"Mau gue kenalin, gak?" (Bagian 2)

Aku pernah membaca atau mendengar, katanya, Jika Tuhan tidak menciptakan perbedaan, maka kita tidak akan pernah belajar sesuatu. Karena katanya juga, tidak ada yang salah dengan perbedaan. Yang bermasalah adalah keegoisan kita dalam memandang perbedaan tersebut. Hal ini yang terjadi pada proses perkenalanku dengan tokoh utama pada bagian ke-2 ini.

Sekitar satu atau dua minggu dari berakhirnya hubunganku dengan NS (iya, Bloggy, iya, tidak ada hubungan, hanya sebuah perkenalan), akhirnya, proses perkenalanku selanjutnya diambil alih oleh istri dari temanku. Inisial wanita yang akan dikenalkan denganku adalah 'SW'. 

Hampir sebulan berkomunikasi baik melalui pesan singkat atau saat bertemu langsung dengan NS sebelumnya, membuat perbedaan itu tampak nyata. NS dan SW sangat berbeda dalam hal apa pun. NS yang selalu dominan saat percakapan baik secara langsung atau ketika mengirim pesan whatsApp tiap harinya, sedangkan SW sebaliknya. Seratus delapan puluh derajat berbeda.

Aku yang memang cenderung pasif dalam memulai percakapan pada orang baru, berkenalan dan mengajak 'ngobrol' SW adalah hal yang sulit bagiku. SW sangat pendiam. Tingkat inisiatif kami berdua sama. Sama-sama tidak berinisiatif memulai atau mencari topik pembicaraan. Jika aku menemukan topik dan bertanya sebuah pertanyaan, maka ia akan menjawab tanpa bertanya balik. Begitu pun ketika dia bertanya padaku, sulit sekali membalikkannya. Aku kehabisan ide. Meski jujur, aku sempat membandingkan bagaimana percakapanku dengan NS sebelumnya yang terbilang lancar, sangat lancar malah. Aku menginginkan hal ini juga terjadi pada aku dan SW.

Meski aku juga tahu, Mas Fiersa Besari pernah berkata, "Orang pandai tidak akan memaksakan keyakinannya pada orang lain. Orang yang pandai akan menerima perbedaan dan mampu berjalan beriringan dengan mereka yang tidak berprinsip sama." Namun, bagiku, tetap sangat sulit pada awalnya.

Berbekal pengalaman--yang hanya seumur jagung--pada perkenalan dengan NS, kali ini, aku langsung berinisiatif bertemu dengan SW (tentunya, SW sudah dijelaskan dulu sebelumnya oleh istri temanku ini tentang niatan memperkenalkan kami). Setelah menentukan tempat pertemuan, aku berangkat dari rumah dan pukul 4 sore kami sudah tiba di tempat yang kami janjikan. Kami bertemu di sebuah Mall di daerah Bintaro. Jika kamu bertanya apakah aku canggung? Iya. Satu-satunya yang membuat suasana 'cair' saat itu adalah kami sama-sama mengenakan pakaian yang 'serupa'. Seperti ada dress code, kemeja dan celana yang kami kenakan adalah sama (bahkan dari brand yang sama). Dan itu yang kami tertawakan.

Kurang lebih, hampir setengah jam kami berbincang di tempat pertama yang kebetulan hanya untuk minum, selanjutnya kami pindah ke tempat lain untuk makan (karena sudah hampir menuju jam makan malam, kan? hehe). Lagi-lagi, meski terkesan sulit mencari topik baru atau sekadar melanjutkan topik awal yang telah kami pilih, percakapan kami bisa dibilang tidak mengalami kemajuan yang berarti. Kami sama-sama canggung. Jangankan melanjutkan dan menemukan topik pembicaraan, menatapnya saat berbincang saja, sulit sekali kulakukan.

Namun, tiba-tiba aku teringat sebuah kalimat, "Tuhan menciptakan jutaan kacamata. Perbedaan adalah pilihan untuk memilih sebuah kacamata yang kita sukai." Jadi, dari beberapa perbedaan yang ada pada kami berdua setelah hampir 2 jam berbincang, anehnya, perbedaan tersebutlah yang justru membuat obrolan kami selanjutnya semakin lancar. Selera bahan bacaan, kegiatan olahraga, hingga makanan kesukaan yang berbeda justru menjadi topik dan tema sendiri untuk kita bahas. Karena bukankah hidup itu bukan tentang mempermasalahkan sebuah perbedaan, melainkan saling melengkapi kekurangan. Iya, kan? Dan pertemuan itu kami akhiri setelah hampir 4 jam kami bersama.

