iya, saya tahu. Pasti engku mau bilang belajar. Asal kita
belajar, kan?”
“Heeh.”
“Engku,
kan selalu
ngomong itu terus. Kita harus belajar sampai kapanpun. Sampai kita jadi oma dan
opa-opa. Kita juga harus jadi orang jujur kalau kita sudah pintar.”
“Oi?” iya, ya? Aku selalu begitukah?
“Hahaha, pokoknya saya mau seperti
Lintang. Jadi anak pintar. Eh, sama jadi Mahar juga, deh.”
“Aduh, kenapa lagi itu?”
“Biar bisa nyanyi dan merayu cewek-cewek.
Hahaha.”
Tanpa hitungan menit, bantal ditanganku
sudah kutindihkan di kepalanya. Kubekap.
“Aaamphhuunn.” terdengar samar-samar
suaranya dari balik dekapan bantal.
(Bersambung...)

Komentar
Posting Komentar