Hari berganti, percakapan kami pun terbilang berkembang dengan baik. Tiap hari, setidaknya satu dua pesan saling kami kirimkan--karena kata temanku yang ahli, kita harus membuat spesies bernama wanita penasaran. Tarik ulur istilahnya. Jangan digas di awal. Maka, minggu berikutnya, aku berinisiatif untuk mengajaknya lari bersama di GBK (dia ingin memulai kegiatan lari), namun, karena ia sempat positif covid, akhirnya, 2 minggu kemudian, Sabtu, tanggal 12 Maret 2022 wacana lari bersama di GBK terlaksana.


Hampir 1 bulan kami berkenalan. Setelah lari bersama, hubungan kami semakin dekat. Intensitas whatsApp atau telepon kami juga mengalami peningkatan, dan untuk pertemuan selanjutnya, aku mengajaknya nonton bersama. Dan, gayung bersambut, ia mau kuajak nonton (kuingat sekali, film perdana yang kami tonton adalah film "The Batman" yang durasinya hampir 3 jam--setidaknya, selama 3 jam bersama, aku tak harus mengajak atau mencari topik pembicaraan--yang memang sulit kami lakukan). Dan setelah nonton, kami makan malam bersama dan seperti pertemuan selanjutnya, meski bahan pembicaraan tidak bervariasi banyak, setidaknya, obrolan kami tetap nyambung dan malam itu kami habiskan untuk lebih mengenal antara satu dengan lainnya. Membicarakan hal-hal yang sedikit lebih serius dibandingkan 3 minggu sebelumnya.

Namun, setelah pertemuan malam itu, keadaan yang terjadi kurang begitu baik. Seperti hujan yang baru turun 1 jam setelah satu tahun kemarau, aku mengacaukan segalanya. Lagi-lagi, tentang sebuah perbedaan. Entah mengapa, meski aku tahu bahwa perbedaan dibutuhkan untuk membuat dunia tetap berjalan dan bukan alasan untuk saling menghentikan, aku justru menghentikan segalanya. Aku merasa aku tak cukup bisa memberikan kebahagiaan pada ia nantinya karena perbedaan ini. Perbedaan yang sulit kuceritakan di sini (namun aku sudah mencoba menjelaskan padanya dan orang yang memperkenalkan kami--yang mungkin baginya tetap tidak ada penjelasan yang lebih baik).

Selama satu bulan kami bersama, aku yang memang selalu berpikiran (terlalu mengkhawatirkan) jauh ke depan, aku yang meletakan sesuatu pada 'kompartemen'-nya masing-masing, aku yang kalut pada pemikiran bodohku sendiri. Justru Akulah yang mengabaikan sebuah keindahan yang terletak dari perbedaan yang sebenarnya tak perlu aku bandingkan. Kebodohan itu membuat semuanya berakhir begitu saja. Bahkan hingga kini, aku masih merasa malu. Tidak memiliki keberanian untuk menjelaskan lebih baik padanya. Dan aku sunggu berharap, ia akan baik-baik saja di sana, menemukan seseorang yang tepat untuknya.

SW, Jika kamu pada akhirnya membaca tulisan ini (entah dari mana kamu menemukannya), aku hanya ingin meminta maaf atas semuanya. atas sikap pengecutku, atas segala hal yang menyakitimu. Sungguh, menuliskan kembali cerita ini satu tahun kemudian membuatku kembali merasa bersalah dan entah apa aku masih memiliki satu saja nyali untuk menemuimu dan mengatakan permintaan maafku padamu secara langsung.

Sambil kumenuliskan cerita ini, kumenemukan sebuah pesan indah dari Seno Gumira Ajidarma. Ia mengatakan bahwa, "Orang yang bijak akan menerima segala bentuk perbedaan pandangan sebagai kekayaan, karena keseragaman pikiran memang sungguh-sungguh akan memiskinkan kemanusiaan."

Komentar

Postingan Populer